Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2015

Xexa - Kekuatan

“Kelahiran kembali dari Edna?” suara si pemuda tercekat, kulit wajahnya yang cokelat berubah menjadi pucat dan putih, nyaris transparan. Dave mengangguk, mengerti benar reaksi anilamarrynya. Setelah Memnus menelan semua kekagetannya, kulitnya kembali berubah menjadi cokelat dan matanya yang gelap mengamati sekeliling mereka. Sepi. Tak terlihat satupun makhluk lain selain dia dan penyihir pemiliknya. Cerita Dave tentang siapa Gabrietta sebenarnya masih bergaung di benaknya, mengalahkan suara deras sungai besar di bawah mereka. Mereka sekarang memang sedang berdiri di titian yang hanya terdiri dari susunan kayu-kayu yang dililit akar pohon. Namun jatuh ke sungai dalam dengan arus kuat sama sekali bukan hal yang akan dicemaskannya. Edna. Itulah yang patut dicemaskan sekarang. Danesh juga, jika Dave masih perlu diingatkan tentang masalah ini. Tangan Dave menggenggam kuat pembatas titian yang berupa rantng-ranting lentur yang berjalin dan tumbuh menyamping. Dia melirik pada Memnus yang sekar…

Remember Us - Peringatan yang Terlambat

Aku berjalan cepat menyusuri lorong kastil yang dingin dan gelap. Kugunakan semua kemampuanku untuk memindai keberadaan siapapun di kastil ini. Namun entah kenapa, aku tidak bisa dengan leluasa mengunakan kelebihan pada indera-inderaku di sini. Ada sihir yang melindungi kastil ini. Itu sudah jelas. Jadi aku tidak bisa banyak berharap dan hanya mengandalkan keberuntungan. Siapa tahu mendadak aku bertemu dengan Victoria. Tapi bermenit-menit menelusuri kastil ini, aku tidak bertemu Victoria atau siapapun lainnya. Kastil ini begitu sepi seolah sudah lama ditinggalkan.

Another Story - Bertemu Kembali

Teriakan kegembiraan dan gema lega memenuhi aula utama di kastil utama. Namun bagiku, ini seperti lingkupan ketakutan. “Sang pengganti calon ratu telah ditentukan. Temukan dia dan kita lepas duka atas Noura. Bawa Sherena Audreista ke kastil ini dan bayangan lemah ras kita akan lenyap. Tuntun atau seret sang heta dan beri dia seluruh kehidupan kita.”
Suara Illys seperti suara pengabar maut untukku. Nama itu begitu jelas dikabarkan dan tak ada heta lain dalam kerajaan manusia dengan nama itu. Hanya dia, hanya Renaku. 

Tentang Suka Pertama

Semalam, aku memimpikan seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah aku lihat. Seseorang yang menjadi pujaan hatiku ketika aku masih sangat belia. Aku tidak tahu kenapa aku mendadak memimpikannya. Tapi kupikir itu tidak masalah karena dengan mendapat mimpi itu, hari ini aku mengingat banyak hal indah yang membuatku tersenyum. Sebuah kisah tentang suka pertama. Kali pertama aku menyukai seorang cowok. Dan aku ingin membagi kisah ini di sini. Dalam mimpiku, aku melihat dia dan aku berteriak, “Ya ampun, sudah lama banget ngga ketemu!” lalu aku peluk dia dan dengan iseng mencium bibirnya selintas. Astaga, serius.. cuma selintas dan dia bengong lalu aku tertawa terbahak. Setelahnya berbisik dengan teman di sampingku, “Mumpung ada kesempatan.”. Sungguh, aku tidak tahu aku bisa seliar itu. :) Dia, sebut saja D—bukan Mr.D seperti yang di Percy Jackson ya—adalah teman sekelasku ketika aku berada di tingkat pertama sekolah menengah pertama. D ganteng dengan rambutnya yang lucu. Aku punya jul…

Mengabarkan Rindu

Kau tahu rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan itu? Apa kau juga tahu bagaimana rasanya disiksa oleh perasaan itu detik demi detik dan kau masih saja tidak bisa melakukan apapun? Jika kau tahu, mari kita bicara. Sebab aku ingin membagi perasaan sesak ini. Aku ingin membaginya agar aku tidak perlu terus menerus berdiam dalam luka yang mengikisku habis dari dalam. Aku merindukan banyak orang. Aku merindukan banyak hal. Dan rindu itu membunuhku perlahan. Aku menangis, tapi tidak pernah tahu kapan airmataku bisa habis. Aku ingin berhenti menangis, tapi setiap kali aku diam. Aku akan menangis lagi dan lagi. Sampai kebas dan bosan rasanya pada rasa sakit ini. Rasa sakit karena rindu yang tak pernah terbayar.

Xexa - Anilamarry

Ribi berjalan dengan kaki telanjang di sebuah lembah yang dingin. Dia tidak tahu dia ada dimana namun entah kenapa dia tidak merasa takut. Rumput-rumput terasa mengelitik kakinya ketika dia berjalan. Di kanannya, sebuah jurang kecil memperlihatkan sungai mengalir dengan airnya yang beriak bening. Dia masih saja melangkah meski dia tidak tahu kemana tujuannya. Pohon-pohon menjulang tinggi memagari sisi kirinya dan beberapa anak burung terdengar mencicit dari salah satu puncak pohon. Ada suara deras air terjun di depan sana dan mendadak Ribi seolah tahu bahwa di situlah tujuannya. Dia melangkah, menghindari beberapa bunga liar, dan terus maju ke depan. Ujung gaunnya yang berwarna merah lembut menyaruk-yaruk tanah dan dia tak peduli. Seolah ada sesuatu lain yang lebih penting baginya.

Remember Us - Mendekat

Hai kalian semua pengunjung setia blogku dan kalian yang mencintai cerita ini. Aku benar-benar meminta maaf karena mengupload lanjutan cerita ini lama sekali. Aku tahu.. aku tahu. Aku seharusnya mengupload cerita ini pada hari minggu tanggal dua puluh delapan seperti janjiku sebelumnya. Dan aku benar-benar sudah akan melakukannya jika saja charger netbookku yang memiliki sambungan internet, tidak rusak. Aku tidak tahu kenapa, sepertinya aku punya bakat untuk merusak barang-barang yang kugunakan jadi.. yah selama beberapa hari netbook dengan satu-satunya aksesku ke dunia maya itu cuma tergolek tak berdaya karena jiwanya habis. Pendek kata, ngga bisa dicharge soalnya kabel chargernya error. Atau mungkin—entahlah, aku gak ahli di bidang perkabelan. Well, tapi akhirnya, aku bisa mendapatkan akses internet lagi. Kurasa aku beli charger baru, lumayan nguras isi dompet sih, tapi gimana lagi. Aku juga butuh internet untuk mengurus semua urusanku dengan kampusku agar aku bisa langsung jadi an…