Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2013

HALF VAMPIRE - Maurette

Hello semuanya.. karena aku sedang bahagia aku akan posting chapter baru hari ini. Semoga kalian semua menyukainya. Tinggalkan komen sebagai jejak dan kalau bisa, share cerita ini juga ya. :P *peluk all readers* -amouraXexa-
--------------------------------------------------------------
“Jadi apa yang sesungguhnya terjadi ketika itu?” Reven berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar marah, ditatapnya Vlad yang sepertinya tidak memperdulikan apa yang telah dikatakannya. “Apa Noura memang sedang dalam tugas? Jika tidak kenapa dia bisa ada disitu?” Reven tidak mau menyerah. Vlad mengangkat sedikit wajahnya, menatap Reven dalam kegelapan temaram ruang pribadinya. “Aku tidak tahu apa-apa.” Suaranya tenang, tanpa tekanan apapun.”Kau harusnya sudah tahu bagaimana sifat Noura yang keras kepala dan obsesinya tentang memperbaiki hubungan kita dengan para manusia serigala. Tidakkah kau lihat benang merahnya? Noura bertindak sendiri dalam masalah ini.” Reven membalas tatapan Vlad, memikirkan apa ya…

HALF VAMPIRE - Akhtzan

“Aku harus bagaimana, ayah?” Wajah Ar kuyu, memucat dan terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya. “Tetaplah jaga, Sherena.” Suaranya serak dan berat. Ar mengangkat wajahnya. Menatap wajah ayahnya yang duduk di sampingnya. Rambut ayahnya putih panjang sampai sepinggang dengan janggut yang sama putihnya. Kusut dan awut-awutan. Kerutan-kerutan memenuhi wajah tuanya yang pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya yang kecil, memerah dan berair. “Tapi, Rena. Rena akan berubah, ayah. Dia akan berubah. Dia akan berubah.” Suara Ar gemetar. Wajahnya ketakutan dan dia terlihat sangat rapuh. Akhtzan menyentuh lengan putra kesayangannya itu, menyentuhnya dengan lembut. Jemarinya yang rapuh bergerak pelan. Ujung-ujung tangannya yang panjang menghitam, berkerut karena usia dan interaksi dengan ramuan yang intens. “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, anakku.” Bisiknya. “Ayah.. aku takut.” Ar menyurukkan tubuhnya ke dada ayahnya yang kecil, kurus. Akhtzan tak berbicara, tangannya merangkul putranya. Me…

XEXA - Ares

Dave melangkah cepat melalui patung-patung gargoyle yang berderet memanjang di sepanjang jalan masuk kastil. Dia berhenti di pintu utama kastil, mengumamkan mantra dan pintu itu mengayun terbuka. Dave kembali melangkah masuk, berjalan dengan pasti melewati koridor-koridor yang semula gelap, sebab ketika dia melangkah, patung-patung kecil pemegang obor batu itu meniupkan api dari dalam mulutnya dan api menyala konsisten dari obor-obor batu yang menempel di sepanjang dinding. “Ares.” Panggilnya begitu dia sampai di aula besar yang dihiasi ornamen-ornamen cantik bernuansa megah. Namun tak ada siapapun di ruangan ini sampai dia melihat seekor cicak menempel di salah satu kelambu berwarna emas yang menutupi jendela tinggi besar yang terpasang mewah. Berdecak kesal, Dave melangkah mendekat ke cicak itu, “Barielle.” Tegur Dave. Namun tidak ada yang terjadi selama bermenit-menit kemudian. Dengan kesal, Dave mengayunkan telunjuk tangan kirinya dengan malas dan sepercik kilat menyambar tubuh si c…

HALF VAMPIRE - Rahasia Morgan

“Mana kudanya?” Kedua bola mataku mencari-cari dengan tidak tenang. Tidak ada seekor kudapun di depan rumah Morgan ketika aku dengan semangatnya berjalan ke luar rumah. Morgan berjalan di belakangku, berhenti di sampingku. Memandang ke depan. “Aku membatalkan tentang kuda tapi kita akan tetap jalan-jalan hari ini.” “Apa?” aku menoleh dengan tidak senang. “Kenapa? Aku sudah lama tidak berkuda.” Protesku keras. “Aku bilang soal ini pada bibi Muriel tadi malam. Dan dia menyarankan untuk kita menunda berkuda hari ini. Mungkin kakimu masih belum sembuh benar.” “Aku sudah sembuh.” Tegasku. “Lihat.” Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan sebal. Morgan hanya melirik sebelum dia melangkah ke depan. “Ayo jalan-jalan. Tutup pintunya, Sherinn.” Apa yang dikatakannya? Aku membanting pintu menutup, Morgan tidak menoleh. Dia tahu jelas bahwa aku kesal tapi dia diam saja. Aku benci Morgan. Aku benci dia. Sudah berapa kali dia bertindak seenaknya seperti ini. Seharusnya dia tidak usah bilang tentang berkuda…

HALF VAMPIRE - Tentang Cinta

Haloo semua pembaca HV, aku sangat berterima kasih, kalian semua telah mampir ke blog ini. Semua yang datang, baca, komen bahkan share. Makasih ya. Oiya, karena banyak komentar dengan akun anonim (anonymous) dan aku ga tau gimana manggil kalian. Bagaimana kalau kalian yg pakai akun komentar ini menggunakan inisial atau nama di bawah komentar kalian. Jadi aku bisa tahu dan menyapa kalian. Hehehe. Sekedar saran sih, tapi kalau kalian tidak mau. Itu tidak apa-apa. Tetep baca dan komen HV aja sih. Share juga kalau bisa. :P
Kalian semangatku. Terima kasih.. :))

**********************

“Jadi kau sudah bertemu dengan Rowena?” tanya Morgan ketika siang hari dia pulang ke rumah untuk membawakan makanan dan sup obat kepadaku. Aku mengangguk, masih sibuk dengan sup obat yang membuat nafsu makanku meningkat berkali-kali lipat.
“Dia perempuan yang baik.” Komentarku setelah meneguk sesendok sup obat terakhirku. Aku melihat Morgan mengangguk-angguk kecil, namun wajahnya terlihat tidak bersemangat.
“Ada a…

HALF VAMPIRE - Rowena Reeser

“Vlad..” Rosse menyentuh bahu laki-laki yang sudah hidup bersamanya selama lebih dari ribuan tahun itu. Wajahnya penuh kekhawatiran dan terlihat jelas tidak sabar. Vlad hanya memandang Rosse sekilas sebelum kembali menatap perapian yang apinya menjalar-jalar besar tak jauh di depannya. “Bukankah sudah saatnya kau turut campur disini.” Suara Rosse setengah memaksa namun Vlad sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya berbanding terbalik dengan wajah Rosse. Memucat seperti mayat, datar, mata merahnya menatap tajam tak berkedip. “Kau tahu jika terus seperti ini, itu akan melukai Reven. Kau menyayangi diakan, Vlad?” tanya Rosse dengan nada lebih lembut, merayu. Rosse nyaris meneteskan air mata ketika Vlad tetap bungkam. Tidak mengiyakan permohonannya tidak pula menolaknya dan itu membuat Rosse semakin frustasi. Bahkan cahaya temaram di ruangan ini tak membuat wajah Rosse yang gusar, memudar. Dengan putus asa, tubuhnya merosot, memeluk lutut Vlad, memohon. “Vlad, aku mohon. Maafkan apa yang telah d…