Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2015

Remember Us - Kebenaran yang Terlewatkan

Haloo semuanya.. senang sekali rasanya bisa mengupload chapter ini setelah melanggar janji karena aku bilang aku akan upload chapter baru RU paling lambat hari selasa kemarin. Tapi hari sabtu tidak terlalu terlambat juga bukan? Hahaha salahkan hostfamilyku yang tiba-tiba menculikku ke pegunungan Alpen di Austria. Well, tapi sudahlah.. kalian bisa membaca cerita ini segera dan aku masih harus sibuk mempersiapkan diriku mengepak koper untuk perjalanan lain setelah Alpen. Aku mungkin akan ke Middle Earth.. atau mungkin Westeros??
Astaga.. astaga.. abaikan pikiran gilaku dan selamat memabaca buat kamu, yang mencintai cerita ini. Aku mencintai kalian semua. 

Ketjup,
@amouraxexa


Remember Us - Tujuan Ed

“Aku akan mengantarmu ke sana.” Perlu beberapa detik bagiku untuk benar-benar menyadari apa yang dikatakan laki-laki di depanku ini, "Tunggu sebentar. Aku akan berkemas. Ini tak akan lama. Dan kita butuh lebih berhati-hati. Ingat jam malam." Dia mengucapkan kalimat-kalimat itu sambil lalu, meraih tas kulit yang tersampir di dekat perapian dan mengisinya cepat dengan begitu banyak benda. Selama dia melakukan itu, aku hanya mengamatinya. Separuh tidak percaya bahwa makhluk di depanku ini memiliki kepala yang berfungsi penuh. Menurutku kepala kerasnya itu kosong, itulah satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan kenapa dia begitu tidak konsisten dengan apa yang keluar dari mulutnya. "Kita berangkat." ucapnya setelah bermenit-menit yang lama. Aku menghela nafas, mengangguk.

Xexa - Sorglos

“Apakah kau sudah mau pergi, pangeran Dave?” Tubuh Dave membeku, dia sangat yakin dengan apa yang dia dengar. Suara Sorglos begitu jelas. Tidak ada kesalahan. Tapi bagaimana bisa? Dia memutar tubuhnya, menatap ke arah Sorglos yang tengah memandang ke arahnya. Dengan satu gerakan pelan, dia melepaskan selubung sihirnya. "Terkejut, pangeran?" "Bagaimana kau bi—" "Itu nanti, pangeran. Kita punya masalah lain yang lebih penting untuk didiskusikan daripada membahas kenapa aku bisa tahu kau menyusup ke dalam tendaku dan mencuri dengar semua pembicaraan pentingku dengan—Well, kau sudah tahu sendiri. Aku tidak akan mengulang apa yang telah dikatakan Actur padamu."

Malaikat Hujan - Nuna II

Aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Aku sudah kehilangan semua kesempatan untuk bahagia. Aku sudah kehilangan semuanya dan aku cuma bisa menangisi itu sekarang. Papa memelukku dengan lembut dan mengusap punggungku pelan. Aku masih terisak ketika papa memintaku berbaring dan tidur sejenak. Tidak ada bantahan sebab aku sudah terlalu lelah. Jadi aku membaringkan tubuhku perlahan dan papa menarik selimutku sampai batas leher. “Tidurlah sebentar. Papa tahu kau lelah. Apa papa perlu bawakan mentimun atau es untuk mengompres matamu? Kurasa itu akan bengkak besok, kau sudah banyak menangis sejak kemarin malam.” Aku tersenyum pahit, “Tidak, pa. Terima kasih.” Kurasa aku tidak akan memusingkan mataku yang sembab parah. Lagipula siapa yang akan melihatnya di tempat terpencil ini. “Kau lebih cocok tersenyum.”

Another Story - Keluarga

Aku berlari menuju kastil asrama. Aku berlari secepat yang aku bisa dan menerjang ke dalam ruangan pribadi Rena. Tapi ruangan itu kosong, hanya menyisakan sisa-sisa bau tubuhnya yang kukenali dengan benar. Aku kalut. Aku tidak menemukan semua orang. Aku tidak menemukan satupun heta ada di sekitar sini. Sial, kemana mereka semua? Memejamkan mataku, aku menarik nafas dalam. Menenangkan diri dan mulai memindai sejauh wilayah yang bisa dijangkau kekuatanku. Dimana? Dimana semuanya? Seharusnya tidak sulit mencari dimana keberadaan kerumunan manusia. Tapi sialnya terasa sulit ketika yang menguasai seluruh otak dan pikiranku adalah Rena. Aku membuka mataku cepat. Memaki diriku sendiri sebelum aku beranjak keluar dari ruangan Rena. Berada di sini semakin tidak bisa memfokuskan diriku. Aku melangkah cepat melewati halaman kastil, berjalan menuju suara keriuhan yang kutangkap ketika aku baru saja melangkahkan satu kakiku tepat keluar dari kastil asrama. Menara utama. Kenapa tidak terpikir sama se…

Remember Us - Ingatan yang Kembali

Aku sama sekali tidak tidur. Bahkan sedetikpun tidak. Dan entah mengapa akupun juga tidak merasa mengantuk. Aku lelah, aku tahu itu. Tapi disaat yang sama aku juga merasa bahwa tubuhku juga menghilangkan perasaan itu. Aku merasa segar tak lama kemudian, bahkan ketika aku sama sekali tidak tidur, tidak minum dan tidak makan. Helaan nafasku yang dalam terdengar dan aku bergerak, beranjak dari tempat tidur ini. Ini percuma, jika aku hanya berada dalam posisi ini semalaman dan mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan ini tanpa melakukan apapun. Aku bisa gila. Aku tahu Ed sudah tidak ada di rumah ini. Aku mendengar dia bangun, melakukan entah kegiatan apa dari suara langkah kakinya, lalu suara itu menjauh. Semakin jauh bahkan ketika suara pintu rumah yang diutup sangat pelan kudengar, dan langkah kakinya semakin menjauh, aku tahu dia pergi. Dengan tanganku yang dingin, aku mengusap wajahku. Mungkin masih ada sisa airmata di sana. Airmata yang aku tidak tahu kenapa bisa tumpah begitu saj…

Malaikat Hujan - Erel II

“Kita harus meluruskan ini. Dengar, Erel. Aku tahu lebih banyak tentang Nuna daripada perempuan manapun. Jadi aku tidak butuh mencari tahu lebih lagi. Aku tahu pasti dengan siapa aku akan memperebutkan Adrian. Dan.. “ Dilla menatapku, “Sekarang Adrian tak punya satupun perempuan di sisinya. Tidak Nuna, tidak pula aku. Meskipun aku berusaha keras membuatnya kembali padaku, dia menolak. Padahal perempuan sialan itu sudah meninggalkannya.” Mataku melebar, “Nuna? Nuna meninggalkan Adrian.” Dilla mengangguk, nampak jelas mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu apa hubungannya kau dengan semua ini. Tapi kurasa kau terlib—“ “Kau yakin benar bahwa Nuna meninggalkan Adrian?” potongku cepat. Aku tidak butuh Dilla mengucapkan apapun yang tidak penting bagiku. “Aku ada di sana. Sedikit banyak kurasa akulah yang menyebabkan perempuan sialan itu mengambil keputusan itu. Tapi kurasa itu tidak penting. Fakta yang kubutuhkan adalah, Adrian tidak lagi punya ikatan apa-apa dengannya jadi aku bi—“ Jadi Nuna m…