Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2013

Hello Karma, Boleh Kenalan?

Hello Karma, Ini aku.. perempuan yang kau sapa tanpa mau kau kenali lebih dulu. Hello Karma, ini aku.. perempuan yang kau buat menangis saat kau tak bosan-bosannya menyambangiku. Hello Karma, aku menyorongkan tanganku dan menunggu tanganmu menyambutku. Hello Karma, aku mau mengenalmu. Karma.. Mari berkenalan. Mari saling mengenali dan saling mengetahui satu sama lain. Mari tersenyum lalu tidak saling melukai lagi.

Bahasan Hujan

"Aku tidak suka hujan." Kepalaku menoleh memandangnya. Sebentar saja, kemudian kuarahkan kembali pandanganku keluar. Menerobos kaca yang buram karena hawa dingin. Hujan masih turun. Semakin deras dan langit semakin pekat. Sepertinya hujan kali ini akan sangat lama. Aku menoleh lagi memandangnya. Kali ini bukan karena suaranya tapi karena kesunyian yang mendadak menyelinap diantara kami. Bukan kebiasaannya membiarkan kesunyian menguasai kebersamaan kami. Sehingga akan sangat mengherankan bagiku ketika situasi seperti ini mendadak tercipta. Dia nampak murung. Memainkan jari-jari tangannya dengan tatapan kosong. "Ada apa?" tanyaku Dia mendongak, menatapku. "Entah." jawabnya mengambang "Dia kenapa lagi?" tanyaku lagi sambil menyeruput sedikit teh. Matanya mengerjap. Membulat. Lalu dengan dramatis dia membuang nafas dengan kasar. "Dia akan punya anak dariku." akunya dengan berat. "Lalu?" Tanganku meletakkan cangkir tehku dengan pelan ke…

August End II - Sebuah Jawaban

Jika aku tahu akhir dari cinta sesakit ini Maka Tuhan.. Tolong Tolong buat aku tidak jatuh cinta lagi
Tolong buat aku tidak jatuh cinta lagi? Mungkin Tuhan benar mengabulkan permintaanku itu. Dia membuatku tidak jatuh cinta lagi.. pada laki-laki lain. Sebab sampai sekarang aku sama sekali tak bisa beralih darinya. Dari dia yang dulu membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, dia yang membuatku patah hati dengan sangat buruk, dia.. dia yang sampai kini pun masih punya tempat paling istimewa di hatiku. Aku tak tahu apa yang salah pada diriku sampai aku separah ini menyukainya. Aku tak tahu apa yang salah pada diriku sampai aku senekat ini tetap bertahan pada perasaan yang sama besar dan utuh untuknya, sementara aku tahu aku sudah kehilangan terlalu banyak air mata dan kebahagiaan ketika memilih mencintainya. Sementara aku telah sakit sampai aku tak tahu apa lagi yang harusnya kuperbuat agar aku menjadi baik-baik saja.

HALF VAMPIRE - Darah Penyihir

“Sebenarnya apa yang kau rencanakan?” Ar hanya memandang sejurus ke arah Reven yang menatapnya, menunggu jawabannya. Tapi dia masih saja diam sampai akhirnya dia memilih mengalihkan pandangannya ke satu-satunya perapian di tempat itu. “Aku hanya ingin membuat Rena tahu semua yang memang harus dia tahu.” Jawabnya akhirnya sambil mengamati lidah-lidah api di perapian. “Hanya itu?” Kali ini Ar menoleh lagi ke arah Reven, “Memangnya apa yang kau harapkan? Persekutuanku dengan para manusia serigala? Konspirasi menjatuhkan bangsa vampir?” Ar tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Kau hanya terlalu khawatir, Rev.” “Aku hanya tidak mempercayaimu.” Ar menaikkan alisnya, “Oya? Tapi kau bahkan membiarkan aku ada disini sekarang. Kau bukannya tidak mempercayaiku. Kau cuma masih tidak mau menerima kenyataan yang kukisahkan padamu ketika itu. Noura tidak sepintar yang kau kira, Rev.”

Kesuksesan Itu Milik Siapa Saja Yang Mau Berusaha

Setiap orang tentunya memiliki mimpi-mimpinya sendiri. Dengan mimpinya itu orang akan hidup dengan baik, dengan semangat dan dengan senyum yang tulus. Aku pun juga, aku punya banyak mimpi yang kurangkai menjadi sekuali semangat yang akan terus membawaku menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah. Mimpi-mimpiku, aku tidak ingin itu hanya menjadi sekedar mimpi yang cuma menjadi harapan semu. Aku ingin mimpi-mimpiku menjadi kenyataan. Pasti akan sangat menyenangkan mendapati apa yang kau mimpikan selama ini menjadi sesuatu yang riil. Maka aku memutuskan akan berusaha semampuku untuk menyukseskan proses transisi mimpi-mimpiku menjadi kenyataan. Dan aku memilih satu mimpi ini untuk kuubah menjadi kenyataan, mimpi untuk melanjutkan studiku ke perguruan tinggi negeri dengan jurusan Sastra Jepang. Aku suka bahasa Jepang, aku suka linguistik negeri bunga sakura ini. Dan aku benar-benar serius ingin memperdalam ilmu tentang bahasa Jepang. Aku percaya kesuksesanku berada dalam ranah bidang ini, o…

Fajar dan Senja

Memiliki seseorang yang benar-benar kita cintai mungkin adalah hal terbesar yang paling kita inginkan, tapi memiliki seseorang yang selalu tulus dan begitu besar mencintai kita juga bukan sesuatu yang buruk. Aku belajar memaknai tentang itu sekarang. Mencintaimu, Senja. Dan menerima cintamu, Fajar. Akankah begitu? Ataukah akan ada takdir lain?
----
Jatuh cinta pada pandangan pertama. Senja membuatku mencintainya. Senja membuatku larut dalam dekap perasaan tergila-gila tanpa batas. Semburat warna-warninya adalah keindahan yang mampu membuatku hilang akal. Aku gila karena mencintai Senja. Benar-benar nyaris gila karena cinta yang begini besar. Aku berusaha menjaga dan mempertahankan Senja-ku. Mengenggam jemari Senja meski kerap dilepaskan. Aku terus mengenggam senja dengan erat. Aku mencintaimu Senja, aku mencintaimu. Tak akan habis cinta ini meski sudah ribuan rasa yang tak kau acuhkan. Aku akan tetap begini. Akan ada dan bisa kau rasa. Senjaku, aku mencintaimu. Sadarilah itu. Pahami ak…

August End I - Sebuah Kisah

Aku benci mengakui bahwa aku telah mencintaimu dengan kadar yang terlalu banyak. Aku benci mengakui bahwa aku cemburu pada perempuan-perempuan yang dekat denganmu. Aku benci mengakui bahwa aku merasa kalah dari mereka. Aku kalah dari mereka dalam hal mendapatkan perhatianmu. Aku kalah..
--
August End Aku sangat berterima kasih pada Jack Dorsey karena sudah membuat situs jejaring sosial sekeren Twitter. Karena dengan begitu aku bisa menemukannya. Ya, menemukannya. Lalu mengenalnya dan menjadi dekat. Aku dan dia. Kemudian kebahagiaan. Aku memang mengenalnya melalui twitter, saling follow. Kemudian obrolan tidak jelas melalui retweet dan berakhir pada konspirasi lugu di direct message. Dan kemudian sebuah kisah. Kisah main-main. Begitu judul awal yang kulekatkan sembarangan di hubungan ini. Sebuah jeda yang kuambil agar aku tidak terlalu tertekan dengan segala tugas ospek mahasiswa baru. Kuanggap dia penawar. Lelagu yang didendangkan agar aku bebas dari lelah. Namun waktu mempermainkanku. En…

Dalam Doaku

Dalam doaku, aku meminta Tuhan menjagamu Dalam doaku, aku meminta Tuhan memaafkanku karena meninggalkanmu Dalam doaku, aku meminta Tuhan menyelipkan kebahagiaan dalam setiap harimu Dalam doaku, aku meminta Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk berubah demi kamu Dalam doaku.. Aku minta maaf padamu Maaf karena aku terlalu egois dan kekanak-kanakkan Maaf karena aku terus merengek meminta perhatianmu Karena kulanggar janjiku untuk bertahan bersamamu Karena menulis kata-kata tak ingin mengenalmu di pesanku Karena selalu saja kalah melawan jarak dan rasa rindu yang menggerogoti Maaf.. Dalam doaku pula, kuhaturkan terima kasih padamu Terima kasih.. Terima kasih karena telah membuatku merasakan manis dan asamnya cinta pertama Terima kasih karena telah mengajariku mengalah pada rasa egoku yang membengkak Terima kasih karena telah membuatku sangat sangat bahagia ketika berada di dekatmu Terima kasih karena telah memelukku dalam kehangatan perasaan yang entah berjudul apa Karena telah menjadi satu-satunya pri…

HALF VAMPIRE - Kembalinya Arshel

Aku berada dalam kegelapan total. Tanpa cahaya setitikpun. Mataku seperti buta. Aku mengerjap-erjap. Mencoba menemukan kembali kemampuanku untuk melihat. Kepanikan merasuk ke seluruh inti tubuhku. Tidak. Ada apa ini? Dengan kasar kuusap kedua kelopak mataku menggunakan punggung tangan kananku. “Sherena..”                                                   Aku menoleh ke belakang. Gelap. “Si-siapa..??” Hening menjawab pertanyaan sia-siaku. Aku berputar, mataku mengelilingi setiap jengkal. Tapi tak ada penampakan lain selain kegelapan total yang malah membuat kepalaku pening. Aku jatuh terduduk. Tolong, bisikku pada hitam yang menggantung. Kusentuhkan kedua tanganku pada tempurung kepalaku. “Tidak apa-apa, Sherena..” Aku merasa sesuatu menyentuh pundakku dengan lembut. Dan ketika aku berjingkat, berdiri dengan terkejut, mendadak kegelapan yang mengepungku seperti kabut yang diterangi sinar matahari pagi, perlahan-lahan menghilang. Aku memejamkan mataku, membukanya lagi, memejamkannya lagi dan…

HALF VAMPIRE - Petanda

Nyaris tiga hari ini aku diliputi perasaan tertekan dan rasa ingin tahu yang besar. Semua yang kulakukan rasanya salah dan berantakan. Aku tahu Rosse maupun Damis menyadari itu karena mereka berdua dengan pedulinya menanyakan apa ada sesuatu yang mengangguku. Terang saja aku menggeleng cepat dan mengatakan aku baik-baik saja. Sangat tidak mungkin bagiku untuk jujur kepada mereka. Mana mungkin kukatakan tentang Ar dan Noura. Tidak. Kugelengkan kepalaku dengan cepat. Tidak mungkin. Mereka berdua tidak mungkin saling kenal. Tapi rona muka Noura dalam penglihatanku ketika itu menggambarkan dengan jelas betapa Noura sangat lega melihat Ar. Dan dia menyebut nama Ar dengan lugas. Sangat akrab.  Bagaimana mungkin aku tidak tahu ini? Aku menghabiskan sebagian besar waktuku bersama Ar selama kami di pelatihan maupun dalam tugas. Danlagi, Ar selalu menceritakan apapun padaku. Semuanya, kecuali mungkin yang satu ini. Atau, entah apa lagi. Apa jangan-jangan Ar memang menyembunyikan banyak hal dariku.…

HALF VAMPIRE - Tujuan Lain

"Apakah aku akan tetap aman selama aku ada di kastil ini?" Reven menyentuh bahu sosok yang berbaring menatapnya itu, "Akan, tetap dan selalu." Jawab Reven pasti. Tapi tidak ada jawaban ataupun reaksi lain setelah itu. Hanya sepasang mata hijau yang menatapnya kosong. "Kau harus percaya padaku, Noura. Kastil ini adalah tempat paling aman." Diraihnya tubuh Noura ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat dan penuh perlindungan. "Aku melihatnya lagi, Rev. Kilasan yang sama ketika aku mengistirahatkan pikiranku. Ini mungkin petanda." Bisik Noura pelan dalam dekapan Rev. Reven menggeleng, "Tidak akan ada yang bisa melukaimu selama aku bersamamu." Diusapnya pelan rambut Noura, disalurkannya semua energi positif yang dimilikinya. "Tapi kau tidak akan selamanya bersamaku, Rev. Begitu banyak tugasmu di luar sana yang harus kau kerjakan. Lagipula, segala yang kulihat bukan hanya tentang aku. Tapi Maurette juga. Aku menkhawatirkannya." Sahut Nour…