Skip to main content

Half Vampire - Berpisah


Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha.
Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :))
@amouraxexa

***

Victoria terjatuh dengan suara benturan yang sangat keras. Vlad diatasnya dengan tangan mencengkeram lehernya. Siap meremukkan leher Victoria dalam beberapa detik saja jika Vlad tidak merasakan sesuatu mengancamnya dari belakang. Dia berbalik, melepaskan leher Victoria dan langsung menangkap anak panah perak yang kulepaskan ke arahnya menjadi debu dengan kekuatannya.
“Sherena.” Victoria menyebutkan namaku dengan amat pelan sementara Vlad menatapku dengan maktanya yang melebar. “Kau..” desisnya.
Aku segera menjatuhkan busur berlumuran unsur perak yang kuminta dari Ar sebelumnya. Tanganku memerah menyakitkan. Tapi aku justru tersenyum, membalas tatapan mata Vlad. “Tidakkah kau senang melihatku masih hidup, Vlad?”
Vlad jelas merasakan kekuatannya berkurang ketika Victoria “membunuhku”. Dia tidak tahu tentang jiwa Noura. Tapi aku tidak akan membuatnya mengerti tentang ini. Victoria yang sudah bangkit dan berpindah ke dekatku, menatapku dengan sorot mata berbeda. Ada kesedihan di sana dan aku tahu apa sebabnya. Tapi ini bukan saatnya memikirkan Noura, kami bertiga punya hal lain yang lebih besar untuk ditangani. Vlad.
“Kalian tidak akan menyerang Vlad dengan mengeroyoknya seperti kumpulan pengecut bukan?”
“Rosse.” Keningku berkerut dalam. Aku masih tidak percaya dia masih berkeras membela Vlad setelah semua ini.
Rosse berjalan pelan menuju Vlad dan berdiri di sampingnya. Beberapa vampir bergerak menuju Vlad tapi Reven mendesis ke arah mereka memberikan peringatan. Illys, menahan beberapa yang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Damis juga sudah akan maju tapi untuk membantu Reven, namun Michail meraih lengannya dan menggeleng, “Ini bukan pertarungan kita.”
“Jadi akhirnya kau mengkhianatiku, Reven?” suara Vlad yang jelas terdengar murka cuma menyisakan tatapan datar Reven yang dingin. “Aku tidak mengkhianati siapapun. Kau yang sejak awal mengkhianati kesetiaanku. Noura. Kau yang merencanakan pembunuhannya. Di belakangku, kau dan Rosse melakukan semua kekejian itu. Aku tidak akan bisa memaafkan kalian. Aku sudah bersumpah akan membalas kematian Noura, dan aku tidak akan pernah melanggar sumpahku, Vlad.”
“Kalau kau begitu memuja perempuan sampah itu, aku akan mengantarmu kembali padanya.” Desis Vlad sambil berlari maju ke arah Reven. Reven yang sudah siap pada serangan apapun segera bergerak menghindar. Di belakang Vlad, Rosse yang juga bergerak harus terhenti dengan keberadaan Victoria yang langsung menyerangnya. Aku dan Reven bergerak sama cepat, berlari ke dua arah yang berbeda namun mengarah pada satu tujuan.
Vlad yang bergerak melebihi kecepatan kami berhasil meraih Reven dan membantingnya ke tanah dengan sangat keras. Reven yang langsung tanggap segera bangkit dan berganti menyerang Vlad dengan seluruh kekuatan yang dia miliki. Mereka berdua bergumul dengan mempertaruhkan segalanya. Kekuasaan, harga diri maupun dendam.
Reven terlempar jauh ke belakang ketika dia lengah dan Vlad berhasil melukai dadanya dengan serangan yang sangat keras. Luka bekas serangan Vlad itu membuat Reven tak bisa bangkit untuk beberapa detik. Vlad yang dengan cepat sudah berada di depan Reven meraih leher Reven dengan kasar. Aku segera berlari ke arah mereka. Tidak akan kubiarkan Vlad melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa Reven.
Satu tanganku meraih satu anak panah yang tergeletak di dekat busur yang sebelumnya kubuang. Aku menggenggam anak panah itu dengan kuat. Unsur perak yang sangat kuat di mata anak panah dan seluruh taburan serbuk perak di bagian-bagian lain membakar kulitku. Namun aku menggenggamnya semakin erat, “Ini untuk Noura.” Teriakku sambil menancapkan busur panah itu kuat-kuat ke punggung Vlad hingga menembus dadanya.
Suara lengkingan kemarahan dari Vlad membahana di seluruh tempat ini, dia melepaskan leher Reven dan berbalik ke arahku. Dengan sangat keras dia memukul wajahku hingga aku terjerembab jatuh ke tanah. Sudut bibirku berdarah dan aku merasakan sakit yang luar biasa di area wajah kiriku yang terkena pukulannya.
“Beraninya kau.” Geramnya sambil meraih tubuhku dengan kasar. Aku mencoba meronta untuk melepaskan diri ketika dia mencengkeram leherku sangat kuat. Aku memekik tanpa suara, kurasa leherku akan remuk jika dia melakukannya lebih lama lagi.
Dari balik bahu Vlad, aku melihat Reven berlari ke arah kami. Dengan mata penuh dendam dan kemarahan dia melompat. Tubuh Reven yang tinggi berdiri di atas kedua bahu Vlad, dan dalam hitungan sepersekian detik, dengan menggunakan semua kekuatannya, dia mencengkeram kepala Vlad dan memutarnya sejauh tiga ratus enam puluh derajat. Kecepatan dan kekuatan Reven yang tak terduga membuat Vlad tak sempat melakukan apapun.
Aku terjatuh ke tanah dengan nafas nyaris selesai ketika Reven melempar kepala Vlad. Mata merah Vlad yang sialnya menatap ke arahku membuatku tidak nyaman. Reven yang mengikuti arah pandangku, bukannya menyingkirkan kepala itu tapi malah mendekati tubuh Vlad dan menyentuh bagian dadanya. Kurasa aku akan tahu apa yang terjadi. Aku memalingkan wajahku, tepat ketika Rosse melihat ke arah kami.
“Tidak!!” matanya melebar dan dia menyingkirkan tangan Victoria dari lengannya sekeras mungkin dan berlari ke arahku. Matanya yang sekarang berwarna merah menyala menatapku dengan tatapan membunuh. Aku berdiri dan terlambat beberapa detik ketika Rosse sudah melemparkan tubuhnya ke atasku. Menindihku dan melakukan segala cara untuk bisa membunuhku.
Aku meronta dan melawan dengan kuat. Rosse yang sekarang bertarung denganku benar-benar bukan seperti Rosse yang kulihat selama ini. Hatiku menolak melukainya. Tapi aku mengeraskan tekad. Jika bukan dia yang mati, maka akulah yang mati. Rosse sudah terlalu buta pada cintanya pada Vlad untuk bisa dikembalikan ke pikiran yang normal.
Kami bergulung-gulung di atas, berusaha saling mengalahkan. Tapi kurasa kemampuanku masih jauh di bawah Rosse karena dia dengan mudah mencengkeram kepalaku. Apa aku akan berakhir seperti Vlad? Aku menatap Rosse dengan nanar. Dan entah apa aku yang salah atau memang Rosse melakukannya, aku merasa ada satu detik yang merubah ketidakberuntunganku ini menjadi keberuntungan besar ketika dia menatapku dengan pancaran mata sedih dan ragu. Satu detik yang membuat tangan Rosse mendadak lemas dan menjuntai jatuh bersamaan dengan tubuhnya di atas tubuhku.
Ketika tubuh Rosse yang menindihku berubah menjadi abu yang mengotori seluruh tubuh dan wajahku, aku melihat Victoria berdiri di belakang sana dengan tangan penuh darah mengenggam sesuatu yang membuatku mual. Jantung Rosse, yang juga segera menjadi abu dalam detik selanjutnya.
“Sherena, kau tidak apa-apa?” Victoria membantuku berdiri dan menepis abu-abu hitam sisa tubuh Rosse dari wajahku. Aku terbatuk-batuk dan menggeleng, “Aku baik-baik saja.” aku mencoba tersenyum. Tapi kurasa senyumku pasti terlihat sangat buruk, sisi wajahku yang bagian kiri masih luar biasa sakit. Sepertinya Victoria menyadarinya, atau mungkin ada memar di pipi dan pelipisku yang membuatnya mengerti alasanku tersenyum dengan wajah menahan sakit seperti itu.
Aku menoleh ke arah lain ketika aku tidak mendengar suara Reven. Dan di sana aku melihatnya, masih di sisi tempat abu-abu menghitam tubuh Vlad membekas, dia bersimpuh dengan memegangi dadanya. Aku merasa ada yang tidak beres, “Reven.” Teriakku.
Aku dan Victoria bergegas berlari ke arahnya. Begitu mendekat, aku melihat mata Reven berkaca-kaca. Tangannya yang bebas, mencengkeram kuat-kuat tanah yang bertabur abu Vlad. Aku terdiam. Apakah dia menyesal membunuh Vlad? Dengan sangat pelan, aku duduk di dekatnya. Meremas bahunya lembut, “Rev-”
“Aku seperti pengkhianat.” Bisiknya, “Aku membunuh pemimpin rasku sendiri.”
Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Aku memaki kesetiaannya yang terlalu besar meskipun aku juga memujinya dalam waktu bersamaan. Mendadak dia terbatuk dan darah menghitam yang kental keluar dari mulutnya, “Reven.” Teriakku panik. Victoria yang berdiri di dekat kami segera membantuku menangkap tubuh Reven yang ambruk setelahnya.
“Venice!!” aku berteriak ke arah gerombolan vampir yang hanya melihat semua ini dalam diam. Damis, Illys dan Venice segera berlari ke arah kami, disusul semua anggota lainnya di belakang mereka.
Victoria berdiri dan mundur, memberi tempat bagi Venice untuk memeriksa keadaan Reven. Aku pun melakukan hal yang sama agar Venice punya ruang yang cukup untuk memeriksa keadaan Reven. Aku semakin panik ketika Reven terus terbatuk dan mengeluarkan darah kental kehitaman itu dari mulutnya.
Aku terhuyung. Damis menangkap tubuhku,”Dia tidak apa-apa bukan?” tanyaku getir.
Damis tak menjawab, matanya berpendar sayu. Aku mencari jawaban di mata-mata lain yang mengelilingi kami. Lucia membuang pandangannya dan aku sempat melihat sudut matanya yang sudah basah. Viona merangkul Lyra dan sorot mata penuh penyesalan itu melukaiku. Apakah mereka semua berpikir bahwa Reven pada akhirnya akan mati?
“Tidak.” Aku menjatuhkan diriku di sisi lain Reven, menggengam tangannya, “Kau harus hidup.” Semburku tak terkendali. Venice menatapku, tapi tak mengatakan apa-apa. Dia kembali fokus pada Reven. Dengan cekatan dia merobek baju atas Reven, lalu disana ada bekas menghitam di dada Reven. Bekas menghitam mengerikan tepat di atas dimana jantungnya berada.
Victoria memelukku yang membeku. Mulutku terbuka. Aku membatu tak bereaksi. Fokus mata Reven terlihat memudar dan mata merah itu berubah menjadi biru tanpa pendar. Menatapku lemah tanpa suara. Air mataku mutlak berjatuhan tanpa henti tapi tanpa isak. Hanya air mata.
 “Tolong jaga Reven untukku.”
Suara Noura berputar di kepalaku. Noura sialan, makiku dalam hati. Kenapa dalam keadaan ini dia justru muncul di benakku. Tubuhnya yang mulai memudar. Wajahnya yang tersenyum padaku. Aku menggelengkan kepalaku, membuang Noura dalam pikiranku tepat ketika Venice menatap kami dengan mata yang menyiratkan sesuatu yang sangat buruk. Tidak ada harapan bagi Reven. 
“Tolong.” lirihku, “Tubuhnya belum berubah jadi abu. Bukankah itu berarti dia masih punya peluang untuk hidup.” Aku memohon padanya, “Lakukan apapun Venice. Reven tidak boleh mati. Kita membutuhkannya. Dia akan jadi pemimpin yang hebat untuk kita nanti. Tolong, Venice.” Aku terisak.
Victoria menyentuh lenganku, “Kuasai dirimu, Shere-”
“Victoria.” Potongku, aku memutar dan berhadapan dengannya, “Lakukan sesuatu. Lakukan sesuatu. Aku yakin kau bisa melakukannya. Selamatkan Reven, lakukan sesuatu dan sembuhkan dia. Bukankah kau yang merubahnya menjadi vampir? Kau pasti bisa membuatnya sembuh. Kita tidak bisa kehilangan Reven. Tidak.” Ceracauku dengan cepat.
“Maaf, Sherena. Tapi aku tidak bisa. Aku punya kekuatan. Tapi untuk bertarung bukan untuk menyembuhkan. Dan kurasa, luka Reven sudah terlampau parah. Serangan Vlad itu mungkin saja sudah merusak jantungnya. Mungkin hanya menunggu detik sebelum jantungnya hancur dan dia-” Victoria tak meneruskan kata-katanya.
Aku lemas. Tubuhku terkulai. Aku berbalik, memandang Reven dan aku sudah kehabisan air mataku. Aku menggengam jemarinya dan aku bisa merasakan remasan tangannya yang begitu lemah. Aku memeluknya, menangis di atas dadanya yang menghitam. Dimana Reven yang selama ini kukenal? Dimana kekuatan tangannya yang kerap dia gunakan untuk menyeret tubuhku untuk mengikutinya?
“Mencoba kabur?” ucap Reven.
Tanpa menunggu jawabanku dia menarik lenganku dan menyeretku untuk mengikutiku dengan sangat kasar. “Ap-ap apa yang kau lakukan. Lepaskan!!” teriakku meronta-ronta, tapi vampir satu ini entah tuli atau apa, sama sekali tak menghiraukan teriakanku dan malah makin kuat mencengkram lenganku.
“Sakit! Dasar vampir gila. Lepaskan, kau menyakitiku!” jeritku makin keras.
Aku memeluknya semakin erat. Semua kenanganku bersama Reven yang selalu dipenuhi teriakan, sorot mata dingin tak berperasaan miliknya, kata-kata kasarnya, sikap menyebalkannya, memenuhi kepalaku. Kenapa Noura memintaku menjaganya jika dia tahu bahwa Reven juga akan mati? Noura pembohong. Harusnya dia katakan saja jika pada akhirnya Reven akan kembali padanya, menyusulnya meninggalkan semesta.
Tapi kenapa sekarang? Kenapa harus sekarang dia merebut kembali Reven? Kenapa justru sekarang, ketika aku mulai melihat Reven dari sisi yang berbeda. Aku melihat kepeduliannya di luar sikap dinginnya yang memuakkan. Aku melihat kelembutannya di samping sikap kasarnya. Reven yang selama ini melindungiku tanpa aku pernah menyadarinya.
Aku merasakan sentuhan pelan di atas kepalaku. Satu tangan Reven dengan susah payah menyentuh kepalaku. Mataku yang sudah basah memandangnya, “Hey tuan kasar berwajah dingin, tidak bisakah kau tidak mati?” ucapku serak. Dia mencoba tersenyum. Matanya berkedip. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Kugunakan tanganku untuk menyeka sudut bibirnya yang berlumuran darah, “Kau harus hidup, mengerti?” bisikku di telinganya.
“Kurasa ada satu cara untuk menyembuhkan jantungnya yang sekarang sudah nyaris hancur. Tapi itu mungkin akan sangat sulit.” Sela Venice yang membuatku langsung mendongakkan kepalaku dengan cepat.
“Apapun itu. Aku akan mengusahakannya.”  Sahutku cepat.
Wajah Venice terlihat ragu, aku menatapnya penuh harap. Dia menghela nafas dalam, “Darahnya.” Katanya pelan.
Kerutan di sekitar mataku terlihat jelas ketika aku menyipit dengan tidak mengerti.
“Darah?”
Venice mengangguk. Kali ini terlihat yakin, “Seseorang yang memiliki darah Reven di dalam darahnya. Tapi aku tidak yakin dengan ini.” Raut keraguan itu tergambar lagi di wajah putih pualamnya, “Sepengetahuanku, Reven tidak pernah membiarkan korbannya hidup. Ini jelas sangat sulit atau malah tidak mungkin menemukan seseorang yang memiliki darah Reven di dalam tubuh mereka. Selain itu kita diburu waktu, Sherena.”
“Kita bisa menyelamatkannya.” Damis nyaris berteriak, dia menyentuhku dan memutar tubuhku agar menghadapnya, “Kau.” Katanya tegas.
Mataku berbinar. Astaga, bagaimana bisa aku melupakannya. Darah Reven mengalir di dalam tubuhku. Darah yang diberikannya padaku untuk menyembuhkanku yang sedang dalam masa tranformasi. Aku mengigit lenganku dengan taringku dengan cepat dan menyorongkannya perlahan kepada Reven. Damis membantu Reven untuk sedikit bangun.
Dengan sedikit gugup, kuarahkan lenganku yang telah mengeluarkan darah hingga menetes ke bawah, ke bibir Reven yang memutih. Matanya yang sayu memandangku. Aku tersenyum, “Tidak apa-apa.”
Aku terus tersenyum dan mengangguk ketika bibirnya menempel di lenganku. Aku mengigit bibir bawahku. Aku tidak tahu jika rasanya akan sesakit ini. Ketika Reven menghisap darahku, ada sengatan asing yang membuatku seperti ingin muntah. Kepala belakangku berdenyut.
Tanpa melepaskan bibirnya dari lenganku, matanya memandangku. Aku tersenyum makin lebar. Meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Aku mengamatinya, membiarkan darahnya dan darahku menjadi satu dalam tubuh kami berdua. Hanya beberapa detik dia memandangku sebelum kembali fokus pada lenganku.
 Victoria yang sepertinya menyadari rasa sakit yang kucoba sembunyikan, menyentuh bahuku. Aku meringis. Rasa sakit yang menyerangku, entah kenapa terasa semakin kuat. Aku nyaris terjatuh ke bawah jika saja Victoria tidak menangkapku.
Aku mendengar suara samar-samar Ar yang berteriak marah pada semua orang. Tapi sepertinya beberapa vampir menahannya agar dia tidak mencapaiku. Aku sudah tidak bisa lagi melakukan apapun. Pandanganku mengabur.
“Reven, kuasai dirimu. Reven.. lepaskan. Sherena bisa kehilangan semua darahnya. Reven.”
Suara Venice yang terdengar berulang-ulang itu hanya terdengar seperti gaung-gaung yang semakin tidak jelas di telingaku. Aku menyentuh pelipis kepalaku. Aku memaki diriku sendiri tanpa suara. Bagaimana bisa hanya dengan memberikan darahku pada Reven rasanya bisa sesakit ini. Gaungan-gaungan suara lain memenuhi telingaku. Mulutku terbuka tapi aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Semuanya semakin gelap dan aku.. tidak bisa mengingat apa-apa lagi setelahnya.

***

“Hai.”
Sosok itu tersenyum padaku. Aku mengerjapkan mataku. Memfokuskan pandanganku dan melihat Reven duduk di samping tempat tidurku. Dia terlihat sehat dan kuat seperti yang biasa aku lihat. Yang berbeda, ada selapis senyum di bibirnya. Aku terdiam selama beberapa detik dan sialnya, dia nyaris tertawa kecil melihat ekspresiku. Aku yakin itu pasti bukan jenis yang bagus untuk dilihat.
Aku mencoba bangun untuk menghilangkan rasa maluku di depan Reven. Ketika tangannya menyentuh lenganku untuk membantuku duduk, aku merasa ada sengatan asing yang anehnya terasa nyaman di bekas sentuhannya. Kurasa mungkin sudah ada semburat merah jambu di pipiku yang putih pucat.
Sial. Bagaimana bisa aku bersikap kikuk seperti ini. Yang di hadapanku ini Reven, bukan sosok asing. Tapi, bukankah dia juga sosok yang sebelumnya kutangisi ketika dia nyaris mati. Nyaris mati??
Aku  langsung terlonjak dan membuat Reven terkejut.
“Reven!” jeritku tak terkendali.
“Ya?” dia menatapku bingung.
“Kau.. kau baik-baik saja??” aku berdiri, memeriksa semua tubuhnya dengan menyentuh dada dan lengannya secara memutar. Beberapa detik kemudian yang kudengar malah suara tawa Reven yang memenuhi ruangan pribadiku. Dia menghentikan gerakan sibukku di sekitar tubuhnya dengan menahan kedua bahuku. Membuatku menatap langsung ke dua bola birunya. Aku kembali terdiam. Entah kenapa aku baru menyadari bahwa warna biru di iris mata Reven berbeda dari mata Damis dan beberapa vampir yang kukenal. Ada semburat lain di iris biru itu. Semburat yang entah apa warnanya namun berpendar indah jika aku menatapnya.
“Apa kau benar-benar begitu khawatir padaku?”
Suara Reven yang lembut membuyarkan fokusku pada matanya. Aku melepaskan diri dari cengkraman tangannya, “Tentu saja.” Kataku sambil melemparkan tubuhku, duduk di tepian tempat tidurku.
“Tapi kenapa?” dia terlihat penasaran, “Bukankah selama ini aku tidak pernah bersikap baik padamu?”
Aku mengamatinya selama beberapa saat, berpikir. Sejujurnya aku sudah tahu jawabannya. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Reven. Aku tertawa, mengalihkan fokusnya, “Aku ini bukan vampir pendendam.” Candaku.
Dia memicing, tapi tak bertanya lagi dan duduk di dekatku, “Terima kasih.”
Kepalaku berputar cepat mendengar ucapan terima kasih dari Reven. Aku tidak sedang berhalusinasi bukan? Reven berterima kasih??
“Kau yakin kau baik-baik saja?”
Dia mengangguk, “Tak pernah sebaik ini.”
Aku diam, mengerti. Aku tidak akan banyak bertanya lagi. Aku tahu. Aku tidak akan merusak momen ini dengan macam-macam pertanyaanku. Lagipula sepertinya aku tahu kenapa dia sampai mengucapkan terima kasih padaku. Mungkin dia berpikir dia masih hidup karena aku. Aku tersipu. Entah kenapa kenyataan ini membuatku merasa senang.
“Sherena..”
“Ya.” Aku menoleh cepat.
“Boleh kutanya sesuatu?”
“Tentu saja.”
 “Saat kupikir Victoria membunuhmu, kau malah membelanya dan mengatakan dia hanya melakukan itu karena dia ingin membebaskan jiwa Noura yang ada dalam tubuhmu. Apa maksudnya itu? Bukankah selama ini jiwa Noura sudah tidak ada di dalam tubuhmu sejak kau berubah menjadi sepenuhnya vampir.”
Sinar mataku meredup. Entah kenapa aku  tidak suka ketika Reven mengatakan apapun tentang Noura. Aku merasa seharusnya dia melupakan Noura. Perempuan itu.. aku mendesah lelah, menatap Reven yang sedang menunggu jawabanku. Dan benar saja, dia memang sedang menatapku dengan rasa ingin tahu yang sama sekali tidak disembunyikannya.
Aku menghela nafas, memulai ceritaku tentang Noura. Mengisahkan bagaimana selama ini sesungguhnya jiwa Noura tak pernah benar-benar pergi dari dalam tubuhku. Bagaimana Noura bisa melihat dan mendengar melalui diriku. Aku menyelesaikan ceritaku dan Reven tidak bereaksi apapun. Dia termenung. Aku melihat kilat sedih itu masih ada di matanya. Mata yang ketika itu juga mengisyaratkan kerinduan yang dalam. Tanganku bergerak menyentuh bahunya, tapi kuurungkan niatku dan hanya duduk diam di sampingnya.
Reven, sampai kapan kau akan mempertahankan Noura di dalam pikiranmu? Tidak bisakah kau membiarkan orang lain menggantikan posisi utama Noura di sana?
Mendadak kerutan dalam muncul di dahiku. Kenapa aku berpikir seperti itu? Memangnya kenapa kalau Reven tetap memikirkan Noura sampai sekarang? Apa hubungannya denganku??
Gerakan bangun Reven yang tiba-tiba membuyarkan semua pikiranku. Secara naluriah kedua pasang mata kami mengawasi pintu ruangan pribadiku. Ada bau manusia serigala. Yang begitu kuat mendekat ke arah kami.
Morgan?
Pintu terbuka perlahan dan Morgan memang berdiri di balik sana. Menatap ke arah kami. Di belakangnya, aku melihat sosok lain yang membuat senyumku langsung terkembang, “Ar.” Panggilku.
Ar melewati Morgan dan berjalan cepat ke arahku. Dia memelukku dengan sangat erat dan aku balas memeluknya. Menepuk punggungnya. Tak beberapa lama Ar melepaskan pelukannya dan matanya menelusuri keadaanku.
“Kau sudah merasa baikan?” tanyanya khawatir.
Aku mengangguk, “Hanya saja..”
“Apa?” potong Ar cepat sekali sampai aku sendiri kaget mendengarnya.
“Bau darahmu membuatku tidak nyaman meski baunya tidak terlalu enak.”
Alis Ar saling bertaut, “Oh.” Dia mundur.
Reven tertawa kecil, “Bau darah penyihir memang seperti itu.” Lalu dia berpaling ke arahku, “Apa kau lapar?”
Aku membasahi bibirku, “Sepertinya.” Jawabku jujur. Terus terang mencium bau darah Ar yang mengering di beberapa luka di tubuhnya membuat sesuatu di dalam tubuhku bergetar. Aku sadar aku menelan air ludahku beberapa kali ketika kami berpelukan tadi. Aku bisa mendengar aliran darahnya ketika lehernya begitu dekat denganku.
“Aku benci mendengar itu.” Ungkap Ar.
“Dia akan selalu seperti itu. Dia adalah vampir, Arshel. Kau tidak bisa mengabaikan kenyataan itu.” Morgan maju dan aku melihat setiap gerakannya dengan tidak suka. Aku masih belum memaafkannya atas apa yang dilakukannya pada Dev dan Reven.
“Aku harus berbicara denganmu, Rena.” Ungkapnya lagi, “Tapi tanpa dia.” Matanya melirik Reven. Reven tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Aku kembali melihat wajah dingin dan menyebalkan miliknya. Aku lebih menyukai ekspresinya yang sebelumnya.
“Kenapa Reven harus pergi? Dia tetap di sini atau kita tidak akan berbicara apapun.” Tegasku.
Morgan terlihat marah. Namun suara helaan nafas Ar menganggu fokusku padanya, Ar maju lagi. Menyentuh bahuku dengan lembut, “Jangan keras kepala, Rena. Bukan hanya Morgan yang harus berbicara denganmu, tapi aku juga. Kami ingin meluruskan sesuatu di sini. Tapi Reven tidak bisa tetap berada di ruangan ini.”
“Ta-“
Reven menyentuh tanganku, dia mengangguk, “Baiklah, aku akan pergi. Tapi tak sampai dua puluh menit. Aku dan Sherena harus mengatasi rasa lapar kami atau sesuatu yang buruk akan terjadi pada slayer-slayer di bawah. Kau tahu bagaimana perilaku kami ketika rasa lapar menguasai kami, bukan?” ucapnya dengan meninggalkan tatapan mata mengancam pada Morgan sebelum dia melangkah keluar dari sini. Aku mengamati punggungnya yang menjauh dan menghilang ketika pintu ruang pribadiku kembali tertutup.
“Apa sekarang?” aku berteriak jengkel pada mereka berdua ketika kulihat Ar mengitari ruanganku dengan mulut mengucapkan sesuatu yang tidak bisa aku dengar. Morgan mengawasinya dengan berdiri di dekat pintu seolah-olah menjaga agar aku tidak keluar dari sini.
“Aku hanya memantrai tempat ini agar mereka tidak bisa mendengar apayang akan kita bicarakan.” Jawab Ar setelah dia menyelesaikan putarannya.
Aku sudah akan protes ketika mendengar suara langkah kaki Morgan yang mendekat kepadaku. Aku memberikan tatapan marah yang mengisyaratkan padanya agar dia tidak melangkah lebih dekat lagi.
Morgan yang sepertinya mengerti langsung menghentikan langkahnya. Dia menatapku, kali ini dengan pendaran lembut yang dulu selalu dia berikan padaku ketika aku tinggal bersamanya. Aku tidak goyah, tatapan mata itu tidak akan membuatku melupakan fakta bahwa dialah yang membunuh Dev.
“Kenapa kau menjadi seperti ini, Sherena Kurasa kau berubah terlalu jauh karena terlalu lama bersama kaum pengisap darah itu. Kau harus bisa tetap mempertahankan dirimu agar tetap menjadi dirimu yang dulu.”
“Apa yang kau tahu tentang diriku?” bentakku kesal. Aku muak dengan wajah sok sedih yang ada pada Morgan. “Kau tidak tahu apa-apa. Berapa lama pikirmu kau mengenalku? Bisa saja ini memang aku yang sebenarnya, kau hanya tidak tahu itu. Dan asal kau tahu, Morgan Freesel. Aku tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan pada Dev.”
“Dev?” suara Ar terdengar tidak mengerti.
“Kau tidak tahu, Ar?”
Ar menggeleng, dan Morgan sendiri terlihat tidak mengerti dengan apa yang tengah kubicarakan. Aku memaki keras, bagaimana bisa dia tidak tahu tentang ini, “Dev, vampir yang kau bunuh ketika aku dan Lucia akan pergi dari desamu adalah orang yang sangat berarti bagiku. Tapi kau membunuhnya, kau membunuhnya hanya karena Dev ingin melindungiku.”
Amarahku meluap. Mataku berkaca-kaca. Morgan memandangku dengan tatapan mata aneh. Dia mendekat padaku dan berhenti ketika jarak kami hanya tersisa dua langkah, “Lalu menurutmu apa yang seharusnya kulakukan? Membiarkan vampir itu mengamuk dan membunuh warga desaku seperti yang dilakukan vampir perempuan yang kau lepaskan itu. Kau menginginkan aku melakukan itu, Sherena??”
Dia menggeleng, “Kau tidak tahu. Kau tidak tahu tentang tanggung jawabku sebagai pemimpin mereka. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri. Kau bahkan juga tidak tahu tentang apa yang terjadi pada paman Gabriel, Danial, Merrita, Rupert dan orang-orang lain dalam kelompokku, bukan?”
“Mereka mati.”
“Tidak mungkin.” Aku menggeleng kuat.Mataku melebar tidak percaya. Danial, Merrita, Rupert..?
“Tapi itulah kenyataannya.”
Aku memandang Morgan dengan rasa bersalah. Kehilanganku akan Dev tidak akan sebanding dengan kehilangannya. Kurasa, aku bisa berpikir untuk kembali bersikap baik padanya. Meski mungkin akan tetap ada perasaan marah padanya.
“Takdir tidak akan bisa diubah. Mereka sudah mati. Aku tidak bisa berbuat banyak. Tapi yang terpenting aku bersyukur kau baik-baik saja.”
Mataku menyipit, bagaimana bisa Morgan mengatakan hal seperti itu. Aku diam dengan sikap siaga ketika dia mendekat. Dia berhenti tepat di depanku, hanya beberapa detik sebelum dia memelukku. Awalnya aku ingin berontak, namun kehangatan asing dari tubuh Morgan membuatku terdiam. Rasanya seperti merasakan kehangatan matahari pagi.
“Noura, maafkan aku.”
Aku jelas-jelas mendengar bisikan itu dari mulut Morgan meski sepertinya Ar tidak mendengarnya. Dan usai mengatakan itu, Morgan melepaskan pelukannya dan menatapku lurus-lurus, “Jangan menyukai Reven. Kau hanya akan menderita.” Ucapnya lagi yang semakin membuatku tak mengerti.
Ar menyentuh bahuku, “Kami melihatnya dengan jelas.” Ungkapnya.
“Bagaimana kau marah dan memaki Morgan ketika dia melukai Reven. Bagaimana kau menangisi Reven yang sudah sekarat. Lalu kau, dengan cerobohnya mengorbankan dirimu sendiri untuknya. Apa kau tidak tahu kalau kau bisa saja mati karena membiarkan Reven yang sekarat itu menyedot darahmu sampai habis?”
“Tapi nyatanya aku tidak mati.” Aku menepis tangan Ar dari bahuku dan melangkah menjauh, “Lagipula siapa yang menyukai Reven. Aku hanya mengkhawatirkan dia. Dia menjadi seperti itu karena melindungiku. Lalu apa menurut kalian aku harus diam saja melihat dia hampir mati?” teriakku kesal.
Suara helaan nafas Ar terdengar jelas sementara Morgan hanya menggeleng pelan.
“Kami hanya ingin melindungimu.” Ucap Morgan akhirnya, “Perasaan itu hanya akan menjebakmu dalam rasa sedih yang tak ada habisnya karena kau tidak akan bisa bersama dengan Reven. Jangan lupa, Sherena. Perasaan Reven masih milik Noura. Dan bagi vampir seperti kalian, perasaan itu juga membeku. Terhenti seperti kutukan waktu yang membelenggu.”
Ar mengangguk, “Sebelum ini menjadi semakin buruk. Kau harus menjauh darinya. Tinggal di kastil ini hanya akan membuatmu menderita karena kau akan melihat Reven setiap hari. Jadi pergilah, kemanapun kau suka. Kau bisa tinggal bersamaku, atau siapapun dan dimanapun. Aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi karena aku tahu, kekuatanmu sekarang bahkan mungkin sudah lebih dari pada yang kumiliki.”
“Ar-“
“Tidak, Rena.” Potong Ar. “Jangan keras kepala. Kau pasti menyadarinya. Ada perubahan besar dari caramu melihat sosok Reven. Sekarang mungkin kau masih bisa berkata tidak, tapi jika kau tetap berada di dekatnya. Kau akan menyadarinya ketika perasaan tak terbalas itu sudah mulai menyiksamu.”
“Lalu apa gunanya aku, Morgan, Edge dan semua yang datang ke sini untuk menyelamatkanmu dari Vlad, jika akhirnya, meski kau lepas dari Vlad, kau justru akan menderita seperti itu. Kumohon Rena, ikutlah pergi bersamaku.”
Aku membatu, mengamati Ar dan Morgan bergantian. Kejujuran itu tergurat jelas di wajah mereka. Bahkan pada Ar, aku bisa melihat rona khawatir yang membuatku merasa bersalah. Kenapa aku tidak pernah bisa berbuat atau melakukan sesuatu yang membuat dia berhenti khawatir padaku?
Kami bertiga menoleh secara bersamaan ketika pintu ruanganku menjeblak terbuka. Damis dengan senyum lebar berdiri dengan masih memegang salah satu daun pintu. “Rena.” Sapanya ceria. “Ah.” Sedetik kemudian wajahnya berubah tidak senang ketika dia melihat Morgan dan Ar.
“Kukira kau sendirian karena tak terdengar atau tercium bau apapun dari ruanganmu.” Katanya lagi dan dia menatap Ar, entah aku salah atau tidak, ada sedikit kecemasan Damis ketika dia beradu pandang dengan Ar. Tapi sebentar kemudian, Damis menguasai ekspresinya.
“Kalau begitu, kebetulan kalian di sini. Kurasa harus kukatakan pada kalian bahwa ini sudah saatnya kalian pergi dari sini. Sebentar lagi kastil ini akan segera dipenuhi vampir. Dan kalau itu terjadi. Aku maupun Reven tidak bisa menjamin keselamatan kalian lagi.” Katanya kemudian.
Morgan mengangguk, “Kami mengerti. Dan aku secara pribadi mengucapkan terima kasih pada kalian karena membuat banyak vampir itu tidak menyerang orang-orang kami yang tersisa dan membiarkan kami menunggu sebentar di dalam kastil.”
Damis memandang Morgan cukup lama sebelum dia berkata, “Ini hanya akan terjadi sekali.”
“Aku tahu. Lagipula aku tidak akan pernah berada di tempat ini lagi.” Morgan mengabaikan wajah tersinggung Damis, dia menoleh pada Ar, “Sebaiknya kita pergi sekarang.”
Ar mengangguk, beralih menatapku, “Rena..” panggilnya pelan penuh harapan.
Aku hanya balas menatapnya. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Ar jelas-jelas berharap bahwa aku akan pergi bersamanya. Namun aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bahkan tak yakin pada semua keadaan yang sekarang membelitku. Dan satu lagi, apa memang benar, seperti kata Morgan dan Ar, jika aku meyukai Reven?
“Rena.” Panggilnya lagi.
Dengan sangat berat aku menggeleng. Raut wajah Ar berubah. Aku bisa melihat dia sangat kecewa pada pilihanku. Hanya saja aku tidak bisa berbuat banyak. Bukankah sudah kukatakan, aku tidak yakin.
Namun dengan sikap dewasanya, Ar mengangguk. Dia memelukku sekilas, “Kau pasti tahu dimana kau bisa menemukan aku jika kau berubah pikiran, Rena.” Bisiknya sebelum dia melepaskan pelukannya.
Morgan hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Dia berbalik pergi, keluar dari ruanganku diikuti dengan Ar di sampingnya. Damis mengerutkan keningnya, “Apa maksud ucapan Ar tadi?”
Aku menggeleng, “Bukan apa-apa.”
“Kau tidak turun ke bawah? Apa kau tidak ingin mengantar kepergian mereka?”
Aku menghela nafas, “Kami sudah berpamitan tadi. Kurasa sebaiknya aku tetap di sini.”
“Kau baik-baik saja, Rena?”
“Ya, kau tidak perlu khawatir.” Aku tersenyum lebar dan Damis terlihat percaya pada jawabanku. Aku bergerak ke arah jendela dan berdiri di sana. Berharap aku bisa melihat Ar dan yang lainnya. Namun aku tidak melihat apapun.
Damis merangkul pundakku, “Udaranya terasa segar sekali. Ini akan jadi awal baru yang menyenangkan bagi kita semua.”
“Kurasa begitu.”

***

Pertemuan besar dadakan ras kami ini ternyata cukup menyita banyak waktuku. Aku harus menjawab banyak pertanyaan dan cercaan dari para vampir kuno yang masih ada. Namun semua gaungan itu berhenti ketika Reven menengahinya. Satu suaranya dan hening tercipta di aula besar. Semua mendengarkannya.
Aku bisa melihat bagaimana Victoria mengamati cara Reven bicara dan membuat semua orang mendengarkannya. Sesekali senyum tipis menghiasi bibir Victoria. Meski mungkin ada beberapa yang menentang Reven, namun kurasa mereka tidak akan berani mengungkapkannya. Aku yakin Reven adalah yang paling kuat di sini. Victoria mungkin memiliki jumlah usia yang hampir sama dengan Vlad, namun Reven memiliki kemampuan dan kekuatan di atasnya. Apalagi dalam kondisi prima seperti ini.
Dan tanpa banyak perdebatan, pemimpin ras kami sudah ditentukan. Siapa lagi kalau bukan Reven. Nyaris semua setuju pada keputusan ini. Reven jelas satu-satunya pilihan terbaik yang ada. Damis mendukung penuh keputusan ini. Aku tertawa mendengar alasannya ketika aku bertanya padanya setelah pertemuan ini.
“Aku tidak ingin mengecewakan Lyra lagi.” Jawabnya sambil menggenggam erat tangan Lyra.
Aku hanya tertawa kecil. Reven baru menyeritakan padaku beberapa saat yang lalu tentang Damis dan Lyra. Aku pelan-pelan tahu alasan kenapa Lyra sangat membenciku dulu. Mungkin saja dia marah padaku, atau cemburu malah. Sebab nyatanya sekarang, dia bersikap baik dan tak seperti biasanya. Dia cukup cepat akrab denganku.
Lucia beda lagi, dia masih bersikap sedikit dingin padaku. Meski kuakui kadarnya sedikit berkurang. Dia jauh lebih pendiam. Tak lama setelah pertemuan besar, dia meninggalkan kastil ini bersama dengan kelompoknya.
“Jaga dirimu baik-baik.” Suara Reven yang bersahabat terdengar, dan itu terasa mengangguku. Mereka berpelukan. Aku bisa melihat bagaimana eratnya Lucia memeluk Reven. Aku mencoba tersenyum, menutupi entah perasaan apa yang menyengatku ketika melihat adegan itu. Lucia menjabat tanganku singkat. Tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum.
“Kau masih lapar?” tanya Reven setelah Lucia dan kelompoknya pergi.
“Aku baru berniat untuk pergi berburu sendirian.”
Kedua alis Reven saling bertaut, “Tidak.” Ucapnya tegas, “Aku akan pergi bersamamu.”
“Masih banyak orang-orang yang harus kau temui di dalam. Aku bisa pergi sendiri. Kau tidak perlu khawatir.” Paparku cepat. Aku tidak mengada-ada. Di dalam kastil masih penuh dengan para vampir. Dan beberapa yang kukenali merupakan vampir-vampir kuno yang pada pesta penyambutan dan pengenalanku dulu dikenalkan Vlad padaku.
“Kau pikir aku mengkhawatirkanku?” dia menaikkan kedua alisnya. Dengan pelan disentuhnya kepalaku, “Aku hanya lapar. Sangat lapar malah. Jadi jangan berpikiran macam-macam.”
Aku menepis tangannya. Menampilkan wajah marah dan langsung pergi berjalan ke arah hutan. Reven mengikutiku sambil tertawa. Tawanya, terdengar merdu di telingaku. Aku berharap bisa mendengar tawanya setiap hari. Itu pasti menyenangkan.
Kami berjalan beriringan mencari buruan. Aku menyamarkan nama manusia dengan buruan. Entah kenapa tetap tidak nyaman bagiku mengatakannya. Mungkin karena aku baru beberapa saat saja menjadi vampir. Damis meyakinkanku jika perasaan ini akan hilang nantinya. Lambat laun aku pasti terbiasa.

***

Kami berbaring di atas padang rerumputan di sebuah bukit yang tidak kutahu dimana. Aku dan Reven mengamati bintang-bintang yang bertaburan di atas langit yang menghitam. Reven diam, tak berbicara apapun sejak kami berbaring di sini setelah kami memuaskan rasa lapar kami. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, namun dia tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya terus memandang ke atas tanpa kedip dengan kepala berbantal kedua tangannya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku penasaran.
“Noura.” Jawab Reven pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Aku terdiam. Ada sesuatu yang seperti hidup di dalam tubuhku dan meremas jantungku hingga sakit ketika Reven menyebutkan nama itu. Aku mencelos, apakah benar aku memang menyukai Reven? Tapi sejak kapan dan bagaimana bisa? Bukankah dulu aku sangat membencinya?
“Beberapa manusia percaya jika jiwa mereka yang sudah mati akan menjadi seperti bintang-bintang itu. Aku hanya penasaran, apakah itu juga berlaku untuk kita, para vampir? Jika ya, aku sedang mencari Noura diantara bintang-bintang itu. Kurasa akan menyenangkan melihat dia setiap malam di langit seindah ini.”
Aku menyentuh dadaku. Rasa sakit yang sebelumnya ada, terasa semakin kuat. Aku mencoba tersenyum, “Kurasa bisa saja yang itu adalah Noura.” Ucapku dengan semangat yang palsu sambil menunjuk satu bintang yang paling terang dan berkilau.
Reven tertawa, “Mungkin malah yang itu.” Tangan Reven menunjuk bintang lain yang berpijar terang meski tidak seterang yang kutunjuk. Aku memukul tangannya, “Tidak mungkin. Noura lebih pantas jadi yang itu.”
“Jangan keras kepala, Sherena. Noura lebih cocok jadi yang itu.” Dia bersikukuh dengan pilihannya.
“Tidak bisa.” Aku sudah akan memukul lagi tangannya, tapi Reven lebih sigap. Dia meraih tanganku dan tidak melepaskannya. Tanpa mengatakan apapun, dia menurunkan tangan kami dan tetap tidak melepaskan pegangannya.
“Kurasa Noura cocok jadi bintang apapun.” Bisiknya.
Aku diam, membiarkan dia mengenggam tanganku. Sementara itu, di sisi lain aku tahu dia mungkin juga sedang memikirkan Noura. Matanya tetap memandang ke langit di atas sana. Aku memalingkan wajahku. Akhirnya aku tahu jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini mengangguku.

***

“Aku tidak bisa tinggal di sini.” Ungkapku beberapa hari kemudian ketika berada di ruangan yang dulu selalu menjadi tempatku untuk bersantap selama aku masih menjadi manusia. Kontan saja apa yang kukatakan membuat Reven, Damis dan Victoria memandangku dengan terkejut.
“Apa?” Damis seperti tidak percaya pada apa yang kukatakan.
Aku mendesah dengan lelah, “Aku tidak bisa tinggal di kastil ini lagi.”
“Kenapa tidak?” bantah Damis lagi.
“Aku hanya tidak bisa tinggal, Damis.” Kilahku, “Ini bukan lagi tempatku. Dulu aku berada di sini karena aku adalah calon ratu. Aku menjadi anggota kelompok utama juga karena alasan yang sama. Tapi seperti yang kalian semua tahu, sekarang aku bukan calon ratu. Aku tidak berhak berada di sini.”
“Kau tidak harus menjadi calon ratu untuk tinggal di sini.”
Suara Reven terdengar tegas. Aku menarik nafas panjang. Mencoba mencari ketenangan karena sejujurnya aku tidak bernafas. Aku hanya terlihat bernafas, seperti semua jenis kami.
“Aku tahu.” Erangku, “Tapi-“
“Rena, jangan bicara apapun lagi. Kau harus tetap tinggal di sini.” Potong Damis.
“Damis.” Victoria menengahi, dia mengangkat tangannya meminta Damis diam. Setelah itu dengan matanya yang teduh dia memandangku, “Apa ada yang membuatmu tidak betah berada di sini?”
Aku sadar, selain sepasang mata Victoria, ada dua pasang mata lain yang memandangku, menunggu. “Aku hanya tidak ingin tinggal.” Kataku dengan terpaksa. Aku merasa bersalah, apalagi ketika pandangan Reven seperti menelanku bulat-bulat. Ekspresinya berubah keruh. Wajah cerianya yang akhir-akhir ini mulai sering kulihat, menghilang begitu saja.
“Tidak. Pokoknya tidak.” Kata Damis keras.
“Maaf aku han-.”
“Cukup!” teriak Reven mengagetkan kami. Dia memandangku dengan tatapan dingin, menusuk seperti yang dulu, “Jika dia memang ingin pergi. Biarkan saja. Itu adalah keinginannya.” Ucapnya seraya berdiri dan pergi begitu saja dari ruangan ini tanpa memandangku lagi.
Aku bahkan bisa mendengar suara daun pintu yang terbanting ketika dia benar-benar pergi. Damis beralih memandangku, “Rena..”
“Maaf.” Kataku bergantian memandang Damis dan Victoria.

***

Aku memandang bangunan besar, tua dan kuno ini dari luar. Mengamati setiap detail menakjubkannya yang baru kusadari sekarang. Aku mengingat kembali bagaimana hari-hari pertamaku di sini. Pertengkaranku dengan Reven, perhatian Damis, sikap lembut Rosse, dan Russel. Aku tidak akan melupakan semuanya.
“Tidak bisakah kau mengubah pilihanmu? Kau punya kami di sini, sementara di luar sana? Kau sendirian.”
Kuraih tangan Damis, “Terima kasih. Tapi kurasa, aku menginginkan sedikit petualangan di luar sana. Dan aku akan tinggal dengan Ar untuk sementara, Damis. Jadi aku tidak akan sendirian.”
“Ar??Apakah Ar mengatakan sesuatu kepadamu? Sesuatu yang sangat penting tentang kalian?” Damis bertanya dengan panik.
Aku menggeleng, setengah tidak mengerti dengan pertanyaannya, “Aku pergi karena aku yang menginginkannya.”
“Kau harus bisa menjaga dirimu di luar sana, Sherena.” Ucap Victoria yang juga ikut mengantarkanku, “Kunjungi kami kapanpun kau mau. Dan jika kau ingin kembali, tempat ini akan selalu terbuka untukmu.”
“Tentu.” Aku tersenyum, “Kurasa aku harus pergi sekarang.” Kataku lagi sebelum aku berubah pikiran. Melihat bagaimana Damis dan Victoria menyayangiku membuatku semakin berat untuk pergi. Namun aku telah menentukan pilihan. Ini semua, seperti kata Ar dan Morgan, adalah jalan terbaik bagiku.
Aku memeluk Damis yang mendekapku dengan sangat erat. Setelahnya pelukan Victoria dan usapan lembut di punggungku darinya membuatku menahan air mataku dengan kuat. Aku tidak boleh menangis. Ini adalah keputusanku.
Tanganku melambai kepada mereka. Sebelum berbalik, sekali lagi aku melihat ke bangunan besar itu. Tidak ada Reven. Aku membuang muka. Berlari dengan cepat pergi dari tempat itu. Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku bisa merasakan ada yang meleleh di sudut mataku. Aku berlari semakin cepat.
Ini adalah akhirnya. Perpisahan. Aku memilih pergi. Menghindar dari perasaanku sendiri. Aku, tidak akan berusaha jika aku sudah tahu seperti apa akhirnya. Aku tidak punya harapan. Semua itu adalah milik Noura. Perasaan Reven adalah milik Noura. Yang terberat, sainganku, entah aku bisa mengatakannya saingan atau bukan, Noura, sudah mati. Selain itu, lihat saja bagaimana Reven dengan sengaja tidak mau mengantarkan kepergianku dari sini. Dia tidak pernah menganggapku penting.
Ar benar. Sebelum ini menjadi semakin buruk. Aku harus menjauh darinya. Aku harus menguasai perasaanku sendiri. Dengan pergi aku akan berusaha menghapus perasaan ini, jika itu mungkin. Aku menambah kecepatan lariku. Salahku sendiri kenapa aku bisa menyukai Reven. Aku terus berlari. Waktu, mungkin beberapa tahun, atau mungkin lebih, akan bisa  membantuku merelakan semua ini. Ya, mungkin benar seperti itu. Hanya waktu yang akan menunjukkan kebenarannya.
Aku berhenti berlari, berbalik. Diam mengamati arah mata angin dimana kastil itu berada jauh. Aku menghela nafas panjang. Jadi seperti inilah. Aku berpaling, berlari lagi semakin cepat.
Selamat tinggal.


Comments

  1. O my gosh, demi apaaaaa......
    Trus gimana ini kelanjutannya kaka???
    Haapy or sad????

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya dijawab di epilog aja ya. Hahaha *kaboooorrr* :P

      Delete
  2. Huahhhh!!!
    Oh my oh wow....
    awalnyaaaa keren banget, suka, menegangkan, romantis juga.. kayaknya happy ending? Tp makin ke bawah kok makin ragu yah?
    Dan akhirnyaaaa kebukti juga kan hiks hiks *nangis kejer*
    Kenapa akhirnya begini? *garuk tembok* ahhh.. kesel.. kesellll huhuh

    Kesel sama Morgan dan Ar disini, secara ga langsung mereka mempengaruhi Rena -_-
    Entah mengapa aku ga suka tokoh Morgan di HV heheh *piss thor

    Ini akhirnya nih? Sad ending? Apa happy ending? :''(
    Itu lg kenapa Reven diem ajaaaaa, aishhhhh bikin gemes!! Kalo suka yah bilang dong Rev...

    ReplyDelete
    Replies
    1. *puk puk*
      Senja jangan nangis, jangan garuk-garuk tembok.
      Kasian... temboknya >.<


      Sejujurnya Morgan sama Ar cuma pengen yg terbaik buat Rena. Klo Reven jomblo *alias move on gtu aja*, pasti mereka oke-oke aja sama perasaan Rena ke Reven. Karena dengan begitu, setidaknya Rena punya peluang.

      Akhirnya gimana ya? Aku bingung menyebutkannya, ntah ini sad ending apa happy ending?? -_____-

      Kenapa Reven diam?? Mungkin sama kayak Rena, dia juga ga yakin.. :)

      Delete
  3. Bener2 nanggung kalo begini huhu
    nunggunyaaa lama banget sangkain aku bakalan happy ending :'(
    Tapi masih ada epilog kan yah? Yang entah kapan dikeluarinnya hihi *piss thor* karena kalo yg diliat dr twitter authornya lg sibukkkk banget hehe
    Semoga epilognya tidak mengecewakan, seperti yg udh ditunggu reader lg, semoga Happy Ending!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh maap maap :P

      Iyes, masih ada epilog. Tungguin ya.
      Hahahhaha, sejujurnyee, emang sibuk. Sibuk ngurus ponakan sama bersih-bersih rumah dari sisa abu + pasir Kelud.

      Amin amin, semoga epilognya engga mengecewakan. :D

      Delete
  4. Epilog! Epilog! Epilog! Senin! Senin! Hahahaha yaampun aku kira raven bakal mati... Ahhh ternyata engga, yey! Thoe please upload cepet buat epilog please satuin raven sm rena (duo r) please....sedih thor ceeitanya udhmau tamat:( ditunggu cerita kakak yg lain... I love you to the moon and never come back thor:* <3 huehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaga astaga.. sabar sabar. Epilog ada tapi kapannya itu ngga tahu. Ngga lama kok, tapi ya engga hari senin. Hahahahhaha.

      Aku ngga tahu mereka ini sebenarnya cocok engga ya. Aku galau sama Reven. >.<

      Ohmaiiigatttttttt, ai lop yu tuuuuuuuhhhhhhhh :*

      Delete
  5. WHAT!!! TINGGAL EPILOG AJAH??? MAU SELESAI DONG???
    BIG HELL NOOO!!!
    OOMAIGG!!!
    PLEASE KAK... NOOOO!

    KAKAK!!!
    Ini knapa kok dibikin berpisah sih??????
    WHUUUUAAAAAAA!!! GA RELA!!!!!!! SUMPAH GA RELAAAAAA!!!

    padahal di awal udah seneng-senengnya.. tau kalo masalah sama Vlad udah slesai...
    Kukira Sherena-Reven bakal bersama!!!

    Pokoknya ga terima kalo akhirnya SAD ENDING!

    Sebel juga sih sama si reven yang terruuuuuuuuuusssss ajah ga bisa MOVE ON dari Noura!!! Padahal si Reven udh ditolongin sama Rena!!!
    Knepa Reven ituu gak Peka sama sekali sama si Sherena!!
    Ya Allah Reven..bikin sebel ajah siihh!!!

    Kak! Kalo ada epilog berarti musti ada SEQUELnya dooooooong?? :D mhuehehe :p

    Pokoknya aku ingin ending yg terbaik dri #HV
    Dan kalo bisa ato harus pake maksa.. si Reven-Sherena harus bersama. TITIK. :p

    Dan aku meski ga rela harus merelakan #HV selesai.. tp aku tetep terus dukung dan nunggu karya2 kaka yg laen! :)

    CAYOOO!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyahhhhh, dengan sangat terpaksa dan sangat disayangkan aku berkata, "Ya."
      HV sudah akan tamat. Tinggal epilog. :'))

      Padahal aku ini bingung ngediskripsiinnya gimana ya, entah happy atau sad ending.
      Well, kita pantas menganugrahi Reven sebagai DUTA ANTI MOVE ON.
      muahahahahahhaha *evil laugh*

      Errrr, sequel??????????

      Aku ga tau juga ya. Yang jelas sampai sejauh ini belum kepikiran. Masih mencoba fokus sama Another Story dan Xexa.

      Semangat semangat dukung saya dengan coblos nomer....
      *ketularan api-api coblosan caleg* :P :P


      SEMANGAT!

      btw, thank Delima :D

      Delete
  6. YAAHH KAKK KOK.....
    Aku kirain bakal ada romantisnya rena sama reven yaaah apaan sih ar sama morgan dia ngapain cuci otaknya rena ih.
    Sebenernya reven sedih itu rena pergi gengsi aja dasar hahaha tapi ga rela:(

    Aduh masih ga rela pisah sama reven kaaak bikin sequel dong kaak aaahhh ga rela. Aku bela belain baca padahal senen ada ujian demi liat keromantisan rena dan reven aaahhhh aku ga rela kaka aku nangis kejer kejer nih aahh, ditunggu ka senin epilog epilog epilog pokoknya epilog

    SEMANGAT KAK!!!
    Ps: kirim salam kak peluk dan cium buat reven

    Anna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehe
      Roman antara Reven dan Rena?? Aku juga berpikir begitu, tapi si Reven iniloh, bebal banget. >.<

      Ah iya, pasti si Reven ini cuma gengsi doang, atau dia malah galau. Hahahha.

      Emmm Sequel??? Banyak yg minta ini ya??
      Jawabanku sama sih, aku ga tahu. hohohoho

      Hahahah belajar Anna beljar. Sukses buat ujiannya.

      Semaaaangaaaaaaaaattt!!!!

      *salam buat Reven tersampaikan, dia masih sibuk..... mikirin Noura -_________-

      Delete
  7. Tidak bisa berkata,,, hanya berpikir kira* endingx bgmn?? Ohmaigat,, knp noura harus trus ada dikepala reven?? Kan kasiand renax,, tp gpp,, rhena kan bisa sama morgan,, hahaha
    But, trima kasih untuk ttp melanjutkan HV wlaupun harus menunggu lama, dan semoga setelah HV akan lahir karya* baru yg tdk kalah seru... keep writing yah say,, miss yu
    #artharia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena oh karena... Reven adalah duta anti move on *halaaah
      Aslinya karena perasaan Reven ke Noura masih kuat. Jadinya begitu.

      Rena sama Morgan?? hahaha good idea.
      ;p

      terima kasih juga karena terus setia membaca HV yg kadang geje. hohohoho

      Semangaaatttt, misyutuuuuuuuh
      ;D

      Delete
  8. sherena.nya kan blom tau siapa ayah kandungnya, seperti yg telah di janjiin noura???

    ReplyDelete
  9. Yah ko sad ending,,, hikz hikz hikz kasian renanya,, d tggu karya2 yg lainya ya min,, semangat selalu bwt autor nya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, baca juga Xexa dan Another Story ya.
      Tunggu epilog HV juga ya. Hohoho

      Semangaaat juga buat kamu :D :D

      Delete
  10. GA RELAAAA!!! kak, kalo jadiin novel bilang aku ya :D kasih tau di wattpad aja :3 fransiscaaletha hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaaaaaruus rela *eaaaa

      siap siap siapppp.
      Doanya aja yaaa :D

      Delete
    2. amin aminnnnn, pasti bakal kangen nih :\

      Delete
  11. :'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(:'(
    Hmm, dr gaya bercerita'y c ky'y bkl ad kejutan entah d epilog ataupun update berikut'y, mlh bsa bbrp chapter atau bhkan sekuel, iy kn thor ?? (lirik author smbl angkat2 alis),
    oia, menyenangkan hati reader tu dpt pahala lho, jd smw urusan bkl lancar
    xoxoxo
    salam reader yg ngeyel
    sherlocker

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kejutaaan???? woohhh apa ya???
      tungu aja epilognya
      hehehe

      kamuhhhh... modus
      muahahaha
      ;p;p

      Delete
  12. Berharap di epilog Reven mengakui perasaannya pada Rena....telat bacanya hiks...tp apa sampai akhir Rena bakalan tidak tahu kalau Ar itu kakak kandungnya?
    Di tunggu epilognya sis...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga.. aku juga berharap seperti itu.
      Ah tentang Ar dan Rena, ada sedikit bahasannya di epilog nanti.
      Ditunggu saja ya.. Hohoho :D

      Delete
  13. Di tunggu Epilog nyaaaa
    Ckckckckck dasar Reven....

    ReplyDelete
  14. Ahhh.... Hai nona cantikkk !!!
    Ngga relaaaa HV nya udh mau tamat!!! Trus Reven ngga ada rasa apa2 gthu aama Rena stlh dibantu??? Mau POVnya reven lah.... Hahaha
    Tapi jujur aku suka banget sama cerita kamu ini... Bnr2 ngalir ... Endingnya ngga mksa.. Mudah2an epilognya bikin bahagia yah... Ditunggu crt2 yg lain... Semangat!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Reven gimana?? Tunggu epilognya ya.
      Btw emang di epilog nanti ada POV-nya Reven. Hahahahha


      Wieeehhiiii, makasiii makasiii
      Jangan dipuji aku nanti besar kepala *eaaaa
      >.<

      Semangaaaaattt!!!!!!!!!!!!

      Delete
  15. Astaga . .
    Rena nya beneran pergi .
    Knpa Reven gak nganterin Rena ?
    Kyaa~
    harus gini kah Ending nya ?
    Jangan gantung atau Sad ending . .
    Rena sampai akhir tetep gak tau kah kalau Arshel kakak nya ?
    Epilog nya d tnggu kakak . Semangat .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Rena-nya seriusan pergi. Kenapa Reven ngga nganter dia? Mungkin dia marah atau entah ya.. Sulit menebak si Reven kepala batu ini.

      Sejujurnya banyak pertanyaan kamu nanti bakal terjawab di epilog.
      Jadi tunggu ya. :D

      Delete
  16. arrrggghhh...
    Setelah sekian lamaaaaaa....
    Epilog mana epilog.... #jitak reven
    hadech.. Tu vampire ganteng lemot ato dodol ato apa sih???
    masa baru ngerasa klo udah ditinggal sherena...
    Ckckckck...
    Epilllooooooggggg #ngusel2 di dadanya reven.. Ech?!
    -beaufre was here-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Epilognya..... entar kapan-kapan ya. Hahahahha


      Mmmmmm, Reven ini ngga lemot, ngga dodol juga. Dia... cuma ngga bisa move on. >.<

      Jangan ngusel2 ke Reven. He's MINE! *eh

      Delete

  17. pertama saat baca judul chapt ini udah dag..dig..dug..feeling ga enak..,ha3x..(lebayyy) nerusin baca tambah mewek...eh..lha dalah...di ending langsung sukses mlongo...,bengong...,percaya ga percaya...sebenarnya yang ga sensi tuh reven apa shere..., pada jaim siy, yang shere takut sakit hati yang reven takut kl merasa mengkhianati noura...hadeuhhh...., tolong mereka ya ALLOH (do'a Baim) ha3x....,sangat amat menunggu epilogmu............!!!tx updatenya...luph u pullllll.................

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaha
      Aku ketawa baca komen ini. Lucuk!
      Tapi aku suka.

      Well, mereka ini sama-sama ngga berani menghadapi kenyataan. Sepertinya itu kalimat yang paling tepat. Hehehe

      Selamat menunggu epilognya ya. Aku masih sibuk nulis Xexa sama Another Story dulu. :D

      Delete
  18. aduuhhhhh si revennnnyaa nih kenapa gak bisaa lupain noura sihh kasian tuh si rena nya
    apa perlu dijitak dulu tuh revennyaa -__- #piss thor
    keren bingits thor hv nyaaa gasaabar nungguin epilognya WOWW
    sumpaah keren bangettt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Reven ini... DUTA ANTI MOVE ON!
      Muahahahahhahahah *evil laugh*

      Uhiiiii, makasiii makasiiiii :)

      Delete
  19. Yayayahhhh.... Rena harus semangat dong merebut hati Reven.
    Bantu Reven move-on !!!
    Ya ampun, ngga rela banget nih kak pisah sm HV. Huhuhu :'(
    Ahaaa... Gimana kalo dibikinin sekuelnya ?? *puppyeyes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, Rena harusnya emang semangat dan berusaha. Tapi kemudian dia milih nyerah, kenapa? Karena bagi dia, mungkin rasanya uda ga ada harapan aja ngadepin Reven yang masih.. yah.. mikirin Noura yang notabene uda mati. >.<


      Ahhh iya, aku juga ga rela pisah sama bang Repennn. Uhhh..


      Eh, sequel??? Belum kepikiran nih, Jadi ga tahu. :P

      Delete
    2. Harus kepikiran dongsss !!! *maksaaa
      Oya, Morgan itu sebenernya suka sama Rena ngga sih mbak ? Kok aku nangkepnya cuman sebatas care ???
      Hemmm... aku jadi mupeng kalo Rena jadi rebutan Reven sm Morgan

      Delete
    3. Ah Morgan ya?? Morgan sebenernya... ini menurutku yah. Dia ngelihat Rena cuma sebagai Noura. Jadinya kaya mau berusaha ngedapetin apa yang dulu pernah dia lepas. Secara waktu sama Noura, dia ngerelain Noura sama Reven karena itu kemauan Noura. Giliran sama Rena, dia mencoba untuk melakukan "sesuatu". :P

      Delete
  20. Ngga nyangka udah mau habis aja :(
    By the way, salam kenal Author Amoura Xexa! Aku baru muncul padahal udah ngikutin dari awal X) hehe..
    Suka banget sama ceritanya, bisa bikin pembaca masuk ke dalam cerita :D aku belajar banyak dari penulisan dan jalan ceritanya kakak! ><
    Semoga penulisannya menjadi lebih baik dan lebih bagus lagi dari yang sudah bagus-bagus ini yah~~

    Endingnya gimana nih kak? Sad? Happy? or gantung?
    Aku penasaran banget nih v_v semoga ngga sad or gantung karena itu rasanya nyakitin banget looh *curhat* hehe..

    Ditunggu epilognya ya kak... yang cepet lohh~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo halooo salam kenal, neng geulis.

      Asekk asekk dipuji. Hahahhaa.
      Well, makasii makasii banyak doa dan pujiannya ya.
      Aminn aminn, semoga penulisanku menjadi lebih baik dari yang ini.


      Endingnya?? Sejujurnya ntar baru ketahuan di epilognya. Jadi tunggu aja di epilog ya. Hohohoho.:P

      Delete
  21. Gak papa, gak papa, aku rasa bagus juga Rhena pergi, hahhaha biar Reven bisa menyadari perasaannya, biasaanya nih ya kita baru akan merasakan kehilangan seseorang atau seseorang itu penting buat kita setelah orang itu udah gak ada lagi disamping kita #eeeeeaaaaa
    Kasian juga Rhenannya kalo Revennya juga masih kaya gitu # ah ngomong apa sih aku ini hahahha padahal mah intinya tetep aja aku mau mereka berdua bersama hehehhe

    # menunggu epilog :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahhaa, sepakat sepakat. Emang kayaknya kalimat, "Sesuatu baru akan terasa berharga ketika kita kehilangannya." bakal bermain di sini.

      Semoga semoga mereka bisa nyatu, kalo Revennya ngga keras kepala.
      Nah, selamat menunggu epilog :D

      Delete
  22. Gk tau lg mau comment kyk apa..
    Ini cerita kereeen bgt..
    Jd gk sabar nungguin Epilognya..
    Semoga aja Happy Ending...

    Pkoknya I Love HV deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wiehiiiiii... makasiii makasii dibilang keren >.<
      Selamat menunggu epilognya. Hehehehe

      HV said, "I Love You Too."

      :))

      Delete
    2. Wiehiiiiii... makasiii makasii dibilang keren >.<
      Selamat menunggu epilognya. Hehehehe

      HV said, "I Love You Too."

      :))

      Delete
  23. aaaa ko sad gini thor? semoga di epilog si reven bakal sama rena hehehe *ngarep

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, semoga begitu. Mari kita doakan semoga Reven ngga keras kepala. Dan Rena.. yah seenggaknya dia memperjuangkan perasaannya sama si abang anti move on itu. :P

      Delete
  24. Aku ---- nggak tau mau ngomong apa. Hah. There is no happy ending for our beloved Rena, even after Dev sacrifice Or Morgan. It's suck. Yeah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaga astaga.. Jahatnya penulis yg menulis HV ya. >.<
      Semoga dia baik hati kasih happy ending buat Morgan atau Rena. Dan tentang Dev.. ah sudahlah. *usap air mata*

      Delete
  25. Bener2 nyes banget di part ini. Sakitnya kerasa banget <\3

    Happy ending dong non :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahh, apakah aku menyakiti para pembaca HV dan harapan mereka akan Reven-Rena. Ta..tapi... Revennya yang bebal, bukan aku. >.<


      Ah iya, semoga happy ending :D

      Delete
  26. makasih yah, bacanya sampai capek gini minum dulu deh,hehe salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasihh, dan maaf ya bikin capek baca HV. salam :D

      Delete
  27. Gak tau kenapa aku setuju sama ending nya .
    Mungkin karna singkronnya pas untuk ending.

    Selamat tingal reven-rena ...
    Selamat tinggal HV..........................

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tosssss
      Akhirnyaa akhirnyaa...

      Ah iya, selamat tinggal Reven.. :')

      Delete
    2. ia, soalnya kalo menurutku sesuatu yang di paksain hasilnya akan tidak bagus, begitu juga soal hati
      #sokbijak :D

      jadi aku setuju dengan pendapat Al bahwa rena harus meninggalkan reven. tapi gak tau juga ya kalo ntar di epilog rena barengan reven lagi :D itu tergantung mbak nya :D

      Delete
  28. kak, kok ada firasat kalo HV tetep bakal happy end ya ? :| berasa deja vu sama part yang ini ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya? Sama part yang mana???

      Hehehe aminn. semoga beneran happy ending. :D :D

      Delete
    2. part ini bahahah tapi ga tau sih happy end apa engga, lupa-lupa inget... pokoknya Rena harus sama Reven/Morgan ya kaakk

      Delete
  29. Hwaaaaaaa!!!!!!
    Makin Keren aja.... ckakakaka

    Saya ingin ngegeplak si Revan biar sadar! ckakaka gemes sih! :v
    Mereka bikin telinga dan dada saya panas..... Oh please deh.... Demi apapun itu.... Rena Tinggalin Revan bbersama kegalauannya.
    ahahaha

    Terus semangat berkarya yah kau penulis berbakat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dikeplak Revennya. Kasiannnn... *pecinta Reven garis keras* Hahahhaa

      Ah iya. Rena pergi, ga dianterin Reven. Entah Revennya ngumpet dimana. Ngalauu. :P :P

      Siap siappp. Semangat berkarya..

      Ah makasiiih pujiannya *blushing*

      Delete
  30. Ngeliat comment"nya, jadi ini baru last chapter? Belom epilogue? Hahaha. Pantes aja agak gimana gitu kaya gantung. But nice work :D
    Aku senengnya cerita kamu banyak yang logis jadi walaupun gak happy ending, masuk akal :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe iyaaa. Ini kurang epilog

      Makasii makasii. Aku berusaha membuatnya logis meskipun banyak cacat di sana sini. :D

      Delete
  31. ahhhhhh gak ikhlas banget HV tamat.....
    lanjutin terus dong...
    please :) :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah gimana ngelanjtinnya. Uda mau epilog. Hehehhe. Mari kita merelakan HV. :'D

      Delete
  32. Akhirnya sumpah bikin nyesek..
    ngga ikhlas kalau Sherena pisah sama Reven, jangan pisah dong..
    ketemuin mereka buat Revan nyegah Sherena buat pergiii..

    tapi buat keseluruhan karya Kakak TOP pake semua jempol kalo perlu pinjem jempol orang lain..
    Aku readers baru disini, salam kenal :) aku juga sering baca cerita Kakak di wattpad :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiiii Emily, salam kenal.. :)

      Semua keputusan akan ada di epilog ya. Ditunggu saja. Dan masalah Reven - Rena pisah atau akhirnya barengan.. Mmmm, ada di epilog. Hehehehe


      Aseekkk, dipuji. Hahahha. Btw makasii makasiii. Tapi jangan kebanyakan dipuji. Nanti aku besar kepala. :P

      Welcome to my world. Baca cerita-cerita yang lain juga ya.

      Delete
  33. what???????????

    ReplyDelete
  34. Kaka ayooo epilognya manaa
    Ditunggu bangeets iniii

    ReplyDelete
  35. kakak:( epilognya dong, nanti aku kasih hadiah permen deh kalo dipost-_-

    ReplyDelete
  36. yahhh,, cepet banget uda epilog :(
    rena dan reven harus bersatu. H-A-R-U-S-!=HARUS!
    tapi gpp deh, asal ad sequel dari crita rena dan reven aja. contoh: anak"nya kali :D
    oke kakak kece yang paling muanissssss :**

    ReplyDelete
  37. kak.. makasih ya dah bikin ceritanya sampe abis *maaf baru comen soalnya lewat hp susah*
    epilog nya bener2 bikin dada sesak.. :'(

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.