Skip to main content

Remember Us - Kelompok Baru

Reven memang sengaja melakukan ini. Aku tahu itu. Lihat saja, dia pikir dengan meletakkanku satu kelompok dengannya dan makhluk-makhluk aneh ini, aku akan melunakkan sikapku dengannya? Mimpi saja, karena aku bahkan tidak akan mau bicara dengannya. Jujur saja berada di kelompok ini memang menyebalkan dan mereka mengabaikanku karena menganggapku lemah sepertinya begitu.


Kuberitahu, kelompok ini terlihat sempurna dan tak terkalahkan. Sebelum aku berangkat, Damis berkata bahwa aku terlihat seperti pelengkap agar kelompok ini terlihat tidak terlalu mencolok. Dan aku memang langsung memukul lengan Damis dengan kesal setelah dia mengatakan itu karena mau tidak mau aku sedikit setuju dengannya. Bukannya aku merasa aku lemah, tapi mereka semua kurasa beberapa level jauh di atasku. Bukannya aku rendah diri, aku hanya merasa aku harus belajar terbuka.

Di dalam kelompok ini ada tiga perempuan termasuk aku dan tiga laki-laki, atau entahlah, setidaknya terlihat seperti itu. Berada di Tierraz, diantara para makhluk kegelapan, aku tidak bisa benar-benar mengetahui mereka itu laki-laki atau perempuan. Karena visualisasi mereka.. aku mendesah, tak bisa mendeskripsikannya dengan baik. Salah satu perempuan dalam kelompok ini adalah makhluk api, dan dia benar-benar luar biasa dalam hal bertarung. Meskipun tubuhnya kecil dan ramping, dia punya kekuatan bertarung lebih baik dari tujuh makhluk kegelapan yang terlihat sangat garang sekali pun. Aku berani mengatakan ini karena aku sudah melihatnya sendiri. Dia menghajar tujuh makhluk kegelapan kurang ajar yang melemparkan komentar tentang tubuhnya yang memang memakai pakaian terbuka ketika kelompok kami melewati mereka. Perempuan api yang namanya bahkan belum kutahu siapa itu, hanya membutuhkan beberapa kali kedipan mata dan selesai, tujuh makhluk kegelapan bertubuh besar itu sudah tergeletak di tanah dengan ratapan permohonan ampun dan maaf yang menggelikan jika melihat sosok seperti apa yang telah mengalahkan mereka.

Source : Instagram
Sosok itu terlihat rapuh bahkan dengan warna rambutnya yang semerah api, dengan beberapa tanda merah di pipi dan lengannya, lalu wajah yang tegas dan entah kenapa dengan mata yang terlihat sedih, sosok ramping itu mendominasi. Anggota kelompok yang lain sepertinya memang sudah tahu dengan kemampuan si perempuan api karena wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan.

"Kau sudah selesai, Trisha?"
Aku menoleh, mendengar suara si perempuan lainnya. Dan kulihat bahwa si perempuan api mengangguk. Sekarang setidaknya aku tahu bahwa namanya adalah Trisha. Kedengarannya terlalu manis untuk perempuan yang memiliki kemampuan tarung semenakjubkan dia.

“Akhir-akhir ini, terlalu banyak sampah berkeliaran dan membuat kita perlu merenggangkan otot-otot kita lebih sering.
Trisha tidak menjawab langsung dan hanya berjalan pelan ke arah kami, “Kita langsung ke perbatasan Merrz? tanyanya sambil menatap Reven dan dengan jelas mengabaikan si perempuan lainnya.

Reven yang memang ditunjuk oleh Luca sebagai ketua kami, mengangguk tegas dan memberi tanda pada yang lain untuk melanjutkan. Tak ada bantahan dan kami berjalan mengikutinya. Sebetulnya, jika bukan karena aku menghargai kaumku dan kesetiaanku pada pemimpin kaumku, aku jelas enggan melakukan ini. Mengikuti Reven bersama kelompok asing yang bahkan tidak perlu repot-repot untuk saling mengenalkan diri dan hanya berfokus pada tugas saja. Ngomong-ngomong soal tugas juga, aku rasa ini bisa dikatakan tugas yang lumayan berat.

Makhluk kegelapan—yang artinya termasuk aku dan kaumku—akan berperang melawan para makhluk cahaya. Dalam hal ini, sejujurnya aku tidak terlalu tahu masalah apa yang ada diantara dua kelompok besar penguasa Tierraz ini, hanya saja, sebagai anggota kelompok yang patuh, aku memang tidak pernah mempertanyakan apakah benar keputusan pemimpin kaum. Sekali, kepatuhanku sebagai vampir teringkari adalah ketika aku dan Reven harus melawan pemimpin kaum kami, Vlad dan Rosse. 

Aku tahu bahwa ada banyak penyesalan dan keraguan entah untuk apa setelahnya, tapi kupastikan, itu adalah yang terakhir. Beban pengkhianatan dan pembalasan atasnya, lebih menyengsarakan. Maka tentang perang ini pun, aku juga patuh. Sama halnya dengan Reven dan keputusannya menyerahkan diri di bawah perintah Alzarox. Tanpa tekanan pemusnahan seluruh anggota ras dari Edna pun, kurasa kami semua tahu kebenaran atas apa yang dikatakan oleh Edna maupun Nerethir, Tierraz adalah sebenar-benarnya rumah bagi kami.

Lalu, tugas kali ini pun begitu. Aku patuh, meskipun harus menahan jengkel pada Reven. Dia bersikap dingin dan tidak peduli padaku, yang jelas kusyukuri benar. Kurasa ucapanku malam itu telah dipahaminya dengan baik.

Berbicara tentang tugas, kali ini aku dan kelompok ini mendapatkan perintah langsung dari Luca untuk mendatangi raja Elf Utara. Menurut apa yang disampaikan Luca pada kami—aku bersyukur memahami bagian ini—raja Elf Utara memiliki kecenderungan untuk berada dalam pihak kami, meskipun para Elf secara nyata merupakan para makhluk cahaya. Sang raja sendiri, bahkan adalah salah satu dari para putra sulung. Kalau tidak salah namanya adalah Landis. 

Aku dan Damis banyak membaca tentang sejarah Tierraz yang rupanya sangat rumit dan panjang, selama sisa waktu luang kami di perpustakaan yang menjadi satu-satunya ruangan kosong di kastil. Dan melalui buku-buku tua yang banyak di sana, aku tahu tentang sejarah awal Tierraz, para putra sulung, hingga pembantaian seluruh ras vampir yang hanya menyisakan Vlad dan Victoria. Alasan-alasan di balik pembantaian keji yang dilakukan di bawah perintah Luca dan benang merah kenapa kami, para vampir, menjadikan pengkhianatan sebagai satu-satunya hal terakhir yang akan kami sentuh.

"Apa kau pikir, Landis dan para Elf Utara akan setuju bergabung dengan kita?"

Aku menoleh, mendengar si perempuan yang tadi diabaikan oleh Trisha kembali bicara.

"Kita akan mencoba bicara baik-baik dengan mereka. Dan menyampaikan pesan Luca pada Landis." Jawab Reven dengan wajah datar. Suaranya terdengar tak bersemangat dan aku heran bagaimana si perempuan itu masih saja menanggapi jawaban Reven dengan suara penuh semangat.

"Kau yakin kau bisa mengatasinya, si raja Elf Utara itu?" Tantangnya. Dia tersenyum tipis, "Kau bahkan belum lama ini ada di Tierraz. Kau yakin kau tahu bagaimana karakter para Elf Utara? Mengherankan bagaimana Luca malah menjadikanmu ketua kami sementara kau—"

"Tutup mulutmu, Ritta. Jangan berani-berani kau mempertanyakan keputusan yang Yang Mulia Luca buat." Potong Trisha kasar dan tidak mau repot-repot menunjukkan kekesalannya.

Si perempuan yang rupanya bernama Ritta itu memutar bola matanya, "Ah, aku lupa betapa kau dan semua makhluk api itu memuja Luca. Tak heran jika melihat putri kalian adalah perempuannya Luca."

Aku mundur dengan terkejut ketika Trisha menerjang Ritta dan mereka langsung bergumul dalam pertarungan tak terduga.

"Hentikan!" Reven berteriak setelah dia maju dan memisahkan keduanya.

Aku melihat sudut bibir Ritta berdarah dan tampilan luar lainnya menunjukkan betapa dia berusaha keras agar tidak babak belur oleh Trisha yang berdiri dengan nafas memburu yang kuyakin lebih karena dia menahan amarahnya akan Ritta daripada akibat dari pertarungan mereka.

Reven mendorong mereka berdua ke dua arah berbeda, "Hentikan, atau aku akan membuat kalian berdua menyesal karena tidak mendengarkan kata-kataku."

Ritta nampak akan membuka mulutnya, namun Reven lebih cepat bicara lagi dan menatapnya dengan tatapan yang mengisyaratkan betapa dia serius pada apa yang dikatakannya.

"Kau berada di bawah tanggung jawabku. Jika kau membuat masalah dan menghancurkan tugas ini bahkan sebelum kita sempat memulainya, aku akan mengakhiri ini untukmu selamanya. Dan kukatakan pada kalian bahwa aku bisa melakukannya, bahkan Nerethir tak akan bisa memprotesnya jika dia tahu kelakuanmu. Jika bukan aku, dia sendiri yang akan melenyapkanmu."

Wajah Ritta mengeras, bibirnya menipis menahan kemarahannya. Namun tak ada satu pun kata keluar dari mulutnya sebagai bantahan. Dia membuang muka dan merapikan tampilannya.
Reven membuang nafas panjang sebelum berpaling ke arah Trisha yang tatapannya tak sedetik pun meninggalkan Ritta.

"Kau juga, Trisha." Geram Reven, "Aku tahu kau adalah tangan kanan Edna, tapi fakta itu tak membuat kau bisa berbuat seenaknya di sini. Aku yang memegang kendali sekarang."

Aku menyangka si perempuan api itu akan melawan Reven dan mungkin saja aku bisa menikmati kesempatan untuk melihat dia menyerang Reven. Siapa tahu aku punya kesempatan untuk melihat Reven terkapar kalah. Aku tersenyum kecil membayangkan hal itu. Pasti menyenangkan sekali melihatnya.

Namun, di luar dugaan, Trisha mengangguk patuh. Ekspresi wajahnya berubah tenang, dia memandang Reven dengan hormat, "Maafkan aku." Ucapnya tanpa ragu-ragu yang membuatku melebarkan mataku bulat-bulat melihatnya.

Reven menghela nafas panjang, "Kita lanjutkan perjalanan. Aku tak mau ada gangguan lagi." Perintahnya tegas.

Trisha menjadi makhluk pertama yang berjalan di belakangnya diikuti dua laki-laki lainnya sebelum akhirnya aku ikut menyusul. Ritta berjalan tak lama kemudian, dan aku bisa mendengar gerutuan pelannya di belakangku.

***

Victoria terduduk dengan tubuh gemetar. Kakinya bersimpuh dan dia sama sekali tidak terlihat berusaha menutupi ketakutannya. Satu-satunya sosok di ruangan gelap ini selain dirinya, memandang Victoria dari kejauhan dengan sorot mata tenang. Sepasang iris gelap itu memindai, menimbang-nimbang waktu yang tepat untuknya bicara.

"Kau membawa perempuan yang tepat, Victoria Lynch. Tidak sia-sia aku membiarkanmu hidup ketika itu. Bahkan pinjaman kekuatan yang kuberikan padamu juga kau gunakan dengan cukup baik untuk membunuh belahan jiwamu sendiri."

Lucia menyeret tubuhnya menjauh ketika suara itu semakin terdengar dekat. Sosok yang sedari tadi hanya mengamatinya akhirnya berhenti tepat di depannya. Dia menunduk sehingga wajahnya yang selama ini bersembunyi di balik gelap, terlihat perlahan.

"Lu-lu..ca."

Bibir itu tersenyum ketika mendengar suara lirih Victoria.

"Ya, ini aku.."

Dia gemetar makin hebat. Ingatan-ingatan masa lalu tentang bagaimana Luca menyiksanya, menghantamnya dengan kuat. Jika dia terbiasa melakukan pembunuhan dengan cepat, maka Luca kadang menjadi kebalikannya. Dia tahu betapa murka Luca karena pengkhianatan yang dulu dilakukan Vlad. Dan meskipun pengusiran itu akhirnya dilakukan, Victoria tahu ada harga yang sangat mahal yang masih harus dibayarnya pada pangeran penguasa kegelapan ini.

"Aku sudah menunggu cukup lama, Victoria."

"A-a-ku sudah melakukan semua yang kau minta, Luca." Gagap Victoria tanpa berani mengangkat wajahnya.

"Kau benar." Luca tersenyum tipis, "Kau menyelesaikannya dengan baik meski kau sedikit membuatku kesusahan dengan hilangnya ingatanmu ketika kau ada di dunia sana. Kau membuatku menunggu terlalu lama."

"V-vlad m-membuatku tertidur cukup lama. Dia mengkhianatiku."

Luca tak mengatakan apapun. Dia hanya terus memandang Victoria Dengan jenis tatapan yang tak akan pernah bisa diterjemahkan oleh siapapun.

"Aku terbangun di sana tanpa tahu apapun. Su-sungguh, Luca. Jika aku mengingat hal ini lebih cepat, aku bisa membawa perempuan itu lebih cepat. Tapi, tapi kau sendiri tahu bagaimana aku dan Vlad kehilangan seluruh ingatan kami atas Tierraz ketika kami sampai di sana. Itu pun juga karena hukuman dari Yang Mulia Alzarox juga."

"Aku tahu." Jawab Luca menggantung.

"Lalu sekarang, apa ada yang ingin kau minta aku lakukan lagi? Kenapa kau menggurungku di sini? Kumohon, lepaskan aku." Suara Victoria serak. Dia takut. Itu sudah jelas. Dia sudah merasakan perasaan itu sejak pertama ketika seorang makhluk kegelapan menjemputnya dan mengatakan Luca ingin menemuinya. Sejujurnya, dia masih tidak bisa menghadapi Luca tana teringat semua rasa sakit dan kehilangannya yang dulu. Anak-anaknya, kaumnya, kemuliaannya, martabatnya, semua lenyap di tangan makhluk yang sekarang ada di depannya ini. Semua dilenyapkan dengan cara yang mengerikan. Ada dendam sesungguhnya, tapi rasa takut, kepatuhan dan rasa tunduk pada sang pangeran kegelapan mengalahkan semua.

"Kau sungguh-sungguh ingin tahu apa yang kuinginkan?"

Victoria mengangguk cepat, "Apapun.. apapun Luca. Akan kulakukan apapun untukmu dan kaum kita demi membayar semua harga tak lunas di masa lalu."

Luca tersenyum tipis. Pikirannya dipenuhi sesuatu. Dan dia pada akhirnya setuju pada pikiran itu.

"Perempuan perisai pelindung kita itu, Sherena Audreista.. bantu aku sedikit bermain-main dengannya."

Mata Victoria menyipit. Tapi dia langsung mengangguk. Mendengarkan semua yang diinginkan Luca dengan patuh meskipun banyak kerutan dan tanya di kepalanya. Tapi tak satu pun yang akan dia ucapkan langsung. Tidak ada. Jika Luca memang menginginkan semua itu, meski itu hal paling aneh dan mustahil sekali pun, dia tak akan pernah mempertanyakannya. Dia hanya akan mematuhinya.

***

Jika kelompok ini seluruhnya adalah vampir, kurasa akan lebih baik. Maksudnya, aku tak perlu berjalan dalam kecepatan yang kurasa lambat ini. Ini sudah yang paling cepat yang bisa mereka lakukan, aku bisa apa.

Aku, setengah hati mengomel tanpa mau benar-benar menunjukkannya. Lagipula Reven juga tak mengatakan apapun meski ku yakin dia juga tahu kami agak lamban jika dilihat dari kecepatan normal yang mampu dicapai para vampir. Bahkan Trisha dan Ritta juga lamban. Dan dua laki-laki lainnya yang sepenuhnya ada makhluk bawahan Luca langsung, juga tak terlalu membantu. Badan mereka yang terlampau tinggi besar dengan beberapa tanduk dan tonjolan tak penting jelas menjadi yang paling lamban di antara kami semua. Akhirnya aku bisa merasa bersyukur karena aku tahu aku punya kelebihan diantara mereka.

"Jika kalian mau pergi dengan menunggangi Zork. Ini akan lebih cepat." Brigoth, salah satu dari bawahan Luca itu mengomel pelan.

Ritta melirik sinis. Menggeleng pelan tak percaya pada apa yang dia dengar, "Kau tahu, Brigoth, sepertinya kau dan Higraj tidak seharusnya ikut dalam tugas ini. Kita akan berjalan ke perbatasan Merrz sampai kita bisa melihat kerajaan milik Landis. Sehari, dua hari bahkan mungkin tiga hari kita perlu berjalan. Dan kita baru berjalan setengah hari dan kau sudah mengomel tidak penting begitu. Kami tak perlu orang lemah seperti kalian."

"Jaga mulutmu, Ritta. Kau sudah diperingatkan oleh Reven."  Kali ini Higraj yang bicara.

"Oh, aku hanya bicara kenyataannya saja. Kalian hanya kuat dalam bertarung, tapi jika dalam hal-hal remeh begini, kalian hanya omong kosong saja. Mana pernah ada kaum kegelapan jenismu yang melakukan perjalanan tanpa Zork, serigala aneh bertaring dengan liur membanjir itu."

Aku sebenarnya menyukai beberapa hal tentang kelompok kecil ini. Seperti tentang hiburan yang tidak akan pernah habis jika menyangkut sikap Ritta dan yang lainnya. Mereka selalu berdebat dan tak akan ada yang mengalah sampai Reven mengambil tindakan. Ini sudah beberapa kali mereka terlibat percakapan dengan tingkat sentimen tinggi sejak Trisha menyerang Ritta saat kami baru saja memulai perjalanan. Rasanya menyenangkan melihat betapa Reven sesungguhnya ingin menguliti mereka satu persatu. Kubilang apa, bukan ide bagus menyatukan makhluk-makhluk dengan kekuatan besar dalam satu kelompok kecil. Ini hanya akan jadi masalah lain.

Mereka bertiga kini berhenti dan aku melirik Reven yang kelihatan menyerah menghadapi tingkah kelompoknya. Dia kelihatan tidak berminat menengahi pertikaian itu dan berjalan terus. Aku sedikit tertarik, namun ketika sebuah sentuhan halus di lenganku membuatku menoleh terkejut, aku kehilangan ketertarikanku pada mereka dan berfokus pada Trisha.

"Biarkan saja mereka. Kita lanjutkan berjalan. Mereka akan segera menyusul kita jika mereka sudah selesai bermain-main."

Aku cukup terkejut ketika Trisha menyentuhku dan berbicara denganku. Aku hanya sanggup mengangguk dan kembali berjalan, di sampingnya. Reven sudah berjalan jauh di depan kami.

"Kau vampir, bukan?"

"Ya," aku mengangguk.

"Aku Trisha, makhluk api. Tangan kanan, Putri Edna."

Aku jujur saja tak menyangka jika dia akan memperkenalkan dirinya. Aku baru akan menjawab ketika dia kembali bicara.

"Aku tahu kau adalah Sherena Audreista."

"Oh." Baiklah, aku terdengar bodoh. Hanya saja aku tidak tahu harus menanggapi apa. Trisha bicara padaku tanpa memandangku dan wajahnya datar. Sangat datar seolah sebenarnya dia enggan bicara tapi sesuatu memaksanya bicara denganku.

"Kurasa kau tidak senang berada di kelompok ini bersama kami, bukan begitu?"

Mataku langsung melebar.

"Kau tidak pandai menyembunyikan apa yang ada di kepalamu. Tapi tidak masalah, aku juga tidak suka ada di kelompok ini. Aku lebih suka berada di dekat putri Edna dan melakukan hal-hal lain. Tapi perintah tetaplah perintah. Semakin cepat kita menyelesaikan ini, semakin cepat kita terbebas dari makhluk-makhluk bodoh itu."

"Ya, kau benar."

"Kudengar kau dan Reven juga punya hubungan yang tidak baik. Bagaimana bisa itu terjadi? Dia adalah pemimpinmu. Kau harus menghormati dia dan menjalin hubungan yang baik dengannya."

Aku tertawa sarkastik, "Aku menghormati dan mempercayai dia sebagai pemimpinku. Jangan khawatir masalah itu. Bahkan jika dia menyuruhku melompat ke api sekali pun."

"Itu bodoh."

Kali ini aku benar-benar tertawa, "Aku tahu. Hanya saja yah, dia pemimpinku."

Trisha terdiam lama, sebelum akhirnya mengangguk. Sebentar kemudian dia menoleh ke arahku, "Kudengar kau dan Reven punya hubungan khusus."

Aku menelengkan kepalaku, merasa jika sekarang Trisha mulai terlalu banyak bicara. Aku diam, tidak berupaya menjawab. Dan dia juga diam. Tapi hanya sebentar.

"Berhati-hatilah."

Aku menoleh cepat dan sialnya, Trisha sedang menatapku dan dia..tersenyum. Aku tidak yakin aku suka jenis senyumannya ini. Membuatku entah mengapa merasa tidak yakin sesuatu yang baik akan mengekor setelahnya.

"Rumor tersebar luas. Bahkan tentang kehidupan Reven sebelum dia pulang ke Tierraz. Beberapa pihak merasa bahwa Reven akan menjadi kepercayaan Putri Edna. Itulah kenapa segala tentangnya menjadi penting diketahui. Terakhir kali Putri Edna memilih laki-laki kepercayaannya, malapetaka besar terjadi."

Aku masih tidak mengerti. Tapi Trisha sudah berjalan meninggalkanku yang terpaku. Aku hanya menatap punggungnya dan rambut panjangnya yang semerah api.

Sesuatu yang buruk mungkin sedang direncanakan untuk terjadi.

***

a/n.
Hai hai... Aku datang. Duh kalian, maaf ya.. Aku tahu ini super terlambat, tapi aku sudah sangat berusaha agar tetap bisa menulis. Anyway, aku sudah janji pada seseorang dan seharusnya sudah posting ini hari Selasa kemarin. Tapi ternyata kerjaanku banyak sekali dan cuaca di Mitterfeld lagi gila bgt. Super dingin dan gaje, so mood nulis naik turun. Akhirnya, weekend ini pas di Munich, aku libur dan bisa nulis ini. Semoga kalian suka ya.

Btw di Indo lagi heboh masalah apa sih? Kok banyak foto sariro** bertebaran di beranda Facebook?

Oh dan aku turut berduka atas apa yang terjadi di Aceh. Semoga Tuhan melindungi kalian dan menjaga kalian selalu. Amin.

P.S. Yang di atas mulmet konten mbak Trisha ya.. Cocok ngga?

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>


Comments

  1. Hohoho makasih kakak ceritanya makin bikin penasaran hehehehe sering sering update kak ya allah pengen kelanjutannya eh gak deh pengen cepet cepet peluk reven ajah deh semangat yah kakak ditunggu loh kelanjutannya ah elah penasarankan.
    Tapi kak ada satu yang gak pas kurang panjang hehehehe viiiiss

    ReplyDelete
  2. Akhirnya,akhhirnya up date jg ya kak,seneng kali saya😁😁😁😁jikalo bisa Kaka up date seminggu sekali,tambah senang saya,,maunya,hehehhe
    Tp gak apa lama,tp jgn kelamaan,nanti saya lumutan nggu cerita RU,(parr👋👋 abaikan)
    Bang luka maunya apa sih,,Serena jgn dimainin donk,bwt revan lbh kwt lagi biar bisa jagain Serena,,ngomong-omong ni part masih panjang gak sih kak????berapa part lagi????

    ReplyDelete
  3. Akhirnya update juga. . .sebenarnya luca ingin merencanakan apa ya kepada sherena??jd penasaran.

    ReplyDelete
  4. baru cek,
    alhamdulillah akhirnya kk next juga :D

    ReplyDelete
  5. Baru cek hari ini lagi.. Alhamdulillah udh update :D part ini makin bikin penasaran kakkk

    ReplyDelete
  6. Akhirnya nongol jg ni cerita...
    Kira" apa ya yg dimaksud Trisha?

    Next, kak... Ditunggu selalu loh sama Readers nya

    ReplyDelete
  7. Yyeiii... Revennnn...

    Semangat yah buat terus nulis.. Selalu menantiii

    ReplyDelete
  8. syukurlah, akhirnya posting lagi. semoga bisa lebih sering lagi ya kak, hehhehe.
    gregetan kak baca RU itu,:-D

    ReplyDelete
  9. Akhirnya, kakak post lagi. Serius kangen banget kak. Setelah ini apa? Luca rencanain sesuatu yg ada hubungannya sama rena. Apakah yg di peringatin sama Trisha berkaitan dengan itu? Hoho.
    Aku kangen Reven banget, btw. Asa gimana gitu liat beberapa gambaran deskripsi sikap dia disini, tanpa satupun interaksi Reven-Rena langsung. Kangen... :")

    Oh iya kak. Maaf sebelumnya, tapi ini.. pertama kali aku komen di blog kakak. Maaf kak. Tapi bener deh ga komen itu gatel rasanya. Akhirnya.. komen juga. Semangat kak!
    Selia

    ReplyDelete
  10. selalu suka cerita amouraxexa.... luca vs reven siapa yg menang ya....rena berikan sdikit kasihmu pd abang reven donk....jangan terlalu kejam, nanti nyesel lho :)

    ReplyDelete
  11. penasaran sama kelanjutannya. entah apa yg direncanakan putri edna lewat trisha.. semangat lanjut kakak.. xixixixi

    ReplyDelete
  12. Baik edna maupun luca.. Mempunyai rencana.. Hmmm sepertinya rencananya g baik.. Semangat y mba.. D tunggu kelanjutannya..

    ReplyDelete
  13. Baik edna maupun luca.. Mempunyai rencana.. Hmmm sepertinya rencananya g baik.. Semangat y mba.. D tunggu kelanjutannya..

    ReplyDelete
  14. akhirnya setelah penantian panjang bisa ketemu Rena & Reven. pasangan yang paling aku suka beserta ceritanya dan juga karakter-karakernya gak ngebosenin. lanjuttttttt... penasaran tingkat dewa

    ReplyDelete
  15. Akhirnya setelah berkali2 nengokin blognya update jg, rencana luca dan edna masih blur ya, belum nampak, huft gimana ceritanya akan berlanjut, update-annya selalu ditunggu^^ thank u

    ReplyDelete
  16. Kakak kau tau betapa aku merindukan ini. Wkwk sumpah gila banget kerennnnnn please yg selanjutnya jangan lama" ya kak nunggu banget sama cerita Renna reven.

    Laki laki kepercayaan Edna ?? Wah supah jadi misteri lagi nih

    Di tunggu yg selanjutnya ya kak ^^

    ReplyDelete
  17. Kak... kapan ini di update lagi? Penasaran banget sm maksud dari omongan trisha😭

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.