Skip to main content

Remember Us - Elf Utara

Marhaban Ya Ramadhan.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Berbahagialah kalian yang masih bisa merasakan Ramadhan lengkap bersama keluarga. Bisa sahur bareng, buka puasa bareng, shalat tarawih bareng dan ah aroma Ramadhan yang serba khas di Indonesia. Kalian yang masih merasakannya, patut bersyukur. Bagi anak rantau macam aku, yang denger suara adzan langsung dari masjid aja gak pernah (hampir setengah tahun lebih).. Ramadhan di Indonesia itu benar-benar wah. Ah malah curhat. Tapi ya sudahlah. Selain itu maafkan aku yang selalu serba lemot dalam nulis dan ngurusin blog ini. Aku ngga tahu harus bagaimana lagi menghadapi rasa ini. Ah bahas apa ini? Sudah sudah. Selamat membaca.
Salam,
Amouraxexa
***

Aku menatap Reven yang tengah memandang lurus ke arah sosok yang menjulang gagah di depannya. Bahkan ketika duduk di singgasananya yang indah, aura kuat di sekitarnya masih memancar hebat. Reven menunduk singkat, sopan santun. Dia tahu benar bagaimana cara melakukan diplomasi.

"Aku rasa kau telah mendengar kabar tentang kedatangan kami, Lord Landis." Ucapnya ramah. 

Reven jelas tidak ingin melakukan ini dengan tergesa-gesa. Aku juga tahu bahwa sama sepertiku, dia mendengar dengusan Brigoth dan Higraj serta tawa tertahan Ritta, tapi dia tidak bereaksi dan mempertahankan sikapnya. 

Lord Landis mengangguk, "Burung-burung dan suara angin memberi kabar kedatangan asing kepada kami. Terlebih, roh-roh pohon tahu benar apa yang harus disampaikan."

Aku nyaris saja tidak bisa menahan tawaku. Tapi sungguh, aku tak tahu bagaimana bisa raja Elf Utara ini mengeluarkan kata-kata murahan begitu. Rasanya berlebihan. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas Reven menahan senyum tipisnya. Dia juga tahu basa basi tadi benar-benar omong kosong yang tak perlu. 

"Kuharap pohon-pohon menyampaikan hal-hal yang baik tentang kami."

Lord Landis menarik ujung bibirnya, "Yang menarik adalah bagaimana kabar kedatangan bangsa yang hilang ternyata bukan hanya kabar burung. Aku yakin kau salah satu keturunan Vlad dan Victoria."

"Lebih tepatnya, pemimpin dari semua keturunan mereka sekarang." sambut Reven dengan percaya diri. Yang satu ini tampaknya akan selalu dikatakannya dengan dada terbusung. Dia bangga rupanya. Selain itu, sejujurnya aku tidak menyangka jika kabar tentang kedatangan bangsa kami sudah tersebar ke seantero Tierraz. Segala hal di dunia ini seolah bekerja dengan caranya sendiri dan seringkali​mengejutkanku. 

"Ah, jadi kau orangnya. Reven, benar bukan?"

"Senang kau bisa mengenaliku sebelum aku sempat memperkenalkan diri, Lord Landis."

Lord Landis mengangguk samar, "Sayangnya, aku tidak tahu kenapa Alzarox merasa perlu mengutus kalian datang ke sini. Kuharap Alzarox tidak meminta sesuatu yang tidak bisa kami berikan padanya."

"Kami yakin kau bisa memberikannya kali ini, Lord Landis." Sahut Reven cepat. Suara Reven yang tegas dan tajam membuat Lord Landis memicingkan matanya. Perubahan ekspresinya menunjukkan dengan jelas bahwa dia tahu untuk apa kami jauh-jauh melakukan perjalanan untuk menemuinya.

"Persekutuan."

Reven tidak menunggu lebih lama lagi untuk mengatakannya. Dia mengucapkan satu kata itu dengan nada yang bisa membuat siapapun tahu harga yang ditawarkan dibaliknya.

"Aku tidak mengerti."

"Bodoh."

Aku memutar bola mataku dengan usaha keras menahan diri agar tidak menutup mulut Ritta. Dia mengucapkan itu memang pelan. Aku juga yakin Lord Landis mungkin tidak mendengarnya. Tapi tetap saja, dia harusnya tahu aturan yang jelas tentang bagaimana cara menawarkan perjanjian pada pihak lain. Sopanlah. Aku tidak ingin pulang dengan resiko berhadapan dengan ketidaksenangan Luca. Aku sungguh ingin menghindarinya. Laki-laki itu terlalu berbahaya.

"Alzarox dan Luca memintamu dengan segala hormat untuk bisa berdiri di pihak yang sama. Kau jelas tahu perang yang akan segera terjadi, bukan?"

"Apa kau memintaku memberimu jawaban langsung sekarang?"

"Kurasa Luca tidak suka menunggu terlalu lama."

Hening. Lord Landis tidak mengatakan apapun. Wajahnya menunjukkan ketidaksenangannya pada apa yang dikatakan Reven. Tapi kurasa dia juga mempertimbangkan apa yang akan dihadapinya jika dia salah mengucapkan sesuatu. Luca dan Alzarox memang kombinasi yang tepat untuk membuat siapapun berhati-hati jika berhadapan dengan mereka. Belum lagi ditambah kehadiran si perempuan api Edna.

"Kurasa aku akan senang jika bisa membicarakan ini secara pribadi denganmu, Reven."

***

Ketika Reven dan Lord Landis berjalan ke arah timur aula utama, seorang Elf yang nampak seperti duplikat Lord Landis membimbing kami ke arah yang bersebrangan. Beberapa Elf penjaga menunduk ketika dia melewati mereka. Jadi aku bisa dengan mudah mengatakan bahwa Elf yang ada di depan kami ini adalah putra dari sang Elf pemimpin. Dia nampak muda dan gagah. Apa aku sudah pernah mengatakan bahwa sejak memasuki wilayah para Elf Utara, aku banyak dipuaskan dengan visualisasi para Elf yang kutemui. Ini benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang setiap hari kuhadapi di hutan Merrz.

"Kemana kau akan membawa kami?" Brigoth berujar dengan suaranya yang besar dan dalam.

"Aku yakin kalian telah melewatkan hari-hari yang panjang dan melelahkan menuju ke hutan Utara. Sangat tidak sopan jika kami tidak menjamu kalian.

Ritta memutar bola matanya dengan bosan, "Ini tidak akan menyenangkan."

Aku melirik ke arahnya, dan Ritta tersenyum penuh arti, "Kau akan tahu nantinya."

***

Dan Ritta benar. Harus kuakui itu. Ini tidak menyenangkan. Jamuan ini.. entah apa yang harus kukatakan. Piring-piring di depan kami memang penuh, tapi apa yang mengisinya jelas bukan sesuatu yang akan kumakan dengan bahagia. Tumpukan dedaunan dan sayuran atau entah apapun itu, berbagai jenis dan beberapa dengan aroma minyak yang kuat, semua memenuhi piring-piring besar di depan kami bersama dengan sekeranjang buah-buahan. Di belakang kami, beberapa Elf perempuan memainkan musik yang dengan mendengarkannya sebentar saja membuatku ingin tidur saking membosankannya.

Brigoth dan Higraj mencoba beberapa sayuran dan meludahkannya tak lama setelah memasukkannya ke mulut mereka. Aku mengerutkan keningku, meletakkan kembali apel di tanganku dan sepenuhnya kehilangan selera. Di sampingku, Ritta nampak duduk tenang dengan dua kakinya di atas meja, sementara itu Trisha sepenuhnya mengabaikan kami dan sibuk mengusap pedangnya dengan kain tipis. Aku menghela nafas sekali lagi, merutuki nasibku yang berakhir dengan kelompok ini.

"Kurasa jamuan ini mengecewakan kalian."

Aku mengangkat wajahku dan baru teringat bahwa si Elf yang mengantar kami ke sini masih ada di sini dan duduk di ujung meja, sepertinya sedari tadi memperhatikan kami yang mengabaikannya.

"Kau tahu jelas seperti apa selera kami Aelden." Suara Trisha terdengar meski tatapannya tak berpindah sedikitpun dari pedangnya.

"Sayangnya, apa yang tersedia di sini juga tidak berubah, Trisha."

Mereka saling mengenal? Aku mengamati keduanya. Sepertinya jenis hubungan yang tidak cukup baik melihat ekspresi tidak peduli di wajah keduanya.

"Kalian bisa makan sampah seperti ini?" Higraj tertawa mengejek setelah menyorongkan piring sayurannya dengan kasar. 

Aelden baru saja akan membuka mulutnya ketika seorang Elf penjaga nampak berjalan ke arahnya. Si penjaga membisikkan sesuatu dan aku melihat kedua alis Aelden saling bertemu. Kerutan tidak senang muncul di dahinya. Dia memberikan jawaban yang disambut si penjaga dengan anggukan pelan sebelum dia pergi dari tempat ini.

"Apa urusan kita berjalan dengan tidak lancar?" Ritta memiringkan wajahnya. 

Tapi Aelden tersenyum, "Sepertinya ada banyak pihak yang menginginkan hal yang sama seperti kalian."

Trisha meletakkan pedangnya, menyadari sesuatu yang tidak aku mengerti. Dia memicing memandang ke arah Aelden, "Siapa yang datang?"

"Seseorang lain yang juga kau kenal."

***

Ketika sekelompok Elf memasuki ruangan terbuka tempat kami berada, aku tidak melihat perbedaan diantara mereka dan para Elf yang ada di sini. Namun sikap Brigoth dan Higraj yang langsung nampak ingin menelan mereka bulat-bulat membuatku tahu ada yang tidak beres. Bahkan Ritta dan Trisha nampak awas. Mereka semua sudah berdiri dari duduknya dan nampak siap untuk serangan apapun.

Seorang Elf yang berdiri paling depan, mengamati kami dengan tatapan mengejek. Aku seharusnya bisa mendeskripsikan wajah tidak puasnya dengan lebih baik jika aku tidak terlalu fokus pada ketampanannya. Berbeda dengan Aelden yang memiliki rambut perak dan iris mata abu-abu khas para bangsawan Elf utara, Elf laki-laki ini memiliki rambut berwarna kecoklatan dan iris biru safir yang jernih, seolah aku bisa menenggelamkan diriku dalam matanya yang serupa lautan. Oh, baiklah, aku tahu bagian terakhir tadi menjijikkan. Aku harusnya lebih fokus pada tugasku. Maka seperti anggota kelompokku lainnya, aku memasang wajah serius meski tidak tahu untuk apa.

"Kau.." Trisha terdengar marah. Dia memandang ke arah Aelden dengan geram, "Apa yang telah kalian rencanakan?"

"Tenangkan dirimu, makhluk api."

Kepala Trisha yang memutar cepat ke asal suara, "Tutup mulutmu, Foster."

Aku yakin dia sudah akan menyerang si Elf tampan yang rupanya bernama Foster ini jika Aelden tidak berkata dengan cepat, "Hentikan apapun itu yang ada di kepalamu, Trisha. Tidak ada pertarungan yang diperbolehkan di sini."

Ritta terkekeh, "Dan kau pikir kau bisa menghentikan kami jika kami memang ingin mengantung leher para makhluk dari Merendef ini sebagai oleh-oleh untuk Luca?"

Setelah mendengar kata Merendef disebutkan, aku langsung tahu kenapa suasana di ruangan ini mendadak memanas. Mereka adalah Elf dari hutan Merendef. Kelompok Elf yang secara terang-terangan berada di pihak musuh utama kami, para penyihir. 

"Jika perlu kuingatkan, kau berada di kerajaanku, makhluk angin. Satu perintah dan seluruh Elf penjaga akan menangkap kalian. Apa kau pikir empat orang sanggup menghadapi semua Elf penjaga yang ada di hutan Utara? Kalian mungkin berada di bawah pimpinan Alzarox dan Luca, tapi kalian bukan mereka."

Ritta membulatkan matanya, setengah mati menahan amarah. Rahang Trisha mengeras, dan sepasang makhluk kegelapan di dekatku sudah terlihat akan melayangkan kapak besar mereka ke wajah angkuh Aelden. Kurasa hanya aku yang tidak bisa benar-benar merasakan hawa permusuhan ini. 

Tanpa sengaja sepasang iris biru safir itu menatapku, aku mengangkat kedua alisku sebagai tanggapan yang mungkin dianggapnya sebagai ejekan karena dia langsung mengubah ekspresi wajah tenangnya menjadi aneh. 

"Kurasa kami tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan Reven kecuali kalian yang menyerang kami lebih dulu." Kali ini aku bersuara, terdengar paling santai diantara suara-suara yang sebelumnya beradu dengan nada murka dan ejekan.

Semua mata langsung menatapku. Ritta jelas tidak suka dengan apa yang kukatakan, sementara wajah Trisha sulit diterka. Aku mengabaikan mereka dan kembali duduk, "Urusan kita bukan dengan mereka. Dan ingat, Reven yang memutuskan kita akan melakukannya dengan cara santun atau tidak."

"Aku setuju dengan yang satu itu. Urusanku juga bukan dengan kalian." Sahut Foster.

"Kau datang untuk menawarkan hal yang sama seperti mereka?" Ucap Aelden yang anehnya disambut tawa kering Foster.

"Tak ada penawaran yang kubawa, Aelden. Hanya sebuah pesan dari Lord Lagash​ dan kuyakin kita bisa saling berjabat tangan nanti." Foster berhenti, lalu mengamati kami sebelum mulutnya kembali terbuka, "Sayangnya, melihat makhluk-makhluk apa yang ada di ruangan ini. Aku tahu para Elf Utara sudah kehilangan reputasi mereka."

Aelden mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu, Elegyar Foster?"

Foster tertawa, "Perang akan datang. Bukan waktunya berdiri di pihak yang akan kalah."

"Apa kau bisa melihat masa depan, Foster?" Aku memotong dengan kasar.

Dia baru akan membuka mulutnya untuk menjawabku, namun aku memotongnya dengan cepat, "Aku pernah mengenal seseorang yang bisa melihat masa depan. Dan melihat seperti apa jadinya dia karena tahu semua yang seharusnya berada jauh dari jangkauannya, aku tahu tak satu pun dari kalian di sini bisa melihat apa yang terjadi di masa depan. Ramalan?" Aku tertawa, "Jika kau bilang kutukan mungkin aku bisa percaya, hanya saja--" aku berhenti, memandang Elegyar Foster dengan tajam, "--terlalu cepat mengatakan pihak mana yang akan kalah atau menang. Jika kalian memang kuat, maka aku akan senang melihatnya secara langsung di perang yang akan datang."

Aku bisa mendengar tawa terkikik Ritta dan melihat wajah merah padam Foster. Aku tidak yakin bagaimana mereka menanggapi apa yang kukatakan, aku hanya tidak suka dengan caranya memandang remeh kami. Itu saja. 

***

Edna menarik nafas panjang, membiarkan dingin angin dan air menyentuhnya dari ujung kakinya dan merambat pada seluruh tubuhnya. Kedua matanya menatap sayu pada air terjun di depannya. Rambutnya yang hitam panjang sudah basah oleh cipratan air meski dia berdiri cukup jauh dari air terjun utama. 

Dia diam. Menikmati semua sensasi dingin yang menyenangkan. Edna tahu bahwa dia harusnya tidak menyukai berada di dekat air, tapi ingatannya membawanya selalu kembali ke tempat ini. Sebab di sinilah, pertama kali dia bertemu dengan Luca. Dan kehangatan pertemuan pertama itulah yang selalu membuatnya menghangat dalam dingin yang seharusnya melukainya.

Jika ketika itu dia tidak terluka dan tersesat di sini, apakah dia akan tetap menjadi dirinya yang sekarang? 

Tak lama kemudian Edna tersenyum. Pertanyaan bodoh apa yang tadi datang padanya? Sebab dia tahu benar, jika ada satu hal yang tidak akan pernah disesalinya, maka bertemu dengan Luca adalah jawabannya. Dia tidak pernah menyesal, bahkan jika memang kehadiran Luca berarti kematian bagi perempuan yang membawa Luca ke dunia ini. Dsn meskipun dia harus mengunakan kekuatannya untuk membunuh perempuan itu demi Luca, dia tetap tidak akan keberatan. 

"Kenapa aku selalu tahu jika kau berada di sini?"

Edna tidak perlu menoleh untuk tahu suara siapa itu. Tak satupun makhluk di Tierraz yang pernah menginjakkan kakinya di tempat ini kecuali dirinya, perempuan itu dan Luca.

"Apa yang membuatmu selalu datang ke sini untuk menjemputku?"

Sepasang tangan bergerak melingkar di pinggangnya. Dan Edna bisa merasakan nafas dingin Luca di lekukan lehernya, "Aku takut."

Edna bergerak memutar, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Luca. Wajahnya berubah khawatir. Luca tidak pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya.

"Apa terjadi sesuatu yang buruk? Apa para penyihir melakukan sesuatu yang membuatmu... takut?"

Luca tertawa. Tangannya mengerat pada pinggang Edna. Edna benci situasi seperti ini, dia sejujurnya lebih suka jika dia bisa melihat ekspresi wajah Luca agar dia bisa membaca situasi yang ada. 

"Kau yang membuatku takut."

Edna terdiam. Bahunya menegang. 

"Kau, dan semua pikiran yang ada di kepalamu."

***

Aku melangkah menjelajahi taman kecil yang ditunjukkan oleh seorang Elf padaku. Meninggalkan kelompokku, aku berjalan sendirian dengan pikiran tidak menentu. Ucapanku pada elf dari Merendef itu memenuhi kepalaku. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar teringat semua hal ini lagi sejak kejadian di hutan ketika untuk pertama kalinya aku mendapatkan ingatanku kembali.

Seseorang yang bisa melihat masa depan?

Noura.

Nama itu. Perempuan itu. Ada rasa rindu dan cemburu yang selalu datang bersamaan dengan nama itu. Ada juga perasaan marah yang entah kenapa semakin samar dari waktu ke waktu. 

Helaan nafas panjang dan langkahku terhenti. Apakah janjiku pada Noura masih berlaku? 

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Comments

  1. Akhirnyaaaaaaa setelah sekian lama menunggu....πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, update jg, semoga next chapternya ga terlalu lama, reader2 setia masih menanti, dan selamat menunaikan ibadah puasa juga

    ReplyDelete
  3. Akhirnyaaaaaaaaaa
    Aku ada kelemahan mengingat nama, apalagi nama di xexa itu buanyak dan asing. Jd lama buat nerka2 ini siapa, kedudukannya apa wkwk

    ReplyDelete
  4. Ahaaay kakak kalau update aku selalu ketinggalan udah nggak ada firasat lagi nih. Biasanya kalau cerita RU update firasatnya kuat banget. Ouh iyah kakak sering sering update dong kak. Cerita kakak tuh bikin aku mau baca berulang kali nggak bosen bosen half vampire aku udah baca 8x saking nggak ngebosenin. terus berkaya yah kak semoga cerita kakak cepat dipublish jadi aku lebih mudah bacanya. Kalau nggak ada kouta wkwkwkwk ������. Pokoknya ceritanya bestlah.

    Love you kak

    ReplyDelete
  5. Masih ada berapa part lagi kak? Kok gak sabar pengen tau cerita akhirnya πŸ˜‚ Yg paling di nanti, adegan perangnya ya kak. Di tunggu πŸ™ŒπŸ™Œ

    ReplyDelete
  6. Lupa jln cerita sangking ngaret nya kakkkkk huhuhu T_T

    ReplyDelete
  7. Biasanya tiap hari ngecek blog amouraxexa buat nunggu cerita ini. Tapi dari minggu kemaren ga sempet ngecek. Dan ternyata ketinggalan updateannya. Moment reven rena nya banyakin kak. Yang semangat ya kak updatenya, ga pernah bosen sama RU

    ReplyDelete
  8. Wah kapan dilanjut lagi kak πŸ˜…selalu check blog nya loh aku 😁fighting buat next story nya yak 😘😳

    ReplyDelete

Post a Comment

Menulis, Mendengarkan, Mencintai dan Berbicara

Popular posts from this blog

Half Vampire - Epilog

Akhirnyaaaa... aku bisa memposting Epilog Half Vampire. Ah aku lega dan juga sedih. Ini artinya perpisahan untuk Reven. Bagaimana ya? Aku tidak bisa kehilangan si duta anti move on yang satu ini. Tapi..tapi cerita ini harus berakhir. Memang begitu. *pasrah* Astaga astaga.. aku punya ide. REMEMBER US. Aku akan menulis short story tentang tokoh-tokoh HV. Siapapun dan dalam waktu yang berada di HV atau mungkin sebelum dan sesudah HV. Bisa saja minggu depan aku posting REMEMBER US : Rena – Reven. Cerita tentang bagaimana kisah mereka setelah HV selesai. Mungkin bakalan banyak adegan romantis. Muahahahhahaa *evil laugh* Abaikan. Kurasa aku tidak jago menulis cerita romantis. Mungkin jatuhnya aneh. Hahahha. Pokoknya REMEMBER US, isinya cerita-cerita tokoh HV. Nantikan ya.. bisa saja itu kisah bahagia Rena-Reven, atau malah kisahnya Reven-Noura. Mungkin Damis-Lyra juga menarik. Mereka pasangan yang unik. Oh oh tidak. Aku bicara banyak sekali. Baiklah.. langsung saja ya. Selamat membaca.. Salam @am…

Half Vampire - Berpisah

Halooo semuanya. Maaf membuat kalian menunggu lama untuk chapter terakhir yang sepertinya akan... emmm mengecewakan ini. Entahlah, aku hanya ingin membuat akhirnya jadi begini. Hahahahha. Well, tinggal epilog dan kita benar-benar akan berkata, "Selamat tinggal HV." Terima kasih untuk dukungan kalian, para pembaca, selama ini. HV, blog ini, dan aku.. bukan apa-apa tanpa kalian. Support terus dengan baca karya-karyaku yang lain ya dan tentunya, jika kalian mau, kalian bisa meninggalkan jejak dengan berkomentar di sini. So, happy reading all. :)) @amouraxexa

Half Vampire - Dua Kekuatan

Well, satu chapter tersisa dan sebuah epilog.  Kita semakin dekat menuju perpisahan dengan Half Vampire. Aku pasti akan sangat merindukan Reven nanti.  :')) Selamat membaca. @amouraxexa
***
Aku merasa tubuhku begitu ringan. Melayang diantara ketiadaan yang aneh. Sampai akhirnya aku bisa merasakan gravitasi, aku masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi padaku. Cahaya-cahaya yang melingkupiku memudar. Digantikan sebentuk tempat yang kukenali dengan benar.

Remember Us - Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin. Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.