Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Apply Visa BFD (Bundesfreiwilligendienst) Part 2

Akhirnya saya dapat janji temu buat bikin visa!
Setelah penantian panjang, galau setiap harinya dan deg-degan gak jelas. Akhirnya saya dapat juga janji temu buat bikin visa di kedutaan Jerman di Wina. Lega, seneng, masih seperempat galau, dan macam-macam rasanya waktu itu.  Bayangkan saja, saya dapat kontrak kerja pertanggal 4 September, dan sejak pertengahan Juni sampai September awal, ngga ada janji kosong tertera di laman resmi kedutaan Jerman di  Wina, alias sudah full-booked semua. Saya bahkan email dan telpon mereka, dan jawaban mereka hanya saya diminta cek laman Terminvergabe Visa beberapa kali dalam sehari, siapa tahu ada yang membatalkan janji temu visa dan saya bisa menggantikan mereka. Lalu singkat cerita, Alhamdulillah-nya saya dapat termin tanggal 13 Juli 2017.

Baca juga apply visa BFD part 1 .
Well, akhirnya saya siapkan semua dokumen-dokumen yang diminta kedutaan. Jangan lupa untuk mengkopi semua dokumen asli menjadi rangkap DUA ya! Sepertinya hal ini juga berlaku jika k…

Sampai Kapan Pun

"R, lo gak apa-apa?"
Aku bisa merasakan cengkraman tangan di kedua lenganku dan suara samar-samar di dekatku. Aku mencoba mengangkat kepalaku namun rasanya berat sekali.
"R, lo bisa denger gue?"
Cengkraman di lenganku menguat dan aku merasa tubuhku bergoyang. Apa ada gempa bumi? Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendongak, dan samar, wajah kalut penuh khawatir yang kukenali sebagai milik D memenuhi pandanganku.
Bagaimana dia bisa ada di apartemenku?
Aku terkikik pelan, Bodoh, aku menelponnya tadi.
Lalu bagaimana dia bisa masuk ke sini?
Ah, sial. Aku lupa lagi. D tahu kode kunci apartemenku. Hanya D dan Leon yang ta--
Leon?
"D.." panggilku serak tiba-tiba sebab rasa sakit yang ada sebelum gelas keempat belas wine merah kutenggak habis, menghantamku kembali. Melihat D membuatku ingin kembali menangis.
"D.." suara parauku memanggilnya kembali. Lalu kurasakan cengkraman di lenganku melonggar, ketika kulihat kedua tangan D bergerak ke wajahku dan men…

Remember Us - Elegyar Foster

Apakah janjiku pada Noura masih berlaku? 
Aku masih bertanya-tanya tentang hal itu sepanjang waktu meski aku berusaha untuk mengenyahkannya. Aku, entah bagaimanapun berhutang cukup besar pada Noura. Dia menyelamatkanku, memberiku kehidupannya yang sialnya tidak bisa dikatakan mudah.
Dia meninggalkan hatinya, bayangannya dan sisa-sisa keberadaannya untuk kutempati. Bahkan setelah waktu demi waktu juga dunia yang berbeda, aku tidak bisa sepenuhnya berbangga hidup sebagai pengganti Noura. Namun aku tidak punya pilihan, bukan? Aku, sejujurnya saja, cukup berterima kasih padanya, meskipun aku juga berkali-kali memakinya. Dia, satu-satunya alasan kenapa aku bisa jatuh pada Reven, makhluk menyebalkan tidak tahu diri itu. Karena jiwanya yang kala itu bersemayam di dalam diriku menarikku dalam pesona Reven. Aku sering memikirkan apa jadinya jika aku sepenuhnya berada dalam kendaliku sendiri? Apakah aku akan tetap jatuh hati pada makhluk keras kepala itu?
Mungkin tidak. Mungkin aku akan tetap …

Jangan Jatuh Cinta Lagi

"Lo bakal nikah di umur dua puluh enam tahun."
Aku menoleh, terkejut, ada kerutan jelas di dahiku, "Lo mabok?"
Dia terkekeh. Memutar kepalanya menatapku, dan menyipitkan matanya setelah selesai dengan tawanya yang absurd, "Lo ngga percaya omongan gue?"
"Pulang gih. Lo udah mabok."
Dia terkekeh lagi, makin keras, "Sepertinya lo bener. Mungkin gue uda mabok. Arrghh," dia menyentuh kepalanya dan perlahan menjatuhkan tubuhnya pada rerumputan di belakangnya. Matanya terpejam dan satu tangannya masih tertangkup di atas dahinya. Tumpukan kaleng bir berserakan di sekitar kakinya. Aku sendiri masih mengenggam satu kaleng bir yang sudah tidak lagi dingin sambil meliriknya sekilas.
"Lo kenapa?" tanyaku santai. 
"Gue ngerasa lo dan gue bakal selesai sebentar lagi."
Aku langsung memutar kepalaku dan menatapnya benar-benar. Dia tidak pernah mengoceh aneh kalau dia memang sedang mabuk. 
"Kadang, gue ngerasa gue bisa ngelihat…

Surat Untuk Suami

Hei, kamu... Suami. Apa kabar?
Apakah disana—dimanapun kamu berada—kamu baik-baik saja? Aku selalu berdoa agar kamu baik-baik dan selalu seperti itu. Sebab aku berharap, ketika Tuhan akhirnya mempertemukan kita dalam tegas suaramu di akad kita, kamu menjadi yang terbaik yang selalu Tuhan janjikan untukku. Dan sampai saat itu tiba. Aku akan menunggu dengan (sedikit) sabar di sini.
Sejujurnya malah, aku sama sekali tidak sabar. Aku ingin kita bertemu. Aku ingin kita jatuh cinta. Dan aku.. ingin kita menikah. Sehingga bisa kusebut kamu, suamiku. Laki-laki yang dihalalkan untukku. Ah, halal. Pasti sangat membahagikan jika seperti itu, bukan?
Tapi sekarang aku masih belum tahu. Aku tidak tahu dimana kamu atau—siapa kamu. Hanya keyakinan yang membuatku tegar menunggu hingga saat ini. Aku ingin menyebutmu jodoh. Tapi jodoh belum tentu suami. Dan suami sudah pasti jodoh. Jadi kupanggil saja kamu begitu. 
Suami..
Aku berharap kita segera bisa dipertemukan. Semoga benang merah yang dilukis Tuhan seg…

Apa Kabar Remember Us, Kak?

Hallo semuanya..
Saya balik lagi. Sayangnya kali ini bukan untuk posting cerita baru Remember Us atau Xexa, tapi pengen kasih tahu sesuatu. Berhubung saya kurang waktu untuk menyelesaikan RU maupun Xexa bersamaan, saya putuskan untuk menunda Xexa sampai saya selesai menulis RU.
Well, kali ini saya pengen fokus dengan RU. Akhir-akhir ini banyak banget yang nanyain kabar Rena Reven dan sayanya ngga bisa kasih jawaban pasti. Sedih juga, soalnya rasanya hampa. Saya seneng nulis dan sekarang saya bahkan ngga punya waktu buat banyak menulis lagi. Kerjaan di Eropa menyedot habis inspirasi saya dalam berfantasi. Astaga astaga, sepertinya ngga sepenuhnya salah perbedaan prioritas. Hanya saja, saya sedang dalam usaha untuk menyelesaikan satu kewajiban saya pada orangtua. Dan itu membuat saya sepenuhnya harus sibuk dengan pekerjaan dan sekolah.
Tapi saya janji, saya akan tetap menulis. Saya akan melanjutkan Remember Us Dan Xexa sampai selesai meskipun itu akan memakan waktu yang lama. Dan saya j…

Apply Visa Bundesfreiwilligendienst

Hallo,
Gue nih, tapi sorry ya postingan kali ini bukan tentang chapter baru Remember Us atau Xexa. Btw, serius guys, saking lamanya draft dua cerita ini ngendap di Fire HD gue, gue sampe lupa gimana jalan ceritanya. Ah, sial sial, ngomongin soal nulis malah bikin makin down.
Ngomong-ngomong gue lagi pengen curhat dikit tentang betapa ribetnya apply visa Jerman. Serius duarius, selalu banyak makan ati, banyak-banyak ngehela dan narik nafas dalam-dalam dan bad-mood kalau udah urusan sama dokumen-dokumen melelahkan ini.

Salju di Bulan April

Musim dingin tahun ini lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
Itulah kalimat yang sering aku dengar akhir-akhir ini. Ketika cuaca harusnya sudah mulai menghangat karena sudah masuk musim semi, kami masih harus struggling dengan jaket musim dingin.

Remember Us - Elf Utara

Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Berbahagialah kalian yang masih bisa merasakan Ramadhan lengkap bersama keluarga. Bisa sahur bareng, buka puasa bareng, shalat tarawih bareng dan ah aroma Ramadhan yang serba khas di Indonesia. Kalian yang masih merasakannya, patut bersyukur. Bagi anak rantau macam aku, yang denger suara adzan langsung dari masjid aja gak pernah (hampir setengah tahun lebih).. Ramadhan di Indonesia itu benar-benar wah. Ah malah curhat. Tapi ya sudahlah. Selain itu maafkan aku yang selalu serba lemot dalam nulis dan ngurusin blog ini. Aku ngga tahu harus bagaimana lagi menghadapi rasa ini. Ah bahas apa ini? Sudah sudah. Selamat membaca. Salam, Amouraxexa

Xexa - Mata

​"Putriku. Temukan putriku." Dave mengerutkan keningnya dalam-dalam. Apa lagi ini, pikirnya tak paham. Tapi dia tahu, apapun itu nantinya yang dijelaskan Reven, Dave tak punya pilihan lain selain melakukannya. Namun untuk yang satu ini Dave benar-benar tidak bisa menyembunyikan kerutan dalam di keningnya, "Aku tidak mengerti. Selain itu kenapa aku harus menemukan purimu?" "Karena melalui dialah, kau mungkin bisa membayar hutang yang terpendam di dalam silsilah keluargamu." ucap Reven tegas. Ada amarah dan rasa dendam yang lekat pada suaranya, "Mevonia menghancurkan kehidupannya." "Tapi tetap saja," Dave memotong lelah, dia benar-benar muak terjebak dengan hukuman atau mungkin karma atau yang terparah kutukan yang disebabkan para leluhurnya, "Entah apa yang sudah dilakukan Mahha Mevonia, ini tetap saja tidak mungkin. Tak terhitung berapa banyak perempuan yang ada di Tierraz, bagaimana bisa aku menemukan putrimu yang wajahnya saja aku …

Remember Us - Kekhawatiran Utama

"Kau harus menolongku, Damis."
Damis menatap Lucia sebelum dia tersenyum pendek, "Aku tidak ingin ikut campur dengan urusanmu dan Reven."
"Tapi dengan membantuku, kau juga bisa mendapat keuntungan jika aku dan Reven kembali menjadi satu seperti dulu. Aku tahu kau menginginkan Rena sebagai wanitamu, Damis."

Xexa - Jati Diri

Actur Gllarigh meletakkan pena bulunya dengan kening berkerut. Dia mengangkat wajahnya dari perkamen yang tengah ditekuninya hanya untuk menemukan sosok besar gelap terhalang bayangan gelap malam tak jauh darinya. Dia sedang berusaha menyelesaikan laporan tugasnya ketika anilamarry-nya membisikkan kehadiran sosok itu.

Wajahnya berkedut, "Kau tidak punya alasan apapun untuk mendatangiku, Sorglos."

Sebuah desahan tak senang dan sosok besar Sorglos melangkah maju menuju cahaya sehingga akhirnya Actur bisa melihat wajahnya dengan benar.