Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2014

Another Story - Pengakuan

“Kalian berdua ternyata lebih kekanak-kanakan daripada aku.” Ar memandang ke arahku dengan setengah kesal. Dia sudah mendengar dari orang lain tentang apa yang terjadi denganku dan Rena. Aku juga masih ingat dengan jelas bahwa Rena menambahkan beberapa teriakan waktu itu padahal kami sudah cukup menjadi pusat perhatian. Aku hanya diam. Tidak membantah, tidak mengatakan apapun. Membiarkan Ar menyelesaikan semua omelannya seperti wanita tua. Aku ahli dalam berpura-pura mendengarkan. Tak masalah bagiku. “Aku bahkan tidak yakin apa masalah kalian sebenarnya.” “Kami tidak punya masalah apapun.” “Lalu kenapa kalian seperti ini?” Aku menghindari tatapan Ar, entah kenapa aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu yang buruk. Sampai saat ini aku masih tidak bisa membaca pikiran Ar. Jadi akan sangat buruk jika di dalam kepalanya yang keras itu dia berpikir aneh dan membuatku kesulitan menjalankan tugasku. “Kalian saling menyukai?”

Superman Is Dead (Tentang sebuah cerita dan kenangan)

Kangeennn.... Sudah nyaris dua tahun lamanya ngga nonton SID live concert. Yah, meskipun begitu, nonton yang di tv macam ini, bisa bikin sedikit.. yah.. aku suka mereka. Dulu, ketika kuliah di Malang dan awal-awal kuliah di Surabaya, aku paling hobi dateng ke konser SID, nonton langsung, jejeritan, joget-joget gila kayak orang stress.. Aaakkk... Sisi "iblis" yang ada di dalam tubuhku keluar ketika aku berada bersama mereka. Well, aku ngga pernah menyesali masa-masa itu. Aku benar-benar menikmatinya. Basah, berhujan-hujanan, diantara kerumunan anak-anak laki-laki. Entah SID konser bersama Bondan, atau Endank Soekamti, atau malah bareng J-Rock dan Kotak, aku ngga peduli, yang penting mah SID-nya. Lapangan Rampal Malang, area luar stadion Kanjuruhan Malang, di Kediri (aku lupa nama tempatnya, kalau ngga salah sih di dekat bangunan ala-ala Paris itu.), di alun-alun Solo, di Surabaya (Lapangan parkir delta, lapangan ole-ole, kodam dll), di Nganjuk (dekat SMA3 Nganjuk) dan.. entah …

Malaikat Hujan - Adrian

“Adrian.. Aku mencintaimu.”   Aku memandang wajahnya, tersenyum, “Aku tahu, Dilla.” 
        “Lalu apa lagi yang kurang? Kita tetap bisa bersama bukan? Seperti yang selalu kau katakan untukku?”
      Aku masih memandang wajah Dilla, bisa kurasakan sentuhannya di tanganku menguat. Dia takut kehilanganku. Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah aku juga takut kehilangan dia? Aku mendesah, “Entahlah. Aku merasa ada yang salah.”
    “Apalagi? Tidakkah cinta kita cukup? Mamamu akan merestui kita. Kita akan menjalin hubungan serius karena kita saling mencintai. Bukan seperti yang terjadi antara mama dan papamu. Dan kita bisa hidup bahagia.”
                  Kepalaku mulai berdenyut. Jika Dilla sudah membahas tentang ini lagi. Maka akhirnya kami akan hanya akan saling beradu argumen dan berakhir dengan suara bantingan pintu dan dia keluar dari apartemenku dengan marah. Dia selalu seperti itu. Keras dan tak ingin keinginannya dibantah. Namun aku juga tidak bisa begitu saja mengiyakan apapun perka…

Xexa - Titik Awal

Dengan perasaan tak karuan, Dave memandang botol kristal kecil dalam genggamannya. Ingatan milik ibunya, atau sesuatu tentang itu, tergantung bagaimana dan sihir apa yang digunakan ibunya ketika membuatnya. Bisa jadi itu hanya sebuah suara-suara, atau mungkin penggalan ingatan-ingatan kabur. Dave tahu dia berharap lebih daripada semua yang muncul di dalam kepalanya, tapi dia tidak berani untuk melihat lebih jauh kemungkinan itu. Dia terlalu lelah untuk kecewa sekarang. Pelan dan pasti, Dave menarik nafas panjang, membuka botol kristal itu pelan dan membiarkan kabut gelap yang terperangkap di dalam sana berenang ke luar dan menyelubungi nyaris seluruh ruang pribadinya. Sesuatu yang dingin menyentuh tengkuk Dave dan dia melompat dengan terkejut, berbalik dan harus kecewa karena tidak melihat apapun selain kumparan kabut yang mulai terurai. “Dave..”

Xexa - Para Pencari

"Ikutlah denganku." Suara Dave mengagetkan Ribi yang tengah melamun di dalam ruangannya. Dia bangkit-nyaris protes-tapi akhirnya diam dan mengikuti langkah Dave keluar dari ruangannya. Ada sesuatu di wajah Dave yang membuat Ribi menahan diri untuk mengatakan apapun yang mungkin saja bisa membuat wajah itu semakin terlihat penuh masalah.
       Dia mengikuti Dave dalam diam ketika mereka berjalan di lorong-loron kastil yang megah. Dipenuhi lukisan-lukisan Mahha dari generasi ke generasi. Terkadang ada beberapa baju zirah lengkap diberdirikan seolah mereka adalah prajurit penjaga tempat ini. Obor-obor yang terpasang rapi di sebelah kanan dengan jarak lima langkah di masing-masingnya memberikan penerangan memukau. Memberikan bentuk nyata pada aneka detail pada setiap tonjolan dinding. Mereka berhenti di ujung koridor. Di depan pintu besar yang lebih mirip seperti gerbang melengkung dengan detail sulur-sulur rumit disekelilingnya. Ribi bisa melihat lambang kerajaan Zerozhia berada…