Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

BAD NEWS!

Aku benar-benar kacau ketika menulis postingan ini. Entahlah, ini seperti ketidakberuntungan paling mengerikan yang menimpaku di penghujung tahun 2013 ini. Aku kehilangan semua data-data di laptopku. Ya, SEMUA. Mulai dari foto-foto, dokumen, ppt, musik, video.. semuanya.. Tepatnya kemarin, laptopku secara tidak sengaja terinfeksi virus CRYPTOLOCKER. Ini jenis malware baru yang sepertinya baru muncul di akhir bulan September tahun ini. Aku juga tidak tahu kenapa laptopku bisa kena virus mematikan ini. Tapi yang jelas, semuanya sudah terjadi dan aku sudah kehilangan semua data-data penting itu.



Selain tulisan-tulisanku yang kebanyakan belum pernah aku publish, aku juga kehilangan semua tugas-tugas dan data kuliahku. Foto-foto berisi kenangan masa kecilku.. ketika aku SMP, SMA.. melewati setahun yang menyenangkan sebagai mahasiswa Sastra Jerman Universitas Negeri Malang sebelum akhirnya menjadi mahasiswa Sastra Jepang Universitas Airlangga. Aku kehilangan semua memori yang kurekam dalam be…

Malaikat Hujan - Nuna (Part 1)

Aku berharap dia melupakannya.
“Hujan.” Bisiknya di sebuah pagi yang dingin. Aku melirik ke jendela besar di belakangnya. Menyadari sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari. Please.. jangan katakan apapun Erel. Aku menghela nafas, berusaha berekspresi senormal mungkin, “Yah?” aku mendesah, jelas-jelas tidak ingin membuatnya membahas masalah itu lagi, “Hujan.” Kataku datar, “Kau mau kopi, Erel?” tanyaku singkat ketika aku bergerak turun dari tempat tidur. Aku sadar dia menatapku dengan kerutan dalam di keningnya. “Hujan, Nuna. Hujan di akhir bulan November.” Ulangnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun aku mengabaikannya. Mengabaikan Erel, mengabaikan jantungku dan mengabaikan semua kilasan-kilasan memori tentang janjiku padanya. Aku terus melangkah dan berputar ke dapur kecil di apartemennya. Menyibukkan diriku dengan aroma kopi, air panas, cangkir, suara hujan dan semua teriakan di kepalaku. Aku mendengar suara langkahnya mendekat. Aku terus berusaha mengabaika…

Half Vampire - Penyerangan

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Apa tujuanmu, Victoria Lynch?” desisnya penuh kemarahan. “Balas dendam.” Aku melihat buku-buku tangan Reven yang gemetar menahan semua emosinya. Dia mengenggam tangannya erat dan disampingnya, aku hanya bisa menatap bergantian ke arah Reven dan Victoria. Terus terang sampai saat ini, aku benar-benar tidak tahu ada masalah apa ini sesungguhnya. “Aku tidak peduli pada balas dendam apapun yang kau rencanakan. Tapi jangan pernah menganggu kehidupanku dengan semua omong kosong yang akan kau ucapkan tentang kematian Noura. Jangan pernah melibatkan Noura dengan urusan kita.” Suara Reven begitu tegas, dalam dan dingin. Aku melihat betapa dia berusaha dengan sangat keras agar tidak mengamuk. Victoria, anehnya justru tersenyum. Dia memandang Reven dengan lembut dan menyilangkan tangannya di depan dada, “Apa kau benar-benar menganggap semua yang telah dan akan kukatakan adalah omong kosong? Kau tahu bahwa aku sesungguhnya benar dalam banyak hal. Hanya saja k…

Another Story - Arshel

Aku berteduh di bawah pohon yang paling rimbun dan mengawasi apa yang dilakukan Ar dan beberapa slayer lain yang tidak kukenal. Mereka sedang berlatih seni berpedang. Aku tidak ikut. Tepatnya tidak mau ikut dan mencari ribuan alasan agar aku bisa melewati ini. Aku bukannya takut, aku hanya malas. Perak dan terik matahari? Terima kasih. Aku masih cukup mencintai diriku sendiri. Selain itu, kurasa entah apa yang telah dilakukan Reven dan Venice bekerja cukup baik dalam hal ini. Aku heran kenapa mereka tidak menanyaiku banyak hal tentang kenapa aku begini kenapa aku begitu. Aku tidak menyangka, mereka, yang katanya organisasi perlindungan terkuat manusia, ternyata sebodoh ini. Satu gerakan luwes dan Arshel menjatuhkan lawannya yang terakhir. Aku mengamati bahwa, sesuai yang dikatakan Rena, pemuda ini berbakat. Aku mengangguk-angguk. Sayangnya, menurut penglihatanku, sedikit sekali disini yang seperti dia. Aku mengerutkan keningku ketika dia berjalan ke arahku. Apa dia sadar bahwa memperha…

Malaikat Hujan

Aku menggeliat merasakan dingin di tubuhku. Melalui kedua bola mataku yang belum sepenuhnya terbuka, aku melihat hujan turun dengan deras di balik jendela kaca bening di kamarku, “Nuna, jam berapa ini?” tanyaku sambil menyingkirkan tangannya yang melingkari pinggangku. Tidak ada jawaban dan aku melihat Nuna masih meringkuk nyaman di sampingku. Aku tersenyum dan mengecup dahinya. Aku memang selalu bangun lebih awal darinya. Aku memandang hujan dan diam selama beberapa saat. Mendadak aku teringat sesuatu dan dengan cepat aku melirik jam digital sekaligus kalender di atas meja kecil di samping tempat tidurku. 05.45 AM, 30-11-2013. Mulutku terbuka lebar menyadari hal tersebut. Dengan cepat aku berbalik, menatap Nuna dan menyentuh bahunya, “Nuna..Nuna.” panggilku bersemangat. “Mmm.” Nuna hanya menggeliat dan makin merapatkan tubuhnya padaku. Aku tersenyum geli. Nuna selalu seperti ini. Tapi sekarang tidak boleh, aku harus membangunkannya, “Hi, sleeping princess. Wake up, please.” Aku menangk…

Half Vampire - Victoria Lynch

Haloo semuanya, HV datang lagi. LOL. Emm, ini sebenarnya versi lengkapnya chapter sebelumnya, jadi aslinya ini dan chapter sebelumnya adalah satu kelompok chapter yang judulnya "Balas Dendam" tapi karena aku tidak bisa menyelesaikan mengedit chapter ini bebarengan, jadinya diupload misah. Karena jika menunggu lengkap, kalian mungkin baru akan membaca new chapter HV sekarang. Hehehe. Well, aku ingin sedikit menjelaskan disini. sepertinya aku harus mengubah aturan yang kutetapkan untuk diriku sendiri tentang wkatu pengupload-an HV, Xexa maupun Another Story. Karena akhir-akhir ini aku benar-benar sangat sibuk, sepertinya aku tidak akan bisa menepati janji tentang seminggu sekali upload HV. Jadi mohon pengertiannya ya. Tapi tenang saja, aku akan mengupload HV ketika aku punya kesempatan mengedit draft-nya dari laptopku yang sebenarnya disana, kisah ini sudah selesai. Terima kasih buat kalian semua. Salam peluk @amouraXexa
***
“Apa yang kau ketahui tentang Victoria? Katakan padaku sega…

Ini pohon untukmu. Ini pohon milikmu.

Aku mencoba menulis ini untuk memberimu gambaran apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Aku menulis ini agar membantumu mengerti bagaimana sesungguhnya perasaanku padamu. Aku menulis ini agar kau tahu seperti apa aku menyukaimu. Agar kau mendengar jutaan kata yang tak pernah bisa kuutarakan langsung padamu. Agar kau membaca.. membaca bagaimana sesungguhnya aku. Aku mencintaimu. Kau tahu itu. Kau tahu dan itu cukup. Hanya sebuah ketahuan yang kau kubur dan tak pernah ada tindakan untuk mneyikapi segalanya. Aku mengerti. Aku tidak pernah berusaha menuntut banyak darimu. Tidak. Aku sudah cukup memahami untuk tahu seperti apa dirimu. Namun kali ini bacalah ini dan aku berdoa agar kau mau mengerti. Sekali lagi kutuliskan untukmu, hanya untukmu, satu kalimat. Aku mencintaimu. Satu cinta. Satu perasaan. Dan ya, aku CUMA punya itu. Ini adalah cinta. Kau pernah berkata padaku bahwa kau tak tahu apa itu cinta ketika kukatakan padamu aku mencintaimu. Maka sekarang aku akan membuatmu tahu. Aku …

Sountrack Hari Ini

Entah kenapa akhir-akhir ini suka banget dengerin lagunya Maroon 5 yang BETTER THAN WE BREAK. Entahlah, ada sesuatu dalam lagu ini yang membuatku merasa nyaman mendengarnya. Ada banyak bagian yang rasanya dekat denganku. Mungkin memang ada beberapa liriknya yang terasa, “Wah ini aku banget.”. Hahaha. Seringkali memang kita merasa seperti itu ya, ketika kita mendengarkan sebuah lagu. Jadinya terasa lebih gimana gitu, and yeah, i got it in here.

Xexa - Pesta

“Jadi apa yang akhirnya membuatmu mau melakukan itu?” Ares meletakkan buku sihir tebal yang sedari tadi sedang dibacanya ke pangkuannya. Dave memejamkan mata di sampingnya, duduk bersandar di pohon yang sama yang sekarang juga sedang disandarinya. Angin berhembus lembut menerpa wajah mereka. “Entahlah, kupikir aku sudah terlalu banyak membuat Azhena kerepotan karena masalah ini.” Jawab Dave tanpa membuka matanya. “Kau memikirkan ibuku? Tidak masuk akal.” Dave membuka matanya dan menoleh beberapa detik ke arah Ares, “Bahkan kau juga mengatakan hal yang persis sama seperti yang Memnus katakan kepadaku.” Ares tersenyum, “Setidaknya kami mengatakan sesuatu yang benar. Anilamarrymu itu pasti juga mengerti dirimu dengan sangat baik.” “Ya, mungkin kau benar. Tapi selain itu, aku juga tidak bisa menghindar terlalu lama. Menjadi Mahha adalah tanggung jawabku dan aku, mau tidak mau harus tetap melakukannya.” Ares mengangguk, namun tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap ke arah danau Merivor yang bera…

Half Vampire - Janji

Haloo semua pembaca HV. Maaf.. Maafkan karena aku mengupload chapter ini dengan sangat terlambat. Kesibukkan kuliah menahanku untuk menyentuh naskah HV yang cuma tinggal ngedit aja. Seminggu penuh ini aku disibukkan dengan presentasi-presentasi yang @$%&#^&%^%#^&**@*@%%. *Sensor* LOL. Aku menyempatkan mengedit HV di chapter ini di sela-sela bikin presentasi Chukyu Sakubun buat besok, ini bukan chapter full sebenarnya. Namun kuharap ini bisa sedikit mengatasi rasa penasaran kalian kepada kisah Sherena dkk.  Yahh.. aku tidak akan banyak nulis oot lagi dan selamat membaca kalian. Ah iya satu lagi, terima kasih untuk semua dukungan kalian. Terima kasih telah menyukai HV. Terima kasih sangat. Kalian semangatku.  Salam peluk @amouraXexa
***
Aku hanya terdiam, ikut begitu saja ketika Reven membawaku pergi dari ruangan itu dengan melewati Damis yang sama sekali tidak mencegah kami. Reven membawaku ke ruangan pribadiku dan membiarkan aku duduk di tepi tempat tidurku dengan semua pikiran …

Another Story - Perkenalan

Aku memandang kastil besar yang berada cukup jauh dari tempatku sekarang berdiri. Dari sini aku hanya bisa melihat puncak kastil yang menjulang. Jadi disana, pikirku singkat, aku akan menghabiskan entah berapa lama waktuku. Jubahku terselubung rapat karena matahari bersinar sangat terik di atas kami. Ya, kami. Aku dan Reven. Hari ini adalah hari dimana aku akan memulai tugas pertamaku. Sudah beberapa menit kami berdiri disini dan menunggu. Aku benci menunggu. Dan sekarang aku bahkan tak tahu apa yang sedang kutunggu karena Reven tak mengatakan apapun setelah kalimat pemberitahuannya bahwa kami akan menunggu. Dia menyebalkan, sangat. Lima belas menit kemudian yang bagiku rasanya seperti setahun, sebuah bayangan hitam dengan cepat berkelebat di samping kami. Aku tidak menoleh karena aku rasanya sudah tahu siapa itu. Dia mengambil tempat di samping Reven dan mendekat kepadanya, berbisik sepelan yang dapat dilakukannya agar aku tidak dapat mendengar apa yang dia katakan kepada Reven. Aku ti…

Beranjak*

Pernah ketika dulu aku berpikir jika aku tidak akan pernah beranjak dari tempat ini. Aku akan tetap disini dan menatap satu arah, hanya padanya. Aku akan tertinggal di jalan ini dan hidup bersama kenangan masa lalu. Aku akan jauh berada di belakang ketika yang lainnya berlari bersama masa depan mereka. Pernah, ketika dulu, aku berpikir seperti demikian. Namun nyatanya sekarang aku memilih beranjak. Memulai langkahku untuk meninggalkan tempat ini sesenti demi sesenti. Meskipun sangat lambat tapi aku tahu bahwa aku melangkah. Bahwa aku melakukan sesuatu dan bukan hanya diam seperti yang kulakukan selama ini. Aku melangkah. Sambil terus memandang ke bawah hanya agar aku bisa melihat kakiku yang menapak ke depan. Sedikit sedikit, tapi aku begitu bahagia. Ini pembaharuan. Ini sebuah langkah awal yang sangat jauh dari apa yang dari dulu kupikirkan. Lihat.. aku.. move on. Sebelum ini yang aku tahu waktu berlalu dan aku menghitungnya dalam rentang sekitar dua puluh empat bulan sejak hari dimana …

Half Vampire - Pergerakkan

Haloo semuanya.. Akhirnya.. akhirnya.. setelah dua minggu yang begitu panjaaang. Taraaa.... tak banyak kata lain dan. Selamat Membaca..
***
Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dan disini, masih di dalam ruangan yang sama tempat abu Russel tercecer, aku melihat Lucia datang dengan wajah melebihi pucatnya mayat. Dia mematung di antara pintu yang terbuka dan tubuhnya gemetar. Kami semua memandangnya. Tapi tak satupun dari kami yang berbicara. Aku tidak benar-benar tahu kalimat penghiburan apa yang cocok kukatakan untuk situasi ini. Maksudku, aku benar-benar tidak tahu. Pikiranku dipenuhi spekulasi-spekulasi buruk dan melihat mata Lucia yang berkaca-kaca, aku bahkan tidak bisa memikirkan hal yang baik sedikitpun. Aku lebih memilih melihat Lucia yang sinis daripada Lucia yang kulihat sekarang. Dia terlihat kacau. Dia melangkah dengan gemetar, masuk ke dalam ruangan. Berlutut dengan perlahan di depan abu Russel. Jemarinya yang lentik meraih abu yang ada di dekatnya, meraupnya dengan kuat seolah …

Cuap Cuap Next Chapter

Halooo semua pembaca dan pengunjung blogku.. Terima kasih telah mampir ke blog-ku yang yah gini-gini aja ini. :P Btw, Aku mau memberikan sedikit pengumuman disini. Woro-woro gitu ceritanya.. Emm.. begini yah.. begini.. Jangan protes dulu..  Kemungkinan besar sampai dua minggu ke depanTIDAK AKAN ADA chapter baru untuk beberapa judul yang ada di blog ini, seperti Half Vampire, Another Story maupun Xexa. Dua minggu ini aku ada UTS di kampusku dan aku ingin fokus pada kewajibanku yang satu itu. Sudah menjelang semester tua, maklum.. hehehehe. Jadi maaf.. maaf banget ya buat kalian yang sudah menantikan chapter-chapter selanjutnya untuk cerita-cerita yang ada disini, khususnya HALF VAMPIRE tentu saja.

Half Vampire - Respon

“Jadi tidak ada apapun yang kau dapatkan selama berbulan-bulan disana?” suara Vlad menggema di seluruh ruangan. Dia tidak perlu meninggikan suaranya tapi nada penuh kemarahan yang terkandung disana sudah cukup membuat Russel menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku berharap banyak padamu, Russel. Kau yang mengatakan padaku bahwa kau akan bisa melakukan ini dengan baik sama seperti jika Reven yang melakukan tugas ini.” Vlad bangkit dari duduknya. Dengan langkah perlahan dia mendekat ke tempat dimana Russel berdiri dengan kegelisahan yang jelas. Di sudut lain Reven mengamati dalam diam. Dia sama sekali tidak menyela dan hanya memperhatikan. Dia sudah ada di ruangan ini ketika Russel datang, sama halnya dengan Rosse yang duduk di samping tempat dimana sebelumnya Vlad duduk. Sama sekali tidak ada suara yang menginterupsi. Hanya suara langkah kaki Vlad yang memenuhi ruangan yang senyap. Dia memutari Russel, berjalan dengan mata menatap tajam pada Russel yang masih terus menunduk, “Jadi katak…

Half Vampire - Awal

Kami bertiga kembali ke kastil ketika matahari sudah terbit. Dalam dia dan tenggelam dengan pikiran masing-masing kami melangkah memasuki pintu utama kastil. Aku menoleh pada Reven dan Damis dengan tidak bersemangat, “Aku akan kembali ke ruanganku.” Ucapku pelan. “Kami bisa menemanimu.” Saran Damis dengan tulus. Aku menggeleng, “Aku baik-baik saja, Damis.” Aku mencoba tersenyum dan dia menatapku dengan ragu. Reven hanya memandangku tanpa sedikitpun ekspresi yang bisa kubaca di wajahnya. Aku menarik nafas panjang-mulai terbiasa kembali dengan akktifitas bernafasku-, aku tahu mereka mengkhawatirkanku. Ini baru beberapa jam setelah aku menyelesaikan pembunuhan pertamaku. Darah manusia pertamaku. Kehidupan vampirku yang sebenarnya baru dimulai, dan aku paham bagaimana mereka mungkin takut aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagi diriku sendiri. Damis mungkin melakukannya karena memang dia seperti itu dan Reven, aku memandangnya sekali lagi, melakukannya karena memang inilah tugasnya. …

Menjadi Dewasa

Ketika perasaan menuntut terlalu banyak dariku. Aku akan berhenti hanya untuk memijat tulang hidungku dan mencoba mendinginkan kepalaku. Bersama dengan semua masalah dan tuntutan yang ada, akankah semua berjalan dengan baik-sesuai dengan yang mereka mau? Aku tidak pernah mengerti kenapa kepalaku bisa menampung begitu banyak pikiran yang bila kutulispun akan butuh berrim-rim kertas untuk menyalinnya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengosongkan isi kepalaku sesaat. Tidak memikirkan apa-apa dan merasa bebas. Ya, kebebasan. Aku merindukan saat-saat itu. Dulu, di sebuah masa aku pernah merasakan perasaan itu. Merasa sangat bebas tanpa peduli pada apa yang terjadi, melakukan apa yang memang benar-benar ingin aku lakukan. Bukannya melakukan sesuatu karena orang lain menginginkan aku melakukannya. Aku berharap aku bisa mendapatkan masa itu kembali? Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Ketika umur semakin bertambah, hidup menuntutku untuk tidak egois seperti dulu lagi. Membawaku kepada sebuah t…

Xexa - Fred

“Aku ingin bicara padamu, bibi.” Azhena menoleh sejenak, “Bukankah sedari tadi kita sedang berbicara.” Dave mengayunkan tangan kirinya dan sebuah kursi berlengan yang nyaman mengarah ke dekatnya. Duduk disana, dia menghadap ke arah meja utama Azhena, “Maksudku pembicaraan yang lebih serius, bibi.” Mendengar bagaimana seriusanya nada suara Dave, Azhena memilih mengikuti apa yang dimau Dave dan dia melangkah kembali ke belakang mejanya, duduk disana dan menatap langsung ke wajah Dave yang bersinar tegas, “Jadi ini tentang apa?” “Beberapa waktu yang lalu, aku memasuki dunia lain.” Dave bisa melihat bagaimana raut wajah Azhena berubah, tapi wanita itu mencoba untuk diam dan mendengarkan, “Aku mencari tahu tentang Xexa.” “Lalu?” Dave menghela nafas panjang, “Aku tidak menemukan apapun.” Katanya frustasi. Mengabaikan Dave dan menarik sebuah buku di dekatnya, dia membolak-balik buku itu. Membiarkan Dave menunggu. Tapi ketika Dave melihat Azhena tidak akan mengatakan apapun, dia melanjutkan, “Aku ba…

Half Vampire - Kisah Masa Lampau

Reven memandang bulan yang bersinar redup, matanya menyipit dan udara malam yang dingin membelai tubuhnya. Jendela kamar Sherena terbuka lebar, menampilkan tubuhnya yang tegak memandang keluar, menerawang. Siapapun yang melihatnya akan tahu, bahwa entah apa yang dipikirkannya, fokusnya tak ada di tempat ini. “Noura..” panggilnya lirih, “Haruskah kulakukan seperti apa yang kau mau.” Desahnya. “..Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?” Wajah memohon Noura membayang di kepalanya dan Reven menggeleng pelan. “Tapi aku tidak bisa, Noura. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Tidak akan pernah ada satu orangpun yang bisa menggantikan tempatmu. Tidak akan pernah ada.” Dia berbalik dan melihat tubuh Sherena yang meringkuk di atas tempat tidurnya. Sejak perempuan itu bisa tertidur, dia sudah melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Lagipula apa memang yang bisa perempuan itu perbuat jika dia ada disini, m…

Half Vampire - Jiwa Noura

Angin berhembus lembut menerpa wajahku ketika aku membuka mataku perlahan, langit yang mendung memenuhi pandanganku dan aku baru tersadar bahwa aku terbaring di atas padang bunga ungu di dekat kastil. Aku mengerjap pelan, membiarkan kesadaranku mencapaiku sampai pada titik penuh. Aku mengerjap lagi lalu beringsut bangun. Tak menegrti bagaimna bisa aku ada berada di tempat ini. “Sudah bangun, Rena?” Aku menoleh ke belakang dan senyum manis milik perempuan bermata hijau itu membuatku membeku. Noura? Aku mengerjap lagi, lebih cepat agar bisa menghapus bayangan Noura dari kepalaku. Namun dia masih melengkungkan senyum yang sama ketika aku membuka mataku entah untuk keberapa kali lagi. “Ini bukan penglihatan atau kenanganku, Rena.” Suaranya lembut dan terdengar begitu manis di telingaku. Aku tidak mengerti. Bukankah Noura sudah mati, lalu bagaimana bisa dia ada disini, di depanku dan berbicara denganku seolah-olah dia masih hidup? Dia sudah mati, begitulah yang dikatakan oleh semua orang. Lal…

Another Story - Tugas

Aku tidak suka kastil ini. Hawa dan aura yang terpancar dari sana jelas di luar apa yang bisa didefinisikan manusia sebagai kebahagiaan. Kastil ini terlalu gelap dan tertutup dalam artian lain. Entahlah, aku hanya tidak suka berada disini. Namun yang jelas, sekarang aku harus masuk ke dalam bangunan sangat tua ini dan menghadapi apa yang akan diberikan padaku sebagai tugas. Di depanku, Michail melangkahkan kakinya dengan ringan. Kami sudah lama melepaskan jubah kami dan menyampirkannya di lengan kami sejak kami mulai memasuki kastil. Lagipula apa yang bisa diharapkan, ini sudah petang dan jika masih siang pun, aku curiga tidak pernah ada tanda-tanda sinar matahari mampu menembus kabut-kabut dingin yang tebal di sekitar tempat ini. Bau hujan dan kelembaban memenuhi hidungku dan aku sangat ingin mencoba untuk bersin. Sekedar mencoba merasakan gaya hidup manusia, maksudku, yah akukan tidak bisa sakit. Aku menahan tawaku ketika mendadak Michail berputar mendadak, “Eh.” “Dev, tunggulah disi…

Half Vampire - (Menuju) Perubahan

Hey.. heyy.. aku edit postingan ini hanya untuk menyapa kalian semua. Banyak yang bertanya melalui twitter maupun wattpad, kenapa HV belum juga diupdate, janjinyakan seminggu sekali. Hehehe. Jadi aku akan menjawabnya disini.
Maafffff, seminggu ini aku sangat sangat sangat sibuk. Kuliahku penuh dan aku dibanjiri tugas-tugas yang-astaganagabonarjadidua susahnya- abaikan, ini lebay. Tapi yah, sedikit banyak begitulah alasan. Niatnya sih mau aku upload hari Sabtu. Tapi aku lupa kalau hari itu aku harus ke Malang. Jadi yah, baru Minggu siang aku bisa upload chapter ini. E...tapi tapi, ini masih dalam satu minggukan? Jadi aku tidak ingkar janji. Hahaha *pembelaan diri*
Emm btw chapter ini kudedikasikan buat temanku yang hari ini sedang ulang tahun. テレシアちゃん 誕生日 おめでとう。テレちゃんの願いが かなうように。
Dan yuk, kembali ke kisah Sherena. Selamat membaca. Salam peluk buat kalian semua.


amouraXexa
***


“AKU TIDAK MAU TAHU!! APAPUN YANG TERJADI TEMUKAN DIA!!” Suara Morgan mengelegar memenuhi ruangan ini. Kemarahan jelas…

XEXA - Kisah

Dave menghela nafas panjang dengan wajah tidak tenang, dia duduk di tepian tempat tidurnya yang merapat dinding. Menempelkan sebagian wajahnya ke jendela besar yang berembun. Matanya memandang kosong ke arah hutan Zhitam yang hanya nampak seperti siluet kegelapan yang menguarkan hawa menakutkan bagi kebanyakan orang, tapi tidak padanya. Dia sudah terbiasa dengan aura hutan Zhitam dan tidak pernah merasa terganggu dengan hutan itu. Hanya saja dia memang tidak nyaman jika berada terlalu lama disana. “Kau mau memandangi hutan itu sampai pagi, Dave.” Hanya helaan nafas Dave yang terdengar sebelum dia berbalik dan melihat seorang anak laki-laki seusianya sedang duduk dengan kaki tersilang di atas salah satu kursi empuk yang ada di ruang tidurnya yang sangat luas, “Pergilah, Memnus. Aku tidak ingin diganggu.” Tepisnya, kembali menempelkan sebagian wajahnya ke jendela. “Aku tidak bisa pergi kalau penyihir pemilikku sepertinya sedang kalut seperti ini. Aku tahu kau mengkhawatirkan banyak hal, ha…

Half Vampire - Ego

Aku benci mengakui bahwa aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih akhir-akhir ini. Kematian Dev adalah sebab utamanya. Aku benar-benar tidak tahu harus bertindak bagaimana menghadapi kejadian tak terduga ini. Dev? Dia..  aku selalu kehilangan kata-kataku ketika aku kembali memikirkan ini. Aku mencoba berpikir bahwa Dev baik-baik saja. Dia tidak pernah mati. Vampire makhluk abadi bukan? Jadi Dev abadi bukan? Dia.. dia tidak akan mati. Lagipula aku tidak pernah melihat jasad Dev, jadi bisa saja tidak terjadi apapun padanya. Bisa saja Dev tidak mati. Mungkin saja petanda yang dirasakan Lyra dan seluruh keluarga Corbis adalah petanda yang salah. Dev tidak mati. Tidak. Mungkin saja Morgan cukup berbaik hati untuk tidak membunuh Dev dan hanya menangkapnya. Ya, itu lebih baik. Morgan menangkap Dev dan Dev tidak mati. Dia baik-baik saja di desa Morgan dan menunggu untuk diselamatkan. Dev sudah mati, Rena. Kau tidak bisa terus menerus mengingkari kenyataan itu. Deverend Corbis sudah mati. Tida…

Sebuah Kisah Lain Tentang Deverend Corbis

Halo semua pembaca blog-ku.. Aku membawa kabar gembira akhir pekan ini untuk kalian semua. Aku sedang menulis kisah tentang Dev untuk mengobati rasa sedih kalian semua yang kehilangan dia. Well, aku tidak tahu kalian akan suka cerita ini atau tidak, apa kalian kalian akan tertarik membacanya atau tidak? Jadi, berikan komentar kalian di postingan ini dan aku akan sangat senang melihat bagaimana pendapat kalian jika aku mempostingnya disini juga, makin banyak komentar, aku akan makin bersemangat untuk proyek “Another Story” ini. Jadi.. aku tunggu pendapat, komentar atau apapun itu di postingan ini ya. Terima kasih untuk tetap membaca cerita-ceritaku, sudah sering kukatakan bukan, kalian adalah semangat dan jiwaku untuk bisa terus menulis dan mengembangkan kemampuanku. I love you all... Astaga, aku juga lupa.. aku berikan prolog ceritaku itu disini ya. Selamat membaca dan... jangan lupa berikan komentar. :D amouraXexa
***
ANOTHER STORY - PROLOG
“Suatu ketika, disaat cinta menyentuhmu sampai k…

HALF VAMPIRE - Perlindungan Terakhir

Aku berlari tanpa tahu arah mana yangkutuju. Yang ada di kepalaku hanya berlari, mengejar Maurette. Akhirnya aku tahu makna tatapannya, aku tahu makna di balik senyumnya itu. Makna yang juga dikatakannya secara tersurat, balas dendam. Tidak. Tidak boleh. Apapun yang ada di kepala Maurette, dia tidak boleh melakukan apapun yang membahayakan penduduk biasa. Tidak. Aku tidak akan memaafkannya.
“Sherinn!!”
Aku berhenti, menatap dengan kelegaan yang sangat besar ketika melihat sosok Morgan berlari ke arahku.
“Apa yang kau lak-?”
“Morgan-Morgan tolong, tolong..” aku gemetar. Wajahku pucat ketakutan.
“Kau baik-baik saja?” Morgan menyentuh kedua lenganku.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, “T-tolong..” aku kehilangan kata-kataku. Tubuhku gemetar begitu hebat. Morgan menatapku dengan bingung dan tak paham.
“Sebaiknya aku mengantarmu pulang. Dan jangan pergi keluar lagi. Situasi sedang sangat buruk, Sherinn. Tercium bau vampir yang sangat kuat. Rupert sedang mengecek di ruang interogasi, adakah k…

SELAMAT ULANG TAHUN!!!

SELAMAT  ULANG TAHUN! SELAMAT ULANG TAHUN!!


Haloo semua pembaca blog-ku. Aku sebenarnya terlambat memposting ucapan selamat ulang tahun ini. Harusnya ini sudah aku posting pada tanggal dua kemarin, tapi karena aku sedang mengurusi bapakku yang diopname di Rumah Sakit, aku bahkan lupa kalau hari itu hari ulang tahunku.
Hahahhha.
Yup ini benar, ucapan selamat ulang tahun ini untuk diriku sendiri.
HAPPY BIRTHDAY TO ME!!! HAPPY BIRTHDAY, RIA!!


HALF VAMPIRE - Permintaan Terakhir Noura

Hallo semua pengemar HV. Maafkan aku terlambat mengupload chapter baru dari HV. Aku sedang sibuk sekali karena harus mengurus Bapakku yang sedang diopname. Jadi aku tidak bisa fokus pada HV. Aku minta doanya pada kalian semua ya, agar bapakku cepat sembut. Ah iya, terima kasih untuk semua komen yang masuk, aku belum bisa membalasnya dalam waktu dekat ini. Setelah keadaan bapakku mulai sedikit membaik, aku akan meluangkan waktu untuk membalas komen kalian semua. Terima kasih karena tetap menyukai cerita ini. Kalian adalah semangatku. Peluk amouraXexa -------------------------- “Sherinn..” “Morgan..” Mata kecoklatan Morgan menatapku. Aku membeku, seolah menemukan mata yang bersinar tanpa belas kasihan, yang dengan sadisnya memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Lucius. Mendadak aku merasa muak dengan Morgan. Aku beringsut menjauh, “Apa yang kau lakukan disini?” bentakku penuh marah. Morgan mengerjapkan matanya beberapa kali, mengusir sisa kantuk yang sepertinya masih menempel di dirinya, “Ak…

HALF VAMPIRE - Maurette

Hello semuanya.. karena aku sedang bahagia aku akan posting chapter baru hari ini. Semoga kalian semua menyukainya. Tinggalkan komen sebagai jejak dan kalau bisa, share cerita ini juga ya. :P *peluk all readers* -amouraXexa-
--------------------------------------------------------------
“Jadi apa yang sesungguhnya terjadi ketika itu?” Reven berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar marah, ditatapnya Vlad yang sepertinya tidak memperdulikan apa yang telah dikatakannya. “Apa Noura memang sedang dalam tugas? Jika tidak kenapa dia bisa ada disitu?” Reven tidak mau menyerah. Vlad mengangkat sedikit wajahnya, menatap Reven dalam kegelapan temaram ruang pribadinya. “Aku tidak tahu apa-apa.” Suaranya tenang, tanpa tekanan apapun.”Kau harusnya sudah tahu bagaimana sifat Noura yang keras kepala dan obsesinya tentang memperbaiki hubungan kita dengan para manusia serigala. Tidakkah kau lihat benang merahnya? Noura bertindak sendiri dalam masalah ini.” Reven membalas tatapan Vlad, memikirkan apa ya…

HALF VAMPIRE - Akhtzan

“Aku harus bagaimana, ayah?” Wajah Ar kuyu, memucat dan terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya. “Tetaplah jaga, Sherena.” Suaranya serak dan berat. Ar mengangkat wajahnya. Menatap wajah ayahnya yang duduk di sampingnya. Rambut ayahnya putih panjang sampai sepinggang dengan janggut yang sama putihnya. Kusut dan awut-awutan. Kerutan-kerutan memenuhi wajah tuanya yang pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya yang kecil, memerah dan berair. “Tapi, Rena. Rena akan berubah, ayah. Dia akan berubah. Dia akan berubah.” Suara Ar gemetar. Wajahnya ketakutan dan dia terlihat sangat rapuh. Akhtzan menyentuh lengan putra kesayangannya itu, menyentuhnya dengan lembut. Jemarinya yang rapuh bergerak pelan. Ujung-ujung tangannya yang panjang menghitam, berkerut karena usia dan interaksi dengan ramuan yang intens. “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, anakku.” Bisiknya. “Ayah.. aku takut.” Ar menyurukkan tubuhnya ke dada ayahnya yang kecil, kurus. Akhtzan tak berbicara, tangannya merangkul putranya. Me…