Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Another Story - Informasi Baru

Bersama Rena adalah ketika aku bisa menjadi benar-benar merasakan apa itu kebahagiaan. Bukannya selama ini aku menderita atau apa. Hanya lebih seperti jenuh pada kehidupanku yang monoton. Tapi dengan Rena, segalanya lebih berwarna dan terasa penuh gairah. Entah karena pengaruh Rena atau bukan, aku jauh lebih senang berbicara sekarang. Bahkan Viona dan Lyra mengatakan itu kepadaku ketika aku pulang ke kelompok selama beberapa saat. Mereka menatapku dengan penuh tanda tanya hanya ketika aku bercerita begitu banyak tentang kehidupan manusia yang tengah kujalani. Aku bahkan tak me nyadari tatapan itu jika saja Lyra tak menggeleng dan berdecak menyebalkan. Aku mengangkat alisku. Lyra masih berdecak, “Dia aneh bukan, Viona?” Viona mengangguk, sebagian ekspresinya terlihat lucu dan menahan tawa, “Kau yakin mereka tidak memberimu sesuatu yang berdampak buruk pada kaum kita?” Lyra terkekeh, “Kurasa dia makan makanan manusia terlalu sering.”

Remember Us - Belahan Jiwa

Hai.. hai.. aku datang lagi. Maaf tidak bisa menepati janjiku untuk memposting cerita ini dengan lebih teratur. Aku sedang sibuk berperang. Perang melawan hawa dingin. Winter is coming.. Brrrr.. *Kayak di Game of Throne. LOL* Aku sedang di Jerman sekarang dan di sini dingin sekali. Sebagai makhluk yang terbiasa hidup di Surabaya dan berjibaku dengan matahari Surabaya yang ejegileeee panasnyee.. Hawa di sini bikin aku langsung mati kutu dan menelan umpatanku pada panas Surabaya. Sekarang aku merindukan dan memuja cuaca panas *tapi ya jangan panas-panas banget kaya Surabaya kalo lagi mode on*. Nah, selain perang sama hawa dingin.. aku juga lagi sibuk.. narsis. Foto-foto ngga jelas di sini. LOL. Dimanapun dan kapanpun, selfie is the best. Kalian bisa lihat gaya endelku tempat apa saja yang kukunjungi di Jerman di IG-ku @amouraxexa, as always. Omaiguuuteee, aku promosi akun sosialku. Uhuk uhuk! *abaikan* Oh astagaaa astagaaaaa, nulis apa sih aku ini. Eh tapi ngomong-ngomong kalian masih meny…

Remember Us - Janji

“Kau—“

Tapi Morgan menggeleng, “Tidak. Kujelaskan nanti. Sekarang ikut aku, Sherinn. Di sini berbahaya.” Dia melompat, berubah menjadi serigala besar. Matanya menatapku sebentar, memintaku mengikutinya sebelum dia melompat dan pergi dengan cepat. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya dengan tak kalah cepat. Meninggalkan derap langkah kaki yang mendekat ke arah kami. Morgan membawaku menjauh dari lingkungan kastil. Dia berhenti di bukit terjauh dimana puncak kastil hanya terlihat seperti sesuatu yang samar. Serigala besar itu berbalik dan menghilang, digantikan sosok manusia Morgan. Seorang laki-laki dewasa dengan telanjang dada, otot-ototnya terlihat jelas, tertutup oleh kulitnya yang berwarna semakin gelap. Morgan terlihat lebih tua daripada ketika aku terakhir kali aku bertemu dengannya. Manusia serigala menua, meskipun dengan proses yang tidak secepat manusia. “Jelaskan padaku.” Desisku tanpa mau menunggu. Aku menatapnya dengan marah, tak peduli bahwa inilah pertama kalinya kam…

Another Story - Perempuanku

“Kau yakin kita harus mengatakan ini pada Ar?”

Rena mengangguk yakin, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekhawatiran sedikit pun.
“Aku ingin Ar yang pertama tahu tentang kita, Dev. Kami tidak pernah menyembunyikan sesuatu satu sama lain. Jika aku tidak mengatakan hal penting seperti ini pada Ar, ini akan sangat tidak adil untuknya. Aku tidak bisa.”
Aku mengerutkan kening. Memprotes perempuan di depanku ini sepertinya akan percuma. Dan keyakinannya tentang Ar membuatku entah mengapa jadi sedikit sebal. Kenapa dia malah berkata dengan gigih seperti itu tentang laki-laki lain di depanku?
“Aku masih tidak yakin.”
Kedua bola mata Rena menegas. Matanya memicing, “Aku tetap akan memberitahu Ar.”
“Memberitahu apa?”

Xexa - Kaum Liar

Ribi melangkah dengan hati-hati. Hutan ini tidak berujung. Mereka sudah berjalan berjam-jam yang lalu dan seolah-olah tidak akan berakhir. Ribi benci ini. Sejak awal dia tidak suka hutan ini, dan sekarang, berjalan diantara batang-batang abu-abu dan tanah segelap langit malam. Belum lagi ketika dia mendongak, dedaunan berwarna sepekat darah menyambutnya. Tempat ini mengerikan dan terkutuklah para penyihir yang membuatnya.


“Kita sampai.” Bisik Fred, memegang tangan Ribi ketika dia terhuyung nyaris jatuh karena tersandung akar pohon. Ribi mengumamkan terima kasih dan memandang ke depan. “Hi—jau.” Dia bergumam, ada sesemakan di depannya, dan warnanya begitu hijau, begitu alami. Dave dan Ares melewati sesemakan itu dengan usaha cukup besar. Lengan-lengan terangkat melindungi wajah agar tidak tergores duri ataupun batang-batang kecil yang tajam. Dan ketika muncul celah-celah karena pergerakan mereka, Ribi bisa melihat kilauan fajar yang mulai menyingsing. Sudut bibirnya tertarik ke atas den…

Malaikat Hujan - Dilla

Ini pertama kalinya aku melihat Adrian terlihat serapuh ini. Aku biasa melihat sosok Adrian yang dingin, mandiri dan tenang meskipun kadang agak pemarah. Namun sekarang, hanya berjarak beberapa meter, aku bisa melihatnya yang duduk dengan wajah kosong menatap ke dinding kaca kantornya yang mengarah ke luar. Wajahnya kuyu, dengan rambut yang tidak disisir rapi dan jenggot dan kumis yang mulai tumbuh di sana. Padahal aku tahu pasti bahwa Adrian sama sekali tidak suka memelihara kumis dan jenggot.
Aku menghela nafas. Sekretaris Adrian menghentikan langkahku untuk mendekat ketika dia berkata dengan sangat pelan, “Pak Adrian sedang tidak ingin diganggu, Bu Dilla. Lebih baik anda kembali lain waktu saja. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Pak Adrian.” “Biarkan aku menemuinya sebentar, Afrin. Aku tahu dia tidak akan marah padamu karena ini.” aku menatap Afrin penuh keyakinan. Dia menatapku ragu sebelum akhirnya melangkah menyingkir, memberiku jalan dan mengangguk. Aku berjalan…

Remember Us - Firasat

“Rena..”
Sentuhan lembut tangan Reven di pundakku membuatku mengangkat wajahku. Kedua bola mata biru Reven membingkai wajahku, dengan sabar dia mengusap wajahku, membersihkan tanah yang menempel di wajahku, “Ayo pulang.” Bisiknya.
Aku menggeleng, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”
Reven mengangguk, “Pasti.” Dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis terisak di dalam pelukannya.
Butuh waktu yang lama bagi Reven untuk menungguku mau beranjak dari tempat ini. Ketika akhirnya aku sanggup membiarkan diriku meninggalkan tempat ini, Reven mengenggam tanganku erat dan membiarkanku memimpin langkah kami, pulang. Pulang. Sebuah kata yang kerapkali membuatku marah dengan bangsa manusia. Mereka menghancurkan rumah kami, kastil utama bangsa vampir. Merusaknya hingga tidak mungkin lagi bagi kami untuk tinggal di sana. Entah berapa banyak serbuk perak yang mereka tebarkan di sana dan membuat kami, bahkan untuk sekedar mendekat saja tida…

Remember Us (TEASER)

Halooo, astaga astaga. Rasanya lama sekali sejak aku memposting ceritaku yang terakhir kali. *tengok arsip* OMG!!!! >.< Dua bulan tanpa postingan apapun. Aku merasa berdosa. *pandangin kaca*
Tapiii... aku akan membayar segalanya dengan kejutan ini. Ini juga sekaligus akan menjadi ucapan bahagiaku sebagai seorang Virgo yang telah berulang tahun tanggal dua kemarin. Hahahayy.. tambah tuaaa... *benerin poni*.
Well, tidak perlu berlama-lama. Akan aku katakan apa itu..
Astagaa... aku bersemangat sekali. Emm begini-begini, aku tahu banyak dari kalian yang merindukan HV, dan aku tidak bisa munafik kalau aku juga merindukan mereka semua, terutama REVEN. Astaga.. astaga.. aku kangen nulis tentang dia dan apa yang terjadi diantara dia dan Sherena. Menulis Remember Us yang tidak pasti jadwalnya membuatku frustasi. Jadi aku memutuskan akan menulis RU secara konsisten seperti ketika aku menulis HV, entah untuk satu minggu atau dua minggu sekali. Seperti yang kalian katakan, ini akan lebih seper…

Kenangan Kita

Memilih menjadi seperti ini. Memilih bertahan seperti ini. Meskipun terasa begitu sulit dan  beban yang tertanggung sedemikian rupa, tapi di sinilah aku. Berada di jalan yang membawaku tetap bersamanya. Tidakkah dia ingin tahu kenapa aku bisa bertahan sejauh ini dengan semua keadaan yang ada? Tidakkah dia penasaran kenapa aku diam sementara waktu memampangkan kisah lalu yang tak mudah? Jawabannya hanya satu. Kenangan. Aku bertahan sejauh ini dengan berpegangan erat pada kenangan tentang kami. Aku diam akan semua yang terjadi di masa kemarin karena kenangan itu melembutkan amarahku dan membelai lembut kepalaku yang memusing karena hal buruk di masa itu.

Another Story - Pengakuan

“Kalian berdua ternyata lebih kekanak-kanakan daripada aku.” Ar memandang ke arahku dengan setengah kesal. Dia sudah mendengar dari orang lain tentang apa yang terjadi denganku dan Rena. Aku juga masih ingat dengan jelas bahwa Rena menambahkan beberapa teriakan waktu itu padahal kami sudah cukup menjadi pusat perhatian. Aku hanya diam. Tidak membantah, tidak mengatakan apapun. Membiarkan Ar menyelesaikan semua omelannya seperti wanita tua. Aku ahli dalam berpura-pura mendengarkan. Tak masalah bagiku. “Aku bahkan tidak yakin apa masalah kalian sebenarnya.” “Kami tidak punya masalah apapun.” “Lalu kenapa kalian seperti ini?” Aku menghindari tatapan Ar, entah kenapa aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu yang buruk. Sampai saat ini aku masih tidak bisa membaca pikiran Ar. Jadi akan sangat buruk jika di dalam kepalanya yang keras itu dia berpikir aneh dan membuatku kesulitan menjalankan tugasku. “Kalian saling menyukai?”

Superman Is Dead (Tentang sebuah cerita dan kenangan)

Kangeennn.... Sudah nyaris dua tahun lamanya ngga nonton SID live concert. Yah, meskipun begitu, nonton yang di tv macam ini, bisa bikin sedikit.. yah.. aku suka mereka. Dulu, ketika kuliah di Malang dan awal-awal kuliah di Surabaya, aku paling hobi dateng ke konser SID, nonton langsung, jejeritan, joget-joget gila kayak orang stress.. Aaakkk... Sisi "iblis" yang ada di dalam tubuhku keluar ketika aku berada bersama mereka. Well, aku ngga pernah menyesali masa-masa itu. Aku benar-benar menikmatinya. Basah, berhujan-hujanan, diantara kerumunan anak-anak laki-laki. Entah SID konser bersama Bondan, atau Endank Soekamti, atau malah bareng J-Rock dan Kotak, aku ngga peduli, yang penting mah SID-nya. Lapangan Rampal Malang, area luar stadion Kanjuruhan Malang, di Kediri (aku lupa nama tempatnya, kalau ngga salah sih di dekat bangunan ala-ala Paris itu.), di alun-alun Solo, di Surabaya (Lapangan parkir delta, lapangan ole-ole, kodam dll), di Nganjuk (dekat SMA3 Nganjuk) dan.. entah …

Malaikat Hujan - Adrian

“Adrian.. Aku mencintaimu.”   Aku memandang wajahnya, tersenyum, “Aku tahu, Dilla.” 
        “Lalu apa lagi yang kurang? Kita tetap bisa bersama bukan? Seperti yang selalu kau katakan untukku?”
      Aku masih memandang wajah Dilla, bisa kurasakan sentuhannya di tanganku menguat. Dia takut kehilanganku. Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah aku juga takut kehilangan dia? Aku mendesah, “Entahlah. Aku merasa ada yang salah.”
    “Apalagi? Tidakkah cinta kita cukup? Mamamu akan merestui kita. Kita akan menjalin hubungan serius karena kita saling mencintai. Bukan seperti yang terjadi antara mama dan papamu. Dan kita bisa hidup bahagia.”
                  Kepalaku mulai berdenyut. Jika Dilla sudah membahas tentang ini lagi. Maka akhirnya kami akan hanya akan saling beradu argumen dan berakhir dengan suara bantingan pintu dan dia keluar dari apartemenku dengan marah. Dia selalu seperti itu. Keras dan tak ingin keinginannya dibantah. Namun aku juga tidak bisa begitu saja mengiyakan apapun perka…

Xexa - Titik Awal

Dengan perasaan tak karuan, Dave memandang botol kristal kecil dalam genggamannya. Ingatan milik ibunya, atau sesuatu tentang itu, tergantung bagaimana dan sihir apa yang digunakan ibunya ketika membuatnya. Bisa jadi itu hanya sebuah suara-suara, atau mungkin penggalan ingatan-ingatan kabur. Dave tahu dia berharap lebih daripada semua yang muncul di dalam kepalanya, tapi dia tidak berani untuk melihat lebih jauh kemungkinan itu. Dia terlalu lelah untuk kecewa sekarang. Pelan dan pasti, Dave menarik nafas panjang, membuka botol kristal itu pelan dan membiarkan kabut gelap yang terperangkap di dalam sana berenang ke luar dan menyelubungi nyaris seluruh ruang pribadinya. Sesuatu yang dingin menyentuh tengkuk Dave dan dia melompat dengan terkejut, berbalik dan harus kecewa karena tidak melihat apapun selain kumparan kabut yang mulai terurai. “Dave..”

Xexa - Para Pencari

"Ikutlah denganku." Suara Dave mengagetkan Ribi yang tengah melamun di dalam ruangannya. Dia bangkit-nyaris protes-tapi akhirnya diam dan mengikuti langkah Dave keluar dari ruangannya. Ada sesuatu di wajah Dave yang membuat Ribi menahan diri untuk mengatakan apapun yang mungkin saja bisa membuat wajah itu semakin terlihat penuh masalah.
       Dia mengikuti Dave dalam diam ketika mereka berjalan di lorong-loron kastil yang megah. Dipenuhi lukisan-lukisan Mahha dari generasi ke generasi. Terkadang ada beberapa baju zirah lengkap diberdirikan seolah mereka adalah prajurit penjaga tempat ini. Obor-obor yang terpasang rapi di sebelah kanan dengan jarak lima langkah di masing-masingnya memberikan penerangan memukau. Memberikan bentuk nyata pada aneka detail pada setiap tonjolan dinding. Mereka berhenti di ujung koridor. Di depan pintu besar yang lebih mirip seperti gerbang melengkung dengan detail sulur-sulur rumit disekelilingnya. Ribi bisa melihat lambang kerajaan Zerozhia berada…

TOLONG, HARGAI SAYA!

(Source : http://www.plagiarism.org/article/what-is-plagiarism)

Another Story - Peringatan

"Dev?"                    Noura menatapku dengan terkejut. Hamparan bunga-bunga berwarna kuning di belakangnya membuatnya terlihat sedikit aneh dan gelap. Aku hanya mengangguk ketika dengan gaun warna hitamnya yang jatuh hingga ke tanah, dia mendekat ke arahku.              “Mendadak sekali. Reven sedang tidak di sini. Tapi mungkin kau bisa bertemu dengan Damis atau Russel di dalam.” Dia menatapku menyelidik, “Dan tentu saja kau bukan ke sini untuk bertemu dengan Vlad atau Rosse bukan?”               Aku mengabaikan pertanyaannya dan menatap ke hamparan bunga-bunga kuning dengan kelopak kecil yang memenuhi padang luas ini, “Kenapa sekarang warnanya kuning?”

Random Thougt : Memory Leaves Scars That Do Not Heal

Jadi.. ini semacem pikiran super random yang nyantol di kepalaku tengah malem ini. mendadak kepikiran aja dan aku pengen nulis ini di sini. Well, jangan nanya tentang Remember Us, Xexa, Another Story atau yang lainnya dulu. Tidak, aku sedang tidak punya semangat dan tidak punya inspirasi untuk menulis cerita. Kepalaku sedang penuh dengan hal-hal lain. Antara lainnya Au pair. Ah sial, melenceng lagikan. Oke Ree.. fokus.                 *tarik nafas panjang*            Nah, baiklah.. sejujurnya aku tadi ingin menulis tentang sebuah hal yang sangat menganjal di pikiranku. Sebuah pertanyaan yang beranak cucukan banyak pertanyaan lainnya dan membuatku gila.                    Bagaimana jika selama ini ternyata dia salah?

Malaikat Hujan - Nuna (Part 2)

Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali memposting cerita ini. Tapi, pada akhirnya lanjutannya ada juga di sini. Hup hup. Kisah ini hampir terlupakan gara-gara aku sibuk berkutat dengan HV.
               Jika saja, sahabatku tidak mengingatkanku akan cerita ini dan memintaku mempostingnya, mungkin aku benar-benar lupa. Hahahah. Erel.. maaf ya.
             Well, aku tidak akan bercuap-cuap lagi. Selamat membaca. Chapter ini kudedikasikan untuk sahabat terbaikku sepanjang masa. 
Bebeh, ini loh yang kamu minta. Kisahnya Erel sama Nuna. Hohoho.
Salam @amouraXexa
***

Another Story - Senyuman

Aku benar. Hari-hari selanjutnya memang menarik. Ar sudah berhenti merecokiku ketika kami berlatih. Dia memang tidak menjadi dekat denganku, namun lebih seperti mengabaikanku. Aku tidak peduli. Dia membosankan. Sementara dia sibuk melatih para junior kami, aku duduk mengamati setiap gerakan mereka. Mempelajari hal-hal seperti apa yang menyebabkan beberapa slayer kadang menjadi sangat sulit dihadapi. “Hai.” Seseorang menepuk pundakku dengan riang. Aku yang sedang terfokus pada gerakan Ar menoleh dengan terkejut hanya untuk mendapati Rena tersenyum lebar dan mengambil duduk di dekatku, “Kau tidak bergabung?” tanyanya mengikuti arah pandangku sebelumnya. “Malas.” Jawabku asal membuat dia cemberut. Aku tersenyum. Akhir-akhir ini kami menjadi sering ngobrol dan kurasa aku bisa mengubah sedikit pendapatku tentang gadis periang satu ini, dia lumayan menyenangkan. Kecuali untuk sifat ingin tahunya yang sering menyulitkanku, dan kemunculannya yang kadang tiba-tiba—seperti tadi misalnya. Kurasa a…

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Xexa - Mohave

“Jadi kalian semua bersekongkol menyembunyikan ini dariku?” teriak Dave berang di depan Azhena, Argulus dan Mora. Sementara itu Ares dan Fred berdiri di sudut ruangan, hanya mendengarkan. Azhena maju selangkah, kegusaran itu jelas tak bisa tersembunyi dari wajahnya. Dia melihat sekilas pada Mora yang hanya menunduk, “Kami punya alasan untuk melakukan ini.” Dave mendengus, “Alasan? Alasan macam apa bibi? Karena ibuku?” dia berjalan menyeberangi ruangan, “Omong kosong.” Teriaknya seraya berbalik dan menatap mereka semua dengan kemarahan meluap, “Harusnya, dengan semua usia dan kebijaksanaan yang kalian miliki. Kalian bisa memilah apa yang penting dan tidak penting. Dan jika ramalan kuno, Xexa dan kakakku masuk dalam kategori tidak penting itu. Kalian melakukan kesalahan besar.” “Dav-“ “Cukup, Argulus!” potong Dave berapi-api. Meskipun secara usia, Dave yang paling muda di sini. Namun semua yang ada di ruangan ini menyadari bahwa tidak akan mudah untuk menyurutkan kemarahannya. Dave adalah …

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Another Story - Awal

Vampir tidak tidur. Tidak pernah tidur kecuali hanya beberapa saat untuk mengistirahatkan benak kami yang bekerja terus menerus. Tapi benakku sedang tidak butuh istirahat sekarang. Aku juga tidak ingin terbaring di kamar kecil menjijikkan itu ketika malam sedang memamerkan bulan dengan cahaya penuh seindah ini. Jadi di sinilah aku sekarang. Berada di tempat paling tinggi di kastil asrama ini. Menatap ke langit. Aku tidak tahu ada tempat seindah ini. Dari atas sini, aku bisa melihat rerimbunan hutan dan cahaya-cahaya yang berpendar dari desa kecil tak jauh dari kastil ini. Lebihnya lagi, ada bulan seindah itu yang seolah menggantung di depanku. Sejujurnya, ini bukan tempat yang akan bisa dicapai jika aku bukan vampir. Tempat ini, atau bagaimana ya aku harus menjelaskannya. Baiklah begini, sederhananya, ini atap. Atap menara paling tinggi di kastil ini. Jangan menertawakanku jika kau belum pernah duduk di tempat ini. Aku merasakan ketenangan dan rasa nyaman yang akhir-akhir ini jarang b…

Xexa - Rahasia Masa Lalu

Dave menghela nafas dengan berat. Nyaris satu jam berlalu dan dia mulai bosan berada di dalam pesta ini. Dia malas bersandiwara dengan semua tutur kata dan ekspresi senang yang sesungguhnya membuatnya muak. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, Dave mundur dari pusat kerumunan dan menjauh. Dia berusaha tampak terburu-buru untuk menghindari percakapan baru dengan orang lain. Begitu mencapai pintu samping, dia mengumamkan sebuah mantra sehingga tak seorang pun akan menyadari bahwa dia membuka pintu tersebut dan menghilang di baliknya. Dave berjalan melewati koridor menuju pintu lain yang akan membawanya keluar dari kastil ini. Dia terus berjalan dan begitu sampai di luar kastil setelah dia melewati satu pintu lainnya, dia menarik nafas panjang. Udara malam selalu membuatnya merasa nyaman. Cahaya bulan di atas langit memendarkan cahaya terang di seluruh halaman kastil yang luas. Dave memejamkan matanya, mencoba melenyapkan semua pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya sepanjang pesta. …

Half Vampire - Kematian

Haii.. hai... aku kembali. Hahaha. Maaf ya membuat kalian menunggu lama. Maaf juga jika chapter ini tidak terlalu panjang. Astaga, aku tidak akan menulis panjang lebar lagi. Jadi.. selamat membaca semua.  Lova ya, @amouraXexa