Skip to main content

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin.
Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.


Tubuhku bergetar bahagia, dan aku sadar aku tak bisa menahannya lagi karena bulir-bulir air mata itu sudah membanjir begitu saja. Turun membasahi pipi dan jatuh ke di antara bunga-bunga ungu di sekitar kakiku.
Aku mendongak terkejut dan menoleh dengan gugup ketika merasakan seseorang menyentuh tanganku dan menggenggamnya erat. Lalu di sanalah, dengan tubuh tegak, dan sepasang iris hijau yang memandang lurus ke depan, dia masih mempesona seperti biasanya.
Noura..”
Dia menoleh pelan, menelengkan kepalanya, dan tersenyum padaku. Senyum yang begitu lembut. Begitu tulus. Beg—
Rena!!!!”
Aku mengerjap dan nyaris melonjak, bangun dari tidurku. Aku terduduk, dengan kebingungan ketika mengamati sekelilingku. Matahari berwarna jingga di arah timur, dan langit memerah malu. Padang rumput di dekatku menguarkan bau basah embun pagi yang segar dan—tunggu
Dengan cepat, aku menoleh ke arah kanan dan mendapati Damis yang memperhatikanku seolah aku adalah makhluk asing. Tapi begitu sepasang mata kami bertemu, dia menyentuh kepalaku dengan telunjuknya dan mendorong kepalaku ke belakang dengan pelan.
Kau, baik-baik saja, bukan?”
Aku menampik tangan Damis dengan kasar, “Apa yang kau lakukan? Kau mau membuatku mati kaget karena bangun dengan tiba-tiba seperti tadi?”
Damis menggeleng, “Melihat wajah bangun tidurmu yang bodoh terasa lebih baik daripada aku harus melihat kau tertidur dengan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Aku bahkan takut melihatmu tadi.”
Tersenyum dalam tidur?”
Damis mengangguk dengan sangat bersemangat, “Dan sangat lebar. Aku bahkan khawatir kau meneteskan air liurmu ke lenganku.”
Tutup mulutmu, Damis.”
Damis terkekeh dan berdiri dari duduknya, “Setidaknya menyenangkan mengetahui kau mendapat mimpi indah.” ungkapnya pelan, dan aku bersumpah melihat ekspresi yang sama di wajahnya seperti ketika dia dulu memeluknya saat berbicara tentang kematian Lyra. Apakah Damis memimpikannya? Lyra Corbis?
Lalu sialnya, seperti mengetahui jalan pikiranku dan kemungkinan lontaran pertanyaan dari mulutku, Damis langsung memalingkan wajahnya. Mengamati sekeliling kami yang masih sepi. Beberapa vampir sudah bangun dan banyak lainnya yang nampak masih sangat menikmati tidur pertama mereka.
Kurasa membersihkan tubuh akan jadi ide yang bagus. Kau mau ikut, Rena? Kupikir ada sungai mengalir tak jauh dari sini.”
Aku berdiri dan mengangguk, “Tentu.”

***

Apa maksudmu dengan kau tak tahu, Victoria?”
Victoria diam, mengamati wajah berang Reven diantara terpaan matahari dini hari yang masih samar. Reven membangunkannya dan membawanya jauh ke tempat ini hanya untuk melemparinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah bisa ditebaknya jauh-jauh hari.
Hari ini akhirnya datang juga, pikirnya.
Aku tak tahu kenapa kau masih mencintainya sementara dia justru membencimu setengah mati.” Victoria mengamati ekspresi Reven yang kebingungan dan marah pada saat yang bersamaan, “Aku bersungguh-sungguh mengatakan ini, tapi kurasa kau tak akan punya kesempatan lagi. Perempuan itu mengingat semuanya dan hanya amarah yang tersisa untukmu.”
Reven mengusap wajahnya dengan frustasi, “Aku tahu.”
Sepertinya sihir di Tierraz sudah membangunkan ingatan lamamu yang mati. Tapi sihir yang sama tak bisa digunakan untuk membangkitkan perasaan cinta yang sudah tumbuh jadi dendam. Kau tak perlu menanyakan apapun lagi. Kau kalah, Reven. Jadi menyerah saja dan fokuslah pada hal lain. Kau punya tanggung jawab besar yang menunggumu beberapa saat lagi.”
Aku juga tidak berharap memiliki kesempatan lain, Victoria. Aku hanya ingin tahu kenapa aku masih memiliki perasaan yang persis sama seperti dulu sementara Rena tidak. Kau dan Vlad—“
Kami berbeda, Reven,” potongnya cepat, “Mungkin alasan yang mendasari ritual itu bisa menghasilkan efek yang berbeda. Vlad melakukannya padaku untuk membuatnya semakin kuat. Dia tidak ingin memilikiku sebagai kelemahannya. Dia tidak menginginkanku ada di sampingnya sebagai belahan jiwanya. Keserakahannya adalah satu-satunya alasan kenapa dia bisa melakukan ritual kejam itu padaku. Tapi kau, kau melakukannya untuk melindungi perempuan itu. Kau membuat kalian berdua saling melupakan agar kau bisa menjaganya. Agar kau bisa tetap hidup dan sanggup melindunginya tanpa menyia-siakan kelompok dan tanggung jawabmu sebagai pemimpin bangsa vampir. Kecintaanmu padanya adalah alasanmu.”
Reven mendengus, “Dan itu tidak berguna lagi sekarang.”
Victoria hanya menarik nafas panjang, “Dulu kupikir akan menyenangkan ketika akhirnya aku bisa melihatmu mendapatkan kembali ingatanmu. Mungkin aku bisa menikmati kalian menghancurkan satu sama lain seperti yang terjadi padaku dan Vlad. Tapi melihatmu sekarang, aku meragukannya. Aku bersimpati padamu, putraku.”
Helaan nafas panjang dan Reven berpaling menatap ke arah lain ketika dia mendengar suara tawa di antara kecipakan air di kejauhan. Dia dan Victoria memang berdiri di tepian sungai jernih tak jauh dari padang rumput tempat kelompoknya beristirahat. Tapi sebelumnya, tempat ini begitu hening sampai akhirnya ada suara-suara itu.
Kita tahu benar suara milik siapa itu.” gumam Victoria dengan gerakan pelan, melirik ke arah Reven.
Namun Reven sama sekali tidak memedulikannya dan langsung berbalik cepat, meninggalkan tempat itu. Membiarkan Victoria menatap punggungnya yang menjauh pergi.
Seandainya tidak ada masalah dengan Luca dan Alzarox yang menunggu di depan kita, aku akan sangat menikmati pemandangan ini.”

***
Pagi baru saja benar-benar datang dan matahari sudah mulai terasa hangatnya ketika kami semua berkumpul di depan Reven. Entah kenapa aku merasa bahwa dia lebih terlihat berwibawa kali ini. Kali ini aku akan menyingkirkan perasaan benciku padanya dan menganggap dia sepenuhnya sebagai pemimpin. Kami berada dalam situasi mendesak sekarang dan sekali ini aku akan bersikap selayaknya seorang vampir.
Reven mengakhiri ucapan panjang lebarnya tentang alasan kami berada di sini tepat ketika kami melihat Nerethir dan kelompok anehnya berjalan keluar dari hutan di kejauhan dan berjalan menuju kami. Aku melihat Reven menarik nafas panjang sebelum dia melangkah ke arah Nerethir, berdiri di satu tempat dan menunggu. Punggungnya tegak dan rambutnya yang mulai memanjang hingga sampai ke tengkuknya nampak bergoyang-goyang karena angin. Terpaan cahaya keemasan matahari yang menyentuh punggungnya, entah kenapa membuatku teringat masa-masa dulu.
Aku mendesah, antara marah dan kesal. Tidak tahu kenapa aku malah teringat pada masa-masa bodoh itu. Masa dimana kuabaikan Ar dan Morgan demi dia. Aku memilih Reven. Membuat tiga tahunku yang berharga dengan Ar terasa sepah karena menunggu dan merindukannya. Mendadak aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku merindukan masa-masa ketika aku memujanya? Sudut bibirku tertarik ke atas dengan jelas, aku tahu jawabannya tanpa berpikir lama.
Damis menyentuh lenganku, “Kenapa kau tersenyum seperti itu?”
Membayangkan apa yang akan terjadi pada kita semua setelah ini.” jawabku berbohong. Aku hanya tak ingin mengatakan pada Damis bahwa seluruh isi kepalaku sedang memaki-maki pemimpin bangsa kami. Sebab ya, jawaban dari pertanyaanku adalah segala makian untuk Reven. Merindukan masa dulu? Omong kosong bodoh.
Nah, kalian sudah siap ternyata. Tidak terlalu mengecewakan.” Suara Nerethir terdengar penuh semangat dan dia masih memiliki senyum yang sama di wajahnya. Senyum yang menurutku tidak akan menyiratkan hal yang bagus. Aku tidak menyukai orang ini sama sekali, dan entah kenapa aku juga ragu jika aku akan menyukai orang-orang yang ada di Tierraz.
Tepat ketika aku memikirkan hal itu, aku sadar bahwa pandangan Nerethir sedang berhenti padaku. Aku menelan air ludahku dengan kesulitan. Apa dia bisa membaca pikiranku? Apa makhluk-makhluk di Tierraz juga punya keistimewaan seperti bangsa vampir?
Tapi ketika Nerethir segera mengalihkan pandangannya dan kembali memandang ke arah Reven, aku bisa merasakan kelegaan mengaliri diriku. Entah kenapa aku tidak suka dengan cara Nerethir memandangku. Mengingatkanku dengan caranya menatapku dulu ketika dia mengatakan bahwa aromaku tercium tidak asing, seperti aroma penyihir.
Aku harus berhati-hati tentang fakta bahwa memang benar adanya bahwa sebagian darahku adalah darah seorang penyihir murni terakhir yang ada di duniaku. Akhtzan, ayahku, jelas tak bisa kukatakan sebagai penyihir biasa jika melihat apa saja yang dia bisa lakukan dan telah dia lakukan. Dan semua itu jelas tidak akan membuat Nerethir atau para makhluk kegelapan lain senang. Penyihir adalah musuh mereka, yang mana artinya juga musuh kami sekarang.
Selanjutnya, tak banyak lagi yang bisa kuingat selain omongan basa-basi antara Nerethir dan Reven sebelum mereka memimpin kami semua berjalan ke arah hutan. Masuk jauh lebih dalam. Aku tak bisa mengingat sudah berapa lama kami semua berjalan membelah kerimbunan hutan, karena aku terlalu sibuk memperhatikan semua hal yang ada di sekelilingku. Aku tak sanggup mendiskripsikannya dalam bahasa yang tepat, tapi bahkan pepohonan di Tierraz seolah menghembuskan aroma sihir. Kekuatan tanah dan semua elemen alam yang berkobar menenangkan. Seandainyapun aku tersesat di tempat ini seumur hidupku, kurasa aku tidak akan pernah bosan.
Tapi kesadaran lain menghantamku dengan kuat. Aku dan bangsaku datang bukan untuk berpelesir di dunia ini. Kami datang untuk berperang. Dan ujung dari perjalanan di hutan kali ini akan berakhir pada perjumpaan kami pada sosok Luca. Aku menghembuskan nafas panjang, mencoba membayangkan sosok seperti apa Luca ini ketika Damis mendadak menyentuh lenganku.
Aku hanya memandang ke arahnya ketika Damis menarikku ke tepian rombongan dan kami berjalan pelan. Aku mengangkat kedua alisku, tak mengerti dengan tindakan aneh Damis. Tapi Damis hanya mengangkat kedua bahunya dan kami melanjutkan langkah kami, berjalan di barisan paling belakang.
Kau tahu bukan, apa yang akan kita temui di depan sana?”
Aku hanya mengangguk, “Tentu saja. Kita akan bertemu lagi dengan perempuan api yang waktu itu. Kurasa tidak akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.”
Damis mengangguk, namun aku tahu ada sesuatu lain yang nampak menganggunya, “Ada apa?” tanyaku akhirnya ketika Damis tak nampak juga akan mengutarakan ganjalan yang ada di kepalanya.
Kau sudah mendengar semua tentang Luca dari Vic dan makhluk angin bernama Nerethir itu, kan? Entah kenapa aku merasa punya firasat buruk dengan makhluk bernama Luca itu.”
Luca jelas bukan seseorang yang akan menjamin kita bisa hidup tenang di sini. Apapun yang terjadi, kupikir kita harus bertahan. Aku ingin hidup di dunia ini lebih lama.”
Damis menatapku lama, kemudian tersenyum dan mengangguk, “Kita akan bertahan. Kita harus.”

***

Aku mulai merasa hawa yang aneh ketika rombongan kami mulai memasuki sisi hutan yang lebih dalam dan gelap. Aroma hutan ini berbeda dari hutan yang beberapa saat lalu kami lewati. Pohon-pohon terlihat lebih tua dan besar di sini, dengan akarnya yang menyembul dan berjalar di atas tanah dengan diameter setengah dari batang pohon utama.
Bahkan ketika aku mendongak, rerimbunan dedaunannya terasa jauh sekali. Helaan nafas panjang, aku kembali memandang depan seraya mengusap lenganku yang terasa dingin. Seharusnya ini sudah tengah hari, namun aku bisa melihat kabus tipis di sekelilingku. Kurasa sinar matahari saja sudah menyerah untuk menerobos hutan ini.
Damis nampak antusias dan melihat sekeliling kami dengan teliti. Aku beberapa kali menemukan dia berhenti dan menyentuh batang pohon terdekatnya. Dan sebelum kami berdua tertinggal rombongan yang berjalan di depan, aku terpaksa harus menyeret Damis agar segera berjalan dengan cepat
Damis.. Sherena..”
Aku yang sedang menyeret tangan Damis otomatis berhenti, menatap James yang nampak memandang kami dengan kedua alis saling tertaut.
Ya?”
Dia menarik nafas panjang, “Victoria meminta kalian berjalan di depan. Kita akan segera memasuki wilayah utama hutan Merrz.”
Hutan Merrz?”
Nama hutan ini.”
Aku ber-oh panjang dan James memicingkan matanya menatapku dengan tidak suka. Tapi kami tak memperpanjang percakapan tidak penting ini karena Damis segera memberi kode pada James untuk pergi. Kami bertiga berjalan membelah kerumunan yang langsung menepi dan memberi jalan bagi kami.
Ketika akhirnya kami berada tepat di belakang Victoria, Reven memberi tanda agar kami semua berhenti, dan dari balik bahu Victoria, aku bisa melihat sebuah kastil yang—aku bahkan tak yakin apa itu memang kastil—luar biasa aneh. Seolah-olah kastil itu terbuat dari bukit tinggi menjulang seperti anak gunung yang berbentuk mengerucut ke atas. Dinding luarnya terbuat dari batuan berwarna coklat kemerahan gelap dengan helaian sulur-sulur panjang di kanan dan kiri lubang besar—yang kuyakin adalah pintu utama kastil ini.
Tangan Victoria mengepal kuat dan aku yakin, di tempat inilah dia melihat dua putrinya, Valerie dan Midelle, dibunuh oleh Luca, seperti yang diceritakannya. Aku berjalan pelan, berhenti di samping Victoria.
Kau yakin kau bisa menghadapi semua ini?”
Victoria tersenyum, “Vampir bukanlah bangsa pengkhianat. Tak juga pengecut yang lari dari sumpah yang sudah diucapkannya.”
Aku diam. Kurasa Victoria sudah memilih jalannya, seperti kami semua.
Tepat ketika aku kembali memandang pada pintu utama kastil yang besar dan tak berdaun pintu itu, aku melihat bayangan gelap melangkah dari sana. Dengan penuh keyakinan, aku menarik nafas panjang.
Mari kita hadapi ini semua.
Dan kemudian, di sanalah mereka. Berjalan dengan tubuh berbalut jubah hitam dan sebuah mahkota batu hitam bertengger menantang di puncak kepalanya, menjadi pusat dari rombongan yang berjalan ke arah kami. Apakah itu Luca? Aku menerka-nerka tanpa bisa menyembunyikan perasaan khawatirku.
Pic : ALZAROX
Source: https://www.instagram.com/frecklesfairychest
Selamat datang kembali, Victoria Lynch.”
Tapi bahkan ucapan selamat datang itu tak bisa menyembunyikan bagaimana semua pasang mata yang ada di belakangnya memandangi kami semua dengan tatapan benci. Aku bahkan bertanya pada diriku sendiri bagaimana mereka semua bisa menahan kebencian itu tanpa melakukan sesuatu. Jelas sosok—yang tentunya Luca ini—memiliki kuasa yang tertinggi di antara semua yang ada di sini.
Victoria mengangguk, dan diawali dengan Nerethir dan kaumnya, dia menunduk dalam dan penuh penghormatan kepada sosok itu. Kami yang di belakang Victoria mengikutinya dengan patuh. Tak ingin mengambil resiko apapun di awal pertemuan ini.
Dan ketika kami mengangkat kembali kepala kami, memandang sosok yang kali ini tersenyum, aku merasa lega. Nerethir maju dan mengangguk pada si pemimpin, “Aku membawa mereka langsung padamu, Alzarox. Vlad, seperti yang dikatakan Edna, sudah mati dan pemimpin kaum vampir sekarang adalah bocah laki-laki itu.”
Aku melebarkan mataku mendengar bagaimana Nerethir berbicara tentang Reven pada Alzarox. Sebagian diriku kecewa karena yang kupikir Luca ternyata bukan dia dan malah sang pemimpin langsung yang sesungguhnya. Aku bahkan melupakan cerita Victoria tentang Alzarox dan hanya mengingat tentang Luca karena semua kisah lain yang kudengar hanya menyeritakan tentang betapa seolah Luca-lah yang merupakan kunci utamanya.
Alzarox mendengus, “Jadi kau memberikan hak kepemimpinanmu pada bocah itu, Victoria?” suara dalam itu penuh ejekan dan aku bisa merasakan bahwa Victoria menahan dirinya dengan sekuat mungkin agar tidak lepas kendali.
Victoria maju—menjajari Reven yang tahu bahwa belum saatnya dia berbicara—memberi hormat singkat pada Alzarox, “Reven lebih dari sekedar pantas untuk menjadi pemimpin kaumku, Alzarox. Kuyakinkan padamu bahwa kali ini, sumpah kami padamu tak akan pernah ternoda. Tak akan ada pengkhianatan lagi dalam darah bangsa vampir.”
Alzarox memicingkan matanya, menatap Victoria dengan dalam sebelum tangannya bergerak dan bertepuk tangan pelan. Suara tepukan yang menggema menjadi satu-satunya suara diantara semua hening yang terasa asing. Bahkan seolah, hutan yang mengeliling kastil aneh ini pun tak berani untuk menganggu sang pemimpin.
Dan untukku sendiri, aku bahkan merasakan aura gelap yang berpendar kuat dari Alzarox. Aura yang bahkan dengan hanya melihatnya saja, aku merasa tidak berdaya. Aku memang baru saja menyadari tentang kemampuanku membaca aura. Kupikir aku hanya melihat apa yang semua orang bisa analisa dengan melihat gestur tubuh orang lain. Tapi perlahan-lahan, yang kulihat berubah dari sekadar perasaan menjadi sesuatu yang visual dan hari ini, berkat aura gelap yang sangat kuat ini, aku sadar berkat lain yang kumiliki ini.
Aku mengalihkan pandangaku dari Alzarox dan tepat saat itu juga, sepasang mata di belakang sosok sang pemimpin mengunci pandanganku. Itu iris mata paling gelap yang pernah kulihat. Bahkan sepasang iris Vlad yang dulu membuatku takut, tak akan ada apa-apanya jika dibandingkan miliknya. Seolah saja, jika hanya dengan memandang matanya, aku bisa terjatuh dalam sebuah lubang gelap tanpa dasar.
Bibirku separuh terbuka, antara terkejut dan tak bisa menghindari tatapannya. Aku tidak tahu, kenapa alih-alih Reven atau Victoria, pemilik mata gelap itu justru menatapku. Mencoba menghindari tatapannya yang intens, aku beralih mengamati wajahnya. Dan itu menjadi kesalahan terbesarku karena wajah itu adalah wajah paling tampan yang pernah kulihat. Aku seharusnya sudah terbiasa dengan wajah sempurna milik kami, para vampir, tapi wajah miliknya adalah sesuatu yang berbeda. Rahang tegas dan tatapan tajamnya, dipadukan dengan rambutnya yang segelap malam dengan—tunggu.. apa yang sebenarnya sedang kupikirkan.
Menelan air ludahku, aku tanpa sengaja beradu tatap dengan sosok di sampingnya, sang putri api. Salah sudut bibirnya tertarik ke atas, sepertinya menyadari siapa yang sedari tadi kuamati. Lalu dengan gerakan sangat lambat, dia menggenggam tangan milik laki-laki di sampingnya. Dan tahulah aku siapa laki-laki yang nyaris menjatuhkanku dalam auranya yang kuat dan gelap.
Luca..
Glek, kedua kalinya aku menelan air ludahku dan kali ini terasa lebih susah. Aku membayangkan Luca sebagai sosok yang menyeramkan dalam arti sebenarnya dengan wajah yang akan membuat sosok lain mengerut takut. Tapi sepertinya memang tidak sepenuhnya salah, sebab Luca memang sanggup melakukan itu. Dengan hanya tatapan, dia sanggup mengintimidasi lawannya sampai menyerah kalah tanpa melakukan apapun. Hanya saja, aku tak membayangkan jika—
...kau mendapatkan kesetiaan kami, Alzarox. Aku bersumpah atas kehidupanku dan kaumku, kami adalah bagian dari kelompokmu. Satu pengkhianatan, aku akan langsung menyerahkan kepala mereka padamu tanpa keraguan sedikitpun.”
Ucapan tegas Reven menghentikan semua isi kepalaku yang sepertinya sudah diluar kontrolku. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan Reven mulai berbicara. Bukankah tadi masih antara Victoria dan Alzarox?
Damis yang sepertinya tidak mengerti kenapa aku justru terlihat kebingungan, menoleh padaku dan mengangkat dagunya ke arahku. Aku menggeleng, sadar bahwa akan sangat tidak bagus bagi negosiasi sialan ini jika aku dan Damis malah bicara sendiri.
Aku hanya berharap semua omong kosong ini segera selesai karena aku tidak sanggup lagi merasakan tatapan Luca. Dia masih memandangiku dan semakin lama dia melakukan itu, semakin aku takut pada isi kepalanya. Dalam saat-saat seperti ini, aku benar-benar berharap aku punya berkat seperti Dev yang dapat dengan mudahnya mengetahui apa isi pikiran orang lain.
Apakah Luca menyadari bahwa ada darah penyihir dalam tubuhku?
Mendadak pemikiran itu membuatku takut. Apakah dia akan langsung membunuhku setelah ini? Tidak, dia tidak boleh. Aku menarik nafas panjang. Tidak. Luca tidak mungkin tahu. Aku hanya terlalu berlebihan saja. Ya benar, aku hanya terlalu berlebihan. Satu tarikan nafas panjang yang lain dan aku mengalihkan pandanganku pada Alzarox yang sepertinya sudah menerima sumpah Reven padanya.
Ketika Alzarox akhirnya memberikan pertanda pada Reven bahwa dia mempersilakan kami semua masuk ke kastilnya, aku menghembuskan nafas lega. Aku baru saja akan berbaur bersama vampir yang lainnya dan bergegas masuk ke kastil itu agar terhindar dari Luca, ketika tangan lain menarikku menepi dengan cepat dan kasar. Aku bahkan tak punya waktu yang cukup untuk menjerit kaget atau melawan.
Apa yang kau lakukan? Kau mengenalnya? Kenapa dia memandangimu seperti itu?”
Aku mendongak marah ketika menyadari suara milik siapa itu. Dia masih mencengkeram erat satu tanganku, dan sepertinya tidak menyadari hal itu.
Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” bentakku keras dan dengan satu sentakan melepaskan cengkeramannya.
Selama beberapa detik, Reven nampak bingung. Sebelum akhirnya menatapku lagi. Aku menyadari ada tarikan nafas panjang sebelum akhirnya dia membuka lagi mulutnya.
Luca bukan seseorang yang bisa kau ajak bermain-main, Sherena. Aku tidak tahu apa yang salah sehingga dia menatapmu seperti itu. Tapi kuperingatkan padamu, kali ini jangan melanggar garis batasmu.”
Aku mendengus marah. Rupanya dia juga menyadari tatapan laki-laki itu padaku. Dan juga sama sepertiku, tanpa perlu berkenalan pun, kami tahu dia adalah Luca.
Dengar Reven—“
Kau yang harus mendengarkanku kali ini,” dia memotongku cepat dan sepasang mata biru itu memandangku tajam, “Aku tidak akan bisa menolongmu kali ini jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
Tawaku pecah, “Apakah sebelumnya kau pernah menolongku? Kau justru meninggalkanku di belakang dan bergerak maju bersama yang lain. Kau meninggalkanku teronggok dalam peti. Membusuk sendirian.” mataku memandangnya tegas. Amarah sepenuhnya menguasaiku.
Aku tidak mau menunggu sampai dia mengatakan hal lain karena aku takut aku tidak akan sanggup menahan diriku untuk tidak menyerangnya. Bertarung sampai mati dengannya. Dan jika itu terjadi, maka tamat bagi semua. Tidak. Aku tidak akan melakukan kesalahan di hari pertama Alzarox menerima kami.
Lagipula kenapa pula dia merasa peduli apa Luca memandangiku seolah ingin menelanku hidup-hidup atau tidak. Dia seharusnya memfokuskan dirinya pada apa yang dikatakan Alzarox padanya dan bukannya sibuk mencari hal-hal yang bisa dia gunakan untuk mengangguku. Langsung saja aku berbalik, dan bergegas pergi. Memandang wajah Reven lebih lama lagi hanya akan membuat keinginanku untuk membunuhnya bertambah.
Aku akan menemukan jalan untuk kembali padamu, Rena..”
Langkahku terhenti. Apa yang baru saja kudengar? Aku tak bisa menahan gemetar yang menjalar di lengan dan jari-jariku yang pelan kukepal rapat-rapat. Aku memejamkan mataku beberapa detik. Membiarkan seluruh otot-ototku yang menegang untuk kembali seperti semula. Dan begitu aku sanggup menguasai diriku sendiri, aku melanjutkan langkahku tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, meski aku sadar debar jantungku yang luar biasa cepat mungkin saja bisa membunuhku tanpa aku menyadarinya. Tapi ada hal penting lain yang menguasai seluruh otakku.
Dia ingat..



Comments

  1. akhirnya q bisa baca kelanjutannya jg...Si Luca mank ganteng bgt y walaupun menyeramkan...Reven cemburu sm Luca kayanya..tp dia jg takut sm Luca y...

    ReplyDelete
  2. No no no. Aku gak rela kalo rena sama luca.aku selalu setia sama rena reven. Cepatlah kalian kembali dan menghadapi kesulitan bersamasama.

    ReplyDelete
  3. Yeeeee akhirnya kakak apdete juga

    Duh baca part ini jadi ikutan dek dek gan apa jangan luca beneran suka sama rena atau... Dia tau renah punya darah penyihir ? Huuuu pertanyaan lagi -_-

    Revan berjuang terus ya buat dapetin rena lagi!!!!

    Kak apdetenya yg sering dong :')

    ReplyDelete
  4. finally resumed huhhh bacanya ampe deg-degkan jadi penarasan sama sosoknya luca dehhh -,-

    Seneng bisa menikmati proses kisah cinta rena dan reven 😊 kakk jangan lama-lama gantungin readers mu ini kakk ... kita lumutann lama-lama segeralah dilanjut cerita ini kalo kakak punya waktu, aku padamu loh kak :3 -,-

    ReplyDelete
  5. finally resumed huhhh bacanya ampe deg-degkan jadi penarasan sama sosoknya luca dehhh -,-

    Seneng bisa menikmati proses kisah cinta rena dan reven 😊 kakk jangan lama-lama gantungin readers mu ini kakk ... kita lumutann lama-lama segeralah dilanjut cerita ini kalo kakak punya waktu, aku padamu loh kak :3 -,-

    ReplyDelete
  6. ya Allah alhamdulillah akhirnya update juga nih ceritaaa. udah bulukan nungguinnya.
    aaaaaaaaak apa Rena sama Reven bakalan balik lagi?
    apa ga ada kesempatan buat Damis bisa sama Rena? jangan2 Luca suka sama Rena? haha

    ReplyDelete
  7. Omg.. akhirny bisa baca..
    Hmm.. please bkin rena-reven blikan lagi.. nggak rela mereka pisah...

    ReplyDelete
  8. Omg.. akhirny bisa baca..
    Hmm.. please bkin rena-reven blikan lagi.. nggak rela mereka pisah...

    ReplyDelete
  9. Aku pendukung Luca Kak.. Xexa cepat lanjut donk. Pengen lihat pertemuan Luca sama Edna... hmm

    ReplyDelete
  10. Sumpah keren banget kak aduh kenapa luca ngeliatin rena ampe segitunya. Reven cemburu banget hahahaha...
    Rena keren bisa baca situsi.

    Makasih banget sama kakak yang udah mau nulis ternyata perasaanku keterkaitan sama ru kalau ru update pasti punya firasat.


    #lebay :-D:-D

    ReplyDelete
  11. Thoorrr jangan pisahkan reven sama rena 😭😭😭

    ReplyDelete
  12. Luca penasan deeh keknya dia suka sama rena aku dukung deeh cepet update lagi yaa..

    ReplyDelete
  13. Luca penasan deeh keknya dia suka sama rena aku dukung deeh cepet update lagi yaa..

    ReplyDelete
  14. akhirnya lanjut juga
    udah lama nunggu lanjutannya kak
    jadi makin seru dehn semakin penasaran bagaimana hubungan reven dan rena selanjutnya, trus luca kenapa liatin rena kyk gitu ya...
    lanjut ya kak, jangan lama-lama

    ReplyDelete
  15. Penasaran apa maksud Luca dengan memandangi Sherena sampai seperti itu,jangan-jangan Luca tahu Sherena ada darah penyihir lagi?Deg-degan bacanya.Reven mulai cemburu nih,secara tidak langsung Reven memang berniat kembali ke Sherena yang ditunjukkannya melalui ucapan dan tindakannya.Berjuang lah Reven buat kembali dengan Sherena,

    (Puput_Kiki)

    ReplyDelete
  16. Alhmdllh update, ad tambahan gambar juga jd tmbh keren. :-D. Smoga smw kegiatan author tmbh lancar jd bisa cepat update terus2an, he

    ReplyDelete
  17. kak lanjut dong.. ceritanya tambah seru tambah bikin penasaran nih

    ReplyDelete
  18. Finally udah update. Dan part ini aku suka, bkin makin penasaran sama kelanjutannya. Apalagi tentang luca. :-D

    ReplyDelete
  19. Penasaran dengan kelanjutannya kak,cepetan updatenya ya ka

    ReplyDelete
  20. Pasti selalu rasa penasaran yang bertambah diakhir cerita ini ....
    Kangen banget ....rasanya udah setahun gak baca ...hahaha
    Setampan apa sih Luca, lebih tampan siapa Luca atau Reven..?

    ReplyDelete
  21. Cerita tambah keren ajaa..... suka bangettt walau haruss nunggu lama updatenya. Hehhe

    Tambah penasaran cerita selanjutnya......

    ReplyDelete
  22. cepat2 update ny. semangattttt

    ReplyDelete
  23. makin seru, makin tegang, makin penasaran..... Luca khan belahan jiwa Edna yaa...sy tetep vote Reven and Sherena :)

    ReplyDelete
  24. finally luca muncul ^^

    thor tlng dong cerita xexa di update, jgn update RU mulu. Gantian gt lho thor, kan 2 cerita ini berkaitan. Q penasaran pertemuan antara luca ma ribi......please author bbaik dech ^_^

    valterynez

    ReplyDelete
  25. Thor tnya dong.. jika reven dan rena hilang ingatan lalu perasaan mereka pun hilang wlw ingatan mrka kembali. thor juga blg vampire selalu setia pd 1 pasangan cinta selamanya gt..rena kan benci sma reven ga ada perasaan apapun.. apakah bisa rena jatuh cinta sma org selain reven.. wlwpun reven belahan jiwanya dlu..
    Maaf ganggu thor klo bisa sih dijwab ya penasaran soalnya.. :D

    ReplyDelete
  26. Thor kapan ini dilanjut? Aku tunggu nih. Btw ceritanya bagus kak. Suka banget.

    ReplyDelete
  27. Kak kapan lanjuut di tunggu nih kangen sama r2 trua sma ribi fan dev juga. Hhhehhhehhhe maksa
    Apa kakak sibuk banget sampe email aku juga gak di bales sma skali.

    Thanks kak salam peluk
    Semoga kesibukan'a cepat selesai

    Miss you

    ReplyDelete
  28. Akhirnya dilanjut juga..
    Kak Rena tetap sama Reven aja ya..
    Ditunggu next partnya..

    ReplyDelete
  29. Astaga... kenapa Luca ngeliatin Rena??
    Ap Yg di pikirkan Luca tentang Rena??
    Mkin penasaran!!!!

    ReplyDelete
  30. Kaaaak omaigaat-,-
    Kenapa mempersulit rena sama reven lagi? :3
    Padahal aku suka banget sama mereke berdua
    Terus kenapa luca liatin rena?
    Eh tapi gapapa, lumayan bisa bikin reven cemburu Haha

    ReplyDelete
  31. Mudah mudahan cepet update lagi udah nunggu 2 blan aminnnn....

    ReplyDelete
  32. Kangen...rena...kangen reven...kangen sama semua...

    Hahahaahah...
    Nyanyi'in pake nada sayonara

    ReplyDelete
  33. Kak. wi penasaran nih... Lanjut donk...!

    ReplyDelete
  34. Kakkkkkk bila lanjutannya? ><

    ReplyDelete
  35. Kak ayo lah kak dilanjut udah penasaran tingkat dewa nih kak

    ReplyDelete
  36. Hai kau penulis, lanjutkan cerita ini atau kau akan kehilangan kepalamu #plakapasihguainihT_T


    Kak lanjutttt .. Ku mohonnnn hahaha

    ReplyDelete
  37. Banyak yang minta lanjut udah kaya demo ajh. Lanjut dong kak

    Hehehehe vissss...

    Miss u rena and reven

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.