Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2013

HALF VAMPIRE - Kisah-Kisah

Aku berdiri memandang pintu ruangan ini dari luar, pintu ruang pribadi milik Reven. Ruang bawah tanah yang selalu membawa hawa dingin yang khas. Aku menelan ludahku, merasa sedikit gugup. Membayangkan harus bicara berdua saja dengan Reven di dalam ruangan ini sungguh tidak mengenakkan. Jujur saja Reven sama sekali bukan teman bicara yang bisa membuatku nyaman, terakhir kali bicara berdua dengannya aku malah membuatnya marah. Aku menelan ludahku sendiri ketika kuputuskan aku harus segera masuk ke dalam sini. Reven mungkin sudah menungguku. Tanganku terulur menyentuh kenop pintu ruangan ini ketika mendadak pintu ruangan ini malah terayun terbuka dengan sendirinya. Aku nyaris melompat karena terkejutnya, sebelum akhirnya aku bisa menguasai diriku sendiri. Aku mengutuk Reven yang mungkin saja melakukan ini. Ketika aku melangkah masuk ke dalam ruangan yang selalu berbau basah ini, aku melihat sosok lain yang jelas-jelas tidak kukenali sebagai Reven. Sosok itu berdiri menatap perapian, membe…

HALF VAMPIRE - Sakit

Kedua tubuh itu berdiri tegak mengamati dari puncak bukit tertinggi. Bersembunyi dari pancaran panas sinar matahari siang, diantara rerimbunan pohon, dua pasang mata itu menatap dengan awas ke keramaian jauh di bawah mereka. “Jadi tempat itu ya?” Dev mengangguk tanpa menoleh pada Damis yang berbicara padanya. “Nampak normal bukan? Tapi kalau mencium bau yang menguar kuat dari sana, kau tahu betulkan Damis, tempat apa itu?” Damis tertawa kecil, “Werewolf  punya bau paling busuk dari semua bau yang pernah kucium. Jadi sebaiknya kita pergi sekarang Dev. Urusan kita disini sudah selesai.” Dev mengangguk. Mengikuti Damis yang berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. *** Dua hari ini aku merasa tidak enak badan. Seringkali aku terbangun dengan tubuh mengigil hebat. Padahal perapian di kamarku menyala dengan sangat terang. Aku bahkan menyeret selimutku dan berbaring melingkar di depan perapian karena aku tak juga merasa hangat. Aku terbangun dengan lemas ketika merasa seseorang memanggilk…

Hujan, Kamu dan Sihir Hujan

Ketika mendengar suara hujan aku selalu mengingatmu. Ketika disentuh hujan aku selalu mengingatmu. Ketika melihat hujan aku selalu mengingatmu. Ketika merindukan hujan berarti aku juga merindukanmu. Hujan dan kamu adalah satu bentuk kesatuan yang saling melekat dan membawaku dalam diam yang lama. Aku suka hujan. Aku suka kamu. Kehilanganmu adalah kehilanganku akan hujan. Dan akankah itu terjadi? *** Aku menepi, merasakan titik-titik air yang jatuh dari langit mulai membasahi kepala, bahu dan wajahku. Mula-mula aku hanya diam, lalu perlahan mendongak. Langit gelap. Aku masih diam ketika hampir semua orang di dekatku berlarian menghindari hujan. Bergegas mencari tempat berteduh. Bahkan yang sudah memakai payung pun masih berjalan dengan cepat hanya karena mereka tidak ingin basah oleh air hujan. Ah, orang-orang ini, keluhku dalam hati. Aku menepi bukan untuk menghindari hujan. Aku menepi untuk memberi jalan kepada mereka yang bergegas. Sebab aku ingin menikmati hujan tanpa menganggu orang…

HALF VAMPIRE - Hubungan

“Apa yang membawamu kesini?” Damis memandang Reven yang masih saja pada posisi awalnya ketika dia masuk ke ruangan ini. Lidah api kecil berpijar remang dari sudut tempat ini. Damis diam, tak menjawab, sebelum akhirnya dia memilih duduk di depan Reven. “Tidakkah kau pikir situasi ini sudah semakin buruk, Rev?” “Semua sudah tahu soal keberadaan calon ratu. Dan nasib Sherena yang masih separuh vampir tanpa kemampuan vampirpun memperburuk segalanya. Kau tidak bisa selamanya membiarkan dia hanya berada disini.” Kali ini Reven mengangkat wajahnya, menatap saudaranya itu dengan tatapan biasa, “Bukankah kau senang kalau gadis itu ada disini lebih lama?” Damis tertawa kecil, “Ya, tentu saja. Tapi semua yang kukatakan sama sekali tidak bersinggungan dengan masalah itu. Ini tentang kita. Tentang kelangsungan kelompok kita.” Wajah Damis menjadi serius. Sejenak kemudian dia menyandarkan punggungnya ke belakang. Wajahnya beralih menjadi lelah. “Jujur saja aku bosan hanya berada disini.” “Lalu?” Damis …