Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Remember Us - Kelompok Baru

Reven memang sengaja melakukan ini. Aku tahu itu. Lihat saja, dia pikir dengan meletakkanku satu kelompok dengannya dan makhluk-makhluk aneh ini, aku akan melunakkan sikapku dengannya? Mimpi saja, karena aku bahkan tidak akan mau bicara dengannya. Jujur saja berada di kelompok ini memang menyebalkan dan mereka mengabaikanku karena menganggapku lemah sepertinya begitu.

Xexa - Putri Airella

"Apa rakyat di negeri ini tidak penasaran dengan wajah putri kerajaan mereka?"

Airella mengomel tidak jelas sambil melempar belati yang ada di tangannya ke arah batang pohon yang ada jauh di depannya. Belati itu menancap sempurna, sama lurus dengan arah lemparan Airella yang terlihat tidak bertenaga.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada mereka mumpung kita sedang ada di hutan bebas begini?"


Remember Us - Niat Awal

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Aku berkata dengan frustasi sambil menjambak bagian depan rambutku dengan kesal. Kenapa aku membiarkan kata-kata makhluk angin sialan itu mengacaukanku? Kenapa aku tidak bisa sedikit saja berusaha mengontrol diriku sendiri? Dengan meneriakinya begitu dan tergopoh pergi dari hadapannya sama saja mengisyaratkan bahwa semua yang dikatakannya adalah kebenaran. “Aku mencurigai makhluk angin bernama Memnus itu,” suara Damis semakin memberatkan kepalaku. Aku mendesah dan mengusap wajahku dengan lelah. Tidak bisakah aku punya hidup yang biasa-biasa saja?

Xexa - Pengkhianatan Lain

Dav
e bahkan sadar bahwa dia menahan nafasnya ketika dia melihat bangunan besar di depannya itu. Dia baru saja keluar dari kepungan semak-semak liar ketika menyadari tanah luas di depannya dan sebuah bangunan tua kokoh itu. Dia tak yakin apakah itu kastil karena arsitekturnya yang terasa berbeda dengan kastil-kastil yang pernah dibangun di Tierraz. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang ditata apik dengan bentuk sederhana. Satu menara tinggi dan sebuah balkon utama yang menghadap ke arahnya nampak dihiasi sulur-sulur cantik dan bunga rambat lainnya. “Tempat ini benar-benar ada.”

Surat Cinta Untuk Pembaca

Dear all,
Untuk kalian semua pembaca cerita-ceritaku. Maafkan ketidakkonsistenanku untuk memposting semua lanjutan ceritaku di sini. Serius deh, aku aslinya pengen banget bisa posting, tapi apa yang mau diposting kalau aku bahkan belum nulis lanjutannya sama sekali, cuma ada draft-draft mentah yang belum diolah sama sekali.

Aku sibuk sekali bulan-bulan ini. Target sidang skripsi di bulan Juni, sementara aku masih masuk bab dua dari jumlah total lima bab. Kalian yang uda ngerjain skripsi dan lolos dari jerat kejam ini pasti paham gimana susah dan keteterannya aku. Belum lagi aku ngga punya banyak waktu sisa karena aku juga harus kerja. Buat kalian yang mikir kenapa juga harus kerja kalau lagi repot bikin skripsi? Well, jawabannya karena aku gak punya pilihan. Titik. Selesai dan habis perkara.
Jadi aku mohon kesabaran dan kebesaran hati kalian yang udah nunggu-nunggu RU maupun XEXA. Aku tidak tahu kapan bisa posting chapter baru mereka. Jika memang ada waktu, aku pasti ngelanjutin nulis. T…

Remember Us - Pertemuan Lain

Last update bulan Januari lalu?? Astaga.. astagaaaa.. Maafkan aku. Aku tahu itu keterlaluan. Tapi aku sungguh-sungguh dimakan kesibukkanku. Kupikir berada di Indonesia, aku akan segera punya berjubelan waktu luang. Ternyata malah.. Apalagi semester ini aku mulai menghadapi realita paling mengerikan dari kehidupan kampus : SKRIPSI. Ditambah aku juga kerja part time. Maka lengkaplah sudah, aku kehilangan kebebasan dan banyak waktu luangku. Sebagian besar waktu luangku yang kupunya hanya setelah aku pulang kerja, yang mana itu, tentunya aku sudah capek setengah mati dan hanya punya satu keinginan : tepar. Hahahha malah curcol. Ah ya sudahlah. Selamat membaca kalian semua.. Terima kasih sudah sabar menunggu Rena dkk.
Xoxo, @amouraXexa

Xexa - Teman

Fred tak pernah merasa sebingung ini sepanjang hidupnya. Tapi semua yang menimpanya saat ini benar-benar membuatnya tak sanggup menentukan langkah. Dan denyut menyakitkan di punggung telapak tangannya justru memperburuk segalanya. Belum lagi apa yang sudah dilakukannya pada Gabrietta. Gadis itu tidak tahu apa-apa dan tidak seharusnya dia memperlakukannya seperti itu. “Pangeran..” Dia memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan kasar dan cepat sebelum menoleh pada anilamarrynya. Seorang laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam menatapnya dengan sepasang mata kecil tajam yang tak asing lagi. “Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu.” ucapnya kesal meski tahu itu tak berguna. Ahriman selalu memanggilnya dengan sebutan itu sejak dia memberitahunya secara langsung bahwa dia adalah Danesh, sang pangeran terkutuk. Pangeran terkutuk? Fred mendengus lelah. “Anda harus segera memutuskannya,”

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.