Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Remember Us - Pulang

“Pilihannya hanya mati di sini, sekarang juga, atau bergabung bersama kami?”

Suara Nerethir menggema di dalam telingaku. Bahkan kuyakin di telinga semua vampir yang ada di sini. Nerethir mengucapkannya dengan jelas. Jika kami semua ingin hidup, maka kami harus bergabung bersama mereka.

Aku melirik hati-hati pada wajah serius Reven. Dia menatap lurus mata Nerethir yang sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Reven dengan wajah jenaka menyebalkan seolah dia telah tahu jawabannya.

Reven menarik nafas panjang, dadanya membusung. Ketegasan itu terukir jelas dan aku langsung tahu apa yang akan dipilihkannya sebagai takdir kami, para vampir.

Xexa - Perintah Pertama

Dave memijit keningnya dengan keras dan cepat. Kepalanya terasa berdenyut-denyut menyakitkan jika dia mengingat kembali apa yang dikatakan Foster padanya beberapa saat yang lalu. “Sang putri penjaga sudah lama mati dan rahasia keberadaan Xexa terkubur bersama kematiannya.” Sang putri penjaga yang merupakan satu-satunya jalan baginya untuk menemukan Xexa, sudah mati? Lalu apa gunanya pencarian panjang orangtuanya jika titik kunci mereka sudah tidak ada. Sang putri penjaga sudah mati. Dave mengulang lagi fakta itu dan pusing di kepalanya semakin bertambah.

Xexa - Foster

Fred nyaris saja melemparkan mantera siksaan ke anilamarrynya ketika Ahriman yang muncul mendadak ketika dia berjalan sendirian kembali ke tempat teman-temannya yang lain, membuatnya terlonjak kaget. “Kau membuatku terkejut.” ucapnya dengan nafas tak teratur. Dengan dengusan setengah kesal, dia menyelipkan kembali tongkat sihirnya. “Ada apa? Tak biasanya kau muncul tanpa ada panggilan dariku?” tanyanya sambil menatap Ahriman yang mengambil wujud laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam yang menutupi seluruh tubuhnya. Menyisakan seraut wajah yang nampak terlalu serius untuk usia setua itu. “Anda sudah tahu siapa anda sebenarnya, bukan?” Kening Fred berkerut dalam, matanya menyipit, “Apa yang sedang kau bicarakan?”

Remember Us - Penawaran Nerethir

Butuh beberapa saat yang lama bagiku untuk mencerna semua yang dikatakan oleh Victoria. Kami semua sudah berada di ruang pertemuan di dalam kastil dan mendengarkan cerita Victoria tentang siapa sebenarnya Edna dan apa hubungannya dengan kami, bangsa vampir. Aku melihat Reven membulatkan matanya sementara Damis kehabisan kata-kata dan menampilkan wajah pias. Aku sendiri menatap Victoria dengan mulut terbuka, tak bersuara. Jelas tak satupun dari kami bisa mengerti. “Setelah Luca membunuh Midelle dan Valerie. Anak buah Luca lainnya menyeret kami menuju lapangan besar dan di sana semua kaum kami, vampir asli Tierraz, diikat dan dikumpulkan dala satu kelompok besar. Di depan mereka, anak laki-lakiku, Rilley, diikat dengan cara yang sama dengan dua makhluk angin menjaga di kiri kanannya.”

Remember Us - Kisah Lama Victoria Lynch

“Si.. siapa kau?” suaraku bergetar dan aku sadar bahwa aku mungkin sedang menanyai mautku. Tapi wanita di depanku justru tersenyum tipis, “Kau rupanya juga bagian dari Vlad dan Victoria, ya?” suaranya lembut dan merdu. Serta terdengar bersahabat di telingaku. Semoga saja ini semua bukan hanya siasat. Aku belajar untuk tidak percaya pada tutur kata lembut dan bersahabat. Sebab ingatlah, vampir—termasuk aku—menggunakan nada itu sebelum kami membunuh mangsa kami. “Apa hubungannya kau dengan Vlad dan Victoria?” aku masih terdengar tidak tegas namun getar di suaraku sudah lenyap. “Kenapa aku cuma merasakan kehadiran Victoria? Dimana Vlad?” Keningku berkerut dalam. Dia tidak tahu jika Vlad sudah mati beratus-ratus tahun lalu? “Siapa kau sebenarnya?”

Another Story - Peringatan

Sejak aku berjalan keluar dari pintu rumah ini, dan melangkah semakin jauh ke arah hutan, aku sadar ada tiga sosok lain berpencar mengikutiku dari sisi yang berbeda. Ramuel, Lukas dan Gloria, hanya dengan memejamkan mataku sesaat, aku tahu itu merela. Tapi aku hanya diam dan membiarkannya. Sudah beberapa waktu berlalu sejak kejadian dimana Damis mengambil secara paksa Rena dariku, dan semua anggota kelompokku berjaga siaga di sekitarku. Aku paham benar apa yang ditakutkan oleh mereka. Apalagi sejak Vlad secara pribadi datang ke rumah kelompok kami. Aku jelas tidak akan bisa melupakan apa yang telah Vlad lakukan di depan kami semua pada Michail.

Xexa - Tentang Areschia

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan tempat ini?” Ribi memandang ke sekitarnya dengan tidak percaya. Bukit tempat mereka terjatuh setelah teleportasi yang dilakukan oleh Dave bahkan terlihat lebih indah daripada tempat ini. Ribi menyipitkan matanya tak percaya, mereka sudah berjalan lama sejak Dave memutuskan bahwa mereka harus segera bergerak. Namun lihat apa yang mereka temukan setelah berjalan berjam-jam, sebuah desa porak poranda dengan semua tanaman dan pepohonan yang melayu siap mati. Tanah berbau anyir meski tak satupun mayat, entah manusia atau binatang ada di sekitar mereka. Udara membawa hawa kematian dan kengerian yang nyata. Bangunan-bangunan rumah nampak siap roboh jika kau mendekat satu langkah saja. Sisa-sisa peralatan yang menunjukkan adanya kehidupan di tempat ini sebelumnya, nampak berserakan begitu saja di halaman-halaman atau bahkan di jalanan.

Xexa - Tanah Thussthra

Dave melihat apa yang terjadi dengan kengerian. Namun di saat yang bersamaan dia tahu bahwa dia harus segera mengambil tindakan, membawa Ribi keluar dari sini atau segalanya akan semakin memburuk. Dia mencoba berkonsentrasi pada sihir teleportasinya dan entah karena pengaruh dari ledakan api biru Ribi atau apa, Dave merasakan bahwa sihir perlindungan di tempat ini merenggang. Dengan sangat cepat, dia melompat dan berlari ke arah Fred yang penuh luka dan menyeretnya ke arah Ribi dan Ares yang masih terbengong tak berdaya. Tepat ketika Landis menyadari apa yang akan dilakukan Dave, Dave sudah melingkarkan tangannya sejauh mungkin, menyentuh bagian tubuh dari Ribi, Ares dan Fred. Lalu mantra terucap dengan cepat dan kabut putih membawa mereka lenyap dari lorong itu, meninggalkan kemurkaan luar biasa dari seorang raja para elf liar.

Remember Us - Sang Perisai Pelindung

Ketika aku berjalan masuk ke ruangan yang ditunjukkan Damis, aku tahu bahwa Victoria menyadari kehadiranku. Namun dia sama sekali tidak menoleh padaku dan terus menatap pada buku yang ada di tangannya. “Victoria,” suaraku tegas dan aku sudah berdiri tegak tepat di depannya. Aku melihat gerakan pelan, dan akhirnya Victoria menutup bukunya. Irisnya yang merah sekarang sepenuhnya memandangku. “Ya.” jawabnya singkat. Senyum tipis terpasang di wajahnya yang terukir sempurna. Senyum yang menyimpansejuta misteri. Senyum yang membuatku ingn menyekiknya karena membuatku penasaran setengah mati. Aku duduk di depannya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapanku darinya. “Apa kita akan membahas tentang kau dan Reven?”

Just Turn The Page to Twenty-three

Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun.. Selamat ulang tahun, Ria..

Remember Us - Sentuhan Lain

Aku mendengarkan semua yang diceritakan oleh Damis tanpa menyela sedikitpun. Tiga ratus tahunku terbayar dalam satu petang yang panjang bersamanya. Dipenuhi kisah dan segala hal yang sama sekali tak bisa kubayangkan akan menimpa para vampir. Sebagian mungkin telah kudengar dari cerita yang disampaikan oleh keluarga Cllarigh, namun melalui Damis, aku menerima semua detail lain. Para vampir yang kuat bertahan dan berhasil selamat dari perang besar. Tak banyak memang tapi itu sudah cukup untuk membuat bangsa kami tetap bisa hidup dan tidak punah. Damis juga membenarkan pembantaian yang dilakukan oleh anak Elior, Jared Ritter terhadap kelompok manusia serigala yang tersisa. Tapi sama halnya seperti bangsa vampir, sesungguhnya bangsa manusia serigala juga tidak punah. Kedua bangsa besar itu tersingkir dan memilih bersembunyi. Menyembuhkan luka mereka dan kehilangan besar-besaran dalam jumlah anggota.

Another Story - Perlindungan yang Gagal

Ketika aku melangkah keluar, bau hutan langsung memasuki indera penciumanku dan tak jauh dariku, aku bisa melihat Rena yang sedang kalut mencari jalan untuk bisa kembali ke tempat Ar. “Rena.” panggilku pelan dan dia menoleh ke arahku. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya dia berlari ke arahku. Atau awalnya itulah yang kupikirkan. Sebab ternyata Rena hanya berlari melewatiku. Dia nampak panik meraba-raba seluruh dinding tebing yang ada di belakangku.

Remember Us - Dendam yang Menuntut Pembalasan

Halooo semuanya.. seperti janjiku sebelumnya. Aku datang di sabtu malam. Eitts.. di sini masih jam sepuluh malam jadi aku menepatinya sekarang. Sabtu malam dan new chapter RU nongol di sini.
*kabuuurrr*
Hei heii.. aku tahu aku harusnya memberikan chapter ini minggu lalu. Tapi sungguh, aku sedang ngga enak badan minggu lalu. PMS, mood yang ngga karu-karuan dan migrain. Hore banget pokoknya jadi.. Astaga astaga.. kurasa kalian tidak ingin mendengarku mengoceh semakin tidak jelas. Baiklah baiklah.. selamat membaca dan maafkan aku.
Ketjup, @amouraXexa

Diamonds - Noura dan Berkah Penglihatan

Halooo... aku datang lagi. Weeiitttsss, aku membawa sesuatu yang baru sekarang. Judul sederhananya Diamonds, ini membawa konsep Remember Us yang lama dimana dalam Diamonds akan mengisahkan tentang tokoh-tokoh Half Vampire dan Remember Us dalam jangkauan waktu yang acak. Aku merasa sedih ketika harus mengubah konsep awal Remember Us dari sekedar pengingat HV menjadi sequel HV. Ah baiklah.. aku tidak akan banyak bercuap-cuap lagi sekarang. Mari bersalaman dengan Diamond pertama kita: Noura.
Ketjup, @amouraXexa

Xexa - Kekuatan

“Kelahiran kembali dari Edna?” suara si pemuda tercekat, kulit wajahnya yang cokelat berubah menjadi pucat dan putih, nyaris transparan. Dave mengangguk, mengerti benar reaksi anilamarrynya. Setelah Memnus menelan semua kekagetannya, kulitnya kembali berubah menjadi cokelat dan matanya yang gelap mengamati sekeliling mereka. Sepi. Tak terlihat satupun makhluk lain selain dia dan penyihir pemiliknya. Cerita Dave tentang siapa Gabrietta sebenarnya masih bergaung di benaknya, mengalahkan suara deras sungai besar di bawah mereka. Mereka sekarang memang sedang berdiri di titian yang hanya terdiri dari susunan kayu-kayu yang dililit akar pohon. Namun jatuh ke sungai dalam dengan arus kuat sama sekali bukan hal yang akan dicemaskannya. Edna. Itulah yang patut dicemaskan sekarang. Danesh juga, jika Dave masih perlu diingatkan tentang masalah ini. Tangan Dave menggenggam kuat pembatas titian yang berupa rantng-ranting lentur yang berjalin dan tumbuh menyamping. Dia melirik pada Memnus yang sekar…

Remember Us - Peringatan yang Terlambat

Aku berjalan cepat menyusuri lorong kastil yang dingin dan gelap. Kugunakan semua kemampuanku untuk memindai keberadaan siapapun di kastil ini. Namun entah kenapa, aku tidak bisa dengan leluasa mengunakan kelebihan pada indera-inderaku di sini. Ada sihir yang melindungi kastil ini. Itu sudah jelas. Jadi aku tidak bisa banyak berharap dan hanya mengandalkan keberuntungan. Siapa tahu mendadak aku bertemu dengan Victoria. Tapi bermenit-menit menelusuri kastil ini, aku tidak bertemu Victoria atau siapapun lainnya. Kastil ini begitu sepi seolah sudah lama ditinggalkan.

Another Story - Bertemu Kembali

Teriakan kegembiraan dan gema lega memenuhi aula utama di kastil utama. Namun bagiku, ini seperti lingkupan ketakutan. “Sang pengganti calon ratu telah ditentukan. Temukan dia dan kita lepas duka atas Noura. Bawa Sherena Audreista ke kastil ini dan bayangan lemah ras kita akan lenyap. Tuntun atau seret sang heta dan beri dia seluruh kehidupan kita.”
Suara Illys seperti suara pengabar maut untukku. Nama itu begitu jelas dikabarkan dan tak ada heta lain dalam kerajaan manusia dengan nama itu. Hanya dia, hanya Renaku. 

Tentang Suka Pertama

Semalam, aku memimpikan seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah aku lihat. Seseorang yang menjadi pujaan hatiku ketika aku masih sangat belia. Aku tidak tahu kenapa aku mendadak memimpikannya. Tapi kupikir itu tidak masalah karena dengan mendapat mimpi itu, hari ini aku mengingat banyak hal indah yang membuatku tersenyum. Sebuah kisah tentang suka pertama. Kali pertama aku menyukai seorang cowok. Dan aku ingin membagi kisah ini di sini. Dalam mimpiku, aku melihat dia dan aku berteriak, “Ya ampun, sudah lama banget ngga ketemu!” lalu aku peluk dia dan dengan iseng mencium bibirnya selintas. Astaga, serius.. cuma selintas dan dia bengong lalu aku tertawa terbahak. Setelahnya berbisik dengan teman di sampingku, “Mumpung ada kesempatan.”. Sungguh, aku tidak tahu aku bisa seliar itu. :) Dia, sebut saja D—bukan Mr.D seperti yang di Percy Jackson ya—adalah teman sekelasku ketika aku berada di tingkat pertama sekolah menengah pertama. D ganteng dengan rambutnya yang lucu. Aku punya jul…

Mengabarkan Rindu

Kau tahu rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan itu? Apa kau juga tahu bagaimana rasanya disiksa oleh perasaan itu detik demi detik dan kau masih saja tidak bisa melakukan apapun? Jika kau tahu, mari kita bicara. Sebab aku ingin membagi perasaan sesak ini. Aku ingin membaginya agar aku tidak perlu terus menerus berdiam dalam luka yang mengikisku habis dari dalam. Aku merindukan banyak orang. Aku merindukan banyak hal. Dan rindu itu membunuhku perlahan. Aku menangis, tapi tidak pernah tahu kapan airmataku bisa habis. Aku ingin berhenti menangis, tapi setiap kali aku diam. Aku akan menangis lagi dan lagi. Sampai kebas dan bosan rasanya pada rasa sakit ini. Rasa sakit karena rindu yang tak pernah terbayar.

Xexa - Anilamarry

Ribi berjalan dengan kaki telanjang di sebuah lembah yang dingin. Dia tidak tahu dia ada dimana namun entah kenapa dia tidak merasa takut. Rumput-rumput terasa mengelitik kakinya ketika dia berjalan. Di kanannya, sebuah jurang kecil memperlihatkan sungai mengalir dengan airnya yang beriak bening. Dia masih saja melangkah meski dia tidak tahu kemana tujuannya. Pohon-pohon menjulang tinggi memagari sisi kirinya dan beberapa anak burung terdengar mencicit dari salah satu puncak pohon. Ada suara deras air terjun di depan sana dan mendadak Ribi seolah tahu bahwa di situlah tujuannya. Dia melangkah, menghindari beberapa bunga liar, dan terus maju ke depan. Ujung gaunnya yang berwarna merah lembut menyaruk-yaruk tanah dan dia tak peduli. Seolah ada sesuatu lain yang lebih penting baginya.

Remember Us - Mendekat

Hai kalian semua pengunjung setia blogku dan kalian yang mencintai cerita ini. Aku benar-benar meminta maaf karena mengupload lanjutan cerita ini lama sekali. Aku tahu.. aku tahu. Aku seharusnya mengupload cerita ini pada hari minggu tanggal dua puluh delapan seperti janjiku sebelumnya. Dan aku benar-benar sudah akan melakukannya jika saja charger netbookku yang memiliki sambungan internet, tidak rusak. Aku tidak tahu kenapa, sepertinya aku punya bakat untuk merusak barang-barang yang kugunakan jadi.. yah selama beberapa hari netbook dengan satu-satunya aksesku ke dunia maya itu cuma tergolek tak berdaya karena jiwanya habis. Pendek kata, ngga bisa dicharge soalnya kabel chargernya error. Atau mungkin—entahlah, aku gak ahli di bidang perkabelan. Well, tapi akhirnya, aku bisa mendapatkan akses internet lagi. Kurasa aku beli charger baru, lumayan nguras isi dompet sih, tapi gimana lagi. Aku juga butuh internet untuk mengurus semua urusanku dengan kampusku agar aku bisa langsung jadi an…

Another Story - Kematian Sang Calon Ratu

Saat aku melewati lorong lantai dua kastl ini, suara-suara mendadak teredam dan sepanjang koridor yang gelap dan dingin, aku sama sekali tidak mendengar apapun. Kurasa Vlad menggunakan sihirnya di sini. Aku tidak tahu apa saja yang para vampir kuno bisa lakukan, tapi jika semua kekuatan itu dan watak Vlad dijadikan satu, maka hasilnya tidak bagus. Namun aku tidak menyalahkannya melakukan itu kali ini. Sebab jika aku jadi dia dan harus menghadapi vampir keras kepala seperti Noura, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama—atau mungkin lebih parah. Aku mengetuk pelan setelah sampai di depan pintu ruangan Noura. Tak terdengar suara atau pergerakan apapun dan akhirnya aku memilih masuk. Mendorong pintu kayu itu pelan. Lalu di sanalah dia, menatap ke arah luar melalui satu-satunya jendela yang ada di ruang pribadinya. Aku berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di sampingnya. “Rindu pada dunia luar?” sapaku.

Remember Us - Lukisan Rowena

Reven menarik nafas panjang, membiarkan udara dingin memasuki paru-parunya. Menebarkan sensasi nyaman yang didapatnya ketika dia bernafas. Dia berdiri di depan balkon bangunan tempat tinggalnya. Menikmati udara malam menampar-nampar wajahnya. Dalam bayangan kegelapan malam, dia mengamati sekitarnya, pepohonan tinggi serupa raksasa gelap mengelilingi mereka, lalu di kejauhan, sebuah tanah lapang luas nampak seolah bergoyang, bunga-bunga ungu setinggi lututnya jelas penyebabnya. Angin sedang bertiup tidak ramah malam ini. Dia tidak mengerti kenapa Victoria berkeras menyebar benih bunga-bunga ungu itu di dekat kastil kecil mereka ketika sebagian besar anggota kelompok lain menolaknya. Itu hanya akan menarik perhatian dari para manusia. Manusia akan menemukan tempat ini dan pada akhirnya mereka yang akan pergi. Mencari tempat lain dan membangun segalanya dari awal lagi. Tapi ketika Victoria memaksa, tak ada siapapun bahkan dirinya yang bisa menolak. Victoria memiliki aura itu. Kekuasaan, ke…

Xexa - Kisah Tentang Masa Awal

Jubah Lagash yang ringan berayun-ayun ketika dia melangkah dengan resah. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali terlihat keruh dan jelas menyatakan segalanya tidak berjalan sesuai yang dia mau. “Kau merasakannya?” Suara lembut wanita itu membuatnya berhenti. Dia menoleh, kegelisahannya sedikit menguap ketika dia melihat keanggunan Mora. Rambut putih peraknya yang panjang terlihat berkilau dan gaunnya yang jatuh menyentuh tanah entah kenapa terasa semakin membuat dia terlihat luar biasa. Dan berbincang biasa dengan Mora tanpa melibatkan semua tata atur kerajaan membuatnya lega. Lagash mendesah, ini bukan waktunya merindukan masa-masa lama. Lalu dia mengangguk, “Aku tidak pernah merasa segelisah ini sejak—“ dia menimbang, “Kau mengerti bukan, Mora? Semua ini membuatku merasa resah. Bagaimanapun aku tidak suka kembali melihat Alzarox berkuasa.” Mora menatapnya, penuh pengertian, “Semua makhluk cahaya tidak menyukai kemungkinan itu, Lagash. Meskipun para makhluk kegelapan bersorak. Tap…

Another Story - Awal Masalah

Aku menatap hewan liar yang tengah mengawasi buruannya dengan lapar beberapa meter dariku. Dia menahan geramannya dan aku menahan setiap gerak dari bagian tubuhku agar dia tidak menyadari bahwa aku ada di dekatnya. Hewan penuh taring dengan mulut sudah penuh liur karena tidak sanggup menahan rasa laparnya dengan melihat rusa kecil tersesat tak jauh darinya itu bahkan tak tahu bahwa bukan dia satu-satunya yang tengah berburu sekarang. Tepat bersamaan dengan langkah kaki dan auman pertamanya sebelum berlari menyergap si rusa, aku juga berlari ke arahnya dan menerjangnya. Suara auman murka terdengar sebelum kami berdua bergulingan di tanah. Hanya perlu beberapa detik sigap dan aku sudah berdiri, sendirian. Tanpa terluka sedikitpun. Sementara si  hewan predator malang itu sudah terkapar tak berdaya, mati. Ramuel dan Lukas yang berdiri di salah satu dahan kuat pohon yang tak jauh dariku memberikan tepuk tangan malas. Mereka melakukannya dengan semangat di kesempatan pertama, namun ini sudah…

Remember Us - Kebenaran yang Terlewatkan

Haloo semuanya.. senang sekali rasanya bisa mengupload chapter ini setelah melanggar janji karena aku bilang aku akan upload chapter baru RU paling lambat hari selasa kemarin. Tapi hari sabtu tidak terlalu terlambat juga bukan? Hahaha salahkan hostfamilyku yang tiba-tiba menculikku ke pegunungan Alpen di Austria. Well, tapi sudahlah.. kalian bisa membaca cerita ini segera dan aku masih harus sibuk mempersiapkan diriku mengepak koper untuk perjalanan lain setelah Alpen. Aku mungkin akan ke Middle Earth.. atau mungkin Westeros??
Astaga.. astaga.. abaikan pikiran gilaku dan selamat memabaca buat kamu, yang mencintai cerita ini. Aku mencintai kalian semua. 

Ketjup,
@amouraxexa


Remember Us - Tujuan Ed

“Aku akan mengantarmu ke sana.” Perlu beberapa detik bagiku untuk benar-benar menyadari apa yang dikatakan laki-laki di depanku ini, "Tunggu sebentar. Aku akan berkemas. Ini tak akan lama. Dan kita butuh lebih berhati-hati. Ingat jam malam." Dia mengucapkan kalimat-kalimat itu sambil lalu, meraih tas kulit yang tersampir di dekat perapian dan mengisinya cepat dengan begitu banyak benda. Selama dia melakukan itu, aku hanya mengamatinya. Separuh tidak percaya bahwa makhluk di depanku ini memiliki kepala yang berfungsi penuh. Menurutku kepala kerasnya itu kosong, itulah satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan kenapa dia begitu tidak konsisten dengan apa yang keluar dari mulutnya. "Kita berangkat." ucapnya setelah bermenit-menit yang lama. Aku menghela nafas, mengangguk.

Xexa - Sorglos

“Apakah kau sudah mau pergi, pangeran Dave?” Tubuh Dave membeku, dia sangat yakin dengan apa yang dia dengar. Suara Sorglos begitu jelas. Tidak ada kesalahan. Tapi bagaimana bisa? Dia memutar tubuhnya, menatap ke arah Sorglos yang tengah memandang ke arahnya. Dengan satu gerakan pelan, dia melepaskan selubung sihirnya. "Terkejut, pangeran?" "Bagaimana kau bi—" "Itu nanti, pangeran. Kita punya masalah lain yang lebih penting untuk didiskusikan daripada membahas kenapa aku bisa tahu kau menyusup ke dalam tendaku dan mencuri dengar semua pembicaraan pentingku dengan—Well, kau sudah tahu sendiri. Aku tidak akan mengulang apa yang telah dikatakan Actur padamu."

Malaikat Hujan - Nuna II

Aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Aku sudah kehilangan semua kesempatan untuk bahagia. Aku sudah kehilangan semuanya dan aku cuma bisa menangisi itu sekarang. Papa memelukku dengan lembut dan mengusap punggungku pelan. Aku masih terisak ketika papa memintaku berbaring dan tidur sejenak. Tidak ada bantahan sebab aku sudah terlalu lelah. Jadi aku membaringkan tubuhku perlahan dan papa menarik selimutku sampai batas leher. “Tidurlah sebentar. Papa tahu kau lelah. Apa papa perlu bawakan mentimun atau es untuk mengompres matamu? Kurasa itu akan bengkak besok, kau sudah banyak menangis sejak kemarin malam.” Aku tersenyum pahit, “Tidak, pa. Terima kasih.” Kurasa aku tidak akan memusingkan mataku yang sembab parah. Lagipula siapa yang akan melihatnya di tempat terpencil ini. “Kau lebih cocok tersenyum.”

Another Story - Keluarga

Aku berlari menuju kastil asrama. Aku berlari secepat yang aku bisa dan menerjang ke dalam ruangan pribadi Rena. Tapi ruangan itu kosong, hanya menyisakan sisa-sisa bau tubuhnya yang kukenali dengan benar. Aku kalut. Aku tidak menemukan semua orang. Aku tidak menemukan satupun heta ada di sekitar sini. Sial, kemana mereka semua? Memejamkan mataku, aku menarik nafas dalam. Menenangkan diri dan mulai memindai sejauh wilayah yang bisa dijangkau kekuatanku. Dimana? Dimana semuanya? Seharusnya tidak sulit mencari dimana keberadaan kerumunan manusia. Tapi sialnya terasa sulit ketika yang menguasai seluruh otak dan pikiranku adalah Rena. Aku membuka mataku cepat. Memaki diriku sendiri sebelum aku beranjak keluar dari ruangan Rena. Berada di sini semakin tidak bisa memfokuskan diriku. Aku melangkah cepat melewati halaman kastil, berjalan menuju suara keriuhan yang kutangkap ketika aku baru saja melangkahkan satu kakiku tepat keluar dari kastil asrama. Menara utama. Kenapa tidak terpikir sama se…

Remember Us - Ingatan yang Kembali

Aku sama sekali tidak tidur. Bahkan sedetikpun tidak. Dan entah mengapa akupun juga tidak merasa mengantuk. Aku lelah, aku tahu itu. Tapi disaat yang sama aku juga merasa bahwa tubuhku juga menghilangkan perasaan itu. Aku merasa segar tak lama kemudian, bahkan ketika aku sama sekali tidak tidur, tidak minum dan tidak makan. Helaan nafasku yang dalam terdengar dan aku bergerak, beranjak dari tempat tidur ini. Ini percuma, jika aku hanya berada dalam posisi ini semalaman dan mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan ini tanpa melakukan apapun. Aku bisa gila. Aku tahu Ed sudah tidak ada di rumah ini. Aku mendengar dia bangun, melakukan entah kegiatan apa dari suara langkah kakinya, lalu suara itu menjauh. Semakin jauh bahkan ketika suara pintu rumah yang diutup sangat pelan kudengar, dan langkah kakinya semakin menjauh, aku tahu dia pergi. Dengan tanganku yang dingin, aku mengusap wajahku. Mungkin masih ada sisa airmata di sana. Airmata yang aku tidak tahu kenapa bisa tumpah begitu saj…

Malaikat Hujan - Erel II

“Kita harus meluruskan ini. Dengar, Erel. Aku tahu lebih banyak tentang Nuna daripada perempuan manapun. Jadi aku tidak butuh mencari tahu lebih lagi. Aku tahu pasti dengan siapa aku akan memperebutkan Adrian. Dan.. “ Dilla menatapku, “Sekarang Adrian tak punya satupun perempuan di sisinya. Tidak Nuna, tidak pula aku. Meskipun aku berusaha keras membuatnya kembali padaku, dia menolak. Padahal perempuan sialan itu sudah meninggalkannya.” Mataku melebar, “Nuna? Nuna meninggalkan Adrian.” Dilla mengangguk, nampak jelas mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu apa hubungannya kau dengan semua ini. Tapi kurasa kau terlib—“ “Kau yakin benar bahwa Nuna meninggalkan Adrian?” potongku cepat. Aku tidak butuh Dilla mengucapkan apapun yang tidak penting bagiku. “Aku ada di sana. Sedikit banyak kurasa akulah yang menyebabkan perempuan sialan itu mengambil keputusan itu. Tapi kurasa itu tidak penting. Fakta yang kubutuhkan adalah, Adrian tidak lagi punya ikatan apa-apa dengannya jadi aku bi—“ Jadi Nuna m…

Xexa - Pengkhianatan

“Putra terkutuk itu menuntut haknya, pangeran kedua. Xexa akan ditemukan. Sang pengikut akan dibangunkan. Dan Sang Tuan menunggu. Masa kedua kegelapan Tierraz.. menuntut haknya atas bintang dan lentera yang melindungi Tierraz.” Dave terbangun dengan cepat dan gelisah disertai bayang-bayang tatapan Mohave yang mengintimidasi pikirannya. Tersengal-sengal, dia melihat ke sekitar. Ribi dan Fred bergelung tidak nyaman namun tetap lelap tertidur tak jauh darinya. Dia mengalihkan pandangannya, merasakan seseorang mengamatinya. Dan benar—tak jauh darinya—Ares, yang mendapat tugas berjaga, memandang ke arahnya dengan tatapan ingin tahu yang jelas. Dave menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan sebelum dia bangkit dan berjalan ke arah Ares, kegelapan menyelubungi mereka karena tak ada api atau apapun yang dibuat. Dave pikir itu yang terbaik, api mungkin menghangatkan tapi cahayanya jelas akan mengundang makhluk lain mendekat ke arah mereka. Hanya remang-remang cahaya bulan yang membuat merek…

Remember Us - Siapa Aku?

Udara yang kuhirup. Batang pohon yang kusentuh. Tanah yang kupijak. Langit penuh bintang yang kutatap. Semuanya mengisyaratkan kehidupan. Semuanya penuh dengan aroma kehidupan. Aku menghentikan langkahku, memandang ke depan. Atap-atap merah memenuhi pandanganku. Sejenak aku berhenti berpikir, memejamkan mataku. Mencoba merasakan sesuatu, dan satu-satunya hal yang bisa kurasakan adalah.. kekosongan.
***

Another Story - Janji

KABAR GEMBIRA!!! KABAR GEMBIRA!! Lappy-ku sudah sembuh, dia sembuh! Ahh ngga terkira bagaimana bahagianya aku. Akhirnya aku bisa nulis lagi. Endlich.... Well, pasti pada nanyain tentang RUkan? Sabar yah sayang-sayangku. AKu masih harus edit beberapa bagian dan yah meskipun lappynya uda sembuh. Dia ngga 100% sembuh. Mau tahu apa? Ngga ada Ms Office di dalamnya. Sedih banget. Aku nulis di Wordpad dan itu ngeselin banget. Oh aku pengen Ms. Word-ku. Hiks hiks.. tapi yahhh uda untung dia sembuh yah. Sudah untung sembuh :'') Duh kok banyak omong gini sih. Selamat membaca.  Love you all.. *ketjup* @amouraXexa

BSoD Kills Me

Hai.. aku tidak tahu bagaimana harus memulai postingan kali ini. Sejujurnya, sungguh.. daripada menulis postingan ini, aku lebih memilih memosting Remember Us atau Xexa tapi masalahnya, postingan ini memiliki akar rinci dengan mereka.

Remember Us - Pilihan

Haloo. Haloo... aku datang lagi. Maaf sekali jika postingan semua ceritaku sangat terlambat. Aku lagi malas sekali untuk menulis, soalnya ada setumpuk buku baru yang harus kubaca dan aku tidak bisa meninggalkan mereka. Muahahahha.. Well, karena yang uda ada banyak cuma RU, jadi ini yang bisa kuupload. Lainnya aku harus nulis atau ngedit dulu. Jadi untuk Xexa, Another atau yang lainnya sabar duluuuu yaa.. :D :D Ah aku ada satu pertanyaan.. jika aku menerbitkan HALF VAMPIRE secara indie (self publishing), apakah ada diantara kalian yang tertarik membelinya? Sebab aku berencana melakukan itu. Sekarang HV juga sedang masuk dalam daftar edit. Jawab pertanyaanku di kolom komentar ya, aku ingin tahu jawaban dari kalian. Ah astaga, aku mengoceh banyak. Hehehe maaf.. Nah, selamat membaca... :D amouraxexa ***