Skip to main content

Xexa - Mata

​"Putriku. Temukan putriku."
Dave mengerutkan keningnya dalam-dalam. Apa lagi ini, pikirnya tak paham. Tapi dia tahu, apapun itu nantinya yang dijelaskan Reven, Dave tak punya pilihan lain selain melakukannya. Namun untuk yang satu ini Dave benar-benar tidak bisa menyembunyikan kerutan dalam di keningnya, "Aku tidak mengerti. Selain itu kenapa aku harus menemukan purimu?"
"Karena melalui dialah, kau mungkin bisa membayar hutang yang terpendam di dalam silsilah keluargamu." ucap Reven tegas. Ada amarah dan rasa dendam yang lekat pada suaranya, "Mevonia menghancurkan kehidupannya."
"Tapi tetap saja," Dave memotong lelah, dia benar-benar muak terjebak dengan hukuman atau mungkin karma atau yang terparah kutukan yang disebabkan para leluhurnya, "Entah apa yang sudah dilakukan Mahha Mevonia, ini tetap saja tidak mungkin. Tak terhitung berapa banyak perempuan yang ada di Tierraz, bagaimana bisa aku menemukan putrimu yang wajahnya saja aku tidak tahu?"
Reven tersenyum tipis, "Seseorang dari bangsamu sudah menemukan dan membangkitkannya. Tapi entah apa yang terjadi, dia tak datang pada hari yang dia janjikan untuk bertemu denganku."
"Kau tidak mencarinya?"
Tawa Reven bergaung di ruangan itu, "Apa kau tak tahu bahwa aku tak bisa keluar dari kastil ini, pangeran?" katanya di sela tawanya yang kering, "Mevonia meletakkan sihirnya membentengi kastil ini. Aku bertahan hidup sejauh ini hanya untuk menunggu hari ini. Aku harus memenuhi janjiku pada Rena, baru setelah itu, aku bisa terbebas dari Tierraz."
Meskipun tidak sepenuhnya mengerti, Dave mencoba menelan semua yang sudah didengarnya, "Jadi siapa itu? Seseorang yang menemukan putrimu?"
"Namanya Driend Toufet. Dia seorang penyihir dengan kemampuan yang cakap. Kurasa dia bahkan lebih baik darimu." 
Wajah Dave memucat, dia tidak bisa menahan diri. Nama itu. Driend Toufet. Bagaimana bisa dia terlibat dalam semua urusan ini? Dave meremas tangannya, "Tapi laki-laki itu sudah mati." 
"Kurasa belum." Reven menanggapi dengan percaya diri, "Jika dia mati, aku bisa merasakan. Sebab sepertimu, dia juga menenggak minuman yang sama."
"Tapi dia sudah mati. Tangan kanan Mohave itu sudah mati di perang dua puluh tahun lalu."
"Jadi perang yang menghalanginya datang padaku." Kata Reven lebih kepada dirinya sendiri.
"Laki-laki itu sudah mati. Driend Toufet terbunuh di perang dua puluh tahun yang lalu." tegas Dave.
"Kalian dibodohi." kata Reven tenang, "Dia masih hidup."
Dave menekan rasa kesal di dadanya dan menatap Reven dengan tidak sabar, "Baiklah," katanya, "Katakanlah Driend Toufet memang masih hidup dan kau memintaku menemukannya agar dia memberitahuku keberadaan putrimu. Tapi apa kau pikir mudah menemukan laki-laki yang selama dua puluh tahun ini telah dianggap mati oleh seluruh makhluk di Tierraz?"
"Aku punya hal lain yang harus kutemukan. Seluruh persekutuan mengharapkan aku segera menemukan Xexa. Belum lagi tentang Danesh. Dengar, aku tidak punya banyak waktu untuk menemukan putrimu, Reven." lanjut Dave setelah mengusap wajahnya dengan frustasi. Selain itu bayangan Edna dalam diri Gabrietta juga belum lepas dari pikirannya. Dave merasa dia bisa putus asa dengan mudah dalam tahap ini.
Anehnya Reven justru tersenyum, "Semua itu ada dalam satu komponen, pangeran muda."
Satu alis Dave terangkat, "Apa maksudmu?"
"Dalam diri putri kamilah, Rena menyembunyikan batu perjanjian itu. Kau temukan putriku. Kau temukan Xexa."
Mata Dave terbelalak lebar. Bagaimana mungkin hal ini terjadi?
Xexa tersembunyi di dalam lembah tergelap. Dimana ada dua sumber mata air, yang hanya mengalirkan air ketika kesedihan dan kebahagiaan datang. Seorang putri penjaga harus menyerahkan satu mataharinya untuk membuat batu itu muncul ke permukaan.
"Mata." Gumam Dave.
Reven memandang Dave datar. Sebuah senyum samar terbentuk di wajahnya. Tapi hanya sebentar sebelum bayangan masa lalu menghantamnya kembali. Rasa sakit yang selama tahun demi tahun sejak kematian Rena terus menyiksanya. Dia hanya tidak bisa bertahan lebih lama di dunia ini lagi. Dia ingin segera menyusul wanitanya itu dan menyerahkan takdir putrinya pada Tierraz. Dia sudah tidak punya hak apapun. Dia hidup hanya untuk memberi kehidupan putrinya yang dulu hilang karenanya. Setelah semua ini, dia bisa pergi dengan tenang. Dia tak peduli jika dengan memberitahu pangeran tak kompeten di depannya ini tentang Xexa dapat berarti hukuman yang lebih panjang untuk kaumnya, para makhluk kegelapan. Dia sudah lama tidak peduli itu sejak kabar kematian Rena meremukkan seluruh kesadaran batinnya.
"Sang putri penjaga menyembunyikan xexa di mata putri kalian." Ucap Dave setengah menjerit, "Astaga, ini sulit dipercaya."
"Driend Toufet bahkan sudah menebak dengan tepat hanya beberapa saat setelah dia mendapatkan kalimat-kalimat kunci itu. Dan--" Reven berhenti, lalu memutar tubuhnya ke arah pintu ganda tak jauh darinya, "Mau bergabung bersama kami, Foster? Aku sudah mendengar langkah pertamamu memasuki kastil ini sejak kau menghancurkan pintu utama."
Foster menegakkan tubuhnya ketika dia mendengar suara Reven memanggilnya. Dia sudah berdiri di kegelapan di balik pintu sejak lama dan telah mendengar cukup banyak tentang semua hal penting yang sudah dikatakan Reven pada Dave.
"Kau menahannya terlalu lama, Reven."
"Menurutmu aku mungkin sudah membunuhnya?" 
"Ten--"
"Aku memang merencanakan itu. Sayangnya mati terlalu cepat tidak akan menyenangkan bagi seseorang dengan nasib semenyedihkan dia."
Dave melebarkan matanya, tidak suka dengan jawaban dan ekspresi yang ditunjukkan Reven. Lagipula dia sudah tahu jika dibalik semua usaha Reven berbaik hati--jika memang bisa dikatakan begitu--belahan jiwa si putri penjaga ini benar-benar berhasrat membunuhnya. 
"Kau sudah menahannya berhari-hari." Sergah Foster dengan wajah tidak senang, "Dan aku sudah cukup bersabar menunggu. Jika saja kau tidak tahu apapun tentang Xexa dan hanya mempermainkan kami, aku tidak berjanji akan tetap bersikap sopan padamu."
"Sopan santunmu adalah jebakan, Foster. Seluruh sikap baik dan peduli yang ditunjukkan oleh para elf adalah jebakan. Seperti yang kau lakukan pada Rena. Apakah kau masih perlu kuingatkan jika kau juga mengambil peran yang cukup besar dalam kematian." suara Reven sarat dengan dendam dan amarah yang tidak repot-repot ditutupinya. "Dia mempercayaimu."
Dave tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua, meskipun dia secara pribadi menyimpulkan beberapa kemungkinan dari semua percakapan yang didengarnya sejak pertama Reven bertemu dengan Foster. Dan apapun itu yang sebenarnya terjadi diantara mereka jelas bukan sesuatu yang baik. Tapi jujur saja Dave tidak punya waktu untuk menyimpulkan lebih jauh, jadi dia berdehem sedikit keras sebelum ketegangan yang ada diantara Foster dan Reven berubah ke bentuk yang lebih nyata.
"Bisa kita kembali ke percakapan tentang Xexa? Sungguh, kalian bisa saling bunuh lagi nanti jika aku sudah mendapat semua informasi yng kuperlukan."
Reven tertawa sinis, "Kau lancang, pangeran kedua."
"Jadi?"
"Temukan Driend Toufet, tanyakan padanya tentang dimana keberadaan putriku dan.. selesai. Ambil xexa darinya dan bayar karma milik leluhurmu."
"Oh terdengar sangat mudah." Foster memutar bola matanya.
Mengabaikan ucapan Foster, Dave menatap Reven lurus-lurus, "Tapi apa kau punya sesuatu yang bisa membantuku mempermudah mencari Driend Toufet?"
Reven tersenyum tipis, "Tentu saja."
***
"Hutan ini tidak terlalu buruk sebagai tempat berburu, bukan?" Ribi berucap dengan bangga setelah dia menyerahkan potongan besar daging kelinci yang sudah dibakarnya kepada Ares. Dia benar-benar merasa tidak perlu mengkhawatirkan apapun ketika ada Ares bersamanya. Ares sungguh berbakat dalam hal berburu menggunakan panah dan busurnya.
"Aku tidak tahu kau benar-benar jago memanah."
Ares menelan gigitan kecil daging kelinci bakar itu sebelum menatap Ribi dan mengangkat kedua bahunya, "Aku juga tidak tahu jika aku bagus dalam memanah. Aku hanya berlatih sedikit dulu."
Ribi tertawa, "Kau berlatih sedikit tapi sudah seperti ini. Apa jadinya jika kau benar-benar berusaha menguasai ketrampilan ini. Dua hari sudah di hutan belantara ini dan kita sama sekali tidak pernah kelaparan, bahkan tanpa bantuan Barielle."
Ares tersenyum sambil mengamati busur dan anak panahnya yang tergeletak di sampingnya. Entah kenapa dia menyukainya, semua perasaan yang timbul ketika dia menarik panahnya dan melepaskannya tepat pada sasaran. Sebuah kepuasan dan perasaan yang terasa baru untuknya. Dia menarik nafas lega sebelum mengalihkan pandangannya pada Ribi yang nampak rakus dengan daging kelinci panggangnya.
"Apa kakimu sudah sembuh?"
Ribi mengangkat wajahnya dan mengangguk tegas, "Ya, sepertinya begitu." Jawabnya sambil menghentakkan kakinya ke tanah beberapa kali, "Apa kita akan segera pergi?"
"Ya," Ares mengangguk pelan, "Kita tidak bisa terus berdiam di tempat ini. Hanya saja aku tidak yakin jika kita memang harus kesana atau tidak."
"Kemana kita akan pergi?"
"Kembali ke tempat Foster. Kita tidak punya tempat tujuan lain selain tempat itu. Satu-satunya petunjuk tentang Xexa yang kita ketahui hanya ada padanya. Mungkin saja Dave juga sudah kembali. Jika ada Dave bersama kita, kurasa menghadapi Lord Lagash pun kita mungkin bisa melakukannya."
Ribi menatap Ares dengan senyum lebar. Dia sangat menyukai rasa percaya diri yang dimiliki oleh Ares. Dia tahu benar bahwa mereka tidak akan menang jika memang harus melawan Lord Lagash dan pasukannya, tapi semangat yang ditunjukkan oleh Ares benar-benar membuatnya merasa bahwa apapun bisa terjadi.
"Bagaimana dengan Fred?" Ucap Ribi ketika mendadak dia teringat tentang Fred yang tiba-tiba menghilang.
"Berharap saja dia juga sudah kembali." Sahut Ares ketus, "Dan semoga dia juga punya alasan yang bagus tentang kenapa dia mendadak menghilang seperti itu."
"Aku berharap dia baik-baik saja." Ungkap Ribi khawatir. Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Bagaimanapun juga, keberadaan Fredlah yang pertama membuatnya bersemangat berada dalam kelompok pencarian Xexa ini.
"Tidak akan ada yang bisa menyakiti seorang interoir senior Zerozhia, Ribi."
"Aku tidak setuju dengan yang satu itu."
Ares dan Ribi melompat bersamaan mendengar ketika mereka mendengar suara asing itu menginterupsi. Ares bahkan sudah siaga dengan busur panah tertarik, siap dilepaskan.
"Kau bisa kendorkan yang satu itu, nona." 
Satu bayangan melangkah dari bayangan gelap pepohonan, dan Ribi bisa melihat sosok laki-laki dengan tubuh tinggi dan rambut gelap di sana. Ada busur panah dan tabung anak panah tergantung di punggungnya dan sebuah pedang tersarung rapi di pinggangnya. Rambut hitamnya berantakan dan dia tersenyum lebar.
"Yang kudengar sistem perekrutan dan pelatihan interoir Zerozhia memburuk akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin mereka juga menghasilkan interior yang berkualitas rendah, bahkan untuk mereka yang berada di tingkat interoir senior sekalipun." Suara itu dalam dan anehnya terdengar hangat pada saat bersamaan. Ada sedikit kejenakaan di sana, sepadan dengan senyum lebarnya yang terkesan geli entah pada apa.
"Siapa kau?" Ares mengencangkan tarikan panahnya.
"Sudah kubilang kendorkan yang satu itu, nona. Kau tidak akan bisa menang melawanku dengan anak panah jika memang aku memutuskan untuk menyerang kalian." ucap laki-laki itu sambil melangkah mendekat ke Ares dan Ribi.
Ares menipiskan bibirnya menahan marah, dia tidak suka mendengar kata-kata laki-laki yang bahkan tidak dikenalnya itu. Dengan satu gerakan tepat, dia melepaskan anak panahnya. Membunuh seseorang yang kurang ajar bukan sesuatu yang akan disesalinya. Anak panah itu melesat dengan cepat, dan mengarah tepat ke jantung si laki-laki. Ribi mengerjap terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Ares. Tapi anak panah yang diharapkan menusuk jantung si laki-laki, tidak melesat pada sasaran. Sebuah tangan mengenggam anak panah tersebut dan senyum tipis ada di wajah laki-laki itu. 
"Sudah kubilang kendorkan saja busurmu, nona Areschia." ucap laki-laki itu sambil memasukkan anak panah Ares yang sudah di tangkapnya ke tabung anak panah yang tersampir di punggungnya. Sepenuhnya mengabaikan Ares dan Ribi yang terbelalak mendengarnya mengucapkan nama Ares.
"Siapa kau?"
"Aku?" dia menunjuk dadanya, lalu tersenyum lebar, "Sayang sekali ternyata kau tidak mengenaliku. Padahal dulu kita cukup dekat. Dan terakhir kali aku melihatmu adalah di penobatan pangeran Dave sebagai seorang mahha. Kurasa di sana pun kau tidak menyadari keberadaanku. Terlalu sibuk dengan si pangeran kedua kurasa, seperti biasanya."
Ares mengerutkan keningnya. Jika apa yang dikatakan si laki-laki adalah benar, maka harusnya dia mengenalinya. Dia tahu semua orang yang datang di penobatan Dave, karena dialah yang bertanggung jawab pada penyebaran semua undangan. Dan entah bagaimana, suara itu memang terasa tidak asing baginya. Sekali lagi, mengumpulkan semua ingatannya, dia menatap lekat-lekat laki-laki yang masih menampilkan senyum tipisnya. 
"Kau--" suara Ares meninggi dan si laki-laki tertawa.
"Lama tidak berjumpa, Ares." dia melangkah mendekat dan melambaikan tangannya pada Ares. Tapi ekspresi Ares tidak berubah. Ribi bahkan menyadari jika wajah Ares justru terlihat lebih tidak senang dari sebelumnya.
"Lama tidak berjumpa, pangeran Diaz." jawab Ares ketus, "Kau terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatmu."
Ribi menoleh ke arah Ares dengan terkejut ketika mendengar kata pangeran terucap darinya. Tapi Ares sepenuhnya mengabaikannya.
Diaz sendiri tersenyum tipis, nyaris seperti seringaian, "Kau tidak pernah mau lagi berurusan bahkan bertemu lagi denganku sejak saat itu. Tidak heran jika kau bahkan tadi tidak mengenaliku. Sudah berapa tahun berlalu sejak--"
"Hentikan," potong Ares, "Aku tidak ingin membahas urusan lama kita yang sudah selesai."
"Yang sudah kau anggap selesai." koreksi Diaz, "Kau terlalu sombong untuk menyelesaikannya, nona Areschia."
Ribi memandang dua orang yang terlihat saling ngotot memperdebatkan masa lalu mereka ini dengan mata menyipit. Yang mengherankan, Ribi justru merasa seakan sedang melihat dua mantan kekasih yang masih menyimpan dendam pada proses putus mereka. Ribi berdoa jika dia hanya salah menebak. Lalu, ketika Diaz menoleh ke arahnya, entah kenapa Ribi langsung gugup. Ada yang terasa aneh ketika sepasang mata gelap itu memandangnya, seolah Diaz sedang menelitinya untuk memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya pada Ribi. Dia menelan ludahnya ketika Diaz justru tersenyum padanya. Senyum yang berbeda dari yang diberikannya pada Ares.
"Aku juga melihatmu di pesta itu. Datang bersama Frederick Colfer, bukan?"
Ribi tidak tahu harus mengatakan apa jadi dia hanya mengangguk. Sementara Ares menghela nafas panjang dan benar-benar merasa tidak nyaman. Dari semua kemungkinan makhluk yang mungkin akan ditemuinya di hutan ini, kenapa dia harus bertemu dengan yang satu ini? Ares benar-benar merasakan firasat yang tak baik.
"Aneh rasanya melihat Ares berkeliaran dengan seseorang yang bukan Dave Michail Miranda." komentarnya yang hanya disambut lirikan Ribi ke arah Ares. Ribi benar-benar tidak ingin salah mengambil langkah dalam menanggapi apapun itu yang berasal dari orng asing. Dia telah belajar bahwa di Tierraz, segala hal benar-benar tidak terduga. Dia sudah terlibat dalam banyak masalah dan sama sekali tidak berminat untuk menyeret dirinya dalam masalah lain.
"Apa yang membawamu sampai berada di tempat sejauh ini, Areschia Azhena?" kali ini Diaz sepenuhnya memfokuskan dirinya pada Ares.
"Ceritanya panjang dan kau jelas tahu bahwa aku tak membicarakan urusan Zerozhia kepadamu." 
Diaz tertawa, "Jadi ini tentang urusan para penyihir Zerozhia? Baiklah, aku jelas tidak akan ikut campur. Hanya saja, aku ingin memperingatkanmu Ares, Alkrez merasakan kedatangan asing di hutan ini. Para interoir sedang menyisir di sisi hutan lainnya selama beberapa hari ini, dan kuyakin sebentar lagi mereka mungkin sampai di sisi yang kau injak sekarang. Dan sedikit tambahan, setelah apa yang terjadi di pertemuan besar, kurasa para interoir Alrez tidak akan sesenang ini melihat penyihir Zerozhia di teritori mereka tanpa izin."
Ares memaki pelan dan meraih tongkat sihirnya, mengucapkan beberapa mantra. Api unggun yang berada di sekitar mereka lenyap dan sisa-sisa keberadaan kubah sihir yang selama ini melindungi mereka juga langsung menghilang.
"Kita harus segera per--ahh," Ares menyentuh kepalanya dan Ribi langsung sigap menangkap tubuh limbung Ares.
"Kau baik-baik saja?" 
Ares mengangguk meski Ribi jelas tahu bahwa kenyataan yang terjadi bersebrangan dengan apa yag diucapkan oleh Ares. Dan sepertinya bukan hanya Ribi yang menyadarinya karena sebentar kemudian terdengar suara Diaz.
"Ini buruk, Ares. Sungguh." dia menyilangkan kedua tangannya dan menatap Ares dengan mata meneliti yang jelas, "Sepertinya kau kehabisan energi sihirmu. Kau jelas tak sanggup mengunakan sihir perpindahan dalam kondisi seperti ini. Tak heran jika aku tidak merasakan kehadiran Barielle sejak awal."
Ribi menolehkan kepalanya, "Jadi mungkinkah kau bisa membantu kami? Tolong bawa kami dengan sihir perpindahan ke tempat lain."
Anehnya Diaz justru tertawa dan Ares menggeleng sebelum dia menyingkirkan tangan Ribi dan memberi isyarat pada Ribi bahwa dia sudah benar-benar baik-baik saja.
"Dia tidak bisa menggunakan sihir, Ribi." ucap Ares singkat, sebelum dia menepuk bahu Ribi, "Baiklah, Ribi sepertinya kita harus bergegas sebelum para interoir itu datang dan menanyai kita macam-macam. Aku benar-benar tidak berselera untuk melibatkan pihak Zerozhia dan memperkeruh hubungan antar kerajaan."
Ribi mengangguk dan berjalan mengekori Ares, tapi suara yang terdengar selanjutnya menghentikan langkah baik Ares maupun Ribi.
"Aku memang tidak bisa melakukan sihir, tapi bukan berarti aku tidak bisa membawa kalian ke tempat lain dengan cepat. Sebagai tambahan, kurasa arah yang kau tuju sekarang justru akan membawamu mendekat pada para interoir."
Ares mengeretakkan giginya, dia benar-benar tidak suka ini. Dia berbalik cepat, "Jadi apa kau akan menolong kami atau tidak?" sergahnya setengah berteriak.
Diaz tertawa, "Oh sama sekali tidak berubah. Aku merindukan mulut tajam itu." dan sebelum Ares sempat lagi membalas ucapannya, Diaz memberi tanda mereka untuk mengikutinya, "Ikuti aku, nona Areschia. Kau tahu kenapa semua penduduk Alkrez memanggilku pangeran belantara, bukan? Tidak ada yang lebih tahu tentang hutan-hutan di Tierraz selain diriku."
***
"Apa aku harus membunuh diriku sendiri agar kutukanku sebagai penghancur lenyap?" 
Mora menatap punggung orang yang paling dicari di seantero Tierraz ini dengan penuh simpati. Ini sudah lama berlangsung sejak dia menemukan Fredderick Col-atau harus disebutnya Pangeran Danesh muncul di depan gerbang Zeyzga. Wajah laki-laki itu tidak pernah nampak ingin menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh Mevonia. Mematahkan sihir perjanjian dengan Nerethir? Mora sejujurnya meragukan itu. Dari apa yang dilihatnya, laki-laki yang berdiri memunggunginya ini terlalu lemah daripada yang disangka banyak orang. Daripada menyebutnya pangeran terkutuk seperti orang lain, Mora lebih suka menyebutnya pangeran yang malang. Yang satu ini benar-benar menyedihkan.
Ada sebagian dari dirinya yang ingin berbagi cerita tentang pangeran malang ini dengan Lagash. Tapi Mora tahu benar bahwa itu terlarang baginya. Ada banyak jenis kebebasan yang telah lama tidak lagi dimilikinya, dan bicara dengan bebas adalah salah satunya. 
"Apakah telah terjadi sesuatu yang menganggu anda, pangeran?" seperti biasa, Mora menunjukkan sopan santun yang selama ini sudah mengikatnya. 
"Mahha Mevonia menunjukkan padaku alasan kenapa aku bisa sampai menerima kutukan ini. Juga tentang perang besar yang dahulu terjadi. Dia menunjukkan padaku, apa yang mungkin saja akan aku bangunkan nanti. Edna.. Luca.. mungkin akan menjadi yang lebih buruk daripada kebebasan Alzarox. Jika Nerethir terbebas, mereka semua.."
Mora tak mendengar apapun lagi setelahnya. Dia melihat melalui punggung Fred bagaimana beratnya beban yang sekarang menghantui laki-laki itu. Jadi Mevonia sudah menunjukkannya, pikir Mora. Jadi itulah penyebab kenapa pangeran pertama ini lebih nampak menyedihkan dari sebelumnya.
"Edna dan Luca, apa kau telah hidup cukup lama hingga tahu seperti apa mereka sebenarnya, Mora?" Fred berbalik dan menemukan wajah Mora yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya saja, Fred memang tak tahu jika apa yang ada di kepala Mora jelas berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkannya. Para peri kerajaan sudah terbiasa dengan satu jenis ekspresi jika mereka memang merasa perlu menyembunyikan perasaan mereka sebenarnya.
Mora mengangguk, "Tentu saja. Saya telah hidup cukup lama untuk tahu seperti apa Luca dan Edna."
"Apa mereka memang semengerikan yang ditunjukkan Mahha Mevonia padaku? Terutama perempuan api itu."
"Apa tepatnya yang telah anda lihat dan nilai tentang mereka?" Mora justru melemparkan pertanyaan lain untuk menjawab apa yang Fred tanyakan padanya. 
Fred memejamkan matanya dan bayangan perang besar yang dulu terjadi kembali tergambar dengan jelas. Lalu wajah bahagia Edna yang tengah membantai para makhluk cahaya menjadi gambar utama yang menjadi satu-satunya fokusnya. Dia membuka matanya, selalu merasa bahwa itu kesalahan besar. Perempuan api itu dan ekspresinya saat membunuh benar-benar sesuatu yang seumur hidup tidak akan pernah ingin disaksikannya secara langsung.
"Perang besar," ucapnya akhirnya, "Kematian dimana-mana. Di depanmu. Di belakangmu. Kemana pun matamu memandang yang ada hanya kematian. Dan perempuan api itu menari dengan sangat bahagia di atas mayat-mayat korban perang. Wajah itu--"
Mora menghela nafas pendek. Dia mengerti. Dia mungkin memang tidak berada di perang itu karena Landis mengurungnya. Tapi apa yang dia lihat setelah perang terjadi bisa membuatnya melihat seperti apa kiranya ketika perang berlangsung. Dia tidak menyangka jika Mevonia menyimpan kenangannya akan perang itu dan menunjukkannya pada keturunannya.
"Jika sumpah Nerethir tak berlaku lagi, apa yang mungkin akan terjadi Mora?"
Sebuah pertanyaan retorik, pikir Mora. Fred jelas tahu apa jawabannya. Dia mungkin hanya ingin memastikannya saja. Mungkin akan sangat menyenangkan jika Mora menambahkan beberapa detail yang mungkin tidak diketahui sang pangeran. Apa yang akan dia lihat mungkin saja akan berbeda dari yang dibayangkannya jika pangeran Dave yang mendengarnya. 
"Yang pertama terjadi adalah jelas kalian akan kehilangan anilamarry kalian lalu juga kami, para peri kerajaan--"
"Kehilangan anilamarry dan peri kerajaan?" potong Fred terkejut. Dahinya berkerut dalam.
Ternyata sama saja, "Tidakkah anda tahu bahwa kami bisa saja disebut tahanan perang?"
Fred menatap Mora dengan tatapan tidak mengerti, tapi dia sama sekali tidak mengatakan apapun dan menunggu apa yang akan dikatakan Mora selanjutnya.
"Ketika perang besar terjadi, tidak semua makhluk cahaya berada dalam pihak yang sama. Para makhluk angin dan para elf di bawah pimpinan Lord Landis berada dalam pihak Alzarox. Dan ketika para makhluk kegelapan kalah, dua kelompok besar makhluk cahaya yang membelot harus membayar pilihan mereka. Anilamarry yang kalian, para penyihir, kenal adalah makhluk angin. Mereka menjadi budak para penyihir. Melakukan apapun yang diperintahkan oleh penyihir pemilik mereka. Dan para elf kaum Lord Landis harus menyandang gelar elf liar dan elf penkhianat sepanjang hidup mereka, selain itu--" Mora terdiam, dia seharusnya lebih bisa mengontrol emosinya ketika menyeritakan semua ini. Tapi ketika mencapai bagian ini, ada rasa sakit yang meskipun selama abad demi abad berlalu berusaha dia hilangkan, tetap ada dan tetap terasa sama, "Lord Landis harus menyerahkanku dan kaumku berada di bawah kendali keturunan Mevonia. Kami terikat pada keturunan Mevonia dan seluruh keluarganya. Melayani kalian."
"Kenapa kau? Apa hubunganmu dan para peri kerajaan dengan para elf liar?" Fred menaikkan suaranya. Dia masih membenci apa yang terjadi di wilayah elf liar ketika dia, Dave, Ribi dan Ares berusaha melarikan diri dari sana.
"Lord Landis adalah suamiku."

Comments

  1. Kakk makasihhh, akhirnya update jugaa����
    Hampir tiap hari bolak - balik liat web ini, kakak g update2..
    Sebenernya lebih ngarep remember us yg d update, tp gpp lahh, tetep ada reven & rena ny dikit2, biar g penasaran lagi��
    Kakk ditunggu yahh lanjutannya..
    Ditunggu karya2 kakak selanjutnya
    Klo bisa jangan lama2��
    Kasihanilah kami para pembaca setiamu ini����

    ReplyDelete
  2. Keren banget.... Akhirnya kakak menepati janji juga semoga yang selanjutnya gak lama" ya kak hehe

    ReplyDelete
  3. Finallyyyyy..... Akhirnya update juga ����
    Lanjut baca wkwkw

    ReplyDelete
  4. wow...Rena sama Reven punya Putri penasaran siapa putri mereka...Ribi sepertinya masih blm sadar...sepertinya pangeran Dyaz ini memang mantan pacar Ares

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.