Skip to main content

Xexa - Jati Diri

Actur Gllarigh meletakkan pena bulunya dengan kening berkerut. Dia mengangkat wajahnya dari perkamen yang tengah ditekuninya hanya untuk menemukan sosok besar gelap terhalang bayangan gelap malam tak jauh darinya. Dia sedang berusaha menyelesaikan laporan tugasnya ketika anilamarry-nya membisikkan kehadiran sosok itu.

Wajahnya berkedut, "Kau tidak punya alasan apapun untuk mendatangiku, Sorglos."

Sebuah desahan tak senang dan sosok besar Sorglos melangkah maju menuju cahaya sehingga akhirnya Actur bisa melihat wajahnya dengan benar.


"Kau sudah melakukan kesepakatan kita? Ini lebih cepat dari dugaanku. Ternyata si pangeran kedua itu tidak ada apa-apanya." dia tersenyum tipis, "Aku akan memberimu bonus emas kalau begitu. Tapi tunggu dulu--" dia diam, mendadak sebuah fakta yang sejak tadi dilewatkannya menghantam kepalanya.

Dia memandang wajah Sorglos yang ekspresinya sama sekali tidak berubah.

"Ba-bagaimana bisa kau masuk ke ruang pribadiku?" dia langsung bangkit, tongkat sihirnya teracung lurus ke arah Sorglos. Anilamarry-nya yang semula tidak menampakkan wujudnya juga langsung muncul di belakang Sorglos dalam wujud minotaur dengan mata menyala merah.

Tapi tak ada satu suara pun keluar dari mulut Sorglos. Actur yang tak sabar langsung merapalkan mantra pembunuh dan melemparkannya pada Sorglos. Namun di luar dugaannya, mantra itu melebur lenyap bahkan sebelum menyentuh kulit Sorglos, seolah ada kubah tak kasat mata yang melindungi Sorglos.

Sorglos mendengus setengah tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya, seolah penyihir pemerintah kelas atas yang ada di depannya ini sama sekali tidak becus dalam sihir. Tangannya yang sedari tadi tersembunyi di balik jubahnya bergerak pelan dan bersama dengan itu, sebuah tongkat sihir mencuat muncul dalam genggamannya. Mantra terucap tak terdengar.

"Apakah kau sudah melupakan wajah ini, Actur?" ucap Sorglos pelan ketika sebuah wujud lain dari asap tipis terbentuk di depannya. Seorang laki-laki dengan tinggi sepadan Sorglos namun dengan jubah sihir sutra khas penyihir pemerintahan kelas atas dan rambut yang tertata rapi. Wajah itu angkuh dan nampak tak punya belas kasihan, namun mata itu, sepasang mata di wajah itu membuat Actur Gllarigh mundur tercengang. 

"Kini kau sudah mengingatnya, Actur?" Sorglos melangkah maju, menembus asap berwujud itu dan menyebabkan asap itu membuyar di sekitarnya, melenyapkan sosok sebelumnya. Namun sepasang mata yang sebelumnya ada di asap itu seolah masih di sana, menatap Actur yang gemetar, dalam wujud Sorglos.

"K-ka-kau.. Driend Toufet--"

"Bukan, Actur. Driend Toufet sudah mati dan kau.. yang membuatnya mati dengan pengkhianatanmu."

Actur menggeleng cepat dan langsung melemparkan mantra pembunuh lainnya namun sekali lagi mantra itu langsung melebur lenyap bahkan sebelum menyentuh Sorglos.

Sorglos tertawa sinis, "Apa kau lupa siapa pemilik sihir kubah pelindung paling ahli di seluruh Tierraz, Actur? Bahkan Mohave sendiri tidak bisa mengalahkan kubah pelindung ini. Apalagi kau dan anilamarry-mu."

"Ak-aku tidak pernah mengkhianatimu. Bukan aku-bukan aku."

"Kau pikir aku akan percaya pada apa yang kau katakan?"

Actur memberi perintah tak terucap pada anilamarry-nya. Namun sang minotaur hanya menatapnya dan memberinya penjelasan bahwa dia sama sekali tak bisa menyentuh Sorglos. Wajah Actur memucat seketika.

"Apa kau akan membunuhku sekarang? Kenapa kau tidak membunuhku sejak awal ketika aku datang kepadamu?"

"Apa kau punya hak memberiku pertanyaan pada posisi ini?" Sorglos memicingkan matanya, merasa sedikit tertarik untuk memberikan beberapa kalimat jawaban untuk Actur. Bukankah memang menarik tentang kenapa dia membiarkan Actur hidup sejak perjumpaan mereka yang tak menyenangkan di perkemahannya. Ketika dengan congkak, si penyihir melemparkan sekantong emas padnya untuk beberapa pekerjaan kotor. Bahkan pekerjaan terakhir yang diberikan Actur padanya adalah membunuh keturunan Mahha dan beberapa kawannya yang salah satunya adalah Areschia Azhena, putri Mohave. Tapi tidak, alih-alih menjawab, Sorglos justru merendahkan suaranya, yang mana justru membuat Actur semakin ketakutan.

"Kau bersumpah pada Mohave. Aku menerimamu sebagai bagian dari rahasia kami. Tap--"

"Aku tidak mengkhianati kalian." potong Actur cepat, "Aku benar-benar tidak mengkhianati kalian. Sungguh. Aku sama sekali tidak terlibat dengan apa yang dilakukan oleh Myrella. Dia, perempuan itu, sejak awal memang tidak pernah ada di pihak kita."

Sorglos memandang Actur dengan teliti sekaligus menahan dirinya untuk tidak tergesa mengakhiri percakapan memuakkan ini. Jika dia memang tidak membutuhkan apa yang diketahui Actur sebagai kelengkapan informasinya, dia tidak akan membuang waktunya untuk penyihir lemah di depannya ini. 

"Dimana bayi itu?"

"Ak-ku tidak tahu."

Tangan Sorglos terkepal rapat. Dia tidak bisa menahannya lagi. Bahkan jika yang dikatakan oleh Actur tidak benar. Dia akan rela mencari kebenaran itu sendiri tanpa perlu mengorek semuanya dari makhluk pengecut di depannya yang mencicit memalukan seperti itu. Semua ingatan akan kehancuran yang menimpanya, menimpa Mohave, saudara tuanya, menghantamnya kuat-kuat. Dulu, hanya tinggal beberapa langkah. Sedikit, dan dia bersama Mohave akan bisa mewujudkan impian besar mereka. Sebuah cita-cita besar untuk tetap mempertahankan keagungan Zerozhia, untuk tetap bisa menjaga siklus terkendali di Tierraz dan untuk kejayaan para penyihir. Tapi keserakahan laki-laki di depannya ini menghancurkan segalanya. Satu pengkhianatan dan lihat apa yang terjadi sekarang.

Bayangan wajah Mohave hadir di kepalanya. Tatapan kosong, tubuh kering dan--tidak. Sorglos tidak ingin mengingat bagaimana cara dia membebaskan semua ketidakadilan yang diterima Mohave. Tidak sekarang. Dia tidak perlu merasa sedih akan kematian saudaranya. Banyak hal yang mulai harus dilakukannya. Banyak hal yang harus kembali ditatanya. Tapi sebelumnya, dia harus melenyapkan sampah di depannya.

"Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, Driend. Myrella.. dia..hanya dia yang mungkin tahu. Sungguh, aku sama sekali tidak terli--"

Satu mantra menghantam tetap di dada Actur sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya membeku. Secara harfiah benar-benar membeku. Sorglos menatap sepasang mata beku itu seraya berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di depan Actur dan tanpa menunggu satu detik pun, dia melayangkan pukulan ke arah Actur. Menghantam telak di wajahnya dan suara es yang pecah berantakan menghantam lantai batu. Meninggalkan sisa-sisa tubuh Actur yang akan meleleh dan tercampur berantakan di seluruh ruangan ini lama setelah Sorglos mengucapkan mantra perpindahan. 

***

Fred berjalan limbung diantara pepohonan di hutan Zhitam. Dia sudah berjalan seperti itu sejak langkah pertamanya meninggalkan Zeyzga. Sejak Ahriman memberikannya penglihatan citra akan masa lalunya, masa awal kehidupannya, dia sudah bertekad akan membalas ketidakadilan yang diterimanya bahkan ketika dia baru ada di kandungan Mahha Miranda.

Tanpa berpikir panjang, Fred memutuskan Zeyzga adalah tempat pertama yang akan sangat berguna baginya sebagi langkah awal memulai semuanya. Namun, dia tak pernah tahu jika keputusannya itu adalah kesalahan. Bahkan Ahriman sudah tidak bisa lagi membantunya keluar dari kebimbangannya sekarang.

Zeyzga.. dia mengucapkan nama kastil itu berkali-kali di kepalanya ketika dia berdiri di depan gerbang utama beberapa hari yang lalu. Tempat ini tidak akan menolaknya meskipun dia menyandang kutukan terbesar Tierraz di masa ini. Bagaimana pun juga, dia adalah keturunan Mahha dan tidak ada satu pun makhluk yang bisa melarangnya menginjakkan kakinya di Tierraz.

Fred baru saja mendorong gerbang itu pelan ketika dia menyadari gerbang itu menarik dirinya sendiri dan memberikan jalan baginya untuk masuk. Fred melangkah dengan hati-hati. Ada bagian dari dirinya yang berharap dia bisa langsung mati di langkah pertamanya memasuki area Zeyzga. Dengan demikian, dia akan mati dengan puas karena dia bukanlah si pangeran terkutuk itu. Sebab sihir kuno Zeyzga hanya mengizinkan keturunan Mahha dan para peri kerajaan memasuki Zeyzga, jika selain mereka, maka kematian akan menyambut mereka langsung di langkah awal mereka. Namun, sampai langkahnya sampai mendekati pintu kastil, tidak terjadi apa-apa padanya. 

Ada kekecewaan dan kelegaan yang tumpang tindih di dalam kepala Fred. Namun sebelum sempat dia memikirkan hal lain, pintu utama kastil terayun terbuka dan sosok Mora berdiri santun, menyambutnya. Fred ingat bagaimana pertama kali dia bertemu peri kerajaan itu. Saat itu Dave berteriak marah pada Mora, Argulus dan Azhena tentang kenapa Dave dibiarkan tidak tahu apa-apa tentang ramalan kuno. Tentang kutukan bulan biru. Tentang takdir pangeran pertama yang menyedihkan. Tentang dirinya. Membicarakan tentang siapa dirinya yang sebenarnya benar-benar memuakkan. 

Langkah kaki Fred berhenti beberapa langkah di depan Mora. Peri kerajaan itu membungkuk hormat padanya. Dan dari sini, Fred baru menyadari ada banyak selain Mora di sana. Sebab di belakang Mora, berjejer rapi di setiap sisi jalan, para peri kerajaan dengan wajah rupawan mereka menunduk menunjukkan rasa hormat mereka padanya. Fred tidak tahu harus bereaksi seperti apa namun jelas dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Selamat datang, pangeran."

Fred menggeleng dan menghentikan langkahnya. Dia berusaha melenyapkan ingatan pertamanya memasuki Zeyzga. Tapi entah kenapa, dia menemukan itu sama sekali tidak membantunya berpikir jernih. Semuanya justru semakin keruh sekarang. 

"Kami bersumpah untuk melayani para keturunan Mahha Mevonia. Tidak ada pengecualian apapun. Bahkan jika anda meminta kami untuk merahasiakan kedatangan anda di Zeyzga, kami akan melakukannya. Semua keistimewaan yang dimiliki dan didapat oleh pangeran Dave Michail Miranda juga anda miliki, pangeran Danesh Michail Miranda."

Jika mengingat bagaimana Mora menyebut nama itu tanpa ketakutan akan kutuk yang tersemat padanya, Fred benar-benar sanggup membayangkan bagaimana menjadi pangeran pertama di Zerozhia tanpa bayang kutuk apapun. Mendadak dia merasa iri pada Dave. Jadi kehidupan seperti inilah yang dijalani Dave selama ini. Sementara dirinya menderita di perkemahan para kaum liar, sementara dia berjuang mempelajari sihir dengan susah payah sampai akhirnya dia bisa ada di posisi Interoir senior di umurnya yang sekarang ini, Dave Michail Miranda, adiknya, mendapatkan semua kenyamanan dan keistimewaan ini. Semua ini, yang juga seharusnya bisa dia nikmati jika orangtuanya tidak membuangnya dan merencana membunuhnya karena kutukan kuno itu.

Masih bisa diingatnya dengan jelas bahwa keinginan balas dendam itu bahkan semakin kuat setelah dia tinggal di dalam Zeyzga dan merasakan semua yang selama ini bahkan tidak pernah dibayangkannya. Perpustakaan Zeyzga, tempat semua sejarah Tierraz yang sebenarnya berada. Semua ilmu dan magis yang hanya diperuntukan bagi mereka, yang di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Mahha Agung Mevonia. Belum lagi ruangan-ruangan lain yang tidak kalah penuh oleh kentalnya aroma sihir lama yang kuatnya bahkan tak pernah sanggup dibayangkannya untuk dicicipi. Dan ketika dia membuka sebuah ruangan di bawah tanah, dia tercengang ketika melihat gunungan koin emas dan beragam kemegahan lainnya. Maka semua dendam dan kemarahan itu semakin menjadi. Ini tidak adil baginya. 

Namun semua dendam dan kemarahan itu tidak bertahan lama, ketika dia menerima botol kecil yang dia tahu benar apa itu. Mora menunduk, menyerahkan botol kecil berlambang kerajaan Zerozhia. Tidak ada kata apapun yang keluar dari bibirnya, dan Fred juga tidak ingin bertanya. Semua pertanyaannya mungkin akan terjawab ketika dia memecahkan botol itu. Tak terlalu banyak sosok yang sanggup melakukan sihir seperti ini dan membuang-buang energi mereka jika memang ini tidak benar-benar penting.

Fred ingat bagaimana dia berdiri sendirian di perpustakaan Zeyzga dan memandangi botol di tangannya. Dia ingin tahu. Tapi ada juga sedikit ketakutannya. Ada banyak harapan yang dia takut untuk sekedar memikirkannya. Dia sudah melarang Ahriman untuk ikut campur, sebab Fred tahu kemana anilamarry-nya itu akan membimbingnya. Dan dia tidak cukup bodoh untuk menelan semuanya mentah-mentah meski dia kerap tak bisa mengontrol emosinya.

Dengan tarikan nafas panjang, dia melempar botol itu ke lantai batu kastil yang dingin. Suara pecahannya menjadi satu-satunya suara yang tercipta sebelum kumparan asap aneh menutupi pecahan beling di sana. Fred tak mengedipkan matanya. Dia mengira dia akan melihat ibunya, tapi sosok yang terbentuk dari asap itu membuatnya terbelalak. Dia bahkan tak menyadari bahwa dia melangkah mundur. 

Sosok itu mendominasi. Tatapan yang dihasilkan oleh sepasang mata yang warna matanya serupa dengan milik Fred itu diyakininya sanggup membuat mereka yang paling congkak sekali pun menunduk gusar karena gugup. Jubahnya yang sederhana tak sanggup menghilangkan pesona kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. 

Sekali ini, ketika sosok itu menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyum yang langsung melenyapkan segala kebingungan di kepalanya. Fred langsung menundukkan tubuhnya, memberi sikap hormat meski dia tahu sosok asli tubuh di depannya sudah mati ratusan tahun silam. 

Mahha Mevonia melangkah mendekat, tangannya terangkat, "Kemarilah, keturunanku." ucapnya lembut. 

Fred setengah ragu mengangguk, maju beberapa langkah hingga hanya ada selangkah jarak di antara mereka. Dan hal selanjutnya yang dilakuka oleh Mahha Mevonia benar-benar mengejutkannya. Meskipun sentuhan itu sedingin es, Fred bisa merasakan genggaman tangan Mahha Mevonia yang meraih kedua telapak tangannya.

"Maafkan aku," katanya kemudian, sepasang mata itu memburam oleh keputusasaan yang sepertinya berusaha dihilangkannya. 

"Maafkan aku." ulangnya, "Karena kesalahanku, kau harus menerima ini semua." dia mengusap telapak tangan Fred, "Jika aku tidak serakah.." dia tak bisa melanjutkan dan Fred bisa melihat sudut mata wanita di depannya nyaris basah ketika kalimat-kalimat selanjutnya keluar dari bibirnya yang bergetar.

“Cahaya terang menyelimuti waktu. Waktu yang luas untuk membuat para penghuninya menyusut dalam kebesaran mereka. Apa yang pernah terucap tak akan lagi mengikat. Sang putra pertama bermandikan cahaya bulan biru. Tangisan pertama di matinya kehidupan membangkitkan kekuatan jauh. Batu keras itu retak dan bangkitlah sang pelahap cahaya di bawah tangan sang putra pertama kegelapan. Kegelapan abadi akan melingkupi tanah Tierraz.”

"Itu.."

Mahha Mevonia mengangguk, "Kutukan kegelapan. Kutukan bulan biru. Kutukan untukku."

Mata Fred terbelalak. Dia ingin bertanya, tapi ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya.

"Aku seharusnya tidak menipunya. Tidak menenggelamkannya dalam kegelapan yang akan membuat marah Tierraz. Bagaimanapun kejamnya sang putri, dia adalah satu-satunya ibu bagi cahaya kehidupan Tierraz. Apa jadinya dunia kita tanpa sang api?" Mahha Mevonia menarik nafas panjang.

"Aku membunuhnya dengan mengorbankan jiwa suci yang padanya kusumpahkan perkataanku. Lalu inilah harga mahal yang harus aku bayar. Harga mahal untuk mempertahankan apa yang berhasil kudapat setelah mengorbankan segala yang sanggup kuberikan."

"Kau mungkin tidak akan bisa memaafkanku karena membuatmu menjalani nasib buruk ini. Tapi setidaknya kau harus tahu bahwa apa yang kulakukan ini untuk membuatku, membuat seluruh kaum penyihir bertahan hidup. Sekotor apapun jalan yang telah kuambil, aku tahu bahwa keturunanku akan sanggup melaluinya."

Fred mengunci mulutnya, tidak bisa membohongi dirinya sendiri tentang bagaimana bisa Mahha Mevonia bersikap seegois itu. Dia nyaris tidak mengetahui semua maksud perkataan Mahha Mevonia. Tapi kalimat terakhirnya, kalimat itu, bukankah terlalu arogan. Bagaimana dia sanggup berkata bahwa Fred akan sanggup melalui ini semua? 

Dia adalah pangeran pertama yang keberadaanya sangat tidak diinginkan kaumnya. Kelahirannya dianggap petaka besar, kesialan berganda, dan tak hanya kaumnya, tapi seluruh makhluk Tierraz meminta kematiannya. Sementara itu, adiknya, sang pangeran kedua, duduk dengan nyaman menikmati segala yang bertolak belakang dengannya. Lihat saja beberapa contoh itu dan bagaimana bisa? Bagaimana bisa Mahha Mevonia berkata semudah itu tentang nasibnya ini.

"Aku tahu.." suara itu menghentikan seluruh pikiran Fred, "Kau tidak meminta terlahir dengan semua kerumitan ini. Tapi, pangeran, kumohon lihatlah aku dan kuatkan dirimu sendiri. Percayalah pada dirimu sendiri dan lihatlah seperti apa kegelapan memerintah dan dengan begitu kau akan mengerti kenapa aku bahkan bisa mengambil resiko muntahan murka Tierraz."

Mahha Mevonia memajukan wajahnya dan mengecup puncak kepala Fred.

"Aku tidak akan serakah lagi dengan memintamu mengalah. Kehidupanmu adalah milikmu. Dan hanya kau yang sanggup memutuskan apa yang akan kau ambil."

Lalu begitu saja dan sosok itu melenyap bersama angin yang entah darimana datangnya menerpa tubuh Fred. Mendadak dia jatuh mengigil seolah ada sesuatu lain yang lebih kuat yang telah menghantamnya. Dia merasakan kegelapan yang pekat dan seluruh penglihatannya mengabur.

Ketika dia berusaha mengibaskan kepalanya dan mengambil alih kembali kesadarannya. Dia mencium bau anyir darah yang sangat pekat bersamaan dengan riuh sekelilingnya. Fred menutup telinganya ketika mendengar teriakan-teriakan kasar dan bersahut-sahutan. Dan ketika akhirnya dia sanggup menguasai tubuhnya, Fred sadar dia tidak lagi berada di perpustakaan Zeyzga.

Dia ada di padang luas tempat sebuah perang berlangsung. Mantra, suara pedang beradu, tombak, cipratan darah, erangan kematian hingga tawa berderai di sekitarnya. Tubuhnya gemetar perlahan menyadari tumpukan mayat tak terhitung, bukan hanya ada di sampingnya, di bawah kakinya, tapi di seluruh tempat ini, seluas matanya sanggup lihat. Api berkobar. Membakar, memberi cahaya, dan membunuh. Bukan hanya penyihir tapi berbagai bentuk makhluk yang tak sanggup dibayangkannya ada di sana. Mereka saling bertarung, mati, sekarat, dan kosong. Dua kelompok besar, makhluk cahaya dan makluk kegelapan, dalam sebuah perang besar yang ceritanya selama ini hanya didengar dan dibacanya dari buku-buku sejarah lama saja.

Fred mundur, tidak tahu kenapa dia bisa ada di sini. Kengerian perang ini masih belum bisa diterimanya. Terlalu mengerikan bahkan untuk seorang interior senior Zerozhia yang terbiasa menghadapi hal-hal terburuk yang ada di Tierraz sekalipun. Fred menggeleng, masih gemetar ketika dia terjatuh terantuk sebuah kepala yang terpenggal. Dia berusaha bangun dengan cepat karena apapun yang disentuhnya sebusuk mayat dan anyir darah yang terlalu kuat jelas sanggup mengeluarkan semua isi perutnya ketika dia terpaksa menoleh ke belakang dengan gusar ketika dia mendengar suara tawa yang paling tidak bisa diterima akalnya.

Dan di sanalah, wanita itu berdiri dan membunuh dengan wajah paling bahagia yang pernah ada di medan peperangan. Tawanya bukan tawa kegilaan karena melihat terlalu banyak kematian mengerikan. Tawa itu tawa menyenangkan yang biasa didengar Fred ketika seseorang benar-benar memperoleh apa yang diinginkannya. Mata sewarna api itu terlihat hidup setiap kali dia membakar tubuh musuhnya sampai menyisakan tulang-tulang hangus. Wajah cantik itu bahagia di setiap jerit kesakitan makhluk yang dibakarnya hidup-hidup. 

Gerakannya serupa tarian di antara asap kepulan mayat musuhnya yang diinjaknya dengan wajah senang nan anggun. Jika Fred tidak benar-benar melihat seperti apa yang ada di sekeliling si wanita, dia hanya akan menyangka sedang melihat wanita yang menari bahagia. 

Api biru yang berkobar di tangan dan pedang si wanita jelas adalah jenis api terpanas yang ada di Tierraz. Dan wanita itu mengontrolnya dengan sangat lihat dan tenang seolah-olah dia memang bagian dari sang ap--Fred membeku di posisinya. 

"Edna." sebutnya tanpa suara.

Fred sudah membaca banyak kisah tentang si putri api dalam buku-buku sejarah lama Tierraz. Dia banyak membaca bagaimana sejarah menggambarkan kekejaman sang putri dan pasangan abadinya, Luca. Tapi melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Edna sangat menikmati kematian-kematian mengerikan yang dia ciptakan di medan perang membuatnya bergidik. Wanita ini sama sekali tidak punya belas kasihan. Bahkan bagi Fred, membunuh sebanyak yang bisa dia bunuh adalah satu-satunya pikiran yang ada di kepala Edna sekarang.

"..Percayalah pada dirimu sendiri dan lihatlah seperti apa kegelapan memerintah dan dengan begitu kau akan mengerti kenapa aku bahkan bisa mengambil resiko muntahan murka Tierraz."

Mendadak Fred mengerti. Dia mengerti maksud perkataan Mahha Mevonia. Jika kegelapan menang di masa itu, dia tidak tahu seberapa buruk nasib para makhluk cahaya di Tierraz sekarang. Kenyamanan, rasa aman dan nasib baik yang dinikmati para penyihir dan par makhluk cahaya jelas punya harga. Dan bagi Fred, dia yang harus membayar sebagian besarnya.

Hati kecilnya berkata mungkin itu sebanding. Dia sendiri tidak akan sanggup menjalani kehidupan peperangan seperti ini. Bahkan ketika dia melihat sosok lain di kejauhan, yang bertarung namun juga seraya memperhatikan sang putri api, Fred yakin bahwa mungkin benar apapun yang telah dilakukan Mahha Mevonia yang mendatangkan kutuk padanya adalah sesuatu yang benar. Sebab di kejauhan, dalam balutan pakaian perang serba hitam, sosok tinggi tegap itu mendominasi dengan masing-masing pedang di tangannya yang sudah basah oleh darah para makhluk cahaya. Tanpa perlu banyak menduga, Fred tahu itu Luca.

Seandainya kutukan dan ramalan itu berjalan sesuai dengan apa yang dipercaya semua orang. Maka dia akan membawa kebangkitan bukan hanya untuk pra makhluk kegelapan yang terkurung, tapi juga bagi pasangan itu. Edna dan Luca.
Edna dan Luca.

Fred berdiri dengan tubuh semakin gemetar dan rasa pusing yang seolah memecahkan kepalanya. Dia menekan kedua sisi kepalanya kuat-kuat ketika udara dingin yang terasa aneh kembali menghantam tubuhnya dengan keras. Dia tak ingat apa-apa lagi setelah merasakan tubuhnya jatuh dan membentur lantai kastil Zeyzga yang dingin.

Fred menghela nafas panjang dan berusaha mengenyahkan ingatannya tentang peperangan yang ditunjukan oleh Mahha Mevonia padanya. Aroma lembab dan lumut di hutan Zhitam yang tertiup angin membuatnya berhenti melangkah. Dia mendongak, menatap ke celah-celah cahaya matahari sore yang dengan sia-sia berusaha menerobos rerantingan lebat pohon-pohon berusia ribuan tahun di hutan ini.

"Apakah seharusnya memang orangtuaku membunuhku sejak awal saja? Aku.. tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika memang akulah yang akan membawa kebangkitan bagi Alzarox, Luca, Edna serta kaumnya." di berbisik lemah, lebih kepada dirinya sendiri.

***

Ribi menatap ke luka di telapak kakinya yang masih memerah dan terasa sakit. Dia tidak tahu apa yang telah diinjaknya sewaktu dia melarikan diri bersama Ares. Dia menyumpahi dirinya sendiri karena tidak memakai alas kakinya. Seharusnya dia memaksa saja waktu Ares menariknya keluar dari kamarnya seperti orang gila. Mereka juga tidak akan tertangkap jika dia mengulur dua atau tiga menit hanya untuk memakai alas kaki. Tapi sedetik kemudian, Ribi lantas tertawa kecil. Butuh lebih dari sekedar tiga menit baginya untuk memakai alas kaki ala Tierraz. Dia tertawa lagi dan mendadak merindukan sneakernya.

Dia langsung menggeleng pelan dan mengenyahkan pikiran abnormalnya tentang dunianya yang dulu. Serindu apapun dia dengan barang-barang serba canggih dan modern di dunianya yang dulu, Ribi tidak akan pernah mau meninggalkan Tierraz. Dia mengangguk percaya diri sebelum beringsut mendekat ke salah satu pohon untuk menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. 

Ares sedang mencari makanan. Dia membawa anak panah dan busur yang dibuatnya sendiri, satu keterampilan lain yang kata Ares dipelajarinya di tempat Foster. Ares tidak bisa memanggil Barielle karena Ares tidak sanggup menggunakan sihir lebih banyak lagi. Mereka terpaksa melakukan banyak hal tanpa bantuan sihir karena Ribi juga kehilangan tongkat sihirnya. Dan kondisi telapak kakinya yang terluka membuatnya merasa bersalah pada Ares. Entah sudah berapa kali dia mengucapkan maaf pada Ares yang hanya ditanggapi Ares dengan lirikan tidak peduli.

Dalam diamnya, Ribi teringat sesuatu. Akhir-akhir ini dia sering memimpikan sesuatu. Tentang seorang laki-laki. Sayap hitam. Air terjun. Dulu sekali dia ingat dia juga pernah memimpikan hal semacam itu. Tapi Ribi tak mengindahkannya karena dia merasa itu sama sekali tidak penting. Kalau tidak salah, dia mendapat mimpi itu ketika dia menerima perawatan di kediaman para elf liar. 

Tapi kenapa mimpi yang sama itu terus menerus menghantuinya sekarang?

Ribi menghela nafas panjang. Merasa lelah dan sakit di kakinya. Dia memejamkan matanya. Berharap tak akan ada mimpi apapun seandainya dia tertidur.

***

Memnus bosan setengah mati. Dia setidaknya sudah mencoba ratusan perubahan bentuk di dalam pentacle kurungannya hanya untuk menghilangkan rasa bosan itu. Itupun juga belum terhitung dengan berapa lama waktu yang dia habiskan untuk merapalkan sumpah serapah pada Dave.

Pangeran bodoh itu sudah diperingatinya, tapi tentu saja suaranya tidak akan pernah didengar Dave. Bagi Memnus, penyihir pemiliknya itu terlampau bodoh untuk sekedar bisa memahami resiko dari tindakan tanpa pikir panjang yang banyak dilakukannya. Jika saja dia tidak berkeras tentang usaha menyelidiki pengkhianatan yang dilakukan salah satu pejabat kerajaan paling rakus bernama Actur Glarigh, Memnus tidak akan berakhir seperti sekarang.

Inti sari tubuhnya sudah sakit oleh sumpahnya. Sekarang ditambah kekangan mantra pentacle, oh dia benar-benar ingin memukuli Dave sekarang. Lihat saja, sumpahnya, jika aku bisa keluar dari sini. Aku benar-benar akan meninju hidungnya.

Dia melompat, mengambil wujud kera besar dengan ekor naga api. Dengan kesal, Memnus melayangkan kepalan tinjunya ke arah lingkaran pembatas. Paling-paling tangannya akan terbakar sedikit karena mantra di pentacle, tapi setidaknya dia akan merasa lega karena sudah melampiaskan kekesalannya.

"Pangeran tolol!" lengkingnya.

Sayangnya kekuatan ekstra ditambah dengan jeritannya membuatnya terhuyung keluar dari pentacle dan menabrak dinding batu hitam dengan keras.

"Ouch!" si kera melompat-lompat kesakitan sambil mengusap-usap hidungnya.

"Eh--" dia berhenti, lalu menoleh ke belakang, ke arah pentacle besar yang semula mengurungnya. Matanya yang besar beralih pada lantai dingin yang diinjaknya. Kesadaran baru menghentak pikirannya.

Dia bebas.

Tidak butuh tambahan detik untuk sekedar berpikir bagaimana bisa, tapi Memnus langsung lenyap dengan bunyi pop keras dan sisa gosong di lantai yang diakibatkan oleh ekor naga apinya.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Comments

  1. Udh lupa jalan ceritanya,kelamaan update ka��. Cepat update lagi ya ka��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, maafkan aku ya. Aku akan berusaha menulis dan mempostingnya dengan lebih konsisten. 😃😃😃

      Delete
  2. Yang selanjutnya cepat ya kak

    Gak sabar banget tunggu ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. doakan ya.
      Semoga bisa lebih cepat.

      Delete
  3. Hah �� ceritanya sudah lupa, kayak nya harus ulang baca lagi, lama bingits update nya...

    ReplyDelete
  4. Huaaa.. Memnus bebas, apakah karena siapa itu nma-aku lupa- dia mati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. Memnus bebas karena si Actur Gllarigh uda mati. 😂😂

      Delete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.