Skip to main content

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah*
Astaga astaga.. aku punya ide.
REMEMBER US.
Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh*
Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik.
Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali.
Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca..
Salam
@amouraXexa

***

EPILOG

Aku mengamati Ar yang sedang berkosentrasi pada ikan yang akan ditombaknya. Sedetik kemudian aku mendengar bunyi cipratan air ketika Ar menancapkan tombaknya tepat ke tubuh ikan yang beberapa detik tadi sudah diamatinya. Dia berbalik menatapku, “Kau lihat, kemampuan menombakku semakin baik. Kurasa aku akan beralih menjadi penombak ikan daripada menjadi penjaga desa.”
Dia mencabut ikan dari ujung tombaknya dan melemparkannya masuk ke dalam keranjang kecil yang ada di tepian sungai sambil tertawa. Aku hanya tersenyum dan kembali mengamatinya di bawah pohon tak jauh darinya. Sesekali aku mendongak, mengamati matahari yang sedang bersinar terik di atas sana. Dengan pelan, aku menarik tudung jubahku, merasa tidak nyaman dengan cuaca di sini.
Dulu, mungkin aku akan sangat senang berada di tempat penuh sinar matahari seperti ini. Aku akan sangat bersemangat menunggang Cora, atau mungkin berlatih memanah di lapangan luas. Tapi sekarang, tidak terima kasih. Aku benci matahari. Cahayanya menjadi seperti batas ruang gerakku. Dan sialnya, tempat ini lebih dipenuhi cahaya matahari daripada tempat-tempat lain yang pernah kukunjungi.
Tapi Ar menyukainya, aku tidak akan protes jika itu membuatnya nyaman. Kurasa dia mendapat dunianya di sini. Aku tersenyum. Ar.. jika tempat ini akan memberikan kebahagiaan baginya. Maka menahan diri di siang terik begini dan bersembunyi di bawah jubah tebal bukan masalah bagiku. Ini saatnya aku berkorban untuknya. Untuk Ar. Untuk kakakku.
Ya, kakak. Saudaraku. Keluargaku satu-satunya.
Aku masih ingat dengan jelas isi perdebatan Ar dan Morgan ketika aku berhasil menemukan keberadaan mereka di pinggiran desa kecil. Aku yakin Morgan bisa mencium keberadaanku di sana, tapi dia meneruskan semua perdebatan mereka tentang kenapa Ar diam dan tak mengatakan apa-apa bahwa aku adalah adiknya. Kurasa Morgan menganggap bahwa aku berhak tahu.
Dan aku memang berhak tahu. Ini jelas mengejutkan bagiku. Ar terdiam cukup lama ketika aku tiba-tiba muncul. Butuh beberapa menit baginya untuk menyadari bahwa aku memang berada di sana. Mungkin, dia berpikir bahwa aku tidak akan pernah datang kepadanya karena itu sudah berhari-hari sejak dia meninggalkan kastil vampir.
Ketika itu aku menatapnya dengan sangat marah. Selama ini aku merasa dibohongi. Ar tidak berhak menyembunyikan semua ini dariku. Tapi semua kata-kata penjelasan yang meluncur dengan gugup darinya ketika itu meluluhkanku. Aku tahu ini adalah beban berat tersendiri yang disimpan Ar. Janjinya pada Akhtzan, ayah kami. Janjinya pada ibu. Janjinya pada Noura. Aku tidak berhak menghakimi Ar meski aku sangat marah.
Aku menghela nafas. Noura. Nama itu muncul lagi. Dan aku—melalui Ar—baru tahu bagaimana Noura selama ini ternyata berperan lebih besar dari dugaanku yang sebelumnya dalam mengatur nasibku. Setelah semua cerita panjang lebar itu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Apa aku harus memaki Noura karena keikutcampurannya dalam hidupku? Apa aku harus membenci Ar karena membiarkan Noura tetap terlibat?
Entahlah. Aku tidak tahu.
Mungkin aku malah harus berterima kasih padanya. Noura yang membuatku tetap hidup. Meski aku harus menukar kehidupan ini dengan sangat mahal. Aku masih ingat ketika aku kecil, aku punya penyakit. Penyakit yang membuatku lemah, yang membuat ibu begitu berhati-hati denganku. Tapi aku tidak pernah tahu jika penyakit yang kuderita juga diderita ibu dan beberapa generasi sebelum ibu. Penyakit keturunan. Berbahaya dan tidak diketahui apa obatnya. Ibu menyembunyikannya dariku. Ibu bilang ini hanyasakit biasa.
Bahkan kemampuan sihir dan ramuan ayah hanya menunda kematian dan mengurangi rasa sakit yang diderita ibu dan aku. Ayah yang selama ini tetap melindungi kami tidak bisa terus menerus memberikan ramuan itu untuk kami berdua. Ramuan itu membutuhkan intisari sihirnya. Dan itu akan membuatnya melemah. Jika dia memaksakan dirinya, dia mungkin akan mati bahkan sebelum penyakit sialan itu membawa aku dan ibu dalam kematian.
Jadi di sinilah Noura mengambil perannya. Dia menawarkan perjanjian dengan ayah untuk menyelamatkan satu diantara kami. Ibu memaksa ayah untuk menyelamatkanku dan membiarkan dia hidup dengan penyakitnya itu. Ibu memilih kematian menjemputnya perlahan melalui penyakitnya demi sebuah harapan hidup yang ditawarkan oleh Noura untuk putri tercintanya, aku.
Dan kemudian, mereka melakukannya. Melalui kemampuan sihir ayah dan kekuatan Noura, mereka membuat sebagian jiwa Noura masuk ke dalam tubuhku. Sebagian jiwa yang membuat penyakitku sembuh dan aku terhindar dari apapun yang menyelakaiku. Aku tidak akan sakit. Tidak akan mati. Dan kehidupan ini kutukar dengan segala yang kumiliki. Jiwa. Penuaan. Segalanya. Aku akan menjadi vampir, pada akhirnya.
Dan itulah aku sekarang.
“Sherena.”
Aku menoleh terkejut, “Morgan.” Teriakku senang. Astaga, aku bahkan tidak mencium bau serigalanya yang khas karena sibuk melamun.
“Hai.” Dia tertawa. Ar yang melihat kedatangan Morgan segera berlari ke arah kami.
“Morgan Freesel.” Katanya sambil memberikan pelukan singkat pada Morgan. Aku tersenyum melihat keakraban mereka. Ah ya, aku lupa menceritakannya. Sejak saat itu, kami bertiga menjadi dekat dan jauh lebih akrab. Kami adalah sahabat sekarang. Dan meskipun Morgan tetap tinggal di desanya, dia sering mengunjungi kami ke sini. Kunjungan-kunjungan menyenangkan yang selalu membuatku merindukannya.
“Apa yang membawamu kemari?” tanya Ar ketika kami bertiga sudah duduk di bawah pohon.
“Dia.” Morgan merangkulkan tangannya ke bahuku yang disambut pukulan dariku.
“Jauhkan tangan baumu dari tubuhku.” Gerutuku pura-pura, “Lagipula kau sudah punya Rowena, ingat?”
Morgan tertawa, “Tidak apa-apa. Lagipula Rowena tidak ada di sini.” Godanya dengan mata berkedip yang langsung dijawab Ar dengan pukulan di kepala Morgan, “Hei, turunkan tanganmu dan jangan goda Rena lagi. Belajarlah menjadi setia, serigala.”
“Hei!” teriak Morgan.
Aku tersenyum kecil melihat pertengkaran mereka. Selalu menyenangkan melihat persahabatan mereka. Ar dan Morgan. Kadang mereka membuatku teringat pada Dev. Ar dan Dev dulu juga seperti itu.
“Jadi apa yang sebenarnya membawamu ke sini? Jangan katakan kau merindukan kami. Aku bosan dengan alasan itu.”
Morgan tersenyum penuh misteri. Dia bergantian menatap aku dan Ar. Kami saling berpandangan. Ar mengangkat kedua alisnya. Morgan tersenyum makin lebar, “Kalian adalah orang pertama yang akan mendengar ini. Bahkan ayahku saja belum tahu tentang ini.” ucapnya membuat kami semakin penasaran. Dia memajukan tubuhnya, membuat aku dan Ar mendekat.
“Aku dan Rowena akan menikah.” Bisiknya penuh kebahagiaan.
Aku menjerit bahagia dan memeluk Morgan hingga dia terbatuk-batuk, “Oh Rena-Rena. Aku tidak bisa bernafas.”
“Ah maaf maaf.” Aku buru-buru melepaskan pelukanku. Ar menepuk bahu Morgan, “Kau akhirnya membuat keputusan yang tepat.” Ar tersenyum senang.
Morgan mengangguk, “Berkat kalian. Tiga tahun dan segalanya menjadi semakin mudah.”
Aku langsung diam. Tiga tahun?

***

Aku duduk di depan rumah kecil yang dibangun Ar, memandang kosong ke langit malam yang bertaburan bintang. Tiga tahun? Aku mendesah. Tiga tahun sudah berlalu dan sudah banyak yang berubah di sekitarku. Morgan akhirnya menyadari betapa Rowena sangat mencintainya. Cinta yang kuat dan murni Rowena sanggup menyingkirkan Noura dan bayang kecilku dari kepala Morgan. Dia belajar menerima Rowena dan segalanya tidak sia-sia. Aku bisa melihat itu setiap kali Morgan datang ke sini dan bicara tentang Rowena. Mata Morgan mengatakan segalanya.
Tiga tahun dan Ar menjadi semakin matang dalam segala hal. Meskipun dia bersikeras tidak akan kembali menjadi slayer dan memilih hidup sederhana sebagai penjaga desa kecil ini, aku tahu dia bahagia. Dia terlalu kuat mencintai Noura. Aku menyesali satu yang itu. Aku berharap suatu saat nanti hatinya akan mencair dan dia bisa menerima perempuan lain dalam kehidupannya.
Tiga tahun dan aku..
“Rena.”
Aku menoleh dan Ar duduk di sampingku, “Apa yang sedang kau pikirkan?” Aku tak menjawab dan kembali mengamati bintang-bintang di atas sana. Aku melihat satu bintang yang paling terang di antara yang lainnya. Bayangan percakapan terakhirku dengan-
“Kau memikirkannya?”
Ada jeda yang lama.
“Setiap detik.” Jawabku pelan tanpa mengalihkan pandanganku, “Setiap detik dalam hari-hariku. Aku selalu memikirkannya dan itu-“ aku menunduk tak sanggup melanjutkan apapun.
“Rena.” Bisik Ar, “Apakah perasaan itu sudah demikian kuat?”
Aku menggeleng. Kali ini memandang wajah Ar, “Aku tidak tahu. Hanya saja aku merasa sakit di sini.” Aku menyentuh dadaku, “Ada yang sakit di sini, Ar. Ada yang sakit di sini.”
Ar menarikku ke dalam pelukannya, “Maafkan aku, Rena.”

***

Lidah api itu berpendar terang. Menjilat-jilat di dalam perapian yang membiaskan hawa tak berasa bagiku. Tidak ada panas api atau apapun yang selalu dikisahkan manusia-manusia itu. Aku tetap merasa dingin. Tetap merasa kosong. Pada akhirnya segalanya hanya akan menjadi kehampaan.
“Tidak akan ada yang terjadi jika kau tidak melakukan apapun.”
“Victoria?” aku mengerutkan keningku melihat dia sudah ada di dalam ruanganku, “Aku bahkan tidak merasakan kehadiranmu di sini.”
Victoria duduk di satu kursi berlengan di depanku. Cahaya api menyinari wajahnya yang tersenyum simpul, “Karena kau terlalu sibuk dengan pikiranmu dan melupakan dunia di sekitarmu.”
Mataku menyipit, tapi aku tidak berniat berdebat dengan Victoria. Aku memandangnya dengan normal, “Ada apa?” tanyaku singkat.
“Tidakkah kau ingin mengadakan pesta di sini. Aku merindukan lagu-lagu dimainkan di dalam aula besar. Aku merindukan perkumpulan. Aku merindukan.. Sherena.”
“Apa yang kau rencanakan?”
Victoria menatapku. Tanpa senyuman apapun, “Aku hanya ingin membantumu.”
Kedua alisku saling bertaut, “Aku tidak membutuhkan bantuan apapun-“
“Kau membutuhkannya.” Potong Victoria cepat, “Reven dengarkan aku. Berhentilah keras kepala dan lihatlah ke dalam dirimu sendiri. Kau lebih merindukan Sherena dibandingkan aku.”
Aku bangkit dengan cepat dan balas memandangnya dengan marah, “Victoria.” Teriakku marah.
Victoria juga berdiri. Menatapku dengan tajam, “Jangan membohongi dirimu sendiri.” desisnya sebelum keluar dari ruanganku.
Aku menatap pintu ruanganku dengan kemarahan yang masih sama besar sebelum melemparkan tubuhku ke atas kursi. Dengan frustasi aku mengusap wajahku.
 “Jangan membohongi dirimu sendiri.”
Aku tidak membohongi diriku sendiri. Aku mencintai Noura dan akan selalu begitu. Tidak akan ada satu alasan apapun yang bisa membuatku mengkhianati perasaanku padanya. Aku juga bisa merasakan bahwa ya, segalanya masih milik Noura. Aku selalu merindukannya. Noura..
”Kau lebih merindukan Sherena dibandingkan aku.”
Sherena?
Pada akhirnya nama itu kembali muncul dalam kepalaku dan aku lelah menghadapinya. Cukup segala hal tentang Sherena. Cukup nama dan wajah perempuan itu menghantuinya selama ini. Cukup bagiku selama tiga tahun lebih ini dibingungkan oleh apa yang ada di kepalaku sendiri.
Aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku muak dengan segala hal yang tidak kuketahui dengan pasti ini. Lagipula mustahil bagi perempuan itu masuk ke dalam-. Tidak. Jangan semakin gila. Perasaanku hanya milik Noura. Itu sudah jelas. Tidak akan bisa diubah.
Tapi-.
Aku ingat bagaimana aku sangat marah ketika Sherena mengatakan dia ingin meninggalkan kastil ini. Dia pergi begitu saja seolah tempat ini sama sekali tidak mempunyai arti baginya. Aku mengamatinya dari salah satu jendela tinggi di ruangan atas ketika dia akhirnya benar-benar pergi dari sini. Dia bahkan sama sekali tidak terlihat sedih. Dia pergi. Begitu saja dan tidak pernah datang lagi sejak saat itu.
Mataku terpejam. Sekarang aku benar-benar marah. Kenapa dia sama sekali tidak pernah datang? Apakah dia menikmati kehidupannya di luar sana? Apakah bersama Arshel jauh lebih menyenangkan daripada bersama kami semua di sini? Memangnya apa yang ditawarkan dunia luar kepadanya?
”Kau lebih merindukan Sherena dibandingkan aku.”
Tidak. Sial. Victoria menyingkirlah dari kepalaku. Aku memaki lagi.
”Kau lebih merindukan Sherena dibandingkan aku.”
Aku diam. Apa aku memang merindukannya?

***

“Kau mau pergi ke rumah Corbis itu lagi?”
Damis mengangguk, “Aku tidak bisa melanjutkan setiap detik hidupku tanpa melihat Lyra.”
Aku memutar bola mataku. Dia semakin parah, “Jawab saja dengan kalimat yang biasa.” Kataku malas, “Bawa saja si perempuan Corbis itu ke sini. Kau memiliki banyak tugas yang harus kau lakukan. Jika lebih sering pergi daripada tinggal. Semuanya tidak akan selesai sesuai keinginanku.”
“Kau menjadikannya anggota kelompok utama?”
“Kau yang menginginkannya bukan?”
Damis masih menatapku dengan tidak percaya. Victoria menepuk bahunya, “Pergilah. Jemput Lyra dan bawa ke sini sebelum Reven berubah pikiran.” Damis langsung mengangguk, meninggalkan ruangan ini secepat yang dia bisa tanpa mengatakan apapun lagi.
“Kau menemukan jawabannya?”
Aku menatap Victoria yang duduk jauh dariku. Tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya dengan tenang. Victoria justru balas menatapku dengan tajam.
“Masih keras kepala?” katanya lagi.
“Aku tidak mengerti yang sedang kau bicarakan.”
Dia menggeleng, “Tidak. Kau tahu dengan jelas apa yang sedang kita bicarakan.”
“Kau. Bukan kita.” Koreksiku, “Sudahlah Victoria. Aku tidak ingin berdebat denganmu.”
“Kau pikir aku menginginkannya?” dia melipat kedua tangannya dan menatapku dengan marah, “Jika bukan karena Noura, aku tidak akan pernah peduli dengan urusan isi kepalamu yang sekeras batu itu.”
Aku menyipit, “Noura?”
“Kau tertarik?” dia mencibir.
“Vic-“
“Kau yang dengarkan aku kali ini.” tegas Victoria. Aku diam. Mengalah. Berdebat dengan Victoria sama sekali tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Aku sudah belajar itu sejak dia masih bersama Vlad. Dia keras kepala, sama seperti yang dia katakan untukku. Sifat kami sama.
“Noura memintaku memastikan bahwa kau mengambil pilihan yang tepat. Kau pikir kenapa dia memilih Sherena sebagai orang yang akan menerima sebagian jiwanya?” Victoria menatapku dengan sangat tajam, “Karena dia tahu Sherena akan sanggup membuatmu bahagia.”
Keningku berkerut dalam. Apalagi ini?
“Noura sangat mencintaimu. Itulah sebabnya dia tidak ingin meninggalkan dirimu hidup dalam dunia ini hanya untuk meratapi kematiannya. Dia bilang kau harus tetap bahagia, sama seperti ketika dia masih bisa berada di sampingmu.”
“Lalu apa hubungannya dengan Sherena?”
“Perempuan itu sanggup masuk ke tempat Noura.”
Kerutan di keningku makin dalam. Victoria tersenyum tipis, “Kau tidak harus melupakan Noura. Ada cukup tempat bagi mereka berdua di kepala dan jiwamu.”
“Cukup.” Aku mengebrak meja. Kurasa Victoria sudah keterlaluan. “Jangan mencampuri urusanku lagi.” Desisku sebelum keluar dari ruangan ini dengan penuh amarah. Victoria sudah melebihi batasnya.
Aku berjalan cepat keluar dari kastil. Kurasa aku butuh darah segar untuk mengembalikan suasana hatiku yang semakin memburuk. Aku berlari dan menghilang dalam keremangan senja di antara pepohonan di hutan.

***

Angin malam membelai wajahku ketika aku berbaring di atas rerumputan di bukit ini. Bukit yang sama tempat aku dan Sherena dulu menghabiskan malam dengan memandangi bintang. Aku sering ke tempat ini tanpa aku bisa menjawab kenapa.
Aku menatap bintang-bintang dalam diam yang lama. Pertengkaranku dengan Victoria tadi masih membayang dalam kepalaku. Setiap hari dalam tiga tahun ini Victoria memang mengangguku dengan segala hal tentang Sherena. Dia bersikeras pada hal-hal tertentu yang sering kutentang. Tapi Victoria tidak menyerah dan itu tidak membantu sama sekali.
Sebenarnya, tanpa Victoria mengatakan apapun, Sherena sudah memenuhi isi kepalaku. Ada begitu banyak pertanyaan tentangnya yang sampai sekarang tidak bisa kutemukan jawabannya.
Aku menoleh, Sherena tersenyum ke arahku. Mataku melebar. Dan bentuk bayangannya lenyap. Tapi aku masih bisa merasakan bekas genggaman tangan kami. Aku merutuk. Selalu begini. Ketika aku memikirkannya. Aku sering merasa dia berada di dekatku. Sherena benar-benar menghantuiku. Bahkan ini lebih parah dengan apa yang terjadi ketika Noura mati. Noura tidak menghantuiku separah bayangan Sherena.
Aku tidak pernah sebingung ini.
“Kau tidak harus melupakan Noura. Ada cukup tempat bagi mereka berdua di kepala dan jiwamu.”
Apakah bisa seperti itu? Perasaanku kepada Noura sudah terpatri sangat kuat. Dibekukan waktu tak terbatas yang kumiliki dan itu tak akan pernah hilang. Aku mencintai Noura. Apapun yang terjadi. Tapi Sherena? Aku memaki keras dan duduk dengan kesal. Kenapa nama perempuan itu lagi? Aku memegang kepalaku dengan frustasi dan berbaring lagi.
 “Kumohon.. apapun yang mungkin terjadi padaku nantinya. Tolong.. aku mohon terimalah siapapun yang akan mengantikan posisiku.”
Noura?

***

Aku mengamatinya dari kejauhan. Sudah beberapa hari ini aku mencoba mengetahui keberadaannya dengan memanfaatkan anggota kelompokku yang lain. Aku mengamati desa kecil ini. Rumah-rumah penduduknya yang sederhana. Jalan-jalan yang sepi. Tempat ini bukan tempat yang nyaman untuk ditinggali seperti yang sebelumnya kubayangkan.
Kupejamkan mataku dan menyamarkan auraku. Tak akan ada makhluk lain yang menyadari keberadaanku di sini, bahkan vampir sekalipun. Kutarik lengan jubahku dan berjalan di bawah bayangan pohon, mengikuti aroma tubuhnya. Aroma tubuh Sherena. Bahkan setelah tiga tahun lebih berlalu, dia memiliki aroma tubuh yang tidak berubah.
Dengan kecepatan normal manusia, aku melangkah menuju rumah kecil di ujung desa.  Aroma Sherna menguar kuat di sana dan aku bisa merasakan keberadaan rasku di sini. Rumah itu jelas rumah yang ditempatinya selama ini.
Apakah keputusanku datang kesini memang benar? Mendadak pertanyaan itu menyergapku. Aku berhenti. Diam dan hanya memandang ke arah rumah itu. Aku memutuskan datang ke sini setelah aku benar-benar merasa dipusingkan dengan isi kepalaku sendiri. Aku harus memastikan ini, atau aku bisa menjadi gila karena terus menebak-nebak tanpa tahu jawaban pastinya. Jika Sherena memang memiliki sesuatu yang membuaku—lupakan. Aku tidak ingin membahasnya. Hanya saja, aku penasaran. Aku butuh jawaban.
Perasaan yang dialami makhluk sepertiku tidak pernah samar-samar. Perasaan apapun itu, entah marah, benci, sedih atau—cinta sekalipun, akan terasa sangat kuat. Perasaan yang dihentikan waktu. Waktu yang menjadi kutukan kaumku.
Aku menurunkan egoku dan memilih mengalah untuk mencari tahu. Tidak ada alasan lain, aku hanya ingin memastikan. Jika kebenaran terungkap, maka secara alami aku akan tahu apa yang harus kulakukan. Aneh memang, tapi memang begitulah cara perasaan menuntun otak bekerja.
Mataku menjadi fokus ketika suara itu tertangkap inderaku. Tanganku mengepal mendengar suara tawa itu. Bukan, itu bukan hanya suara Sherena tapi juga—Morgan yang sekarang bisa kulihat dengan jelas sedang mengenggam tangan Sherena. Mereka berdua—entah dari mana dan-. Aku diam. Meminta kepalaku berhenti memikirkan kesimpulan-kesimpulan yang membuat dadaku semakin terbakar.
Apa yang dilakukan Sherena dengan serigala busuk itu?
Kenapa dia membiarkan tangan menjijikan dan bau milik makhluk rendah itu  menggenggamnya?
Kakiku sudah melangkah maju ketika aku melihat Morgan memeluk tubuh Sherena singkat sebelum dia mengatakan entah apa yang sudah tidak bisa aku dengar karena kemarahan menguasaiku. Tanganku mengepal semakin kuat. Buku-buku jariku tenggelam semakin dalam.
Aku menunjukkan diriku setelah serigala sialan itu pergi. Aroma busuknya bahkan masih menguar meskipun tubuh inangnya sudah jauh dari sini. Morgan pergi dalam detik yang tepat. Sebab jika dia masih tetap berada di sana. Aku akan sangat senang bertarung dengannya dan membuatnya lenyap dari hidup Sherena selamanya.
Tanpa berkedip dan terus memandang ke arah yang sama, aku melepaskan auraku. Kubiarkan Sherena merasakan kehadiranku. Jika dia masih memiliki kesensitifan kaumnya, dia akan tahu aku berada di sini dalam tiga detik paling lamban yang sedang kucoba hitung.
Satu.
Du-
Kepalanya menoleh dengan cepat mencari sumber kehadiran aura asing di sekitarnya. Dia membeku ketika dua matanya yang berwarna cokelat cerah menemukanku—berdiri di antara bayangan pepohonan—menatapnya dengan tajam.

***

Dia di sana. Berdiri di antara keremangan senja yang mulai datang. Tegak dan kaku. Dan meski jarak kami cukup jauh, aku bisa merasakan bahwa dia marah. Aura dari tubuhnya begitu gelap. Aku memandangnya dengan ribuan perasaan yang membuatku lupa untuk melakukan hal lain selain berdiri diam memandanginya.
Aku hanya menatapnya. Setengah bingung, namun selebihnya aku merasa ada perasaan hangat yang menyelubungi tubuhku dan aku suka sensasinya. Aku tidak peduli aura gelap yang datang darinya. Sebab hanya menyadari dia di situ, aku merasa—bahagia. Aku bisa mengingat semua detail wajahnya meski aku belum menatapnya dari dekat. Aku mengingat semua tentang dia dengan sangat jelas. Semuanya.
Dia berjalan mendekat. Aku menyentuh dadaku. Ada ribuan perasaan aneh yang mendesak di sana. Aku gugup. Aku takut. Aku—lebih dari segalanya—merindukannya. Dia berhenti, hanya beberapa langkah dariku.
“Reven..” aku meyebut namanya lagi ketika aku mulai yakin bahwa sorot mata penuh amarah itu tengah menatapku sekarang.
Tidak ada jawaban. Dia hanya menatapku dengan kebencian yang membuatku merasa sedih. Setelah hari demi hari yang sangat menyiksa bagiku, menahan perasaanku, mencoba menyelesaikannya segalanya dan gagal. Lalu sekarang dia datang, bukan dengan senyum tapi dengan wajah yang sama seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Dingin. Tanpa perasaan lain selain amarah.
“Apa yang dia lakukan di sini?” desisnya.
“Dia?” keningku berkerut dalam. Namun Reven tidak membuat segalanya jelas buatku. “Morgan?” tanyaku memastikan, karena hanya Morgan satu-satunya orang yang baru berada di sini. Ar belum kembali dari sungai untuk menombak ikan.
Sinar matanya memberikan jawaban yang cukup bagiku. Memang Morgan.
“Dia hanya memberitahuku hari un-“
“Sudahlah.” Reven memotong ucapanku dengan kesal, “Aku tidak ingin mendengar.”
Aku semakin tidak mengerti. Bukankah dia yang bertanya?
“Sepertinya aku perlu memperingatimu, Sherena Audreista.” Ucapnya dengan dingin, “Kau boleh saja memilih manusia sebagai pasanganmu. Meski sejujurnya, vampir tetap ras yang lebih baik dari semuanya. Hanya saja, bukan manusia serigala. Berhubungan dengan mereka adalah terlarang.” Dia diam, menatapku.
“Kau harus tahu batasan yang ada. Jika kau dan serigala busuk itu masih memaksakan apa yang sudah jelas salah. Kuperingatkan kau, aku tidak akan tinggal diam.” Ancamnya dengan sangat tegas.
Selesai mengatakan semua itu, Reven berbalik dan berjalan pelan meninggalkanku. Aku butuh waktu beberapa detik sebelum bisa mencerna semua yang dia katakan.
“Tunggu.” Teriakku keras.
Reven yang—untungnya—berjalan dengan kecepatan manusia berhenti. Tapi tidak menoleh. Aku mendekat ke arahnya. Berdiri di depannya dengan marah, “Morgan hanya ke sini untuk memberitahu aku dan Ar hari pernikahannya dengan Rowena. Kurasa kau perlu mendengar bagian ini.”
Tanpa menunggu apapun, aku berjalan meninggalkan Reven yang terpaku. Aku terlalu marah untuk mengatakan hal lain lagi. Aku memikirkannya, merindukannya. Aku menahan semua keinginanku untuk kembali ke kastil. Perasaan ini menyiksaku dalam tiga tahun lebih. Dan sekarang, tiba-tiba dia muncul dan datang dengan segala kemarahan yang tidak masuk akal. Aku bisa menerima jika memang Noura masih memenuhi isi kepala dan hatinya, tapi tidak bisakah dia bersikap baik padaku.
Setelah kematian Vlad, kukira perubahan sikap Reven yang lembut akan bertahan selamanya. Tapi ternyata tidak. Mungkin angkuh, dingin dan menyebalkan memang dirinya yang sebenarnya. Aku tidak tahu. Aku—aku hanya merasa dia jauh lebih menyenangkan dengan senyum dan sikap lembut yang pernah kurasakan dulu.
“Sherena!”
Aku mendengar suaranya memanggilku tapi tidak. Aku tidak bisa berbalik dan membiarkannya melihat semua campur aduk perasaanku dalam wajahku yang sekarang. Aku terlalu marah. Terlalu kesal. Dan.. kecewa.
“Sherena.” Reven menarik tanganku dengan kasar. Membuatku memandang wajahnya yang—bingung?
“Apa maksudmu dengan penikahan Morgan dan Rowena? Jadi kau dan Morgan ti-“
“Tidak.” Sahutku cepat, “Aku dan Morgan tidak menjalin hubungan lebih seperti yang ada di kepalamu.” Aku menatapnya, dengan mata penuh amarah dan dia mundur. Melepaskan pegangan tangannya padaku.
Aku menghela nafas dalam. Mengatur ritme perasaanku yang tidak karuan. Reven hanya diam. Kurasa dia ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya, “Sudahlah.” Kataku akhirnya, “Apapun yang membawamu ke sini. Aku menghargainya. Kau bisa meminta vampir lain datang jika ini cuma pemeriksaan sederhana. Aku tetap menaati semua peraturan dalam ras kita. Tidak ada yang kulanggar. Tidak ada pembunuhan di depan umum. Tidak ada kegiatan apapun yang memicu pertarungan antar ras.” Aku berhenti, menatapnya dalam, “Dan tidak ada hubungan asmara dengan manusia serigala.”
“Aku menaati se-“

***

 “Aku menaati se-“
“Bukan itu tujuanku kemari.” Aku memotong ucapannya. Balas memandangnya dengan tatapan yang sama dalam. Aku bisa merasakannya sekarang. Setelah begitu banyak kata meluncur dari mulutnya, aku bisa merasakannya. Ketika dia mengatakan alasan Morgan Freesel di sini, aku menyadari ada gelombang kelegaan yang begitu besar menerpaku. Ketika dia berdiri di depanku, berbicara dengan kata-kata yang tak bisa kutangkap karena aku hanya sibuk memandangnya, aku segera tahu jawaban dari semua keraguanku. Tapi ini belum sepasti yang bisa kuteguhkan.
“Aku ke sini untuk menemuimu.” Lanjutku.
Kedua bola matanya menatapku dengan ragu. Namun aku tidak membiarkannya mengatakan apapun lagi. Sekarang giliranku bicara dan dia hanya perlu mendengarkanku.
“Aku perlu memastikan sesuatu.” Aku maju mendekat. Menyentuh kedua lengannya dengan cepat dan menarik tubuhnya ke arahku. Ketika bibirku menempel di bibirnya, dia tersontak namun aku mencengkeram lengannya dengan erat dan tidak akan membiarkan dia pergi sampai aku benar-benar meyakini semuanya.
Aku tidak ingin gila hanya karena perasaan ini.

***

Aku menyukai tempat ini. Sangat menyukainya. Setiap detail tempat ini, udara dingin yang berhembus di sini, bunga dan sulur-sulurnya, pemandangan hutan hijau di depan sana. Semuanya benar-benar aku suka, terlebih lagi—aku tersenyum— laki-laki yang tengah memelukku dari belakang ini.
Reven menunduk, memandangku sekilas dan tersenyum sebelum dia kembali memandang ke arah hutan yang terlihat indah dari balkon kastil tempat kami berdiri sekarang. Aku menyentuh lengannya yang merangkul tubuhku dengan posesif. Aku bisa merasakan kehangatan dari dadanya yang menempel di punggungku. Kehangatan menyenangkan yang menguar dari tubuh dingin kami.
Mataku terpejam. Aku mencintai laki-laki ini. Aku tergila-gila padanya. Saat Ar mengatakan bahwa perasaanku akan berhenti dan membeku pada satu rasa terakhir yang kurasakan sebelum aku berubah. Terhenti seperti kutukan waktu yang membelenggu. Aku tidak mengerti benar apa maksudnya ketika itu. Tapi sekarang, aku memahaminya benar dan aku bersyukur karenanya.
Sekarang, aku tahu bahwa aku hanya akan mencintai Reven seumur hidupku—yang tidak terbatas. Aku tahu jika aku tidak akan pernah bisa menghapuskan perasaannya ini. Perasaan ini hanya bertambah dan tidak berkurang atau hilang, terpaku pada satu sosok dan begitu selamanya. Meskipun bagi Reven, terjadi pengecualian. Aku tahu dia masih mencintai Noura. Aku tahu perasaannya kepada Noura masih utuh dan akan selalu begitu.
Tapi aku juga merupakan bagian dari perasaan itu sekarang. Ada dua cinta dalam satu jiwa Reven. Untukku dan untuk Noura. Dan aku bahagia. Sangat bahagia dan tidak mengharapkan apapun lagi. Aku berterima kasih pada Noura. Berkat jiwanya, berkat kenekatan dan cintanya, aku bisa berdiri di sini. Menemukan belahan dari hatiku dan merasa utuh untuk pertama kalinya.
Perasaan ini jauh berbeda dengan perasaanku kepada Dev dulu. Ini lebih kuat. Jauh sangat kuat dan akhirnya aku paham kenapa seorang vampir yang kehilangan pasangannya bisa menjadi gila dan begitu menyedihkan. Aku ingat bagaimana Maurette kehilangan kendali dirinya ketika Lucius mati. Aku ingat bagaimana kesedihan dan amarah yang ada di bola mata Reven, jika segala hal tentang Noura dan kematiannya disebutkan. Semuanya wajar. Mungkin, aku juga akan seperti itu jika aku kehilangan Reven.
Tiga tahun lebih mencoba mengurangi perasaanku padanya. Dan selama tiga tahun lebih itu pula aku merasa tersiksa. Tapi sekarang, segalanya sudah berbeda. Kebahagiaan melingkupi dengan sangat erat. Reven mencintaiku. Itu sudah lebih dari segala hal di dunia ini bagiku. Bahkan akan kutukar dunia ini dengan cinta Reven jika memang perlu.
Aku membuka mataku ketika kurasakan kecupan singkat Reven hinggap di rambutku. Ada aliran aneh yang membuat tubuhku menghangat setiap kali dia menciumku.
“Jangan pernah meninggalkanku lagi.” Reven berbisik di telingaku.
Aku tersenyum. Harusnya aku yang mengatakan hal itu. Aku tidak akan pernah bisa berada jauh darinya. Sejak dia menciumku dengan tiba-tiba di dekat rumah Ar, aku tahu aku tidak akan pernah bisa mejauh darinya lagi.
Dengan pelan aku melepaskan diri dari pelukan Reven dan berbalik hingga aku bisa melihat wajahnya dengan benar, “Tidak akan pernah.” Kataku, “Aku akan selalu bersamamu. Menikmati dunia yang terus berubah dan hari-hari yang tak terbatas di depan kita. Aku akan selalu berada di sini. Untukkmu.” Aku berjinjit, mengalungkan kedua lenganku ke lehernya ketika aku menciumnya dengan lembut.
Aku memejamkan mataku. Menikmati kehangatan dari bibir dingin Reven. Menikmati aliran menyengat yang muncul di aliran darahku dan di dalam kepalaku ketika bibir kami saling menempel. Aku bisa merasakan tangan Reven memeluk pinggangku dan membawaku lebih dekat padanya. Duniaku melebur. Aku hanya bisa merasakan semua sentuhannya. Duniaku menghilang dan menjadi dia. Dia adalah duniaku.

Comments

  1. KAK YAAMPUN TIBA-TIBA ADA NOTIP DARI TWITTER ohmayohmayoh may aku masih di angkot kak entar aja ya bacanya kalo udh dirumah. Gila gila gasabarrr rrrrrr

    Anna:)

    ReplyDelete
  2. Hahaha----- asem iki. Malem minggu, jomblo, baca percintaan bodoh Reven dan Rena.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astaga astaga.. ini malem minggu ya. Aku lupa. Kelamaan jomblo ini kayaknya. Hahahaha.

      Asem-asem bareng. Malem minggu, jomblo (laaamaaaa), nulis percintaan bodoh Reven dan Rena.
      :P :P

      Delete
  3. Komen dulu bru baca :p
    Huwa, akhirnya perpisahan TwT
    btw, maaf fb aku tutup akun kak ._.

    bryan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca dulu. Hehehe. Ah iya, tadi aku mau tag kamu di fb. Ternyata uda ngga maenan fb. :)

      Delete
  4. Serrruuuu!!! Akhir nya~~ di tunggu yaaa remember us nya :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Arrrghhh makasiii makasiii. Iya.. tapi ini belum janji mau upload kapan >.<

      Delete
  5. Ohhhhhhhhhh
    Kurang banyak adeganya Sherena Reven, kurang Romance hehehe 😊😊😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iyaa. Soalnya aku ga bisaaaaa.. aku.. nanti jealous sama Rena. Reven is mine. :P

      Btw, aslinya karena ini emang disengaja pendek. :D

      Delete
  6. Ya ampun kak selamat yaaaa.... Ceritanya keren abis dehh ditunggu ya remember us nya!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Siapp siappp. Ditunggu aja ya Remember Us-nya HV :D

      Delete
  7. Well done! Hehe
    Suka sama endingnya. Ide bagus tuh kalo cerita ini dibuat cerita kecil2nya supaya nggak dilupain. Semangaaat!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiikkkkkk. Ngga sia-sia. Makasii yahh.
      Yup, soal Remember Us juga kepikiran beberapa hari terakhir ini. Soalnya aku juga berat ngelepas mereka (tokoh-tokoh HV).
      Semangaattt jugaaa :D

      Delete
  8. AAAAHHHHHHHHH KAKAAAKKK KEREEEN BGT BGT BGT BGT BGT BADAI TOPAN TYPHON TORNADO AKU SANGAT2 TERKESIMAA AHHH KAKAK GAMAU PISAH SAMA REVEN:(

    Sedih ah. Ga kerasa masa udh selese:') gaada lagi nih yg bakal aku tunggu2 tiap minggu sedih bgt ahh reven mahh.

    Aku mau minta ijin nih sama kakak pengen bangat dari dulu ngeprint out hv ini biar bacanya lebih enak gausah pake internet lagi, kira2 boleh ga kak? Kalo ga dibolehin juga gapapa sih kak:)

    YAUDAH DEH AH MASIH KESEMSEM SAMA REVEN NIH.
    Ditunggu ya kak cerita keren selanjutnya. AKU TUNGGU BGT.

    SEMANGAT!!! (āļ‡Ë†▽ˆ)āļ‡

    Anna.:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huraaayyy. Tossss

      Sama aku juga sedih. Ngga rela berpisah sama Reven. Tapi tetep ada Remember Us dan Another Story. Mungkin aja Reven nongol. Meskipun bentar-bentar. Hahahaha

      Emmmm.. jangan diprint out ya. Nantikan saja novelnya. Aminnnnn. *ngarep bgt HV diterbitin*

      Semangaattt dan thank Anna :D

      Delete
    2. SERIUSAN JADI NOVEL KAN?! BENERAN KAN? Asssiiiiiiiikkkkk entar kasih tau kak kalo udh keluar novel. PASTI JADI NOVEL!!! HARUS! Entar bonus kak kissmark dari reven khusus buat anna tercintahh hhahahahahaha

      Delete
    3. Doain aja ya. Hahahhaa. Aku juga berharap banget ini bisa jadi sebuah buku yang dipajang di Gramedia. :P

      Delete
  9. HORE..HORE..HORE...!!!happy ending...!!!xa....,aku baca ini sambil nyengar -nyengir ga selesai2x...,sumpah xa, deg2an xa, pas baca kl reven akhirnya mencium shere...,hati berasa mak nyesss....!!!lebay ya xa,he3x...,btw, epilognya masi ada ato segitu tok?oia, tx banget..nget..nget..ya xa....,GBU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. seneng baca komennya. Bahagia rasanya denger kalian bisa masuk ke dalam perasaan di HV ini.

      ah iya, epilog nya ya segini aja. Hehehe. Mau nambah?? Tunggu Remember Us ya.

      Terima kasih kembali :D

      Delete
  10. Akhhhh .... Mereka jadii ... Mereka jadiii ...
    Yeiiiii ....
    Aku tunggu short story muu ....
    Sumpahhh crt yang bakal aku kangenin ... Hihihihi ...
    Wait for your another story cantikk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, akhirnya Rena sama Reven.
      Sippp, ditunggu aja yah Remember Us-nya.

      Aaakkk.. sama aku juga bakal kangen banget sama cerita ini.
      Thanks jugaaa Yohana. :D

      Delete
  11. AHHH cumna dikittt epilognyaa:(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pikir segini aja cukup. Hahaha :P

      Delete
  12. AGAK NGGAK PUASSSS:")TP SENENG AKHIRNYA MEREKA BARENG

    ReplyDelete
  13. Fuhfuhfuhfuhfuh!!! Tarik napas buangg-- tarik napas buangg--

    Smpe sesek napas,gegara ini adalah update-an tetakhir dri #HV :(

    Ditambah lgiiiii… ini ka Ria jg pas bangetlagi updatenya di hari dimana Jomblo menggalau :D hahahaha #Poor

    TAPI SESEKNYA UDAH HILANG SEKARANG!!!
    SEKARANG UDAH HAPPY ENDING!!! JADI SENYUM-SENYUM DEEEHHHHH!!!!


    AMMAAAKKKK!! DEMI YA KA RIA! AKU SENENG BANGET BACA DI BAGIAN TERAKHIRNYA INI!!! SEMACAM ADA EUPHORIA SENDIRI BAGI PEMBACA :D

    Dan juga ini kaka2 yg paling aku suka
    “Noura sangat mencintaimu. Itulah sebabnya dia tidak ingin meninggalkan dirimu hidup dalam dunia ini hanya untuk meratapi kematiannya. Dia bilang kau harus tetap bahagia, sama seperti ketika dia masih bisa berada di sampingmu.”
    Asli! Kata2 ini daleeeeeeeem banget!!!

    SUKA SUKA SUKA!!!
    Bacanya bikin senyum2 sendiri :))
    Jd itu si Reven udah ga jadi Duta Anti-MoveO lg kan ya??? Kan udah ada Sherena :D haha

    Ohya di awal td Ka Ria bilang bakal bikin cerita dri para cast di #HV REMEMBER US ya kan??

    Nah berhubung tdi ada bilang Damis-Lyra.
    AKU MAU CERITA MEREKA BERDUA!!!! :D

    Ohya dan soal kaka bilang sndiri klo ga ahli bikin cerita Romance.. kaka salah!
    Kaka hebat kok! Apa lagi pas bagian-bagian akhirnya itu!!! Yang itu tuuuughhhhh! *apasih??

    Hahahaha :D

    Asik! Seru abis ini #HV!!!
    Ga nyesel aku setiap kali harus nunggu updatenya.. dan meski ada beberapa masalah yg bikin #HV smpet stuck ceritanya.. tp untunggu kak Ria.. teuteup nerusin ini #HV
    TO MUCH XOXO for Ka Ria :D

    Pokoknya terus ajalah berkarya di blog ini.. dan aku akan mendukung banget!! KALO INI #HV DI KIRI KE PENERBIT DAN DI TERBITIN!!!

    AMIIINNN AAMIIINNN AMIINNNN!! YAKIN DEH PASTI AKU LANGSUNG NYERBU GRAMEDIA!! :D

    Hahahahahaha :D

    Love muach muach daahh sama Ka Ria!!
    SAMA REVEN JUGA!! LOVE MUACH MUACH :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tarik nafassss buang tarik nafassss buang
      Omaigattt... aku jadi ikutan heboh baca komenmu yang super panjang. Hahahha.
      Tapi aku suka. Seriusan.

      Apresiasinya bikin aku terharu. :)))

      Aminn aminnn. Makasiih buat doanya ya. Semoga HV bisa mejeng di Gramed.

      Ah satu juga, aku memang berniat bikin Remember Us-nya si Damis sama Lyra. Tapi gak tahu kapan. Habis aku pikir mereka pasangan kocak sih, ga tahu kenapa kepikiran itu. HEhehe

      Btw, makasiiii makasiii banyak. Komenmu sangat bermakna untukku. Tetap jadi pengunjung di blog-ku ya meski HV sudah selesai. Hohoho.

      Loveeee ya, Delima *peeeeluuuukkkkk*

      Delete
  14. So sweet akhirnya reven ma rena
    makasih

    ReplyDelete
  15. Yess !! Endingnya akhirnya sherena sama revan:3 ditunggu cerita pendek tntang Hv yah:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siappppp. Pokoknya ditunggu saja ya Remember Us-nya :)

      Delete
  16. Yes yes smbil jingkrak2 saking seneng nya krna ending nya rena reven bsa bersama,, cmn sdkit kcwa sih rna epilognya kependekan...hehe

    d tggu krya2 yg lainya yah mba ria,, n semangat sllu bwt mba ria.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhhh masa ini kependekan sih?? Hehehe

      Sip sip makasii makasiii juga ya.

      Semangat juga buat kamu dan tunggu karya-karyaku lainnya ya. :D

      Delete
  17. yahh akhirnya HV selesai :'( :'( sedih bgt.......
    tapi apa mau dikata??? harus terima!!! :)
    di tunggu REMEMBER US nya... :)
    udah gak sabar...
    kalo masalah pemerannya aku sih siapa aja suka.....
    tapi yang paling aku suka ya REVEN...
    sumpah HV bener2, deh... euh...
    gak bisa di ungkapin dgn kata2 sakng bagusnya :) :)
    SUKSES terus ya buat karya2nya kak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sedih, tapi mau bagaimana lagi. Setiap kisah pasti akan punya akhir cerita. Begitu pula HV.

      Siappp ditunggu aja ya Remember Us-nya.

      Semangat semangat. Terima kasih komennya ya :D

      Delete
  18. Mas Reven si duta anti-move on
    Pffft... boleh juga tuh mbak julukannya unyu bingitsss !!!
    Dihh jadi ngga sabar sama cerita selanjutnya. Semoga masih seputar Reven-Rena

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi iyaa... kadang kalo aku sebel sendiri sama Reven, aku manggilnya gitu. *eh emang bisa*

      Rahasia ya, aku gak janji kalao edisi pertama Remember Us nanti bakal diisi Reven. Pokoknya ditunggu dan ya, semoga kamu suka juga nanti. :)

      Delete
  19. yuhuu !!!!! kuerenn rek !
    kl d terbitin jd buku, insya Allah laris, krn story line'y ngalir bgt, ga maksa, membuat pembaca seolah2 ad d dlm adegan, merasakan emosi dr karakter, dan yg terpenting author hv tu baik bgt, krn menyelesaikan cerita ini n ga m'gantungkan para reader sprti bbrp author yg lain. once again, Thanks a lot thor, we're waiting 4 u'r next story, remember us no matter when u have the chance to write it down, as long as u remember us, u'r lovely reader, he he
    sherlockers :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuiiiihiii suwun rek.

      Amin aminnn. Semoga Hv bisa bener-bener diterbitin dan bisa dinikmati lebih banyak orang lagi.

      Terus terang aku tidak punya outline untuk HV. Aku hanya menulisnya langsung dan yah.. ide cerita mengalir begitu saja.

      Terima kasihhh banyak, Sherlocker. :D

      Delete
  20. aku sih sukanya rena-reven. sama kaya rena,muak juga kalo reven ingetan noura terus. kaya abg ngga bisa move on. jadi nanti kalo baca remember usnya reven-nora agak-agak gimana gitu. kalo dev-rena nggapapa deh hihi pokoknya pengen reven buat rena aja. chemistry nya lebih dapet. apalagi adegan sweet-sweetnya yg di epilog. hadeeh,ngga kebayang wanginya di peluk reven.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, sebel ya kalo nemu orang yang ga bisa melangkah dari masa lalunya. Dalam hal ini kaya Reven. Sebenernya, meski dia akhirnya sama Rena, Reven tetap tidak bisa melupakan Noura. Hanya saja dia memberi tempat lain bagi Rena di hatinya.

      Hehehe adegan romatis di Remember Us??? Semoga ada :P

      Delete
  21. Huaa~
    HV udah End yah -__- . Jadi sedih .
    Scene romantis Reven-Rena nya kurang bnyak . Ehehehe~
    REMEMBER US di tnggu yah . Semoga bnyak Scene Romantis nya Reven-Rena .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahh aku juga selalu sedih jika ingat HV uda selesai. Tapi.. ya mau gimana lagi.

      Astaga astaga.. adegan romantisnya kurang banyak??? Aaaakkk aku ga jago nulis yang romantis-romantisss >.<

      Semangat. Selamat menunggu Remember Us ya. :P

      Delete
  22. Huwaaaaaaa
    Baru pulang kuliah nih malam, blom mandi, blom makan, langsung baca HV dulu saking penasarannya.....

    Sumpah, so sweet bangeet
    Ayolah dibuat sequelnya yang lebih romantis kaka
    Hehehehhehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe... ngga tahu ya kalo masalah sekuel. Aku masih galau sama tulisanku yang lain. :P

      Delete
  23. Di tutup dengan adegan romantis rena-reven.
    Uiihhhh senang nya ... :)

    Tpi masih penasaran dengan kisah Ar selanjutnya setelah kepergian rena.
    Dan penasaran banget siapa kah kaum hawa yang mampu mencairkan hati Ar???
    Atau mungkin dia nunggu aku yah...
    Hahhahahah :D

    Di tunggu remember us-nya..
    Siapa tau keselip kisah Ar dan asmaranya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiikk asyikk... senang rasanya kalo kamu yang baca juga senang.

      Emmm... masalah Ar, tenang saja. Ada short story buat Ar kok. Dia kebagian Remember Us nanti. Hehehe.
      Eh ehh, hati-hati. Si Ar ini jadi duta anti move on loh sekarang, ganttin Reven :P

      Delete
  24. aaahhh
    seru banget kakk makasih ya uda di upload ooh iya remember us nya ditunggu nih ya hahaha
    ooh iya kaak xexanya kapaaan dilanjutinnn??? Kangen nih :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap siappp.. Ditunggu aja ya Remember Us nya.


      Ah iya, tentang Xexa.. yang sabar ya. Aku--aku... masih sibuk sekali. Tugas kuliahku membanjr >.<

      Delete
  25. Dan, dan, dan berakhir pemirsa.... sedih tp senang, dan akan lebih senang lg jika "remember us" coming soon, tidak sabar menantinya.... sekali lagi, senang bisa membaca HV dari awal hingga akhir, ceritax betul* bagus, beda dr yg lain, dan pastix seruuu abissss... semoga penulis ttp menghadirkan karya* yg tdk kalah seru dr HV, romantis mgkn bisa dicoba, segala sesuatu tdk akan berhasil jika tdk mencoba bkn, segalax lahir dr coba* hehhee... ttp semangat menulisx sist,, ditunggu karya* mu yg baru... enjoy
    #hug
    @Artharia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohohoho... pujianmu membuat diameter kepalaku bertambah. :P

      Yup yuppp.. aku sedang berusaha menjadi penulis yang bisa nulis romance dengan baik. Aku akan mencobanya dan semoga hasilnya tidak mengecewakan.

      Ah iyaaa.. semangat semangat juga buat kami, Artharia. :D

      Delete
  26. Kakak, puas banget sama endingnya tapi tetep ngerasa kurang hahahhaha kurang banyak kak scane romantisnya.
    Berasa gimana gitu soalnya kayanya baru aja mau beromantis ria eh eng ing eng eeeennnnddd . . . .
    Masih banyak yg ngegantung, hahahah yah intinya pengen lebih detail, banyak maunya yah hahaha
    Pokoknya the best lah buat HV syukur2 diterbitin yah, biar bisa jadi koleksi.
    Kalo bisa tadinya nih cerita maunya gak ada abisnya hahhaha. Tapi gak mungkin lah ya...

    Dinantikan banget remember us nya, .
    Walaupun cuma cerita2 pendek kurasa ini akan menyenangkan, setidaknya para tokoh HV masih menemani hari2ku # pengen tetep ada yg ditunggu setiap minggunya soalnya heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aseeekk asekkk.
      Pembaca yang puas adalah kepuasan tersendiri bagi penulis.
      Issshhh, intinya epilog ini kurang panjang ya?? Kurang banyak adegan romantisnya?? Iyakan iya.. hayo ngaku. Hahahha

      Ta..tapi.. aku pengennya cuma segini aja. :P

      Aminn aminn semoga HV bisa diterbitin. Biar bisa kamu beli. Huahahahha *evil laugh*

      Siappp, ditunggu aja ya Remember Us-nya. Tapi aku tidak bisa menjanjikan kapan akan uploadnya. Xexa, Another Story sama Hujan masih menghantuiku. >.<

      Delete
  27. Gak rela HV end :'(

    tapi sumpah kakak keren banget #duajempol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga aslinya ga rela -____-
      Tapi mau bagaimana lagi. Hehehe :P

      Well, makasiiii pujiannnya ya. :D

      Delete
  28. Yah, akhirnya selesai juga ya. Biarpun akhirnya happy ending tapi tetep ada rasa sedih karna udah ngga ada bacaan diwaktu senggang. Bakalan kangen banget sama Rena, Arshel, Dev (Ini yang banget, aku jatuh cinta sama Dev), Reven, Morgan dkk. Ngga ada pert 2nya gitu ya kak? Heheh.. selesainya kuliahnya dulu aja sih kak. Cuma part 2nya tetep dinanti gitu, aku rela kok nunggu berapa lama pun itu. Ditunggu banget banget banget lho kak part 2nya :p oiya sana remember usnya. Banyakin Dev nya ya kak, aku kangen banget sama Dev :') makasih kaak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama banget perasaannya. Aku bakal kangen Reven, kangen Ar, kangen Damis.
      Ngga tahu ya soal sekuel. Aku juga bingung kalau ditanyain ini. Habisnya tagihan ceritaku lainnya masih banyak yang aku anggurin. Takutnya malah ngga ketulis semuanya.

      Ah iya, kalau kangen Dev. Baca aja Another Story. Itu cerita punya Dev loh. Dari pov-nya dia. :D

      Makasiiihh kembali ya, neng geulis. :))

      Delete
  29. padahal kalo reven ga sadar cinta rena, sy rela jd vampir buat coba rebut hatinya ...I Love U reven (silent reader kenalin diri, tapi sy janji komen diakhir cerita) lam kenal sist!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahha. Jaaanngaaannnnn. Reven punyakuuu. >.<

      Salam kenal juga. :D

      Delete
  30. TUH KAN BENER HAPPY ENDING BAHAHAHAHAHAHAH kasian tapi rena digantungin reven 3 tahun :\ lanjut kak.. sekuel sekuel...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihihi. Ketebak ya?? :P

      Ah iya, si Reven emang gitu. Lamaaaa baru nyadar.

      Tidak tidak tidak tidak. Jangan tanyakan sekuel dulu. Aku..aku.. aku masiihh dihantu sama Xexa, Another Story sama Hujan. >.<

      Delete
  31. yess,,, akhirnya setelah ditunggu tunggu,,,, omona,,, pas part perpisahan kemarin udah dibikin galau ama Sherena yg ninggalin kastil beserta Reven,, dan bahkan Reven ga terlihat peduli,, dan terjawab sudah disini,,,, dia peduli dan bahkan sangat sangat,,, ampe Reven cemburu akut waktu liat Morgan meluk rena,, padahal meluknya tanda apa dlu,,,, udah main sinis aja, endingnya sweet dahh,, coba ga end dlu pas bagian akhirnya,,#ehhh,,, next story ka, ditunggu Remember Us nya,,, ahh ya apa kabarnya AR ya? setelah Reven yg duta anti Move on sekarang malah Ar yg ga Move on,,, adakah story masa depan AR,,,, ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaa.. Reven mah emang sok-sokan gitu. Padahal demen tapi repot deh. Ga paham sama jalan pikirannya dia.

      Siap siap siap. Remember Us-nya ditunggu aja ya. Dannnn... pasti ada bagiannya Ar. Nanti terjawab di sana. Apakah dia bisa move on dari Noura atau tidak. :)

      Delete
  32. kyaaaa~~ perpisahan terjadi juga :'''''
    Reven-Rena akhirnya merekaaaa(?) Seperti yg aku harapkan:)
    REMEMBER US, ditunggu yaa:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, berpisah juga dengan HV :")
      Selamat menunggu Remember Us ya. :D

      Delete
  33. Aaaa~ akhirnya selesaiiiii.. Udah dari taun kapan mulai baca Half Vampire, akhirnya selesai jugaaaa.. Kece keceeee aku sukaaaaaa ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. kalau seingetku aku dulu nulis HV di tahun 2010. Butuh 4 tahun buat fokus dan akhirnya nyelesaiin ini.
      Dannn... dapet pujian. Hohoho Makasii makasiiiihh ya :D

      Delete
  34. Horeeeeeee....Akhirrnya Happy ending, makasih yach Kak Ria, udah bwt ceritanya happy ending,, ingin lgi bacanya, epilognya sedikit bnget, tp gpp lah liat reven dan rena bahagia aja udah senennnnngggggggg banget..... Seruuuuuuuuuuuuuuu baca novel Kk...
    Oh yach kak ak mau tanya, gimana dgn Arsel kak? dgn siapa dia? dan apakah selamanya dia tinggal di desa tsb.......
    satu yg ak ingin tambahiiiin ingiiiin banget liat Multimedianya,, cba aja Kakak bisa bwt Multimedia,,, pasti tambahhhhh banyak yg suka....
    100000 jempol deh bwt Kakak. pasti ditunggu kok kak Remember Us nya.... Semangat terus bwt kakkkkk, semngat kk buat cerita yg lainnya, Asikk deh kalau koment dgn kk Ria pasti dibalsnya, jdi para Fans ini nggak kecewa,,, ak suka dgn karakter kakak yg selalu bisa ngasih yg terbaik bwt para fans dan mau baca dan cepet balas comentar para fans .....
    Pasti Kk memng Asikkk orangnya, pengen deh rasnya cerita" sm penulis kayak Kk. :) semga Novel HV nanti benran diterbitin,,, dan bnyakkkkk yg beli...... apalagi dengerrrr bnyk yg suka....
    Makasih kak Ria......... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali ya, Dewi Roza.. :)
      Hohohoho banyak yang bilang epilognya kurang banyak. Tapiiii... aku maunya emang segini aja. :P *kabooorr*

      Gimana tentang Ar?? Aku akan jawab pertanyaan ini dengan Remember Us edisi si Ar. Tapi kapannya, aku masih belum tahu. Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Jarang nulis. Kebanjiran tugas kuliah sampe mual-mual. >.<

      Ah iya, sayangnya aku ga bisa bikin multimedianya. Aku ga bisa gambar. Heheheh

      Semangat semangattt. Hahaha ayo kapan-kapan bertukar pikiran. Sharing dan ngobrol banyak hal.

      Amiiin aminnnn. Semoga HV bisa diterbitin. Mejeng di Gramed dan bisa dinikmati lebih banyak orang lagi. :D

      Delete
    2. Okey kak Ria,,, AMiiin ya robbal alamin.

      Delete
  35. kk aku suka bgt crtanya ,,
    aku tunggu kk crta reven and rena yg lainnya semangat terus kk ,
    baca hv bikin senyum 2 sendiri akhirnya happy ending hee :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiii Silvia.. Semangat semangat juga ya. Ditunggu aja ya Remember Us-nya. :)

      Delete
  36. Hi,mbak xexa ,,slm kenal ya aku reader baru...d sni ..krn yg d wattpad bagian akhir ga ad jd mampir k sni ⌒.⌒
    Aku suka banget.keren keren
    Makasih udah mau share HV in pokokny thanks a lot!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Helloooo Sriemook. Salam kenal juga. Ah dari watty ya? Emang sih yang di sana belum aku upload sampe ini. Hehehe

      Makasiihhh kembali. Jangan lupa baca ceritaku yang lainnya ya. :D

      Delete
  37. Omedetou! congrat! chukkae! kak amoura buat semangatnya nulis cerita vampire terunyu yang gue baca. kak, boleh dong komen chapt terkahir dibalesin ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih terima kasihhhh..
      Hohoho kisah vampir terunyu katanya, hahaha. Okelah.
      Semangat juga ya :D

      Delete
  38. huaaaaa.... akhirnya.. akhirnya.. selesai juga XD hahaha
    eh tapi aku masih penasaran, kira kira apa ya yg dikatain reven ke rena kok
    bisa sampe baean begitu ? *kepooo

    hahaha ya sudahlah yang penting sudah selesai. makasih ya kakak ceritanya :*:*:*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa ya yang dibilang Reven ke Rena?? Hahahha rahasiiiaaa. Itu privasi mereka *eaa ngeles* :P

      Terima kasih kembali :D

      Delete
  39. Duniaku menghilang dan menjadi dia. Dia adalah duniaku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga suka kalimat ini. Rasanya.. seperti ngerti bagaimana dalamnya perasaan Sherena ke Reven. :)

      Delete
  40. aaaaa... greget bener.... akhirnya selesai juga :D lope banget ma reven.. :3
    --Catherine

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe..
      Thank you, Catherine..
      Banyak yah yg lope lope sama Reven :P

      Delete
  41. Huaaa.... Keren banget, kak... coba kalo dijadiin film... hehehe...
    Makasi, kak... ini cerita pertama yang pokoknya, fuhhhh keren bangeeeeetttt... TY...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha duhh makasii makasiiii...
      Kepalaku membesar nanti., :P

      Delete
  42. Yaaaaaaampuuunnn!!!! Ini cerita bagus!!!sungguh!aku suka kisah2 vampire dkk gitu.menurutku lebih bagus ini daripada vampire diaries atau twilight.
    Aku sampe gak tidur baca ini cerita.
    Beruntung aku nemuin cerita ini. Sayang ya endingnya kurang adegan sweet yg romantis antara reven dan sherena. Abis baca ini cerita aku langsung heboh gak bisa move on.btw aku sudah add fbmu.konfirm yaa hehe.
    Kalo ini cerita dibikin novel aku bakalan beli.suka bangett...pengen punya koleksinya u.u
    Makasiihhh buat ceritanya.semangat nulis yaaaa :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasiiihhhhhhh... duhh aku jadi malu :P
      Vampire diaries sama twilight.. aku kalah jauhhh deh. Btw fb-nya apa?? Biar aku konfirm.

      Doakan semoga ada penerbit Major Yang ngelirik HV ya..
      terus dicetak deh. Amin aminn..

      Delete
  43. ini cerita sangat bagus kak tapi saya maunya penyihirnya bisa bikin vampire jadi tahan matahari dong biar mereka bisa kemana mana

    Dari L

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkiiieessss :D :D
      Wiehii.. penyihirnya ngga punya kemampuan kek gitu, HAhahha :P

      Delete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.