Skip to main content

Remember Us - Pulang


“Pilihannya hanya mati di sini, sekarang juga, atau bergabung bersama kami?”

Suara Nerethir menggema di dalam telingaku. Bahkan kuyakin di telinga semua vampir yang ada di sini. Nerethir mengucapkannya dengan jelas. Jika kami semua ingin hidup, maka kami harus bergabung bersama mereka.

Aku melirik hati-hati pada wajah serius Reven. Dia menatap lurus mata Nerethir yang sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Reven dengan wajah jenaka menyebalkan seolah dia telah tahu jawabannya.

Reven menarik nafas panjang, dadanya membusung. Ketegasan itu terukir jelas dan aku langsung tahu apa yang akan dipilihkannya sebagai takdir kami, para vampir.

“Kami akan bergabung.”

Dan langsung saja aku mendengar tawa puas Nerethir disertai tepukan tangannya yang menjadi satu-satunya suara di lapang luas ini. Sementara semua makhluk di belakangku bergerak gusar.

“Pilihan bijak.” katanya dengan masih tersenyum lebar. Dia menoleh, mengerakkan tangannya dan pasukan di belakangnya menurunkan semua senjata mereka yang sedari awal berada dalam posisi siap serang.

Aku memandang Damis, yang nampak pasrah dan membuang nafas panjang, “Kita tidak punya pilihan lain.” ucapnya menyadari tatapanku.

Dan aku hanya sanggup menganggukkan kepalaku dan meremas tangan Damis. Aku sendiri sedang berusaha mengusir semua keraguanku. Pilihan Reven berarti banyak hal bagi kami. Bergabung bersama pasukan aneh dan kuat yang ada di depanku, meninggalkan dunia ini dan pergi ke dunia asing. Dunia lain yang keberadaannya tak tersentuh bahkan kabar sedikitpun dari dunia ini. Aku tahu bahwa kehidupan yang dipilih Reven akan menuntut harga yang sangat tinggi. Namun aku pun juga mengerti, harga itu mungkin tidak akan sepadan jika pembantaian semua kaumku adalah taruhannya.

Sama dengan Damis, aku membuang nafas panjang. Menyerahkan diri pada keputusan sang pemimpin. Aku bisa merasakan bahwa nyaris semua vampir melakukan hal yang sama. Kepatuhan kami pada pemimpin adalah hal yang mutlak. Kelak, di dunia ini, mungkin tetap akan ada vampir yang hidup. Sisa-sisa dari mereka yang pengecut dan melarikan diri. Tapi kami semua yang ada di sini dan memilih tunduk pada pemimpin kami, adalah bangsa yang bersamanya aku bangga.

Aku bisa melihat Nerethir memberikan komando pada anak buahnya dan mereka semua menyebar ke dua arah. Membuka jalan bagi kami. Sekali ini, Nerethir kembali memandang ke arah Reven.

“Kau dan kaummu,” ucapnya sambil menunjuk kami dan memberikan tanda agar kami mengikutinya.

Reven menoleh ke belakang ke arah kami semua, dia mengangguk tegas dan tatapan matanya tak menyorotkan sedikitpun keraguan pada pilihannya. Pandangannya yang seyakin itu mengaliri kami semangat. Dan begitu Reven berjalan mengikuti Nerethir, kami semua yang ada di belakangnya berjalan pelan, mengikutinya.

***

Nerethir berhenti setelah kami berjalan memasuki hutan cukup jauh. Dia berdiri tepat di depan sebuah pohon yang nampak seperti pohon oak, tapi aku tak yakin apa itu memang pohon oak. Mengabaikan bagian itu, aku menyadari bahwa pohon ini adalah pohon dengan dedaunan paling rimbun di antara semua pohon yang ada di sekitar sini. Dan jika semakin aku memandangnya, aku seolah melihat energi asing menguar dari pohon ini. Energi asing yang terasa kuat.

Tangan Nerethir membelai batang pohon itu, “Ini adalah satu dari tiga pohon dari Tierraz yang ada di dunia ini. Ketika Alzarox dan aku menemukan keberadaan dunia ini di masa dulu, kami meminta Lagash membawa tiga benih pohon suci Tierraz dan menanamnya di sini. Lihat sudah jadi seperti apa benih itu sekarang.”

Kami semua memandang Nerethir, menunggu entah apa yang akan dikatakan dan dilakukannya, meskipun kami tak sepenuhnya paham, tak ada pilihan lain yang ada. Dan ketika akhirnya gerakan tangan Nerethir terhenti, ada entah ratusan nafas tertahan di belakangnya, nafas kami, para vampir

“Pohon ini akan menjadi jalan pulang kalian,” ucapnya dengan senyum yang entah kenapa justru tidak mengisyaratkan sesuatu yang baik. Aku bisa merasakan remasan tangan Damis dalam genggamannya di tanganku, kami sepaham dalam banyak hal kurasa. Aku, dengan semua keyakinanku berharap bahwa apa yang telah diputuskan oleh Reven bukanlah sesuatu yang kelak akan kami semua kutuk dan caci.

Angin berhembus aneh dan helai-helai rambutku beterbangan oleh pola tak tentu arah dari angin ini. Aku bisa melihat Nerethir memejamkan matanya dengan mulut mengucapkan sesuatu yang sama sekali tak sanggup kumengerti artinya. Tangannya sama sekali tak meninggalkan batang pohon yang disentuhnya. Tapi begitu matanya terbuka, tangannya juga mengayun meninggalkan batang pohon tersebut, dan dari tempat yang disentuhnya, muncul lingkaran asap kecil yang detik demi detik membesar sampai membentuk lingkaran besar yang cukup besar jika dilalui dua manusia dewasa. Lingkaran itu terbentuk dari kumparan asap abu-abu dan membentuk pola mengerikan dengan angin berpusing di sekitarnya.

Jika semua dari kami nampak ingin mundur, menjauh dari lingkaran apapun itu, yang seolah diciptakan dari sihir kegelapan, aku justru melihat binar lega dan bahagia di mata Victoria Lynch. Dia satu-satunya yang sepertinya tanpa sengaja melangkah mendekat ke sana. Tapi dengan cepat, Nerethir berdiri di depannya, mencegah Victoria berjalan lebih dekat lagi. 

“Tsk tsk tsk,” decaknya dengan gelengan kepala, “Ingat kedudukanmu, Victoria Lynch.”

Wajah Victoria menunjukkan kekagetannya. Tapi dengan cepat dia sanggup mengendalikan ekspresinya. Dia mundur, di belakang Reven yang sudah melangkah mendekat, memahami apa yang diinginkan oleh Nerethir. Dan begitu Reven mendekat, Nerethir memberikan jalan padanya. 

Reven berhenti tepat di depan lingkaran asap itu, aku bisa melihatnya menahan nafasnya. Dia berbalik, menatap ke arah kami, kaumnya, dengan tatapan yang memberi kami semua kekuatan. Meski entah kenapa aku sanggup merasakan cipratan keraguan milik Reven, aku masih bisa merasakan tekadnya untuk membuat kami semua tidak meragukannya.

Dagunya terangkat, dia mengitarkan pandangannya, dan dengan suara lantang Reven berucap, “Untuk kejayaan kaum vampir!”

Lalu gema kalimat yang sama dari mulut semua vampir menggema di seluruh hutan. Aku bisa merasakan semangat dan aroma kehidupan yang kuat. Reven berhasil. 

Dia tersenyum tipis, berputar dan berjalan masuk ke lingkaran itu tanpa keraguan lagi. Sekejap kemudian aku tak bisa melihat Reven dimanapun. Victoria menyusul tak lama kemudian. Aku menoleh pada Damis dan dia mengangguk. Aku melangkah pasti bersama Damis, kematian atau kehidupan di balik lubang itu, aku siap menghadapinya.

Dalam satu gerakan pelan, aku dan Damis berjalan bersama memasuki lingkaran asap itu. Kemudian, langsung aja bisa merasakan seolah es sedang menyelimuti tubuhku. Pertama kalinya, entah sejak masa yang lama, aku mengigil dan kepanasan pada saat yang sama. Seluruh tubuhku berdenyut menyakitkan. Aku berusaha menjerit namun tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku panik, dan bisa kurasakan maut memang sudah dekat. 

Ketika aku nyaris berpikir bahwa aku akan mati, bahwa Reven telah mengambil pilihan yang salah, tubuhku terdorong oleh suatu energi dan mendadak saja aku bisa merasakan kakiku memijak sesuatu. Aku terjatuh ketika keseimbangan tubuhku lenyap, bersamaan dengan bunyi debum aneh dari sampingku. Aku membuka mataku dan melihat tubuh Damis terbaring di sampingku, nafas kami sama terengah-engah.

“Da.. Damis..”

Damis beringsut bangsun, menatapku dan aku melihat wajah kesakitannya. Aku menyeret tubuhku, mendekat padanya ketika aku merasakan hangat cahaya yang menyentuh tubuhku. Aku mengangkat tanganku, gemetar, sebelum akhirnya aku mendongak, melihat matahari dengan gagahnya sedang bersinar menyinari dunia ini.

Mulutku terbuka lebar, siap menerima kematianku. Tapi yang terjadi, aku justru kehangatan balutan sinar matahari menyelubungiku dengan ramah. Hangat cahaya yang tidak akan membunuhmu. Masih gemetaran, aku menunduk, menatap tanganku sekali lagi, mengarahkannya pelan, menyentuh dadaku.

Deg. Deg. Deg.

Aku bisa mendengar degup cepat jantungku. Begitu cepat karena gugup dan keterkejutan yang kurasakan. Aku mencoba mengontrol degupnya, atau malah menghentikannya, seperti biasanya. Namun jantungku terus berdegup, dan kata-kata Victoria memenuhi isi kepalaku.

“Di Tierraz, vampir hanya hidup dari darah hewan-hewan sihir. Sedikit saja dan beberapa minggu tanpa kebutuhan makan akan kau dapat. Tidak ada perak yang akan sanggup menyakitimu. Tidak ada matahari yang akan membakarmu sampai mati. Jantung dan semua organ kita berfungsi selayaknya makhluk hidup. Tierraz adalah sebenar-benarnya dunia bagi kita, Rena.”

Sebenar-benarnya dunia bagi kita?

Aku mengangkat wajahku dan menemukan ekspresi wajahku di wajah Damis. Dia juga merasakannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi pada saat yang bersamaan dua sudut bibir kami sama-sama tertarik ke atas. Sebuah senyuman sangat lebar dan aku beringsut cepat menuju Damis, menerjangnya dengan pelukan sangat kuat sampai Damis terguling dengan aku di atasnya, memeluknya sangat erat.

“Damis..”

Mulutku tak sanggup mengatakan apapun, sensasi asing yang menyenangkan memenuhi seluruh diriku. Aku tertawa dengan air mata berderai-derai. Aku bisa mendengar Damis juga tertawa dan tangannya memeluk tubuhku rapat. Kebahagiaan.

Tierraz adalah sebenar-sebenarnya dunia bagi makhluk seperti kami.

Aku menenggelamkan wajahku ke lekukan leher Damis, membiarkan kebahagiaan baru ini menyegarkan seluruh diriku. Tanpa sedikitpun aku menyadari, ada sepasang mata yang memandang ke arah kami dengan tatapan asing. Tatapan asing yang pemiliknyapun tak tahu alasan kenapa dia memandang kami seperti itu.

***

Reven berdiri di depan Nerethir, mengabaikan semua suara girang kelompok di belakangnya. Dia mengangguk, menyadari bahwa tidak seharusnya dia berbahagia melebihi porsinya. Tanggung jawab lain sudah di depannya, dan dia harus menghadapi itu. Dia dan bangsanya bukan berada di dunia, yang disebut Victoria, Tierraz ini, untuk bersenang-senang. Dia ada di sini karena sebuah pertukaran nyawa dan sebuah kesepakatan yang dipahaminya jelas merugikannya. Tapi dia tak punya pilihan lain,

“Kurasa, kematian bahkan akan jadi sesuatu yang kecil jika dibandingkan dengan pulang ke Tierraz. Aku melihat itu semua dari mata bangsamu.”

Reven hanya memandang Nerethir, tersenyum, “Bisa jadi seperti itu,”

Salah satu sudut bibir Nerethir terangkat, “Kurasa aku mulai menyukaimu, membuatku teringat pada Luca,” katanya dengan tawa di sela ucapannya, “Baiklah, kurasa aku harusnya berbasa basi dulu denganmu, Reven. Bagaimana kalau memulainya dengan selamat datang di Tierraz. Selamat datang kembali.” dan kedua tangannya terentang, seolah menyambut sesuatu.

“Apa yang harus aku dan kaumku lakukan selanjutnya?”

Nerethir menurunkan kedua tangannya dan menatap Reven dengan memicing, “Kau menginginkan pola cepat? Tidak ingin membiarkan rakyatmu menikmati udara Tierraz dalam suasana tenang?”

Reven berbalik, mengikuti arah pandangan Nerethir dan di belakangnya dia bisa melihat berbagai raut gembira, mendengar dengungan kata-kata senang dan berbagai pelukan dan air mata yang menandakan satu hal, kelegaan berada di sini. Seolah inilah tujuan yang sempat hilang ketika mereka semua masih tinggal di dunia lama mereka. Dengan enggan, Reven terpaksa menarik nafas panjang dan kembali memandang Nerethir.

“Kuberikan sehari untukmu dan kaummu. Esok tengah hari baru kita akan berangkat menuju hutan Merrz.” lalu tanpa menunggu jawaban dari Reven, Nerethir sudah berbalik dan berjalan menjauh darinya. 

Reven memejamkan matanya, menarik nafas panjang, entah untuk keberapa kalinya. Ada perasaan lain yang menganjal. Ada hal-hal lain yang ingin dia lupakan. Hal-hal menganggu yang membuatnya justru merasa sesak di dadanya. Dia menarik nafas panjang, memberi udara berlebih pada paru-parunya.

Tawa itu.. pelukan itu..

Reven memaki kasar dan meninggalkan tanah lapang itu dengan marah. Dan dia tak pernah mengerti kenapa dia justru merasa marah. Tak juga mengerti kenapa, untuk siapa, dan apa yang membuatnya sekesal itu.

***

Setelah sepanjang sore membiarkan diri kami dikuasai kebahagiaan yang luar biasa—kami berlarian, tertawa, bermain-main di bawa sinar matahari seolah kami anak-anak kecil yang menerima hadiah menyenangkan—Reven membuat kami berkumpul dalam pertemuan khusus di tanah lapang di depan pohon yang tengah hari tadi menjadi jalan masuk kami ke Tierraz.

Mengenai pohon itu, aku sebenarnya tak yakin ini adalah pohon yang sama yang kulihat di duniaku sebelumnya, pohon yang di Tierraz ini terasa ribuan tahun lebih tua, tanpa sehelai daunpun, yang anehnya justru membuatnya memancarkan energi luar biasa kuat. Fokusku pada pohon ini tergantikan ketika suara Reven memenuhi tanah lapang ini.

“Kita harus tetap siaga,” ucapnya lantang dan jelas, “Aku tahu kalian semua senang berada di sini. Tapi itu bukan berarti jika kita boleh menurunkan kewaspadaan kita. Tetaplah ingat bahwa alasan sesungguhnya kita berada di sini adalah pertukaran nyawa. Kita akan berperang. Berada dalam satu legiun dengan para makhluk kegelapan.”

Dengung tidak senang, dan protes terdengar samar, tapi Reven tidak mengatakan apapun. Dia hanya membiarkannya, menunggu semua reda dan kembali bersuara.

“Kita sudah tahu jelas bahwa perang yang akan terjadi bukan perang sembarangan. Bukan hanya vampir, manusia serigala atau manusia. Tetapi justru makhluk-makhluk dengan kekuatan yang berkali-kali lipat dari kita. Victoria sudah menjelaskan banyak hal tentang Tierraz kepada kita sebelumnya, tapi kurasa, yang sebenarnya akan lebih sulit. Jadi, kalian semua, bersiaplah dan jangan larut dalam kebahagiaan berlebih.”

Reven berhenti, mengitarkan pandangan tegasnya. Dan dengan satu tarikan nafas panjang dia berbicara, “Kita berada di sini untuk berperang.”

***

Aku menarik nafas panjang, memandang taburan bintang Tierraz di langit malam. Entah kenapa aku merasa tidak tenang, meskipun aku sedang berbaring di hamparan rumput lembut dengan semilir angin malam yang membelai kulitku. Ada perasaan lain yang tidak kutahu kenapa justru membuatku kebingungan seperti ini.

Dengan gerakan pelan, aku memiringkan tubuhku dan menatap Damis yang terlelap di sampingku. Aku tersenyum. Matahari yang tidak lagi melukai, semua organ tubuh yang berfungsi normal, dan rasa mengantuk. Hal-hal yang rasanya sudah nyaris kami lupakan caranya, sekarang kembali pada kami. Rasanya memang tidak berlebihan jika Victoria bahkan menangis ketika untuk pertama kalinya kami menginjakkan kaki kami di Tierraz. Dunia ini adalah rumah kami. 

Rasa tidak tenangku memudar sedikit dan aku mengamati wajah tertidur Damis. Wajah yang tenang dengan suara nafasnya yang teratur. Siapa yang akan menyangka jika dia pernah melalui hal terburuk yang bisa dibayangkan oleh orang lain, kehilangan belahan jiwanya karena kematian. Lyra Corbis. Aku mendesah, entah kenapa kembali dipenuhi perasaan aneh itu.

“Berhenti memandangiku atau aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, Rena.”

Aku mengerjap dan kedua mata Damis terbuka, menatapku dengan senyuman di bibirnya, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Tarikan nafas panjang dan aku menggeleng, “Tidak tahu. Hanya belum mengantuk.”

“Kemarilah,” katanya.

Aku menrapatkan diriku pada Damis. Dia membiarkan satu lengannya menjadi tumpuan kepalaku dan lengannya yang lain merangkulku, menepuk-nepuk pelan punggungku, seolah sedang menyenandungkan lagu tidur lewat gerakan tangannya.

“Kau tahu,” ucapnya, “Jika kau selalu bermanja seperti ini padaku, aku bisa jatuh cinta padamu. Kau harus berhati-hati, Rena. Sebab ketika aku bisa mencintai seseorang lagi, aku tidak akan pernah membiarkan dia lepas dariku, selamanya.”

Aku tertawa, “Berhenti berkata hal-hal konyol, Damis.”

Dia menarikku semakin rapat, “Jika Reven tidak segera menyadari apa dirimu baginya, dan mengklaimmu sebagai miliknya, ini benar-benar akan berbahaya baginya. Aku tidak akan mengalah.”

Dengan kesal, aku melepaskan diriku dari Damis, duduk dengan wajah marah, “Aku tidak akan kembali padanya, Damis. Setelah apa yang dia lakukan padaku, kau pikir aku masih mau berlari ke pelukannya?” aku mendengus, “Aku justru bersyukur ingatannya tak kembali.”

Damis tertawa, lalu menarik tanganku dengan cepat, membuatku kembali berbaring di sampingnya.

“Berhenti bicara apapun, nona pemarah. Sekarang tidurlah. Besok akan jadi hari yang panjang, dan—“ dia memicingkan matanya, menatapku, “Jangan menatapku saat aku sedang tidur. Kau membuatku bermimpi buruk.”

Mulutku terbuka, “Mimpi? Kau bermimpi? Kita juga bisa kembali bermimpi?”

“Sssttt,” Damis menarikku merapat ke dadanya dan mendekapku sangat erat, “Waktunya tidur.” ucapnya tanpa memberiku waktu untuk memprotes tindakannya.

***

“Kau cemburu?”

Reven tak mengindahkannya dan Lucia menatapnya semakin intens. Dia menghembuskan nafas pendek, “Aku tahu. Kau cemburu pada mereka.”

Dengan cepat, Reven menolehkan kepalanya, memandang Lucia yang duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk bersandar pada satu-satunya pohon besar di tanah lapang ini, pohon tua yang menjadi gerbang perantara dunia ini dengan dunia lama mereka.

“Kenapa kau seyakin itu?”

“Kau sudah mengingatnya.”

Mata Reven memicing, dan Lucia tersenyum tipis, samar dan terluka.

“Aku mengamatimu, Reven. Aku melihatnya. Semua tatapanmu pada mereka. Semua tarikan nafas panjangmu. Semua kepalan tanganmu. Aku melihatnya. Kau mengingat siapa perempuan itu, bukan?”

Diam. Reven tak sanggup mengatakan apapun. Sebab semua yang dikatakan Lucia adalah kebenaran. Detik pertama ketika udara Tierraz masuk ke tubuhnya, dia merasakannya. Dia mengingatnya. Semuanya. Semua yang terjadi dan pernah dilupakannya.

Hal pertama yang ingin dilakukannya setelah itu adalah menemukan Rena, berlari padanya dan memeluk tubuh yang dirindukannya setengah mati itu. Tapi yang dilihatnya justru hal lain yang membuatnya marah. Marah dan tidak mengerti. Dan serpihan ingatan lain menghantamnya, kemarahan perempuan itu. Kebencian dan dendamnya padanya.

Perempuannya membencinya. Tidak ada perasaan cinta tersisa baginya. Reven masih mengingat ciumannya dengan Rena ketika itu, ciuman penuh amarah. Dulu dia tidak mengerti kenapa ciuman itu terasa berlumur dendam. Dan sekarang, dia memahaminya. Perasaan terbuang dan terkhianati yang dirasakan Renanya. Itulah sebabnya.

“Jika kau katakan padanya, kau mungkin bisa mendapatkannya kembali.”

Reven tertawa pahit, “Tidakkah kau lihat mereka berdua?” ucapnya nyaris tak terdengar dan matanya sama sekali tak lepas dari dua sosok di kejauhan yang saling mendekap erat dalam lelap mereka. Dia sudah melihat semua interaksi itu, dan setiap gerakan mereka membuatnya seolah terhujam pedang perak.

Dia tak mengerti kenapa dia masih merasakan semua perasaannya yang dulu kepada Rena. Victoria kehilangan cintanya pada Vlad dan begitu pula Vlad pada Victoria. Lalu kenapa berbeda padanya? Apakah Victoria berdusta padanya? Atau justru hanya Vlad yang memang bertekad untuk tidak lagi membiarkan Victoria mengisi kehidupannya. Mereka berdua melakukan ritual yang sama dan berakhir dengan membunuh satu sama lain dan kehilangan semua cinta yang dulu ada pada mereka. Bukankah begitu? Tapi ketika pertama mengingat semuanya, dia hanya merasakan kerinduan dan perasaan menyesal. Apakah Victoria berkata bohong padanya tentang apa yang dirasakannya pada Vlad setelah ritual itu?

“Jadi kau menyerah?” Lucia menunggu dengan cemas, dan ketika Reven tak mengatakan apapun. Dia menyisipkan tangannya pada lengan Reven, menyandarkan kepalanya di bahu tegang Reven.

“Jika kau memilih menyerah pada perempuan itu, maka izinkanlah aku masuk ke dalam dirimu. Biarkan aku hidup di dalam dirimu, Reven. Aku akan berada di sana. Aku akan menyerahkan sepenuh diriku padamu. Terimalah aku dan aku tak akan pernah meninggalkanmu bahkan ketika kau mengarahkan pedangmu ke leherku. Kau adalah segalaku, Reven.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Comments

  1. Yey aku yang pertama

    Kak akhirnya apdete juga gila reven udah inget yeeee tapi ih si lucia ribet usir aja sih si lucia irangvaku maunya rena -reven kak . Buat si revan makin panas ya kak

    Semangat ya kak apdete lagi ^^

    ReplyDelete
  2. Wahhh tambah seru ceritanya kak....
    Ditunggu update selanjutnyaa.

    ReplyDelete
  3. Alhmdllh, setelah hmpr 2 bln, update jg T_T, smoga berikutny ga smpe bulanan, aamiin.. akhrnya reven ingat jg, merasakan apa yg dirasakan rena
    Adegan romantis sma damis jg keren bkin mupeng
    please pake banget jgn lama2 updatenya ya thor, nanti aku tny2 lagi loh d twitter

    ReplyDelete
  4. Nyesex. . .baca part ini but is very2 nice.reven jgn nyerah za

    ReplyDelete
  5. aku suka rena-damis kak :D kayaknya aku udah ngomong begitu berkali-kali yaa kak.. soalnya menurut aku romancenya dapetan rena-damis daripada rena-reven. entahlah..
    dan damis berkata begitu, bukannya berarti dia emg udah suka sama rena yaa..

    ReplyDelete
  6. kalau menurut aku ya, perasaan rena ke damis kaya ke rena ke kakaknya.... (lupa namanya) :"D
    sebenernya aku berharap banyak sama rena-damis, tapi kayaknya damis masih belum bisa move on deh,
    dan ga tega ngeliat reven galau galau gitu :( kan ga lucu tampang udah sangar tapi galau galauan, ibarat kaya angry birds uring uringan lagi galau :"""
    ini perang yg dulu di xexa bukan sih mbak? kata mba ria kan ru tuh kejadiannya jauh sebelum xexa... nah di xexa aku ga pernah ngebaca dave ketemu sama bangsa vampir gitu gitu? apa di perang ini mereka kalah? haduh mendadak lemot mba :"""""

    apa rena jadi penjaga di xexa? iya ga sih mba? aduh aku banyak ngarang nih kayaknya :""
    pokoknya semoga perangnya menang. terus pengen ngeliat reven pdkt sama rena yang galak :3

    ReplyDelete
  7. Jadi pengen nangis pas baca ini. Agak gak rela Reven ngebiarin Rena gitu aja sama Damis. Masih berharap kalo Reven sama Rena.

    ReplyDelete
  8. Ih mslh pelepasan jiwa victoria kan memang mereka sdah spkt yntuk menghilangkan ikatan itu krna memang vlad ingin menyingkirkan viktoria demi kekuasaan, sedangkan revan dy melakukan ritul untuk menyelamatkan rena krna cin anya pda rena, mreka pasti akan bersama lg, trbukti dri xexa yg menyebutkan bahwa rena meninggal dlm penjagaanya pda xexa dan hanya tinggal belahan jiwanya, apa belahan jwanya itu damis atau msh revan...

    ReplyDelete
  9. Aku suka banget sama kemesraan Rena Damis,tapi rasa senengku gak bisa melebihi Rena Reven jika bersatu.Please kak jangan biarin Reven nyerah begitu aja dong sama Rena,di tambah lagi kan ingatan Reven udah balik itu.Gak rela kalau Reven main menyerah gitu aja.Serius gak rela juga kalau Lucia sama Reven,Reven juga jangan diam aja dong sama Lucia,tegasin.Pokoknya tetep penasaran dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya,

    (Puput_Kiki)

    ReplyDelete
  10. Baca part akhirnya yg nyesek...

    Pleaseee.. Jgn pisahin rena sama revan setelah sekian lama.. Sekian ratus tahun perjuangannya...

    Ngga sabar pengen tau lanjutannya perangnya..

    ReplyDelete
  11. Wew nyesek . Jngn pisahin reven huhu

    ReplyDelete
  12. Yeyyeyeyeyyeye akhirnya update setelah 1 bulan... Rena-Reven !!! Semoga Reven sabar yah...

    ReplyDelete
  13. Akhirnya update juga cerita inii, ya ampun aku rundu sekali dengan reba dan revan :D,

    ReplyDelete
  14. kak, update.nya keren bgt..gantian kak bikin panas reven, biar gantian dia yg ngejar si rena..capek tau jd rena, atau rena sma damis juga gpp..tetep semangat nulis, di wattpad lanjut jg ya kak :D

    ReplyDelete
  15. gilaaa makin seruuu...
    seneng udh update lagi walaupun lama yang penting di lanjut..
    semangaattt

    ReplyDelete
  16. Sumpah sedih banget jadi reven kak kpn lanjut rena jga gak pnya prasaan kasian reven'a.
    Huuuuuweeeeeeeeeeeeee
    Lanjut kak hehehehe.
    Blog aku blum ada tlisan'a kak hahahaha abis mau bkin cerita sibuk mulu bnyk tgs skolah. Dan aku jga gk ngerti cara pasng twoo udh di cba tpi gak bs

    Thanks kakak....

    ReplyDelete
  17. akhirnya reven ingat semuanya....SEMUANYA....
    rasanya antara kasihan dan senang melihat reven menderita seperti itu, tapi kenapa akhir (perasaan) rena-reven dan victoria-vlad berbeda meski melakukan ritual yang sama??

    ReplyDelete
  18. Ampun, penasaran banget , cepet lanjutinya yee hehehehehe :p

    ReplyDelete
  19. Lagi lagi lanjutin cerita na #unjuk rasa depan xax ria :P

    ReplyDelete
  20. kakakkkk...
    lanjut dong kak...
    kangen rena reven..

    Alifah

    ReplyDelete
  21. Cepetan donk ngupdate chapter berikutnya*pemaksaan*... Aww,kasian Revan siapa suruh ngelepasin Rena... Romantis bgt Damis ma Rena... Tuh Lucia lengket bgt sama Reven kaya lintah aja... {galau rindu Arshel hiks hiks}

    ReplyDelete
  22. Lanjut dong kakk
    nyesek bacanya entah kenapa hehehe

    ReplyDelete
  23. lanjutin dong kak...ceritanya keren bgts

    ReplyDelete
  24. apaan-apaan itu luciaaaaaaaaaaaa hihhhhhhhhhh apeng banget hahaha

    ReplyDelete
  25. Udah nunggu 1 bulan 5 harii tpii blm ada lanjutannya😢😢😢😢😢

    ReplyDelete
  26. Kk lanjutan kisahx kapan ni? :'(

    ReplyDelete
  27. Kak kok gk update2 sih ������

    ReplyDelete
  28. Ayo lah kak apdete udah 1 bulan nih kangen kak :"(

    ReplyDelete
  29. Aku suka banget kak sama cerita ini, update lagi dong kaaak

    ReplyDelete
  30. Yuos kak, sukaaa banget.. Aku pikir half vampire selesai begitu saja.. Ternyata ini trilogi yaa.. Keren.. Ditunggu kelanjutanya

    ReplyDelete
  31. next please, kakkkkk
    greger banget dah ni....

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.