Skip to main content

Half Vampire - Dua Kekuatan


Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :'))
Selamat membaca.
@amouraxexa

***

Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Cahaya matahari pagi menerpa wajahku. Mengantarkan kehangatan asing yang anehnya membuatku nyaman. Di depan sana, ada banyak tanaman dan bunga-bunga dalam pot besat. Sementara itu, di sudut kanan penglihatanku, sulur-sulur cantik merambat di dinding di dekatnya. Balkon lantai dua kastil, bisikku tanpa suara. Lalu disana, berdiri di belakang tepian balkon dengan gaunnya yang indah, sosok yang entah kenapa terasa kukenal dengan sangat baik. Aku merasa mengenalinya meski dia berdiri memunggungiku.
Pelan, kulangkahkan kakiku mendekat ke arahnya dengan kebingungan. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi padaku sebelum aku mendadak berada di tempat ini. Ketika aku hanya tinggal selangkah darinya, sosok itu berbalik. Menatapku dengan kedua bola matanya yang berwarna lembut, “Sherena.” Panggilnya dengan suaranya yang indah.
Sherena..
Ketika dia menyebut nama itu, ingatan-ingatan dalam kepalaku mendadak berputar tak beraturan. Satu persatu kejadian yang sepertinya kulupakan mendadak bertebaran di dalam kepalaku. Aku menyentuh pelipis kepalaku, ada sisa rasa sakit di sana dan semua teriakan dalam ingatan di kepalaku membuatnya semakin parah.
“Aku tidak akan membunuhnya seperti kau membunuh Noura.” Ulang Victoria sekali lagi, “Aku tidak akan melakukannya dengan tangan orang lain seperti yang kau lakukan. Aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri”
Wajah terkejut Reven. Aura kemarahannya. Rasa sakit di jantungku. Victoria Lynch. Aku..mati?
Aku memandang ke depan dengan mata melebar, “Noura.” Aku menyebut namanya dan dia menatapku. Menganggukkan kepalanya. Mulutku terbuka, lalu tertutup lagi. Ada banyak tumpukan pertanyaan dalam kepalaku. Apa ini tempat dimana orang mati berkumpul? Tidak, ini pasti bukan seperti itu. Ini jelas-jelas di balkon lantai dua kastil tempat tinggalku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ya, ini memang di sana. Semuanya sama. Bahkan aku juga bisa melihat rerimbunan hutan jauh di depan sana.
Lalu kenapa aku bisa ada di sini setelah Victoria membunuhku? Dan Noura, bagaimana bisa dia-? Aku memandanginya dengan curiga. Apakah dia hanya bentuk dari jiwanya yang ada dalam tubuhku. Aku masih mengamatinya dengan waspada. Tidak. Jiwa Noura sudah lenyap dari dalam tubuhku. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana dia memunculkan dirinya dalam ingatanku. Bagaimana dulu dia mengucapkan maaf padaku sebelum dia hilang. Aku masih ingat dengan jelas itu. Bukankah itu semua menunjukkan bahwa jiwa Noura yang bersemayam di dalam tubuhku sudah menghilang, selaras dengan perubahan diriku menjadi vampir sepenuhnya.
Lalu perempuan di depanku ini sebenarnya siapa jika dia memang bukan Noura?
Anehnya dia justru tersenyum, membalikkan lagi tubuhnya menatap ke arah hutan di kejauhan sana. Aku menelan ludahku. Menjadi sangat penasaran. Aku maju mendekat dan berdiri sejajar di sampingnya.
“Siapa kau?” tanyaku seraya menatapnya.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi darimu, Sherena. Sebelumnya aku hanya ingin membuatmu berpikir aku memang pergi dari dalam tubuhmu agar kau tidak menyadari keberadaanku. Perubahanmu menjadi sepenuhnya vampir pasti akan membuat kepekaan dalam dirimu meningkat. Kau akan dengan mudah menyadari adanya entitas lain di dalam tubuhmu. Oleh karena itu aku melakukannya, membuat agar kau berpikir bahwa aku sudah pergi dari tubuhmu.”
Aku mencerna semua yang diucapkannya dengan lamban. Ketika akhirnya aku paham benar apa maksud dari perkataannya, aku menatapnya dengan tidak percaya, “K-kau.. J-jadi jiwamu. Jiwamu belum menghilang dari dalam diriku?”
Dia menggeleng, “Namun setelah ini mungkin ya. Victoria sudah membebaskanku.”
“Victoria Lynch?”
Noura tersenyum tanpa memandangku, “Dia tidak melukaimu, Sherena. Dia hanya membebaskan jiwaku dari tubuhmu. Dengan begitu, pada akhirnya tugasku sudah selesai sehingga aku bisa benar-benar pergi.”
“Tugas?”
“Kau tidak perlu tahu itu apa. Hanya saja, entah kenapa rasanya justru terasa berat untuk pergi. Setelah sekian lama aku hidup dalam dirimu. Menggunakan matamu untuk melihat. Menggunakan telingamu untuk mendengar. Memintamu berbagi kehidupanmu denganku tanpa kau menyadarinya. Menyentuh orang-orang yang kusayangi melalui dirimu. Aku merasa ini sulit untuk ditinggalkan.”
Aku mundur selangkah. Merasa takut dengan apa yang dikatakannya. Jadi selama ini aku berbagi semua kehidupanku dengan Noura. Jadi selama ini dia melihat apa yang kulihat, mendengar apa yang kudengar. Dia.. benar-benar hidup dalam diriku.
Kali ini dia menoleh ke arahku dan tertawa kecil melihat reaksiku, “Jangan khawatir, Sherena. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu. Kita sudah terpisah. Sudah kukatakan itu bukan? Victoria sudah membebaskanku dari dalam dirimu. Sekarang kita adalah dua jiwa yang berbeda. Aku benar-benar bersyukur Victoria akhirnya mau melakukan ini. Karena sebelumnya dia menolak dengan keras untuk membebaskanku.”
Noura menatapku dengan misterius, “Kau tahu apa saran Victoria untukku, Sherena?” tanya pelan. Aku menggeleng dan Noura tertawa lagi sebelum melanjutkan, “Dia ingin agar aku merampas kehidupanmu. Membunuh jiwamu dan menguasai tubuhmu. Hidup kembali sebagai Noura dalam wujud dirimu.”
Sebelum aku bereaksi, Noura sudah kembali bicara, “Namun aku sudah bersumpah bahwa aku akan menepati janjiku pada ayahmu. Aku akan melindungimu sampai saatnya tiba bagiku untuk pergi. Aku akan menjadi jiwa penjagamu seperti yang dia minta padaku ketika aku memohon padanya untuk melepaskan sihir penjaga di makam Victoria.”
“Ayahku?”
Dia mengangguk, “Tapi kau tidak akan mendapatkan cerita tentangnya dariku. Aku yakin akan ada yang menjelaskan semuanya kepadamu nanti.”  Paparnya. Aku hanya memandanginya tanpa tahu harus bicara seperti apa lagi. Semua ucapan Noura benar-benar tidak bisa kumengerti. Aku punya banyak pertanyaan untuknya namun aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku memperhatikan wajahnya dari samping. Wajah cantik sepucat mayat itu nampak bahagia. Ada kelegaan besar terpancar di sana. Apakah Noura sudah menunggu begitu lama untuk bisa terbebas dari tubuhku? Mendadak satu pertanyaan muncul di kepalaku mengantikan ratusan pertanyaan lainnya.
“Noura.” Ucapku hati-hati, “Bagaimana bisa kau bicara dengan Victoria? Yang kutahu dia sudah menerima hukumannya ribuan tahun silam. Aku tak yakin kau sudah ada pada masa itu.”
“Aku adalah calon ratu yang muncul karena adanya kutukan dari seorang penyihir murni kepada Vlad karena kekejaman dan ketidakadilannya pada Victoria. Secara tidak langsung aku terhubung dengannya. Ketika pertama kali menyadarinya, aku merasa bahwa aku mungkin sudah gila. Dahulu, cerita tentang Victoria Lynch bagiku hanyalah sebuah dongeng yang muncul karena perselisihan kami dengan para manusia srigala.”
“Namun, ketika pada suatu malam, dia datang dan menyapaku ketika aku mengistirahatkan benakku. Lalu dia berbicara begitu banyak hal padaku. Aku mulai ragu bahwa sosok Victoria adalah dongeng semata. Lama kelamaan, seiring dengan seringnya aku berbicara dengannya. Aku mulai percaya bahwa ini bukan hanya ilusi. Victoria Lynch benar-benar ada.”
“Apakah sejak itu kau mulai mencari kebenarannya? Dan karena perbincanganmu dengan Victorialah kau ingin memperbaiki hubungan antara ras vampir dan manusia srigala? Selaku tak sabar.
Noura tersenyum, “Ya. Aku tahu bahwa pengkhianatan yang dituduhkan Vlad kepada para manusia srigala tidak sepenuhnya benar. Pengkhianatan Victoriapun hanyalah omong kosong yang diciptakan Vlad agar dia bisa menghukum Victoria dengan benar di hadapan semua anggota kelompok. Mulai dari itu aku mencari semua titik yang terhubung dengan Victoria. Para keturunan penyihir murni sahabat Victoria dan para manusia srigala keturunan Antonio. Pada akhirnya aku bertemu dengan Akhtzan.” Ketika menyebutkan nama itu, aku merasa bahwa Noura melirik ke arahku. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu.
“Dia adalah satu-satunya penyihir murni yang tersisa dari keturunan penyihir murni yang melakukan kutukan calon ratu kepada Vlad. Aku membuat perjanjian dengannya dan dia membantuku melakukan banyak hal sampai akhir hingga Rosse membunuhku.” Mata bening Noura berkaca-kaca ketika dia mengatakan itu.
Aku mendekat. Mencoba bersimpati padanya. Dia tersenyum. Ketika itu, untuk pertama kalinya aku merasa aku benar-benar dekat dan sangat mengenal Noura. Padahal sebelumnya aku merasa dia hanya sesuatu yang muncul lalu lenyap dalam kepalaku dalam bentuk mimpi maupun penglihatan-penglihatan.
Noura menarik nafas panjang, “Terkadang, sampai sekarang aku masih tidak percaya pada kenyataan itu. Seringkali aku berharap aku mati di tangan orang lain, bukannya Rosse.”
Aku diam, aku tahu bagian ini. Aku tahu bahwa selama hidupnya, Noura dan Rosse begitu dekat. Mungkin bagi Noura, Rosse teramat penting dan berarti. Aku mungkin juga tidak akan sanggup jika menjadi Noura. Mengetahui bahwa orang yang selama ini kupercaya dan dekat denganku, pada akhirnya menjadi orang yang akan mengakhiri hidupku dengan kejam.
“Kau tahu bahwa aku punya berkat melihat masa depan bukan?”
Aku mengangguk. Noura terdiam selama beberapa detik. Aku menunggu sampai akhirnya dia menatapku dengan pancaran mata yang meredup, “Aku selalu berharap aku tidak punya berkat seperti itu.”
“Noura-“
“Aku melihat banyak hal yang akan terjadi di masa depan. Aku melihat banyak orang-orang yang kucintai pada akhirnya akan pergi satu persatu. Melihat sahabatku, Maurette dan Lucius akan berakhir seperti itu. Aku melihat bagian-bagian terburuk dalam masa depan sepanjang hari.” Dia diam beberapa lama, “Aku ketakutan, Sherena.” Suara Noura bergetar.
“Bahkan Reven tak bisa membuat ketakutan itu lenyap dari dalam diriku. Namun ketika pada akhirnya aku mengenal Victoria, aku mendapatkan ide untuk mengakhiri semua ketakutan ini.” Noura menatapku, mengambil dua tanganku dan mengenggamnya, “Melalui dirimu. Aku bisa pergi dari semua siksaan karena berkat yang lebih sering kuanggap kutukan ini. Aku tahu aku egois, namun aku tidak bisa menanggung semua ini lebih lama lagi.”
“Akan lebih baik melihat diriku sendiri yang mati. Dan bukan semua orang yang kucintai. Meski aku hidup dengan membunuh kehidupan orang lain. Aku tetap tidak punya keberanian untuk menyaksikan dan melewati saat-saat dimana aku kehilangan orang yang sangat berharga untukku. Akhirnya aku merencanakan semua ini bersama Victoria.”
Aku tidak tahu jika selama ini Noura yang selalu dikisahkan dengan sosok ceria, kuat dan tangguh memiliki sisi lain seperti ini. Menurutku, Reven mungkin sebenarnya juga tidak tahu alasan tentang pilihan Noura ini. Noura tahu dia akan mati dan dia membiarkannya? Atau malah sebenarnya justru memang Noura yang menginginkannya?
Akan lebih baik melihat diriku sendiri yang mati. Dan bukan semua orang yang kucintai.
Dia membiarkan Rosse membunuhnya.
Noura tersenyum, dia membaca pikiranku. Dia tertawa kecil, membuat helai-helai rambutnya berkibaran, dibantu angin yang mendadak berhenbus dengan sedikit keras. Aku membuang nafas, Noura memilih pergi dari semua ketakutannya itu.
“Apakah tidak berat untukmu meninggalkan semua yang kau punya? Kelompokmu, Reven. Semuanya. Kenapa kau harus begitu egois dan meninggalkan semuanya begitu saja? Membiarkanku menanggung bebanmu sebagai seorang calon ratu. Membuat semua orang melihatku hanya sebagai pengganti calon ratu. Pengganti Noura, dan bukan diriku yang sesungguhnya.”
Noura diam. Dia memperhatikanku sebelum bicara dengan suara yang lebih dalam, “Tidak ada pengganti calon ratu, Sherena.”
“Apa??”
Dia menatapku dengan tajam, “Kutukan calon ratu tidak bisa diturunkan. Ketika kutukan itu sudah memilih satu inangnya. Maka itu akan berlaku selamanya. Kau bukan pengganti calon ratu, Sherena. Kau tidak pernah menjadi bagian dari kutukan itu. Hanya aku yang secara kebetulan menanggungnya.”
“Tap-“
“Ketika Rosse membunuhku untuk memastikan kebenaran kutukan itu. Vlad tahu bahwa kutukan itu bukan omong kosong karena dia merasakannya. Merasakan dirinya melemah. Itulah kenapa dia bersikeras menemukan cara melepaskan diri dari kutukan itu agar kekuatannya tidak semakin melemah. Ketika tahu bahwa jiwaku ada di dalam tubuhku, dia meminta semua vampir untuk menemukanmu. Membawamu ke kastil ini dan mengurungmu tanpa kau menyadarinya.”
“Dia ingin memastikan kau terus hidup dengan jiwaku di dalam tubuhmu agar dia aman. Vlad punya begitu banyak musuh. Jika satu saja dari mereka tahu tentang kutukan ini, dia akan berakhir. Dan selama itu berlangsung, dia tidak menyerah untuk mencari cara agar kutukan itu bisa diakhiri.”
“Jadi selama ini aku-?” aku tidak sanggup meneruskan kata-kataku. Semua ini benar-benar membuatku terkejut. Aku bukan calon ratu dari kelompok vampir. Aku.. hanya manusia yang menjadi vampir karena sebagian jiwa calon ratu ras itu berada di tubuhku. Aku, hanya alat. Alat?
“Maafkan aku membawamu terlibat dalam masalah ini, Sherena.”
Aku menatapnya dengan marah. Merasa menjadi orang paling bodoh selama ini. “Kau tidak berhak melakukan ini padaku hanya untuk kepentinganmu. Kenapa kau tidak mencari orang lain saja dan malah memilihku?” teriakku frustasi. Semua hal-hal mengerikan yang terjadi di dalam hidupku terjadi karena keegoisannya. Dia membuat aku terusir dari kelompokku. Membuatku masuk dalam kelompoknya. Menjalani hari-hari sulit di sini.
“Aku memilihmu untuk menolongmu.”
“Menolongku?” aku menatapnya dengan muak, “Kau merusak hidupku.” Cercaku.
Mata Noura berpendar sedih, “Aku membuatmu hidup.” Desahnya pelan.
Mataku menyipit. Apalagi ini? Aku tidak mau berdebat dengannya. Dengan kesal, aku membuang muka dan menatap ke arah lain. Kenapa semua hal sial ini bisa menimpaku?
“Namun aku sudah bersumpah bahwa aku akan menepati janjiku pada ayahmu. Aku akan melindungimu sampai saatnya tiba bagiku untuk pergi. Aku akan menjadi jiwa penjagamu seperti yang dia minta padaku ketika aku memohon padanya untuk melepaskan sihir penjaga di makam Victoria.”
Aku membuang nafas dengan marah. Aku bahkan tidak tahu siapa dan seperti apa ayahku? Alasan macam apa itu? Melindungiku? Jiwa penjagaku? Dia hanya iblis yang menyeretku dalam arus masalahnya. Kenapa melibatkan orang lain dalam masalahnya sendiri, jika dia tidak bisa mengatasi masalahnya? Kenapa dia harus lari dan menimpakan semua ini padaku? Apa ini hukuman yang kudapat karena mmbunuh banyaka vampir selama aku menjadi heta? Tidak mungkin. Aku membunuh vampir karena mereka juga membunuh orang-orang dalam rasku. Ini setimpal. Harusnya tidak ada yang salah dengan apa yang kulakukan.
“Sherena..” suaranya memanggilku.
Aku tidak menoleh. Dadaku masih panas terbakar dengan amarah. Melihatnya saja membuatku ingin melayangkan pukulan ke wajah cantiknya itu. Tapi tidak, aku harus bisa menenangkan diriku sendiri. Bukankah tadi dia bilang bahwa sekarang jiwanya sudah bebas melalui tindakan Victoria yang seolah membunuhku itu? Jadi aku hanya perlu mengabaikannya dan dia akan lenyap dalam kehidupanku. Sepenuhnya lenyap dan akan pergi dari segala jenis mimpi ataupun penglihatan.
“Sherena.” Panggilnya lagi dengan suara yang entah kenapa membuat kemarahanku terkalahkan. Aku mendesah jengkel. Aku ini kenapa? Tapi akhirnya aku menoleh kepadanya dan melihat dia tengah menatapku dengan sendu, “Semua ini akan segera berakhir.” Katanya kemudian, “Namun kau harus menjadi orang yang mengakhiri semuanya.”
“Ap-?”
“Kegelapan pasti akan selalu muncul meski cahaya sudah membuatnya memudar. Tapi kita tidak boleh menyerah meski kita hanya bisa membuatnya berkurang dan bukan melenyapkannya. Meski nanti Vlad bisa dibunuh, mungkin akan muncul sosok-sosok seperti dia di masa mendatang. Tapi selama masih ada yang mau menjadi cahaya, kegelapan akan selalu bisa diatasi.”
Mataku menyipit, apa sebenarnya tujuannya mengatakan itu.
“Bantu Victoria membunuh Vlad. Hanya dengan keberanianmu, dan kekuatan Reven yang bisa menolong Victoria menyelesaikan semua ini. Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Tapi kumohon, akhiri semua ini dan buat perubahan dalam kontrol kelompok ini. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya.”
“Apa maksudmu mengatakan semua ini?”
“Aku mungkin salah karena terlalu pengecut untuk menghadapi konsekuensi dari berkat yang kumiliki sepanjang hidupku. Namun aku tahu aku tidak akan menyesal memberimu kesempatan-kesempatan yang seharusnya menjadi milikku. Sherena Audreista, aku tahu kau punya jiwa yang murni untuk bisa melakukan ini.”
“Noura-“
Aku terpaku. Aku melihatnya sekali lagi. Sosok Noura berubah menjadi sesuatu yang lembut dan dia memudar. Di sudut matanya, aku melihat kilauan air matanya. “Noura.” Aku mendadak merasa gugup menghadapi ini semua, “Noura, kau-“
“Waktuku sudah habis, Sherena. Terima kasih untuk semua yang harus kau lakukan karenaku. Maaf karena menyeretmu dalam semua masalah ini. Tapi ketahuilah, aku tidak menyesal melakukannya. Aku tahu aku memilih orang yang tepat.”
“Ta-tapi, kau.” Aku meraih tangannya dan merasa hawa dingin yang aneh dicsana. Aku menggeleng dengan cepat, “T-tidak. Penjelasanmu. Semua ini. Tidak. Kau tidak bisa pergi begitu saja.” Teriakku kalap. Mendadak aku merasa takut kehilangan dia.
Taoi Noura hanya memandangku. Lalu dengan pelan, dia balas mengenggam tanganku dan hawa dingin yang kurasakan tadi langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuhku bergetar. Aku mengigil dan melemah. Genggaman tangannya terlepas seiring dengan tubuhku yang jatuh merosot ke bawah, “N-nou..ra.” panggilku terbata ketika aku melihat dia semakin memudar.
“Tolong jaga Reven untukku.”

***

Reven berdiri dengan tegak, mengamati pertarungan sengit yang terjadi antara Victoria dan Vlad. Beberapa vampir mulai bergerak gusar. Mereka tidak tahu harus memihak yang mana. Beberapa masih terlihat sangat terkejut dengan kebenaran kisah tentang Victoria Lynch. Sebab selama ini, segala rumor tentang Victoria Lynch seolah hanya sebuah isapan jempol semata.
James menghampiri Reven, wajahnya tak lebih baik dari semua yang ada di sini. Wajah putih pucatnya menyiratkan kecemasan yang kentara, “Apa yang harus kita lakukan, Rev?”
Reven menghela nafas panjang, “Itu urusan mereka. Kita tak boleh ikut campur. Vlad dan Victoria harus menyelesaikan semua masalah mereka di masa lalu.”
“Tapi-“
“James!” bentak Reven berang, “Aku melihat dan mengetahui banyak hal lebih dari kau. Aku tidak mau mendengar protes sekarang.”
James nampak ingin bicara lagi. Namun melihat bagaimana wajah Reven, dia mengurungkan niatnya. Damis juga memberinya kode agar dia tidak mengatakan lebih banyak lagi. Michail mengangguk, meminta James mengalah. Kondisi Reven benar-benar tidak memungkinkan untuk diajak bicara dengan baik-baik. Satu salah ucap saja, mungkin dia sudah bertindak di luar akal sehatnya.
“Aku sepakat dengan Reven.”
Damis, Michail dan James menoleh, Reven bergeming. Sorot matanya terpaku pada tubuh Sherena di kejauhan. “Aku mengerti kenapa Reven memutuskan itu. Sejujurnya, aku sudah membaca semua yang terjadi di sini sejak dulu. Namun penampakkannya dalam pikiranku masih samar. Aku selalu mengira ini hanya bayangan buruk dalam kepalaku saja.”
“Reven, apakah kau mendengarku?”
Reven menoleh untuk pertama kalinya, dia tersenyum sinis, “Illys, kau mengerti bukan? Dimana seharusnya kita berpijak?”
Illys tersenyum, vampir yang selama ini menjadi mata terawang bagi ras mereka itu menatap Reven dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh mereka berdua. Reven tak perlu mendengar apa-apa lagi. Dia memalingkan wajahnya, melepasakan lengannya dari pegangan Damis dengan kasar dan berjalan maju ke depan tanpa menoleh lagi meskipun Damis memanggilnya beberpa kali.
“Apa yang akan dia lakukan?” Lucia berjalan mendekat dengan tertatih-tatih. Venice yang sebelumnya sudah membantunya memulihkan diri segera mendekat ke Lucia dan membantunya berdiri. Menopang tubuh Lucia dengan merangkulnya.
Illys tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil melihat Reven. Dia berharap semuanya sesuai dengan apa yang dilihatnya melalui berkat yang diterimanya.

***

Reven melangkah maju, menghindari area pertarungan Vlad dan Victoria. Sejujurnya dia bahkan tidak peduli pada apa yang terjadi pada mereka berdua. Begitu sampai di depan tubuh Sherena. Dia terduduk perlahan dan merengkuh tubuh Sherena. Tubuh perempuan itu sedingin salju. Dengan pelan disibakkannya helaian rambut Sherena yang menutupi wajahnya dan mengamati wajah terpejam Sherena.
“Apa yang kau lakukan?” Morgan berjalan mendekat. Mata coklatnya menatap Reven seolah dia sanggup melakukan apapun saat itu juga untuk menghabisi Reven. Reven tidak menghiraukannya dan terus memandangi Sherena. Disekanya wajah, lengan dan leher Sherena dari debu-debu dan kotoran yang melekat di sana.
“Jangan kau berani-berani menyentuhnya!” Morgan menggeram dan menerjang Reven dengan cepat. Reven yang tidak menyangka Morgan akan melakukan itu,terjungkal ke belakang dengan keras. Tubuh Sherena yang nyaris terjatuh dari dekapannya, ditangkap oleh Morgan tepat waktu.
Morgan berdiri dengan tubuh Sherena yang dingin dalam gendongannya. Reven yang langsung bangkit, mendesis penuh kemurkaan pada Morgan. Matanya bersinar semakin kelam. Aura gelapnya menguat. Namun Morgan sama sekali tidak terlihat khawatir pada apa yang tengah terjadi. Mata coklatnya menatap lurus ke arah Reven. Menantang.
“Aku kira kau akan sanggup melindunginya.” Ungkapnya dengan suara bergetar, “Namun ternyata aku salah. Kau, bukan seseorang yang pantas berdiri di samping Sherena sebagai pelindungnya. Aku bahkan tidak yakin jika kau memiliki niatan untuk melindunginya.”
“Tutup mulutmu!”
Morgan menggeleng, “Aku sudah pernah melepaskan Noura karena dia memilihmu. Tapi kau membuatku menyesali keputusanku itu karena kau, orang yang sangat dicintai dan dipercayainya, ternyata tak sanggup melindunginya.”
Reven membeku di tempatnya, perkataan Morgan tentang Noura benar-benar membuatnya terdiam. Morgan tertawa sarkastik melihat perubahan ekspresi Reven, “Kau gagal, Reven. Sejak awal kau selalu gagal. Dan sekarang kau selesai. Tidak akan ada lagi kesempatan untukmu. Tidak, lebih tepatnya aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan kesempatan itu lagi. Sherena tidak akan pernah kuserahkan padamu.”
“Ar.” Panggil Morgan keras mengabaikan ekspresi terhina dari Reven. Ar yang sudah tinggal beberapa meter di belakangnya segera mendekat dengan terburu. Begitu Ar sudah ada di dekatnya, Morgan menyerahkan tubuh Sherena yang terkulai ke gendongan Ar. Ar memeluk tubuh Sherena dengan erat. Perlahan dia mundur karena dia paham benar apa yang akan terjadi selanjutnya. Ditemani Edge, dia berjalan menjauh, mendekap tubuh dingin Sherena, kembali ke gerombolan slayer yang tersisa.
Damis memandangi apa yang tengah terjadi di sana dari kejauhan, Lyra yang ditopang oleh Viona, menyentuh lengannya, “Apakah itu tidak apa-apa?”
“Apa?”
“Mereka membawa tubuh Sherena.”
Damis diam, tidak tahu apa yang harus dikatakannya, “Entahlah.” Dia menoleh pada Illys, “Haruskah kita merebut tubuh Rena?”
Illys menggeleng, “Kita tidak pernah punya penghormatan lebih untuk anggota kelompok kita yang mati. Debu tidak akan punya tempat terhormat. Mereka hanya akan hilang, lenyap.”
“A-apakah Rena benar-benar mati?” kekecewaan di wajahnya tergambar jelas. Illys tidak menjawab. Dia diam dan mengamati, kemudian seutas senyum tipis terpampang di sana, “Semesta melindungi kita.” Bisiknya.

***

Hawa dingin itu merasuk sampai ke dalam tulangku. Tubuhku seolah membeku. Aku tidak bisa merasakan tanganku. Tidak bisa merasakan kakiku. Aku tidak bisa merasakan semua bagian tubuhku. Aku mencoba mengerakkan bibirku, ada hawa hangat mengalir ke dalam mulutku. Detik demi detik, hawa dingin itu menghilang dengan sendirinya. Aku merasakan kehangatan melingkupiku.
Aku membuka mataku perlahan, melihat bayangan gelap menghalangi pandanganku. Aku memfokuskan mataku. Mulut, mata, hidung. Mataku memicing, “A-ar?” panggilku perlahan. Namun dia sama sekali tidak menoleh ke arahku. Matanya lurus menatap ke depan. Aku, yang berada dalam gendongan Ar, mengikuti arah pandangnya.
Mulutku terbuka.
Morgan dan Reven??
“Apa yang mereka lakukan?” teriakku keras sambil berusaha bergerak turun dari gendongan tangan Ar. Ar menatap ke bawah, menemukanku yang meronta, berusaha melepaskan diri.
“Rena!” jeritnya terkejut, serentak dengan dilepaskannya pegangan tangannya dari tubuhku.  Dan.. BUM! Suara gedebuk tubuhku yang terjatuh ke tanah disertai dengan jeritan kagetku membahana. Ar, Edge dan semua slayer di dekatku menatapku dengan terpana atau mungkin malah bingung melihatku yang mengaduh kesakitan.
“R-re-“ Ar diam. Hanya diam dan mengamatiku yang sibuk mengusap belakang kepala dan punggungku, “Rena! Kau hidup??” dia langsung menubrukku dan memelukku dengan sangat erat sampai rasanya aku tidak bisa bernafas. Untungnya aku tidak benar-benar bernafas.
Aku melepaskan diri dari jerat pelukan Ar dengan susah payah. “Ar, tulangku bisa remuk.” Protesku tidak serius. Dia menatapku, aku tertawa lepas dan memeluknya singkat. “Aku baik-baik saj-. Arghh.” Aku menoleh dengan marah melihat siapa yang mendadak menarik tubuhku mundur menjauh dari Ar.
“Apa yang kau lakukan, Damis?” ucapku kesal.
Namun dia sama sekali tidak mengacuhkan aku. Matanya yang bersorot gelap terfokus pada Ar. Sementara Ar, Edge dan slayer lainnya langsung menghunus pedang mereka dan berada dalam posisi siaga. Mereka ini kenapa? Aku menoleh ketika mendengar suara berdebum keras. Morgan terjatuh dengan Reven di atasnya. Reven terlihat siap untuk meremukkan kepala srigala Morgan.
Mataku melebar. Dengan tergesa aku menoleh kembali pada Ar dan Damis, “Kalian jangan bertarung. Apapun yang terjadi jangan melakukan apapun. Atau aku akan benar-benar membenci kalian semua.” Kataku dengan sangat cepat sebelum aku berlari ke arah Morgan dan Reven yang sepertinya sudah akan saling bunuh.
“Reven!!!” teriakku keras, “Berhenti!”
Reven yang sepertinya mendengar suara teriakkanku memandang ke arahku. Sepersekian detik ketika dia kehilangan fokusnya, Morgan dengan gigi-giginya yang tajam langsung menerkam Reven dan melemparkannya dengan mengerikan.
“Tidak!!” jeritku ketakutan. Aku berlari dengan sangat cepat, melayangkan serangan terkuatku pada Morgan yang sepertinya baru menyadari kehadiranku. “Apa Dev belum cukup?” desisku penuh kemarahan. Dadaku bergolak, nafasku memburu ketika menatapnya. Ada kebencian luar biasa yang merasuk ke dalam tubuhku ketika aku menatapnya. Morgan Freseel, aku tidak akan membiarkanmu membunuh orang-orang yang paling kusayangi.
Sosok srigala Morgan yang sebelumnya terjerembab jatuh dengan pukulan kerasku, segera bangkit. Dia menatapku dengan mata srigalanya yang berair. Mengabaikannya, aku berlari ke arah Reven dan membantunya bangun, “Kau tidak apa-apa?”
Reven yang meraih uluran tanganku, mengenggamnya dengan erat dan menatapku seolah aku ini hantu, “Ka-“ gagapnya bersamaan dengan usahanya menahan rasa sakit di tubuhnya. Dia terbatuk dan darah kental keluar dari mulutnya.
“K-kau baik-baik saja? Reven, apakah parah? Reven?” serbuku panik.
Sialnya dia malah tersenyum, menghapus sisa darah di mulutnya dengan punggung tangannya dan segera berdiri. Aku yang masih setengah berjongkok, mendongak menatapnya. Apa dia benar-benar tidak apa-apa? Pikirku penuh kekhawatiran.
“Rev, jangan.” Kataku cepat ketika dia sepertinya sudah akan kembali bertarung dengan Morgan. Aku bangkit dan menarik satu tangannya, keningnya berkerut menyaksikan apa yang kulakukan. Aku menggeleng cepat. Di kejauhan, Morgan yang sudah berubah kembali ke bentuk manusianya, hanya mematung dengan sudut bibir berdarah, menatap kami.
“Apa yang kau lakukan?” Bentak Reven kembali ke sikap dinginnya. Aku sudah akan protes ketika aku kembali teringat apa yang dikatakan Noura padaku. Aku mengamati sekelilingku dan melihat keadaan yang porak poranda di sekitar kami. Reruntuhan bangunan depan kastil, pohon-pohon yang tumbang dan terjabut dari akarnya dan entah apalagi ini. Di kejauhan sana, dalam kelebatan nyaris tak kasat mata, aku menemukan Vlad dan Victoria yang sedang bertarung. Ketika mereka berdua berhenti untuk sekedar mengucapkan sesuatu sementara mereka sendiri berusaha mengembalikan tenaga dan kekuatan mereka, aku melihat pertarungan itu sudah mengakibatkan sesuatu yang buruk kepada mereka.
Aku segera kembali pada Reven, mengenggam lengannya dan meminta dia mendengarkanku, “Fokus kita adalah Vlad. Bukan yang lainnya. Aku yakin vampir yang lain akan mengatasi Morgan jika dia menganggu apa yang akan kita lakukan. Jadi dengarkan aku sekarang.” Aku menatap kedua bola mata Reven yang berwarna merah, “Kita harus membantu Victoria mengalahkan Vlad.” Bisikku dalam.
Reven menatapku dengan tajam, “Apa maksudmu dengan membantu Victoria? Dia bahkan nyaris membunuhmu.”
“Dia tidak membunuhku.” Kataku keras, “Dia membebaskan jiwa Noura yang ada dalam tubuhku.”
“Jiwa Noura?”
“Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Tapi kau dan aku, akan selalu mempercayai Noura bukan? Jadi kita harus melakukannya atau Vlad tidak akan pernah dikalahkan.”
“Vlad pemimpin kita.”
“Tidak.” Aku menggeleng, “Jangan keras kepala  pada aturan kuno itu, Rev. Kau tahu dengan jelas melebihi aku, orang seperti apa Vlad itu. Kehancuran akan datang pada ras kita jika kita terus berada dalam bayang-bayang Vlad.”
Reven nampak ragu, namun aku memandangnya dengan sorot mata paling tegas dan paling meyakinkan yang aku punya, “Reven, hanya dengan keberanianku dan kekuatanmu yang bisa menolong Victoria menyelesaikan semua ini.”
Aku melihat bagaimana keraguan itu masih terlihat begitu kuat di mata Reven. Aku mulai tak sabar. Bagaimana bisa dia masih ingin patuh dan setia pada Vlad ketika Vlad sama sekali tak memikirkan kelompoknya. Jika semua yang dikatakan Noura dan Victoria padaku adalah kebenaran, makan Vlad benar-benar tidak layak mendapatkan kesetiaan seperti itu dari kaumnya. Reven menoleh ke belakang, di sana aku melihat seorang vampir yang terlihat seumuran dengan Vlad secara fisik, mengangguk padanya.
“Illys..”
“Hah?” aku tidak mengerti. Namun Reven tidak menjawab dan hanya berpaling menatapku, “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”




Comments

  1. Waaaa...makasih udah update cepat sis...setelah kemarin di buat penasaran dengan menyangka Sherena mati...part ini seru dan hampir menjawab semua mistery di HV....thank for this great story

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Bria. Baca HV terus dan cerita-ceritaku lainnya ya. Tingga satu chapter terakhir dan sebuah epilog, maka HV resmi selesai. :')

      Delete
  2. Waahhhh,,,, update, update.. yeyeyeye...
    Makasih ya udah nepatin janji, tp sepertix kecepetan deh,, hahaha
    Akhirx memasuki detik* kematian vlad, dia harus dimusnahkan, pemimpin egois sprti itu tdk layak hidup bahkan sbg vampire pun... #plak
    Kira* seperti apa endingx yah? Hmmm,, penasaran
    Updatex dipercepat lagi ya sist biar lega... hahha
    #artharia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Hahaha, enga kecepetan sih. Aku janjiin selasa atau rabu, ini diupload selasa dini hari. Hahahha.

      Endingnya?? Yahhh gituuu dehhh.*dijitak readers* :P :P

      Delete
  3. Huahhhhh!!! Menegangkan!!! Hahaha Penasaran2, selalu penasaran

    huhuh Noura oh noura, bener2 dh tokoh

    ngendaliin semuanya yak-_-

    Penasran endingnya kayak gimana:D

    Rena ga jadi mati thanks author yg unyuuuu :3 tp part ini kesel banget sama morgan, ngerasain banget jd
    nonjok ikutan pengen dh, rena ngebunuh Dev!! Rena keren yak disini hihih td dia bilang orang2 yg paling dia sayangi hohoh jd reven sudah termasuk org2 yg disayang yak, seneng jg deh rena mau mengakui rasnya 'vampir'

    Aduh semoga sisa 1part nya itu sama epilognya banyak adegan romantis reven sama rena yahh thor, pleaseeee *mukamelas* hehe

    Semogaaa dipercepat updatenya *aminnn* Kalo boleh tau kapan yah thor diupdatenya lagi? Hehe

    Makasih yah thor sudah menepati janjinya, selalu semangat menulis lanjutan HV nya thor!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaga astaga astgaa... tenang tenang tenang. Tariiikkkk nafas. oke oke??
      :P :P

      Dari awal, pemegang kunci cerita ini memang Noura. Meskipun keberadaannya sudah samar.
      Dan endingnya gimana?? Tunggu saja ya. Ngga mau jadi spoiler nih. Hohoho.

      Loh loh, kenapa jadi bete sama Morgan hayooo?

      Ah adegan romantis ya??? Emm emmm >.<


      Aaakkk iya, kembali kasiiihh. Semangat semangat :D

      Delete
  4. lanjut thor penasaran lanjut....lanjut secepatnya ya thor :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah. Doanya saja. *eeeaaaahh* :P

      Ditunggu ya.

      Delete
  5. waaaawwww....terima kasih dah up date lagi.....tapi di cut nya pas bener di bagian penting ya. tak apalah asal kelanjutannya segera ada ...he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali, Rasha. Hahaha, maaf maaf. Abis akhir chapter emang di bagian ini *ngeles*
      Pasti ada kelanjutannya kok. Ditunggu aja ya. :)

      Delete
  6. ASTAGA aku telat...... dan udah sejauh ini. Setelah segala hambatan ..... terharu..... dah #hug mipo

    Hmmmm tinggal satu part lagi yah haduuh.... blm rela berpisah sm revan dan rena..... romanc ku untuk mereka belum terpuaskan..... masih butuh baca scen romantis mereka.....

    Itu harus setelah semua aura gelap ini.... repan harus benar-benar terlihat jatuh cinta......
    #readerpenuntut cekakaka

    Semengat..... semoga selalu sehat di musim kehujanan ini.
    FIGHTING!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohohoho. Engga apa-apa lagi. Yang penting tetep baca. :D

      Iya, satu chapter dan epilog. Aduuh banyak yg minta scene romantis Rena Reven yah?? -____-
      Bentar deh, aku mau bikin private class buat Reven untuk jadi cowok romantis dulu deh. :P :P

      Semangaaattttt!!!!
      Aminn, makasiii buat doanya ya, Ji Shoun. :))

      Delete
  7. Replies
    1. Ditunggu aja ya, belum bisa mastiin kapannya. :)

      Delete
    2. Ayo dibuat novel, saya doain semoga diterima penerbit yaah
      Please buatin love scenenya dong thor, biar gregetan gituuu

      Delete
  8. HUAAAAAAAA SEDIH HALF VAMVIRE NYA MAU TAMAT :'( REVAN RENA!! OHHHH AUTHOR TOLONG SATUKAN MEREKA plisss :) sepertinya saya benar benar benar PENASARAN apa kelanjutannya. semoga lanjutannya bisa panjang sepanjang panjangnya heheheheheheheh ;)) uhhhh i lup u othor *peluk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. *ngelap air mata pake tissu*

      Iyaaa, HV akan segera selesai. Ah. aku akan merindukan Reven. :"(

      ai lup yu tu *peluuuk*

      Delete
  9. Jdi Rena bkan calon ratu . Rena cma d jdikan alat oleh Noura .
    Aduh makin penasaran ! Next chapter d tnggu ya kakak .

    Aduhh~
    rasa nya gak rela harus berpisah sma HV . Huaaa~ pokok nya gak rela . Gak rela . . Gak rela . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti itulah yang terjadi. Kutukan calon ratu jenis kutukan tunggal yang ngga bisa dialihkan ke orang lain.

      *pukpuk* takdir HV akan selesai dalam dua postingan lagi. :')

      Delete
  10. Aaaaaaaaaaaa sumpah itu nanggung banget. Gangerti itu Illys itu kenapa emangnya gangerti. Aaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehheeh, maap yahhh nanggung gini.
      Illy sebenernya membenarkan apa yang ada di pikiran Reven. Illyskan punya kemampuan melihat masa depan, tapi tidak sekuat dan sejelas kaya Noura. Dia mendapatkannya sebagai gambaran-gambaran tak jelas atau bahkan cuma firasat.

      :)

      Delete
  11. penasaran serius

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu saj aya chapter selanjutnya. :)

      Delete
  12. SUMPAH!!! KEREEENN< SUKA BANGET SAMA CERITA INI KAKKKAAAAKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA JANGAN ABIS DONG U<U kalo engga bikin novel kak :D jadi kalo aku mau baca tinggal beli bkunya u,u karena pasti kangen sama cerita ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaakkk makasiii makasiiii.
      Yah, gimana lagi. Emang tinggal dua postingan lagi dan HV kelar. Ahhh aku akan kangen nulis cerita ini.

      Aku juga pengen HV jadi novel. Ini dalam proses editing besar-besaran sebelum aku coba kirim ke penerbit. Doanya ya. :D

      Delete
    2. bener kak ? yeeeyy, bagi kontaknya dong kak.. jadi nanti kalo udah keluar novelnya aku pesen di kakak aja :3

      Delete
  13. Ahh ngga sabar sama scene yang isinya cuman love-life nya Rena
    Reven ini tipikal cowok yg susah move on nih, geez !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ada scene itu yaaaa... :P

      Hahahha, iyaa. Reven ini duta anti move on.

      Delete
  14. Yes renaku ga mati ayo klhkan vlad dia tuh kan kejam bget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rena rena rena semangat semangatttt. Banyak yang nyemangatin kamu nih. :D

      Delete
  15. Hiks...hiks...hiks...tak kan lama lagi cerita ini menemaniku...tinggal tunggu hitungan hari...
    Hem pasti bakalan kangen banget...
    Pemeran utama menjadi pusat perhatian itulah bagian yg selalu kutunggu karena partnya pasti menegangkan bikin deg2an hahahha pastinya asyik lah hihihihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. *ngusel-ngusel tissu ke mata dan muka* hiks hikss juga.

      Aku juga bakal kangen banget sama HV. Kita samaaaa.
      :')

      Delete
  16. Kak buat sequel half vampire ajaa gmn????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaha. Engga tahu ah. Tapi kalo dalam waktu dekat ini, kayaknya engga deh.

      Delete
  17. Aduhhhhh gak tau mau comment apa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduuuuuhh komen komen komen dong. :P :P
      Haahahha

      Delete
  18. please...
    cepet update...
    Stalking selama berhari2 di blog ini ma blog tetangga masih belum upload juga...
    Hikz...
    Udah penasaran banget ini... #alay nya diriku...
    Haduch tapi beneran penasaran ini... # lambaikan tangan ke kamera :P
    --beaufre was here--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu aja ya, beaufre.
      Sabar yaahh. Lagi agak sibuk akhir-akhir ini.
      Ditekan dulu rasa penasarannya. hohohoh

      Delete
  19. nanggung banget !!!!!lagi..lagi..lagi...

    ReplyDelete
  20. kak, gue gak tau mo ngomen kaya apa lagi. tadi gue nulis komen 2 lembar A4 malah kehapus semua. *stress *bayangin gimana ngamuknya author pas datanya ilang...
    kak author.. HV nya makin episode makin menegangkan nih.. interested banget sama nih cerita satu-- satu-satunya cerita vampire berkualitas yang sedang exis-- heheee... ini nih cerita yang bisa bikin readers kebanting kangen postingan *apa dahh. soalnya, biarpun alurnya ada sebagian yang bisa ketebak, tapi dengan arsiran tekstur yang lembut dari author *lebayy!! bisa bikin detail kecilnya jadi sesuatu yang beda yang cuma authornya ndiri yang mudeng, dan itu bikin pembaca penasaran. "kok jadi kaya gini??" dan akhirnya pembaca semakin tertarik. suka sama 'ide gila' bikin Sherena koit. sempet heran kok gak ada abu jenazahnya sih? gak dikremasin tuh?? dan ternyata, jeng jengg... dia bangun tidur deh.. ngelanjutin perang ciaattt... dan menang!! happily ever after *ngareepppp tapi ngaminin
    kak author, semoga cepet nemu wangsit ya! :D *bukan wasit ato pangsit lho.. FIGHTING AUTHORRR!!!! WE MISS -HV- YOU!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akuuu "hancur". *alay dikit*
      Itulah perasaanku pas semua data-dataku ilang.
      Hehehehe

      Aaaaakkk makasii makasiii. Duhhh pujiannya. AKu bisa besar kepala. Tanggung jawab kalo besarnya kepalaku ngalahin lemakku. Halahhh malah curhattt.

      :P :P :P

      Ah iya, iya. Semangggattttt. hihihi, doakan aku dapet wangsit buat nulis epilognya. Miss you too.
      FIGHTING!!

      Delete
  21. Ya ampun kangen banget main kesini akhirnya bisa juga berkunjung lagi heheh
    Yeyy, ini cerita emang udah keren puolll dehhh, cerita vampire paling komplit rasanya
    Apalagi di sini, udah di buat lega abis di part kemaren di buat perih hatinya karena Serenanya pergi. Untungnya itu cuma bagian dari proses :)
    Beneran selalu penasaran deh kalo udah baca HV, ini udah mau complete ya, Kak? Sebenernya sih agak ngga rela soalnya pasti bakalan kangen banget sama Ar dkk heheh
    Pokoknya selalu semangat nulisnya, Kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakkk makasiii makasiiii. Duuuhhh kepalaku membesar.

      Iya, ini HV uda mau selesai. *mewek lagi*
      Ahh sama, aku juga akan sangat merindukan Reven dkk. Cerita ini rasanya dekat sekali denganku dan semua yang menyukainya.

      Semangat semangat. :D

      Delete
  22. weesssssss ditunggu nextnyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siaaapp. Yang sabar ya nungguinnya. Hohohoho :P

      Delete
  23. seneng bisa bca crita ini lgi :) makasih yah udah d.MT d.twetter,..
    jdi gg perlu bolak-balik ngecek ksini deh ..

    ahhhh , makin seru aja crita ini :)
    ga sabar nunggu endingnya ..
    pokoknya keep spirit all the time OK'[ ;)

    ReplyDelete
  24. ILYSM deh ama critanya kakak...
    Gk sbar nunggu next chapternya...
    Aku fans beratnya kakak loh
    Chacha...

    ReplyDelete
  25. Daah berkali2 buka blog ini tp blm update juga,, tak sabar nak tunggu crite lanjutannye,, semoga cepat update crite terbaru ye..

    ReplyDelete
  26. Ampunnn...dech penasaran banget tp belum di update juga..
    Ka' ria kapan updatenya.. ;(

    ReplyDelete
  27. Ya elahhh ketinggalan lahh... Aku ngga tau diupdate 2 hari krmudian malah baru naca skrg... Huhuhu
    Sedih lah bentar lagi HV nga tamattt...
    Tapi ngga nyangka ternyata rena bukan calon ratu.. Trus yg jf pertanyaan misteri rena jd vampire tuh karna apa cobaaaa.... Karna jiwa noura kah???
    Aku tunggu update nya yah dear .... Hikss *siapin tissue

    ReplyDelete
  28. Ya elahhh ketinggalan lahh... Aku ngga tau diupdate 2 hari krmudian malah baru naca skrg... Huhuhu
    Sedih lah bentar lagi HV nga tamattt...
    Tapi ngga nyangka ternyata rena bukan calon ratu.. Trus yg jf pertanyaan misteri rena jd vampire tuh karna apa cobaaaa.... Karna jiwa noura kah???
    Aku tunggu update nya yah dear .... Hikss *siapin tissue

    ReplyDelete
  29. wah akhirnya
    setelah sekian lama....
    di tunggu sampe last chapter pokoknya...

    aku mau request dong
    gambar" tokoh HV
    please...

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.