Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2014

Remember Us - Janji

“Kau—“

Tapi Morgan menggeleng, “Tidak. Kujelaskan nanti. Sekarang ikut aku, Sherinn. Di sini berbahaya.” Dia melompat, berubah menjadi serigala besar. Matanya menatapku sebentar, memintaku mengikutinya sebelum dia melompat dan pergi dengan cepat. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya dengan tak kalah cepat. Meninggalkan derap langkah kaki yang mendekat ke arah kami. Morgan membawaku menjauh dari lingkungan kastil. Dia berhenti di bukit terjauh dimana puncak kastil hanya terlihat seperti sesuatu yang samar. Serigala besar itu berbalik dan menghilang, digantikan sosok manusia Morgan. Seorang laki-laki dewasa dengan telanjang dada, otot-ototnya terlihat jelas, tertutup oleh kulitnya yang berwarna semakin gelap. Morgan terlihat lebih tua daripada ketika aku terakhir kali aku bertemu dengannya. Manusia serigala menua, meskipun dengan proses yang tidak secepat manusia. “Jelaskan padaku.” Desisku tanpa mau menunggu. Aku menatapnya dengan marah, tak peduli bahwa inilah pertama kalinya kam…

Another Story - Perempuanku

“Kau yakin kita harus mengatakan ini pada Ar?”

Rena mengangguk yakin, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekhawatiran sedikit pun.
“Aku ingin Ar yang pertama tahu tentang kita, Dev. Kami tidak pernah menyembunyikan sesuatu satu sama lain. Jika aku tidak mengatakan hal penting seperti ini pada Ar, ini akan sangat tidak adil untuknya. Aku tidak bisa.”
Aku mengerutkan kening. Memprotes perempuan di depanku ini sepertinya akan percuma. Dan keyakinannya tentang Ar membuatku entah mengapa jadi sedikit sebal. Kenapa dia malah berkata dengan gigih seperti itu tentang laki-laki lain di depanku?
“Aku masih tidak yakin.”
Kedua bola mata Rena menegas. Matanya memicing, “Aku tetap akan memberitahu Ar.”
“Memberitahu apa?”

Xexa - Kaum Liar

Ribi melangkah dengan hati-hati. Hutan ini tidak berujung. Mereka sudah berjalan berjam-jam yang lalu dan seolah-olah tidak akan berakhir. Ribi benci ini. Sejak awal dia tidak suka hutan ini, dan sekarang, berjalan diantara batang-batang abu-abu dan tanah segelap langit malam. Belum lagi ketika dia mendongak, dedaunan berwarna sepekat darah menyambutnya. Tempat ini mengerikan dan terkutuklah para penyihir yang membuatnya.


“Kita sampai.” Bisik Fred, memegang tangan Ribi ketika dia terhuyung nyaris jatuh karena tersandung akar pohon. Ribi mengumamkan terima kasih dan memandang ke depan. “Hi—jau.” Dia bergumam, ada sesemakan di depannya, dan warnanya begitu hijau, begitu alami. Dave dan Ares melewati sesemakan itu dengan usaha cukup besar. Lengan-lengan terangkat melindungi wajah agar tidak tergores duri ataupun batang-batang kecil yang tajam. Dan ketika muncul celah-celah karena pergerakan mereka, Ribi bisa melihat kilauan fajar yang mulai menyingsing. Sudut bibirnya tertarik ke atas den…

Malaikat Hujan - Dilla

Ini pertama kalinya aku melihat Adrian terlihat serapuh ini. Aku biasa melihat sosok Adrian yang dingin, mandiri dan tenang meskipun kadang agak pemarah. Namun sekarang, hanya berjarak beberapa meter, aku bisa melihatnya yang duduk dengan wajah kosong menatap ke dinding kaca kantornya yang mengarah ke luar. Wajahnya kuyu, dengan rambut yang tidak disisir rapi dan jenggot dan kumis yang mulai tumbuh di sana. Padahal aku tahu pasti bahwa Adrian sama sekali tidak suka memelihara kumis dan jenggot.
Aku menghela nafas. Sekretaris Adrian menghentikan langkahku untuk mendekat ketika dia berkata dengan sangat pelan, “Pak Adrian sedang tidak ingin diganggu, Bu Dilla. Lebih baik anda kembali lain waktu saja. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Pak Adrian.” “Biarkan aku menemuinya sebentar, Afrin. Aku tahu dia tidak akan marah padamu karena ini.” aku menatap Afrin penuh keyakinan. Dia menatapku ragu sebelum akhirnya melangkah menyingkir, memberiku jalan dan mengangguk. Aku berjalan…

Remember Us - Firasat

“Rena..”
Sentuhan lembut tangan Reven di pundakku membuatku mengangkat wajahku. Kedua bola mata biru Reven membingkai wajahku, dengan sabar dia mengusap wajahku, membersihkan tanah yang menempel di wajahku, “Ayo pulang.” Bisiknya.
Aku menggeleng, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”
Reven mengangguk, “Pasti.” Dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis terisak di dalam pelukannya.
Butuh waktu yang lama bagi Reven untuk menungguku mau beranjak dari tempat ini. Ketika akhirnya aku sanggup membiarkan diriku meninggalkan tempat ini, Reven mengenggam tanganku erat dan membiarkanku memimpin langkah kami, pulang. Pulang. Sebuah kata yang kerapkali membuatku marah dengan bangsa manusia. Mereka menghancurkan rumah kami, kastil utama bangsa vampir. Merusaknya hingga tidak mungkin lagi bagi kami untuk tinggal di sana. Entah berapa banyak serbuk perak yang mereka tebarkan di sana dan membuat kami, bahkan untuk sekedar mendekat saja tida…