Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2013

Cuap Cuap Next Chapter

Halooo semua pembaca dan pengunjung blogku.. Terima kasih telah mampir ke blog-ku yang yah gini-gini aja ini. :P Btw, Aku mau memberikan sedikit pengumuman disini. Woro-woro gitu ceritanya.. Emm.. begini yah.. begini.. Jangan protes dulu..  Kemungkinan besar sampai dua minggu ke depanTIDAK AKAN ADA chapter baru untuk beberapa judul yang ada di blog ini, seperti Half Vampire, Another Story maupun Xexa. Dua minggu ini aku ada UTS di kampusku dan aku ingin fokus pada kewajibanku yang satu itu. Sudah menjelang semester tua, maklum.. hehehehe. Jadi maaf.. maaf banget ya buat kalian yang sudah menantikan chapter-chapter selanjutnya untuk cerita-cerita yang ada disini, khususnya HALF VAMPIRE tentu saja.

Half Vampire - Respon

“Jadi tidak ada apapun yang kau dapatkan selama berbulan-bulan disana?” suara Vlad menggema di seluruh ruangan. Dia tidak perlu meninggikan suaranya tapi nada penuh kemarahan yang terkandung disana sudah cukup membuat Russel menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Aku berharap banyak padamu, Russel. Kau yang mengatakan padaku bahwa kau akan bisa melakukan ini dengan baik sama seperti jika Reven yang melakukan tugas ini.” Vlad bangkit dari duduknya. Dengan langkah perlahan dia mendekat ke tempat dimana Russel berdiri dengan kegelisahan yang jelas. Di sudut lain Reven mengamati dalam diam. Dia sama sekali tidak menyela dan hanya memperhatikan. Dia sudah ada di ruangan ini ketika Russel datang, sama halnya dengan Rosse yang duduk di samping tempat dimana sebelumnya Vlad duduk. Sama sekali tidak ada suara yang menginterupsi. Hanya suara langkah kaki Vlad yang memenuhi ruangan yang senyap. Dia memutari Russel, berjalan dengan mata menatap tajam pada Russel yang masih terus menunduk, “Jadi katak…

Half Vampire - Awal

Kami bertiga kembali ke kastil ketika matahari sudah terbit. Dalam dia dan tenggelam dengan pikiran masing-masing kami melangkah memasuki pintu utama kastil. Aku menoleh pada Reven dan Damis dengan tidak bersemangat, “Aku akan kembali ke ruanganku.” Ucapku pelan. “Kami bisa menemanimu.” Saran Damis dengan tulus. Aku menggeleng, “Aku baik-baik saja, Damis.” Aku mencoba tersenyum dan dia menatapku dengan ragu. Reven hanya memandangku tanpa sedikitpun ekspresi yang bisa kubaca di wajahnya. Aku menarik nafas panjang-mulai terbiasa kembali dengan akktifitas bernafasku-, aku tahu mereka mengkhawatirkanku. Ini baru beberapa jam setelah aku menyelesaikan pembunuhan pertamaku. Darah manusia pertamaku. Kehidupan vampirku yang sebenarnya baru dimulai, dan aku paham bagaimana mereka mungkin takut aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagi diriku sendiri. Damis mungkin melakukannya karena memang dia seperti itu dan Reven, aku memandangnya sekali lagi, melakukannya karena memang inilah tugasnya. …

Menjadi Dewasa

Ketika perasaan menuntut terlalu banyak dariku. Aku akan berhenti hanya untuk memijat tulang hidungku dan mencoba mendinginkan kepalaku. Bersama dengan semua masalah dan tuntutan yang ada, akankah semua berjalan dengan baik-sesuai dengan yang mereka mau? Aku tidak pernah mengerti kenapa kepalaku bisa menampung begitu banyak pikiran yang bila kutulispun akan butuh berrim-rim kertas untuk menyalinnya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengosongkan isi kepalaku sesaat. Tidak memikirkan apa-apa dan merasa bebas. Ya, kebebasan. Aku merindukan saat-saat itu. Dulu, di sebuah masa aku pernah merasakan perasaan itu. Merasa sangat bebas tanpa peduli pada apa yang terjadi, melakukan apa yang memang benar-benar ingin aku lakukan. Bukannya melakukan sesuatu karena orang lain menginginkan aku melakukannya. Aku berharap aku bisa mendapatkan masa itu kembali? Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Ketika umur semakin bertambah, hidup menuntutku untuk tidak egois seperti dulu lagi. Membawaku kepada sebuah t…

Xexa - Fred

“Aku ingin bicara padamu, bibi.” Azhena menoleh sejenak, “Bukankah sedari tadi kita sedang berbicara.” Dave mengayunkan tangan kirinya dan sebuah kursi berlengan yang nyaman mengarah ke dekatnya. Duduk disana, dia menghadap ke arah meja utama Azhena, “Maksudku pembicaraan yang lebih serius, bibi.” Mendengar bagaimana seriusanya nada suara Dave, Azhena memilih mengikuti apa yang dimau Dave dan dia melangkah kembali ke belakang mejanya, duduk disana dan menatap langsung ke wajah Dave yang bersinar tegas, “Jadi ini tentang apa?” “Beberapa waktu yang lalu, aku memasuki dunia lain.” Dave bisa melihat bagaimana raut wajah Azhena berubah, tapi wanita itu mencoba untuk diam dan mendengarkan, “Aku mencari tahu tentang Xexa.” “Lalu?” Dave menghela nafas panjang, “Aku tidak menemukan apapun.” Katanya frustasi. Mengabaikan Dave dan menarik sebuah buku di dekatnya, dia membolak-balik buku itu. Membiarkan Dave menunggu. Tapi ketika Dave melihat Azhena tidak akan mengatakan apapun, dia melanjutkan, “Aku ba…

Half Vampire - Kisah Masa Lampau

Reven memandang bulan yang bersinar redup, matanya menyipit dan udara malam yang dingin membelai tubuhnya. Jendela kamar Sherena terbuka lebar, menampilkan tubuhnya yang tegak memandang keluar, menerawang. Siapapun yang melihatnya akan tahu, bahwa entah apa yang dipikirkannya, fokusnya tak ada di tempat ini. “Noura..” panggilnya lirih, “Haruskah kulakukan seperti apa yang kau mau.” Desahnya. “..Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?” Wajah memohon Noura membayang di kepalanya dan Reven menggeleng pelan. “Tapi aku tidak bisa, Noura. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Tidak akan pernah ada satu orangpun yang bisa menggantikan tempatmu. Tidak akan pernah ada.” Dia berbalik dan melihat tubuh Sherena yang meringkuk di atas tempat tidurnya. Sejak perempuan itu bisa tertidur, dia sudah melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Lagipula apa memang yang bisa perempuan itu perbuat jika dia ada disini, m…

Half Vampire - Jiwa Noura

Angin berhembus lembut menerpa wajahku ketika aku membuka mataku perlahan, langit yang mendung memenuhi pandanganku dan aku baru tersadar bahwa aku terbaring di atas padang bunga ungu di dekat kastil. Aku mengerjap pelan, membiarkan kesadaranku mencapaiku sampai pada titik penuh. Aku mengerjap lagi lalu beringsut bangun. Tak menegrti bagaimna bisa aku ada berada di tempat ini. “Sudah bangun, Rena?” Aku menoleh ke belakang dan senyum manis milik perempuan bermata hijau itu membuatku membeku. Noura? Aku mengerjap lagi, lebih cepat agar bisa menghapus bayangan Noura dari kepalaku. Namun dia masih melengkungkan senyum yang sama ketika aku membuka mataku entah untuk keberapa kali lagi. “Ini bukan penglihatan atau kenanganku, Rena.” Suaranya lembut dan terdengar begitu manis di telingaku. Aku tidak mengerti. Bukankah Noura sudah mati, lalu bagaimana bisa dia ada disini, di depanku dan berbicara denganku seolah-olah dia masih hidup? Dia sudah mati, begitulah yang dikatakan oleh semua orang. Lal…